Pulang

Pulang
Perempuan yang Pernah Membuatnya Jatuh Cinta


__ADS_3

Renjana Kanya


Aku memutuskan menelepon Araz, sebab tak kutemukan lelaki itu di mana pun. Sementara perutku semakin terasa perih akibat belum makan seharian. Kabar tentang Putra benar-benar membuatku panik hingga tak sempat menelan sesuap pun makanan yang sudah kusiapkan.


Nada panggilan belum juga tersambung. Aku mencoba sekali lagi dan masih belum ada jawaban dari seberang.


"Ke mana sih nih orang, udah main ngilang aja, telepon juga nggak diangkat," omelku mulai tidak sabar. Amarahku sungguh tak bisa diajak berkompromi jika sedang menahan lapar.


Sekali lagi aku menekan nomor Araz di layar gawai. Berdering, tetapi hingga nada sambung berakhir tak ada tanda-tanda lelaki itu akan menjawabnya.


Huft ... aku menghela napas. Percuma saja, dia pun tak akan tahu jika aku marah sekalipun. Telepon saja tidak diangkat.


Panggilan keempat, setelah nada sambung terhubung, terdengar suara dari seberang telepon.


"Ya, Nya."


Akhirnya sambungan teleponku mendapat jawaban. Dalam hati merasa lega.


"Mas Araz, di mana? Aku cari tiba-tiba ngilang gitu aja."


"Aku ...."


"Sayang, siapa sih yang telepon?"


Belum sempat Araz menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara perempuan terdengar dari seberang. Hatiku mendadak terasa panas. Siapa perempuan yang memanggilnya, Sayang? Bahkan aku yang pacarnya saja tak pernah memanggilnya dengan nada menggoda seperti itu.


Mengabaikan suara perempuan yang terdengar, aku melanjutkan pertanyaan.


"Mas Araz lagi di mana?" tanyaku menahan amarah. Meski sebenarnya aku mulai curiga sedang di mana lelaki itu berada sekarang.


"Sayang ...."

__ADS_1


"Dok, plis deh. Jangan ganggu rumah tangga saya!" teriak Araz dari seberang menjawab panggilan sayang seorang perempuan.


Araz memanggilnya Dok, apakah perempuan itu seseorang yang bekerja di rumah sakit ini?


Tak ada tanggapan lagi dari perempuan yang sedang bersama Araz. Kecuali suara tawa pelan yang terdengar jelas di telingaku. Apakah posisi mereka sedekat itu bahkan aku sampai mendengar suara tawanya dengan jelas?


"Bye, Sayang." Tak lama suara perempuan itu terdengar lagi. Setelah entah apa yang telah dilakukan pada Araz. Sedang aku tak sanggup lagi menahan amarah yang semakin membakarku.


"Mas Araz lagi sama siapa sih?"


Nada suaraku terdengar mulai tak terkontrol. Jelas jika aku sedang marah. Meski aku tak tahu apakah Araz menyadarinya. Jika lelaki itu sadar sekalipun, aku tak mau tahu. Siapa suruh sudah membuatku cemburu.


"Aku lagi di puncak gedung. Nggak sengaja ketemu sama kenalan dokter. Sebentar lagi balik ke kamar, Putra."


"Nggak usah deh. Sana aja sama dokter kenalan Mas Araz itu," kataku sinis sebelum mengakhiri panggilan telepon.


Sungguh, hatiku benar-benar terasa panas sebelum akhirnya memutuskan pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli sesuatu. Tak peduli lagi apakah Araz lapar dan butuh makan atau tidak. Daripada bertemu dengannya hanya semakin membuatku sakit hati.


Kantin rumah sakit terlihat lengang. Hanya ada beberapa pengunjung yang sedang menikmati makan siang. Beberapa di antaranya berpakaian rapi dengan muka kusut. Mereka memakai jas sneli dan beberapa disampirkan di sandaran kursi yang tersedia di kantin rumah sakit. Sepertinya sekarang bertepatan dengan waktu istirahat para tenaga kesehatan di rumah sakit ini. Atau mungkin pergantian shift, melihat wajah lelah mereka yang tak terhindarkan.


Aku memilih memesan di stan bakso yang paling dekat dengan pintu masuk. Pilihan random saja mengingat betapa lapar dan jengkelnya aku atas perbuatan Araz. Di saat aku memikirkannya karena belum makan seharian dia justru menemui seorang dokter. Dan di mana tadi dia bilang, puncak gedung? Memang apa yang mereka lakukan? Menunggu pasien gawat darurat yang diantar dengan helikopter?


Heh, alasannya benar-benar tak masuk akal.


