
Renjana Kanya
Dua hari sejak Mama diizinkan pulang, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Wanita itu tampak sehat luar biasa. Tidak tampak sama sekali raut letih yang terpancar seperti saat masih terbaring di rumah sakit.
Kami bercerita tentang banyak hal sampai larut malam, memasak bersama Araz, juga merawat Victor. Bayi mungil itu semakin tampak sehat semenjak Mama pulang. Pipinya semakin tembam. Kebutuhan ASI-nya tercukupi. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya mengandalkan susu formula di bawah asuhan para babysitter.
Saat ini pun, aku, Araz, dan Mama sudah mulai sibuk di dapur membuat adonan kue. Laki-laki yang memang hobi memasak itu, tentu saja antusias saat Mama mengajaknya membuat kue. Hari ini tour pertama Nada Sumbang digelar. Mama ingin membuatkan mereka blackforest sebagai bentuk penyambutan.
Selama membuat kue itu pula, Mama bertanya banyak hal tentang Araz. Tentang keluarga laki-laki itu - yang aku pun belum mengenalnya kecuali bunda dan ayah Arez yang juga sudah dianggap orang tuanya sendiri, makanan kesukaannya, kariernya, kesibukkannya, hingga hobinya selain memasak. Namun, ada satu pertanyaan Mama yang membuatku mematung seketika.
"Apa sih yang kamu sukai dari Anya, Raz? Perempuan nggak ada feminim-feminimnya gini. Masak nggak bisa, tapi paling hobi makan," kata Mama membuat Araz mengulum senyum. Sedangkan aku hanya sanggup menatap Mama dengan pandangan tak percaya. Bisa-bisanya wanita itu menanyakan pertanyaan konyol dan membuatku mendengarnya.
"Nggak usah dijawab deh, Mas. Mama ih, apaan sih kok tanya gitu segala," kataku setelah sanggup menguasai keterkejutanku. Mama justru tertawa.
"Kenapa, kan Mama pengen tahu apa yang bikin Araz bisa suka sama kamu."
"Ya tapi kan nggak harus ditanyakan di depanku juga, Mama. Kalau ternyata jawaban Mas Araz nggak sesuai ekspektasiku gimana? Kan aku yang bakal malu," kataku dengan wajah cemberut. Mama justru menowel hidungku dengan adonan kue yang akan dimasukkan dalam oven.
"Memang kamu mengharap kayak gimana? Kisah dongeng bagai Cinderella? Kan kamu juga nggak tinggal sama ibu tiri dan dua saudara kembarnya."
"Mama ih, tahu deh. Anya ke atas aja." Aku merajuk.
Kuletakkan spatula yang semula kugunakan untuk mengaduk wipe cream. Araz yang menahan tawa dari tadi akhirnya menyerah juga. Tawa laki-laki itu lepas tanpa sungkan dengan Mama yang justru ikut tertawa bersamanya. Bahkan saat Ayah Eka muncul di dapur pun tawa mereka menular. Dan, perkataanku bukan sekadar ancaman. Aku benar-benar naik ke lantai dua dan berencana mengurung diri dalam kamar. Sialnya aku justru berpapasan dengan Putra yang baru saja keluar kamar.
"Kenapa, kusut banget tuh muka?" tanya Putra memancing kekesalan yang tak bisa kusembunyikan.
"Mama rese. Ngerjain gue depan Araz."
Putra mengerutkan kening. Laki-laki itu bersandar di dinding pembatas dengan daun pintu. Senyumnya mengembang.
"Dikerjain gimana sih, kok sampe ngambek gitu?"
"Tahu ah, males gue reka adegan."
"Ya udah deh. Gimana, nanti malam datang 'kan?"
"Iya, gue udah bilang sama Angel buat bisa akses ke belakang panggung sih. Terlalu bahaya kalau nonton depan panggung."
Tour Nada Sumbang di kota asalnya memang tidak diselenggarakan di hall luas semacam di kota besar. Penyelenggara iven memilih kompleks Kompi Senapan - C sebagai alternatif pilihan. Mengingat bagaimana antusias masyarakat setiap kali ada iven serupa, maka aku meminta Angel untuk memberikan akses ke belakang panggung. Sebab, sudah pasti seluruh anak muda - tidak peduli fans atau bukan - akan tumpah ruah ke jalan demi mencari hiburan. Tidak dapat dihindarkan pula, tawuran bisa saja terjadi sewaktu-waktu.
Kondisi itu sudah lama terjadi sejak aku aktif mengurus Nada Sumbang yang dulu sering menjadi bintang tamu pembuka setiap kali ada tour band papan atas ke daerah. Dan masih berlanjut bertahun-tahun kemudian sampai sekarang. Itu pula alasan mengapa kompleks Kompi Senapan - C selalu menjadi alternatif pilihan tempat menyelenggarakan iven serupa.
