Pulang

Pulang
Kesepakatan


__ADS_3

Renjana Kanya


Tiga hari berlalu sejak aku tiba di Jakarta. Aku mulai bosan dengan rutinitas yang monoton setiap hari untuk menghabiskan jatah cuti yang diberikan Mas Hanung. Sedari pagi, aku hanya memainkan layar gawai yang isinya masih itu-itu saja. Tentang banjir Jakarta yang semakin meluap dan siapa yang paling tepat disalahkan untuk perkara ini. Televisi pun sama saja. Jika tidak perkara banjir, pasti tentang ancaman virus yang kini mulai menyebar ke negara-negara tetangga tempat virus itu bermula.


Bahkan hasil wawancara dengan tokoh pergerakan lingkungan yang kujumpai Senin lalu, sudah selesai kutulis. Siap kukirim begitu jatah cutiku habis. Lalu apa lagi yang bisa kulakukan, selain berdiam diri di rumah. Membunuh bosan yang sudah mulai menggerogoti separuh kewarasanku.


Sementara hujan masih saja mengadu pada bumi tentang resah, mungkin juga amarah sejak tadi malam. Menambah daftar wilayah banjir semakin meluas. Jika sudah begini tak ada yang bisa kulakukan selain bergelung di bawah selimut tebal. Meski sebenarnya sudah bosan setengah mati.


Jika aku memaksa keluar dan memilih bersenang-senang, betapa tidak berempatinya aku. Merasa bahagia di atas kesusahan hampir separuh penduduk Daerah Khusus Ibukota. Sedang kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang keadaan ekonominya tak sebaik aku. Bukankah jika begitu aku tak ubahnya seperti keluarga Park Dong-ik dalam film Parasite yang menggelar pesta sesudah hujan deras semalaman dan merendam rumah separuh penduduk di sekitanya.


Kalau saja Mas Hanung tidak memberiku cuti di situasi seperti ini, aku pasti sudah sibuk berlarian di tengah banjir. Mengambil setiap momen dan bahu-membahu dengan petugas lainnya yang kini tentu sangat sibuk menerjang banjir. Seperti halnya para relawan yang berjuang lebih gigih pada masa seperti ini.


Ah ya, relawan. Kenapa nggak kepikirkan sebelumnya?


Biasanya, para milenial maupun generasi setelahnya, si Z itu, sering sekali menggalang dana atau aktif menjadi relawan pada masa-masa seperti saat ini. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Terkadang gerakan itu didominasi oleh selebgram yang memang benar-benar peduli pada lingkungan sekitar. Saat demo mahasiswa yang cukup menggemparkan hingga ke pelosok daerah tahun lalu pun, tak sedikit selebgram yang turun ke jalan. Demi nama sebuah solidaritas.


Aku menyentuh tombol finger print di bagian belakang gawai dan mencari apa yang kubutuhkan di aplikasi berwarna ungu dan jingga itu. Tempat berkumpul segala aktivitas manusia mulai dari yang memang berniat pamer, sampai yang benar-benar mengajak orang lain berbuat kebaikan.


Benar saja, pencarianku melalui #banjirjakarta memunculkan banyak postingan terkait bencana alam hidrometeorologi itu. Tidak sedikit pula komunitas yang peduli pada banjir Jakarta dan menggalang dana maupun tenaga untuk meringankan beban mereka yang membutuhkan.


Kurang dari lima menit aku berselancar di media sosial berlambang kamera itu, aku sudah menemukan komunitas yang cocok untuk kuikuti. Selain mengumpulkan bantuan berupa sembilan bahan pokok, pakaian bekas layak pakai, mereka juga membuka barak khusus bagi anak-anak yang sekolahnya terendam banjir dan masih banyak jenis kegiatan sosial yang lain.


Dari sekian banyak postingan dengan tagar banjir, fokusku terusik saat membaca sebuah akun yang namanya begitu familiar. @a_raz85.


Tanpa sadar aku tersenyum saat menyadari angka tahun di belakang nama akun itu. Kesannya menunjukkan jika sang pemilik akun sudah berumur dan sengaja memamerkannya pada dunia. Atau justru itu wujud kenarsisannya.

__ADS_1


Aku meng-klik akun itu, dan muncul postingan-postingan di feed-nya yang tersusun rapi. Kelihatan sekali jika pemiliknya begitu telaten mengurus media sosialnya. Bahkan followers-nya sudah mencapai puluhan ribu. Like di setiap fotonya pun mampu mengalahkan postingan selebgram.


Isi postingannya bervariatif. Namun yang paling banyak adalah foto pemandangan. Termasuk ketika terakhir kali kami mengunjungi salah satu wisata alam di Kabupaten Tuban. Foto air mancur di tengah kolam dihiasi lampu warna-warni dengan latar belakang stalaktit dan stalagmit, terpajang apik dengan rangkaian tiga feed sekaligus. Membuatku semakin yakin siapa sebenarnya pemilik akun itu. Bahkan aku baru sadar, jika akun itu telah mengikutiku.


