
Suasana di antara mereka berdua mendadak sunyi. Begitu Kanya menyadari ucapannya yang menghibur sang kekasih.
"Eh, kenapa malu?" tanya Araz begitu melihat ekspresi wajah Kanya memerah.
"Ah nggak. Aku...cuma...nggak tahu deh. Kayaknya malu-maluin banget ngomong gitu sama Mas Araz."
Tawa Araz pecah. Dengan gemas, lelaki itu mengacak-acak rambut Kanya.
"Nggak apa-apa kali, Nya. Kamu kan nggak lagi melakukan kesalahan. Kenapa mesti malu gitu sih?" ucap si laki-laki makin membuat Kanya menundukkan kepala.
"Ish, Mas Araz. Rambut aku jadi kusut nih!" keluh Kanya dengan bibir manyun.
Dia mengalihkan perhatian agar tidak terlihat memalukan di depan sang kekasih.
Tawa Araz makin mengembang. Laki-laki itu tak bisa menyembunyikan rona bahagia dari wajahnya begitu melihat ekspresi muka sang kekasih yang menggemaskan. Apalagi di saat Kanya pura-pura kesal dan tampak malu-malu di saat yang bersamaan.
"Haha...abis kamu lucu banget sih. Jadinya tuh selalu pengen cubit pipi kamu."
Kanya langsung pasang badan. Dia menghalangi wajahnya dengan kedua tangan.
"Eits...nggak bisa ya," ucapnya membuat sang kekasih tertawa lepas.
"Haha...iya, iya. Aku nggak bakal cubit pipi kamu. Ya udah gih, sana buruan mandi."
Tawa Araz semakin keras. Ia mendorong tubuh perempuan itu agar segera beranjak ke kamar mandi.
Meski kesal dengan sikap sang kekasih, tetap saja Kanya diam-diam merasa lega saat melihat tawa laki-laki itu.
Baginya itu lebih baik, ketimbang melihat wajah Araz yang tampak tidak baik-baik saja.
"Iya, iya. Aku mandi. Iseng banget sih," ucap Kanya pura-pura kesal begitu Araz masih saja mendorong tubuhnya.
Sedangkan laki-laki itu hanya tertawa menanggapi pernyataan Kanya.
Tanpa banyak kata, Kanya segera ke kamar mandi. Dia sengaja berlama-lama menuntaskan aktivitasnya hanya untuk menghindari Araz yang mulai iseng.
Dengan harapan, begitu selesai mandi, laki-laki itu lebih dulu tidur dan Kanya tak perlu berbasa-basi dengannya. Tubuhnya terlalu lelah dan dia ingin secepatnya memejamkan mata.
Hampir satu jam berlalu ketika Kanya keluar dari kamar mandi. Dan benar seperti harapan perempuan itu, bahwa Araz lebih dulu tidur di sofa ruang tamu yang sekaligus merangkap ruang tengah.
Laki-laki itu meringkuk dalam selimut yang sebelumnya sudah Kanya siapkan sebelum mandi.
__ADS_1
Senyum membingkai wajah Kanya.
"Selamat tidur. Mimpi indah ya," ucapnya sambil membelai rambut Araz yang menutupi wajah laki-laki itu.
Tak ada gerakan sedikit pun dari laki-laki itu. Senyum Kanya makin mengembang.
Perasaannya benar-benar lega begitu melihat Araz tampak damai dalam tidurnya.
...***...
Keesokan harinya Kanya lebih dulu terbangun ketimbang Araz. Laki-laki itu masih meringkuk di dalam selimut. Tidurnya juga terlihat nyenyak.
Perempuan itu sengaja tidak membangunkannya dan segera menuju dapur. Hari ini dia ingin memperlihatkan keahliannya memasak. Sekalipun itu hanya nasi goreng.
"Lagi ngapain kamu?" sapa Araz tiba-tiba saat Kanya sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Eh, Mas Araz? Udah bangun? Gimana tidurnya, nyenyak?"
"Aku bahkan nggak tahu kalau ini udah lagi. Kenapa nggak bangunin aku?" tanya si lelaki sambil mendekati Kanya yang sedang sibuk memotong ayam dan beberapa bahan lain untuk topping nasi gorengnya.
"Mas Araz keliatan nyenyak banget. Jadi, aku nggak tega buat bangunin."
Senyum membingkai wajah bangun tidur Araz yang masih mengantuk. Kalau saja ini bukan awal pekan, ingin rasanya dia kembali tidur dan melupakan sejenak soal pekerjaan. Tubuh lelaki itu masih terasa lelah dan dia membutuhkan lebih banyak beristirahat.
