Pulang

Pulang
Setelah Hari Esok


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Kupandangi wajah Kanya yang masih menatapku tanpa berkedip. Selama aku menceritakan tentang Arez, perempuan itu hanya menyimak tanpa menginterupsi dengan pertanyaan atau semacamnya. Bibirnya mengatup erat. Sementara air mata dan isak tangis tak mampu ia hindarkan. Bahkan sampai akhir ia tetap pada posisinya memeluk lutut.


"Apa Arez..."


Kanya tak melanjutkan kalimatnya. Ia lama terdiam sambil terus menatapku. Jenis tatapan yang menyiratkan kesedihan mendalam. Bentuk sakit hati karena penyesalan juga pengkhianat di waktu yang bersamaan. Atas diamnya Arez yang justru membuat luka itu semakin parah. Atas keputusan Arez yang tak pernah ia tahu jika lelaki itu memikirkannya jauh ke masa depan. Atas perasaan Arez yang tak pernah Kanya tahu jika sebegitu besar cinta lelaki itu padanya. Juga...


Aku tak sanggup menjabarkan lagi arti sorot mata yang masih basah oleh air mata itu. Hingga akhirnya perempuan itu bergerak ke arahku dan meraba bekas jahitan di balik kaus yang kukenakan. Gerakannya yang tiba-tiba membuatku terkejut. Refleks aku menghentikan tangannya sebelum ia melakukan hal lebih dari ini. Bagaimanapun aku tetap lelaki dewasa yang butuh...


Ah sudahlah. Setan selalu punya celah untuk menggoda manusia.


"Izinkan aku melihatnya, Mas. Kalau... Mas Araz nggak keberatan." Kalimat Kanya di antara isak tangis yang kian memudar.


"Kamu yakin? Gimana kalau aku..." Aku tertawa menyadari yang ada dalam otakku hanya pikirkan mesum. Kanya menatapku heran saat melihatku tertawa.


"Kenapa?"


"Nggak, hanya saja, aku ini lelaki dewasa yang masih normal, Kanya. Bagaimanapun, berdua sama kamu seperti ini jadi tantangan berat. Kamu tahu, kamu..."


Tawaku tak sanggup kuhentikan. Sungguh aku mengutuk pikiran busukku yang hanya memikirkan perkara kebutuhan biologis saja. Sedang Kanya hanya menatapku semakin heran.


"Oke, aku akan tunjukkan, tapi kamu hanya boleh melihatnya. Jangan sampai menyentuh."


"Sori, aku nggak tahu kalau Mas Araz sesensitif sama sentuhan."


"Sejujurnya nggak, cuma beda kalau kamu yang lakuin," kataku membuat raut wajah Kanya merona. Perempuan itu menunduk malu.


"Kalau gitu, Mas Araz nggak perlu nunjukin ke aku, tapi... aku penasaran dengan detak jantung Arez ketika sudah berpindah tempat," ucap Kanya di sela-sela menyembunyikan wajahnya di balik tekukan lutut.


Aku tersenyum melihat ekspresi malu perempuan di depanku itu. Kuraih tangan Kanya lembut agar ia mengangkat wajahnya. Senyum tak lepas dari wajahku yang sesungguhnya mendadak kaku. Perlahan aku menyingkap kaus dengan tangan kiri sementara tangan kananku masih menggenggam tangan Kanya.


Binar kejut di mata Kanya tak mampu ia sembunyikan saat melihat bekas luka yang memanjang sepanjang dada hingga hampir menyentuh pusar. Sesuai janji, Kanya hanya melihat bekas luka operasi yang pernah kujalani. Meski aku tahu, dia berusaha sekuat tenaga agar tidak menyentuhnya. Sebab sesekali tangannya bergerak gelisah dalam genggamanku.


"Sakit banget ya, Mas?" tanya Kanya pada akhirnya.


"Udah nggak. Yah, meski aku belum tahu pasti apa penyebabnya beberapa minggu kemarin sempat terasa nyeri. Mungkin, pemilik sebelumnya tahu kalau aku semakin dekat sama kamu," ucapku asal.


Menutupi kenyataan jika aku kambuh beberapa waktu lalu akibat kelelahan dan tak mengatur pola hidup sehat. Belum lagi sedikit masalah yang menumpuk akibat pekerjaan dan pergolakan batinku untuk bercerita tentang Arez pada Kanya. Padahal aku masih rentan terhadap hal buruk yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi.


"Emang hal kayak gitu ada?"


"Entahlah, tapi mungkin beberapa kebiasaan atau kesukaan Arez sebelumnya, kadang juga kurasain. Semacam ikatan batin atau mungkin emosi. Entahlah, aku nggak bisa jelasinnya."

__ADS_1


"Ah, kopi dengan sedikit creamer tanpa gula?"


"Ya, bahkan sebelumnya aku nggak pernah minum kopi. Selain karena nggak boleh, rasanya juga aneh. Terlalu asam, kadang juga pahit."