Seorang pelayan mengantarkan pesananku tepat saat perempuan berjas sneli menyapaku. Ia bertanya padaku apakah dirinya bisa duduk di bangku kosong depanku. Aku hanya mengangguk seperlunya dan menuntaskan ritualku memberi makan cacing-cacing yang sudah semakin anarki di dalam perutku. Namun, perempuan di depanku ini justru menatapku saat sedang makan dan menahan senyum.


"Nggak pakai sambal atau kecap?" tanya perempuan itu sambil mempertahankan senyum di wajahnya dan mengamati mangkuk bakso di depanku.


Aku membalas senyumnya sebelum menjawab,"Nggak, sambal atau kecap bisa merusak cita rasa bakso yang asli. Kalau Dokter mau tahu bakso itu beneran enak atau nggak bisa dicoba cara saya. Tanpa perlu tambahan sambal maupun kecap. Pasti kenikmatannya semakin terasa."


"Oh ya? Saya lebih suka menambah sambal, kecap dan saus banyak-banyak kalau makan bakso. Yah, walau kadang pas milih warung bakso secara random rasanya jadi nggak karu-karuan sih. Mungkin cara kamu bisa saya coba lain kali."

__ADS_1


"Iya, coba saja Dok. Baru kalau nggak sesuai selera boleh tambah sambal dan kecap atau saus untuk menolong rasanya yang nggak sesuai lidah."


"Terus, kalau menurut kamu, gimana bakso di kantin ini?"


"Saya yakin ini sih jadi favorit semua orang. Kuahnya bener-bener enak," kataku sebelum menyuap kuah bakso yang sedikit berwarna kuning dari kaldu lemak daging.


"Tebakan kamu tepat sekali. Kalau dokter di sini mengandalkan sebagai makanan cepat daripada harus makan mie instan."


"Oh ya?"


"Iya, kalau kami nggak sempat istirahat juga bisa diantar ke ruangan. Ngomong-ngomong siapa yang sakit?"


"Kakak, dia mengalami kecelakaan tadi pagi," kataku was-was. Berharap kasus kecelakaan pagi ini cukup banyak dan dokter di depanku bukanlah tipe orang mengikuti gosip. Tentu saja peristiwa kecelakaan Putra bukanlah hal yang bisa ditutupi dengan mudah meski sampai saat ini belum ada media yang menulisnya.


"Oh, jadi kamu adik vokalis Nada Sumbang itu?" tanya perempuan itu seketika membuatku pucat. Apalagi dia begitu antusias hingga meningkatkan nada suaranya.


"Sstt ... Dok, jangan keras-keras! Bisa susah nanti kalau ada yang dengar," kataku justru membuat perempuan itu semakin melebarkan senyum.


Bagaimanapun di kantin mulai ramai pengunjung. Bukan hanya sosok-sosok yang memakai jas sneli, melainkan juga para keluarga pasien yang sedang mencari makan atau keperluan lain. Jika ucapan dokter itu sampai terdengar, bukan tidak mungkin kabar tentang Putra pun akan cepat menyebar.


"Ups, maaf. Saya ngefans banget sama dia. Suaranya bikin tentram kalau lagi dengerin. Waktu tahu dia dirawat di sini, saya pengen banget ketemu, tapi itu kan melanggar kode etik. Jadi yah, apa boleh buat." Wajahnya tampak kecewa saat mengucapkan kalimat itu.


Aku tersenyum membalas pernyataan dokter itu. Baru setelah itu, aku mengamati sosok yang duduk di depanku. Dokter itu belum begitu tua. Bahkan masih terlihat muda. Awal kepala empat barangkali. Wajahnya cantik terawat. Meski terlihat lelah, masih jelas binar semangat dari kedua matanya yang menyorot tajam tapi juga teduh bersamaan. Rambut panjangnya yang ikal ia biarkan tergerai, tapi aku melihat karet gelang dipergelangan tangannya. Untuk jaga-jaga jika ia perlu mengikat rambutnya segera dalam keadaan darurat tentu saja. Di jas sneli-nya tersemat nametag yang membuatku segera tahu siapa nama dokter cantik di hadapanku kini.


"Ah ya, kita belum sempat berkenalan ya, padahal sudah ngobrol cukup lama," katanya membuatku gugup karena ketahuan mencuri identitasnya melalui nametag yang ia pakai. "Kenalkan, nama saya Bella."


Perempuan itu mengulurkan tangannya. Namun aku ragu meraihnya. Nama itu, seperti gaib yang tiba-tiba membuat dadaku bergemuruh. Ada perasaan nyeri yang tiba-tiba menghujam jantungku.


Mungkinkah dia ... perempuan itu?


Ragu-ragu aku membalas jabatan tangan perempuan itu. Lidahku kelu saat menyebutkan nama. Bahkan berat rasanya menarik kedua ujung bibirku.

__ADS_1


Dia kah perempuan yang pernah membuat Araz jatuh cinta? Dan, mereka baru saja bertemu beberapa menit lalu.


__ADS_2