Kapan dia mulai ikuti IG gue?


Sudut bibirku terangkat. Aku bahkan tidak pernah mengunjungi medsosku dan membiarkannya suwung dalam waktu yang lama. Mungkin sejak dua atau tiga bulan yang lalu. Bagaimana aku bisa menyadari siapa saja pengikut baruku dan siapa yang berhenti mengikutiku.


Setelah meng-klik tombol ikuti balik, aku membuka ruang obrolan di pojok kanan atas berlambang pesawat kertas. Iseng, aku menanyakan tawaran pemilik akun itu yang beberapa hari lalu sempat kami perbincangkan.


Hei Mas, masih butuh asisten nggak? Gabut di rumah mulu. Kayaknya bakal bermanfaat deh kalau ikut bantuin Mas Araz. 😁


Tak lama, direct message-ku dibalas.


Hei Nya, tumben main Instagram. Jangan-jangan baru notice ya kalau aku udah ngikutin kamu di IG.


Udah lumayan lama. Pas kita ketemu di lift kek-nya.


Cie, yang diam-diam jadi stalker.


Apanya yang di-stalker, orang medsos isinya cuman quotes galau.


Hahaha... Aku tertawa membaca balasan Araz. Memang isi instagramku hanyalah repost dari akun-akun quotes galau seperti yang lelaki itu bilang. Kalaupun ada fotoku, itu bisa dihitung jari. Mungkin sekitar lima atau tujuh saja.


Aku pun sampai heran, apa sebenarnya tujuanku membuat media sosial ini. Pantas jika pengikutku pun tidak sampai ribuan seperti milik Araz. Dan dapat dipastikan, like setiap postingan pun tidak pernah melebihi sepuluh. Iyalah, siapa juga yang mau nge-like postingan repost yang isinya cuma ngajak galau. Toh aku sendiri pun tak peduli urusan itu.

__ADS_1


Belum sempat membalas DM Araz, gawaiku berdering. Nama lelaki itu yang masih belum kuganti - TMN M Hanung - muncul di layar gawai. Suaranya terdengar riang dari seberang. Dengan backsound cie dan entah apa lagi.


"Teman Mas Araz heboh banget? Nggak pernah telepon cewek ya sebelumnya?" godaku dibalas dengusan kesal dari seberang. Lelaki itu meminta teman-temannya agar diam.


Aku tertawa. Sejak insiden keisengan Mas Hanung dan berakhir pada makan malam berempat kami, hubunganku dengan Araz semakin mencair. Tidak ada lagi istilah sungkan dalam kamusku. Bahkan aku bisa memperlakukannya sama halnya dengan Mas Hanung.


"Serius mau jadi asistenku? Aku nggak bisa bayar mahal loh. Namanya juga kerja sosial 'kan. Ya, kalau ngasih makan sehari tiga kali aja sih, aku masih sanggup," kata Araz. Kini suasana di belakangnya sudah tidak seramai tadi. Mungkin lelaki itu telah berpindah ke tempat yang lebih sepi.


"Boleh aja. Udah lebih dari cukup sih kalau dikasih makan tiga kali sehari. Apa nih yang bisa aku bantu?"


"Kamu bisa storytelling nggak? Kita lagi bituh itu sih. Biar bisa bantu anak-anak supaya cepet pulih dari trauma lewat dongeng. Rencananya ada komunitas marionet juga sih, tapi dia belum pastikan jadi atau nggaknya," kata Araz antusias menjelaskan bakti sosial yang akan digelar bersama dengan teman-temannya yang lain.


"Bisa sih Mas, tapi nggak sebagus pro juga."


"Iyalah, kalau pro tentu kamu nggak bakal jadi reporter kan?"


Aku tertawa menanggapi pertanyaan Araz yang lebih seperti pernyataan itu.


"Iya juga ya. Kalau gitu aku diterima nih jadi asisten Mas Araz?"


"Iya, siapa sih yang nggak mau punya asisten kayak kamu," kata Araz kembali pada keisengannya yang semula. Aku hanya tertawa. "Oke deh, kalau gitu besok aku jemput jam 08.00 ya. Lebih pagi lebih baik."


"Lah, acaranya pagi? Mas Araz nggak kerja tuh?"


"Loh, kamu nggak baca flayer yang kubagikan? Ini 'kan acara LF, Nya. Cuma kami juga cari relawan karena kekurangan tenaga."

__ADS_1


Wajahku terasa pias. Di situ aku merasa ***** karena tidak membaca flayer yang dibagikan Araz dengan teliti. Jika seperti ini, apa aku sanggup beraktivitas di antara orang-orang keren La Fammes.


Oh God, I'm stupid girl.


__ADS_2