"Kan Mas Araz, bosnya. Ngapain mempermasalahkan soal begituan sih. Kalau kata aku sih, nggak harus setiap hari pergi ke kantor juga. Kan CEO," ucap Kanya sambil tak lepas dari pekerjaan yang sedang dilakukannya.
Bahkan dia tak menyadari jika Araz sedang memperhatikan dari tadi.
"Haha...bisa enak gitu ya ngomongnya anak ini. Mana bisa aku kayak gitu, Kanya? Yang ada anak buahku bakal semena-mena dan meniru perilakuku yang buruk."
"Ya kan itu nggak setiap hari juga, Mas. Lagian Mas Araz kan memang lagi kurang enak badan."
Araz tak bisa menyalahkan sepenuhnya kekhawatiran Kanya. Perempuan itu tentu saja memikirkan yang terbaik buat Araz.
Hanya saja beban pekerjaan yang tidak bisa dihindari membuatnya tidak bisa bersikap seenaknya.
"Ya lihat nanti aja deh, gimana baiknya," ucap laki-laki itu pada akhirnya. "Kamu dari tadi sibuk bikin apa sih?" imbuh Araz sambil tetap memperhatikan sang kekasih.
"Eh?" Perempuan itu menoleh ke arah Araz yang kini duduk di meja makan. "Aku? Lagi bikin nasi goreng nih buat sarapan. Aku nggak yakin sih rasanya bakal seenak masakan Mas Araz, tapi aku percaya diri kok, kalau masakanku juga enak," imbuhnya dengan dada membusung. Menunjukkan kepercayaan dirinya.
Araz tertawa menanggapi ucapan Kanya.
__ADS_1
"Memang ada yang bilang masakan kamu nggak enak? Atau ada yang bandingin masakan kita?" ucap Araz nasih menahan tawa.
Kanya tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang kekasih.
"Ehm...kayaknya nggak ada deh. Aku sendiri malah yang bandingin masakanku sama buatan Mas Araz."
Kanya tertawa saat menyadari ketololannya.
"Nah kan. Mau apa pun yang kamu masak. Enak ataupun nggak, yang penting bukan itu, Nya. Tapi usaha kamu buat masakin aku. Niatnya, ketulusannya, itu yang paling penting."
"Uhh...jadi terharu deh dengar ucapan, Mas Araz," ujar Kanya dengan tatapan pura-pura penuh rasa haru.
Araz tertawa melihat ekspresi wajah Kanya.
"Haha...apaan sih Nya, kamu keliatan aneh kalau kayak gitu," ucap Araz memancing tawa dari wajah perempuan itu.
"Haha...gimana sih, kan biar keliatan imut gitu, Mas."
"Kamu nggak usah kayak gitu juga udah keliatan imut, Kanya," puji Araz seketika membuat Kanya mematung.
Seperti biasa, wajah perempuan itu memerah begitu ada yang memujinya.
"Ah, tahulah. Mas Araz bisa banget sih bikin aku salting."
"Haha...aku nggak maksud kayak gitu, Nya. Memang kamu tuh imut. Gemesin."
"Udah deh, jangan bikin aku makin ge-er. Yang ada wajahku jadi semakin merah kayak tomat," ucap Kanya semakin salah tingkah.
Araz memang paling bisa membuatnya tak berkutik. Apalagi jika sudah memuji kalau dia imut, cantik, gemesin, dan lain sebagainya. Tak pelak, Kanya pasti akan mati kutu dibuatnya.
"Ya nggak apa-apa, kalau aku nggak bisa bedain mana tomat, mana kamu, berarti kan bukan salah aku kalau aku makan kamu," goda Araz menjadikan wajah Kanya semakin memerah.
"Mas Araz ihh...." protes Kanya sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah sama persis dengan warna tomat yang sedang dipotong-potong.
"Haha...kamu makin imut kalau udah kayak gini."
Tawa Araz pecah ketika memperhatikan Kanya semakin menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Mas Araz ih. Ketimbang godain aku, lebih baik sini gih bantuin. Nyebelin banget sih jadi orang. Sukanya godain mulu. Dikiranya aku anak kecil," omel Kanya menjadikan Araz semakin lepas tertawa.
Pagi ini benar-benar menyenangkan bagi laki-laki itu.
__ADS_1
"Andai setiap pagi bisa bercanda seperti ini," gumam Araz dalam hati.
Namun, dia tak berkecil hati. Pasti akan ada momen di mana dia bisa bercanda setiap hari bersama perempuan yang dicintai. Araz meyakini hal itu.