Kami terdiam. Kanya tak lagi bertanya soal apa pun. Ia hanya mengamati bekas luka di dadaku itu. Hingga gerakan perempuan itu, lagi-lagi membuatku terkejut. Kanya menempelkan telinganya tepat di jantungku. Memejamkan mata seolah menikmati debaran jantungku yang tentu saja tidak normal. Bagaimana aku sanggup tidak berdebar-debar jika hanya berdua dengan Kanya di jam lewat tengah malam.


Sudah kubilang, setan selalu punya celah menggoda manusia.


"Detak jantung kalian terdengar sama," kata Kanya membuatku tak berpikir sejenak. Mungkinkah maksudnya Arez juga berdebar-debar jika dekat dengannya?


Ah tentu saja. Siapa yang bisa mengatur debaran jantungnya jika berdekatan dengan orang yang disayangi? Dan bukankah memang Arez mencintai gadis itu? Wajar jika ia pun tak bisa mengontrol debaran jantungnya selama berada di dekat Kanya. Termasuk aku.


Sialnya, aku bahkan tak bisa menahan efek kupu-kupu yang bergejolak di dasar perutku.


Jauh sebelum pertemuanku dengan Kanya, aku pernah bertanya pada Arez, jika dia ingin melindungi dan membahagiakan perempuan itu, mengapa ia tak mengungkapkan perasaannya sejak awal? Arez hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.


Saat itu, kami sedang menjalani tes lanjutan tentang kondisi kesehatan kami. Mencari kecocokan satu sama lain jika jantung Arez nantinya diletakkan menggantikan jantungku yang rusak. Juga kemungkinan-kemungkinan lebih mendetail dari risiko setelah pencangkokan jantung apabila jantung Arez tak cocok untukku.


Lalu jawabnya,"Lo pikir gue nggak pernah ungkapin perasaan gue ke dia? Udahlah Bang, tapi apa, dia selalu anggap gue bercanda. Padahal gue ngomongnya nggak pernah ada bercanda-bercandaan. Setiap kali dia berantem sama pacarnya juga, gue sering kasih klu kalau gue bakal bersedia gantiin pacarnya itu. Meski gitu, Kanya tuh tipe cewek yang setia, Bang. Sekalipun dia nggak bisa nolak pesona gue."


"Dih, pede amat."


"Emang kenyataannya gitu. Ya mungkin jauh di lubuk hatinya, dia udah mulai ada rasa sama gue, tapi logikanya bilang kalau itu keliru. Makanya dia nyangkal. Yah kalaupun nggak ada rasa, setidaknya dia mulai tertarik lah sama gue."


Arez hanya tersenyum sambil mengerling nakal. "Ntar lo juga bakal tahu."


"Kalau gue tetep nolak buat ketemu, Kanya?"


"Ya kutukan lo nggak bakal lepas. Lo bakal jomlo seumur hidup."


"Edan! Gue nggak percaya lo bisa tenung atau nyihir orang, tapi kalau itu doa, betapa teganya lo doain gue jomlo seumur idup."


"Ya masa lo masih mengharapkan Dokter Bella sih, Bang? Sadar woi, dia udah nikah."


"Tunggu-tunggu, gimana lo bisa tahu kalau gue... sama Dokter Bella... Lo beneran cenayang?"


Mendengar pertanyaanku, Arez justru tertawa terpingkal-pingkal. Lelaki itu sampai memegangi perutnya yang mungkin terasa kaku. Melihat betapa puasnya ia menertawakanku.


"Gimana sih lo. Gue 'kan cucu pemilik rumah sakit ini. Ya pasti bakal denger lah semua gosip yang beredar. Apalagi gosip yang sempet menghebohkan se-rumah sakit karena ada pasien yang berani cium seorang dokter. Itu elo 'kan?"


Wajahku memerah mendengar pengakuan Arez. Bagaimanapun kisah itu tidak layak untuk diceritakan, tapi Arez dengan tanpa beban menyampaikannya padaku. Ia tertawa melihat wajah gugupku. Aku benar-benar seperti maling yang tertangkap basah pemilik rumah, bahkan sebelum sempat mengambil barang berharga.


"Makanya itu Bang, lo harus move on. Udah deh, Kanya tuh jodoh terbaik buat lo. Percaya sama gue!"

__ADS_1


"Gimana lo bisa yakin?"


"Ya karena itu gue yang ngomong."


"Trus gimana lo bisa yakin kalau Kanya juga bakal suka sama gue?"


"Ya karena itu lo," kata Arez sambil merapikan letak selimutnya. Katanya kemudian,"Saat Kanya mau berbagi masalahnya sama lo Bang, itu pertanda kalau dia mulai tertarik sama lo. Tinggal gimana lo bisa rebut hatinya. Sebelumnya pastikan aja dulu sih, dia masih single atau nggak. Kalau nggak, ya jangan dulu melangkah. Nasib lo bakal kayak gue dan lo bener-bener bisa jadi jomlo seumur hidup."


Setelah mengatur posisi rebahannya agar lebih nyaman, Arez melanjutkan,"Oh ya Bang, dia bakal lebih intens ingin tahu tentang lo dan sedikit... ehmm, agresif dalam beberapa hal. Termasuk sentuhan misalnya."


Mungkinkah ini saatnya? Tanda yang diucapkan Arez jika Kanya mulai tertarik denganku? Haruskah aku mengungkapkannya sekarang?


Aku menghela napas panjang. Sebelum mengucapkan kalimat sakral yang jarang bahkan hampir tidak pernah kuucapkan pada seorang perempuan, aku mengatur napas agar tidak terlihat gugup.


"Kanya, aku tahu ini terlalu cepat, kalau kamu masih keberatan aku mengajakmu segera menikah, bagaimana jika..." Kalimatku terhenti. Meski sebentar aku bisa merasakan tubuh Kanya menegang. Sebelum perempuan itu menjauhkan telinganya dari jantungku, aku menahannya dengan pelukan agar ia tidak menghindar. "...seperti ini sebentar saja. Aku ingin ingin mengucapkan sesuatu."


Kanya mengangguk dalam pelukanku. Sedang aku berusaha mati-matian agar bisa mengatur napasku yang tak juga bisa tenang.


"Aku nggak tahu apa yang bakal terjadi setelah hari esok. Jika mengajakmu menikah adalah hal yang terlalu cepat dan membuatmu merasa nggak nyaman, aku mau kita coba jalanin dulu. Sebagai sepasang kekasih. Itu pun kalau kamu nggak keberatan. Apa pun itu, keputusannya ada di kamu. Aku nggak mau memaksa."


"Mas, aku mau kita seperti ini lebih lama," ucap Kanya setelah kami lama membisu. Ia mendorong pelan tubuhku dan memandangku dengan wajah tersenyum yang sangat cantik. Arez selalu benar. Kanya memang terlihat sangat cantik ketika ia tersenyum. "Seperti yang Mas Araz bilang, kita nggak bakal tahu apa yang terjadi setelah hari esok, tapi aku mau nemenin Mas Araz sampai nggak ada lagi hari esok."


"Jadi, kita langsung nikah atau...?"


"Mas Araz ih, emang nikah segampang main gambreng?"


Tawaku melebar mendengar pertanyaan Kanya. "Kenapa dibuat susah sih?"


"Aku bahkan belum kenal keluarga Mas Araz. Mas Araz juga... Udahlah, kita pacaran aja dulu. Momennya jadi nggak romantis lagi 'kan," gerutu Kanya dengan wajah yang terlihat lucu. Pipinya memerah dan bibirnya tampak cemberut. Ekspresi lain dari wajah Kanya yang baru kulihat untuk pertama kali.


"Hahaha... Maafin deh. Baru kali ini nembak cewek dan langsung diterima. Btw, kapan kamu mulai tertarik sama aku?" tanyaku iseng pada kanya. Bukannya menjawab, gadis itu justru kabur masuk ke kamar Arez. Sedangkan tawa tak lepas dari wajahku. "Kok kabur sih. Jawab dulu dong, Nya."


"Bodo, aku nggak mau jawab!" teriak Kanya dari balik pintu kamar Arez.


Senyum masih mengembang di bibirku. Kupandangi foto keluarga di ruang tengah yang menangkap gambar Arez, Bunda, Ayah dan aku. Senyumku tak juga redup. Meski aku tidak memiliki ikatan sedarah dengan keluarga itu, nyatanya banyak hal yang mampu menyatukan kami. Kukira bukan kebetulan semata jika kami - aku dan Arez - memiliki banyak kesamaan hingga berakhir pada keputusan lelaki mendonorkan jantungnya padaku. Ini semua pasti ada campur tangan takdir. Termasuk pertemuanku dengan Kanya.


Mungkin memang benar, Arez adalah cenayang yang bisa melihat masa depan. Hanya saja dia tak pernah menunjukkannya dengan sesumbar.


"Makasih, Rez. Lo udah bawa Kanya dalam kehidupan gue. Gue berutang banyak sama lo. Gue janji, selanjutnya gue yang akan bahagiain Kanya. Tugas lo udah selesai. Waktunya lo tidur dengan damai."


Aku pun akhirnya melangkah ke kamar lain. Jam di ruang tengah baru saja berdenting dua kali. Tubuhku butuh istirahat sebelum besok kembali ke Jakarta pagi-pagi buta, jika tidak ingin Kanya terlambat masuk kantor. Aku yakin, Hanung akan menyalahkanku jika kinerja Kanya menurun setelah tahu perempuan itu berpacaran denganku.


Senyum lagi-lagi mengembang di ujung bibirku saat mengetahui fakta jika sekarang Kanya adalah pacarku.

__ADS_1


__ADS_2