"Mau di depan atau belakang panggung, aku cuma berharap kamu datang sih. Ada salam perpisahan yang harus aku sampaikan," kata Putra mendadak berubah sendu. Padahal tadi pagi tawanya sudah begitu cerah menghiasi wajah laki-laki itu.
"Apaan sih Kak, ada salam perpisahan juga. Kayak mau ke mana aja. Kita juga pasti bakal ketemu lagi. Di lebih banyak waktu dan momen."
"Kamu tahu yang aku maksud, Nya. Biarkan aku melakukan dengan cara yang benar."
"Hemm ... iya deh iya. Romantis banget sih Kakakku ini," kataku menyindir Putra yang sudah kembali tertawa saat mendengar ucapanku. "Ya udah, siap-siap sana gih. Kalian nggak perlu cek sound atau semacam sebelum manggung?"
"Bentar lagi pihak label ada yang jemput ke sini. Siap-siap buat nanti malam."
__ADS_1
"Gih berangkat sana. Semangat ya!" ucapku sebelum masuk dalam kamar dan menguncinya. Sejenak aku ingin lari dari penat yang tiba-tiba menyerang seluruh organ tubuhku.
***
Pukul setengah delapan malam. Mama sudah menyiapkan blackforest dalam box agar mudah dibawa. Wanita itu mewanti-wanti agar mahakaryanya bersama Araz jangan sampai rusak. Bahkan dia dengan tegas mengulang permintaannya saat mengantarku ke garasi untuk mengambil motor. Aku yang menyarankan agar menggunakan motor daripada mobil. Sebab pasti jalanan sekitar tempat acara akan macet dan menyusahkan kendaraan roda empat buat lewat.
"Awas, jangan sampai rusak loh!" Mama mewanti-wanti sekali lagi.
"Iya Mama, nggak percaya amat sih sama Anya. Anya bakal hati-hati banget bawanya. Janji deh," ucapku tak lantas membuat Mama lega.
"Kenapa nggak bawa mobil aja sih?"
"Ma, ribet. Bakal susah lewatnya. Belum nanti parkirnya juga. Percaya deh sama, Anya."
"Iya, iya, sudah. Sana berangkat. Salam buat Putra sama yang lain ya. Mama belum bisa lihat mereka di atas panggung."
"Iya, nanti Anya sampaikan ke mereka."
Setelah berpamitan, Araz menstarter motor dan meninggalkan halaman rumah. Mama masih berdiri di garasi sampai kami berbelok ke jalan perumahan yang lengang. Tak ada percakapan selama kami menuju tempat acara. Bukan karena tidak ada bahan untuk dibicarakan, hanya saja aku perlu berkosentrasi agar box kue yang dipercayakan Mama padaku jangan sampai tumpah.
Seperti yang kuduga, sepanjang Jalan Sunan Kalijaga padat oleh kendaraan sampai ke tempat acara diselenggarakan. Pemuda-pemudi dengan berbagai style dan fashion tumpah ruah di jalanan sebagaimana mereka akan menonton konser. Seperti dugaanku juga, anak-anak dengan dandanan punk, sampai rock and roll mendominasi di antara lautan manusia yang memadati tempat acara.
"Sejak kapan Nada Sumbang jadi aliran rock, Nya?" tanya Araz saat kami baru saja memarkir motor. Aku tersenyum menanggapi pertanyaan laki-laki itu.
"Nggak ada ganti aliran, Mas. Mereka dari dulu juga fokus ke folk. Cuma ya gitu, kalau ada hiburan - apa pun bentuknya - pasti mereka tetap bakal membaur."
"Terus mereka bisa gitu nikmatin musiknya?"
"Udahlah, yuk. Angel sudah nunggu dekat pintu masuk artis."
Araz mengikuti langkahku menuju pintu khusus yang digunakan oleh artis. Rasanya rindu juga berjalan di jalur khusus seperti saat ini. Dulu, kesempatan serupa selalu aku manfaatkan untuk meminta tanda tangan bintang tamu saat mendampingi Nada Sumbang. Sekarang, justru melalui jalur inilah aku diantar untuk bertemu artis sesungguhnya.
"Mbak Anya, di sini. Nada Sumbang udah main lagu ketiga," kata Angel saat menyambut kami.
Gadis itu mengajak kami menuju tenda khusus untuk para artis di belakang panggung. Lalu segera menghilang sesaat kemudian. Mungkin dia kembali stand by bersama para kru yang lain. Sebab tak lama kemudian, seorang laki-laki seumuran denganku muncul di tenda artis dan mengenalkan diri sebagai salah satu kru panggung.
"Jadi ini adik Bang Putra yang sering diceritakan personel Nada Sumbang itu? Salam kenal, saya Leon. Yang ngurus segala keperluan panggung Nada Sumbang." Laki-laki itu mengulurkan tangan.
"Mereka sering ngomongin aku ya ternyata. Salam kenal juga, Kanya. Dan ini, Araz," kataku sambil membalas uluran tangan Leon, lantas mengenalkan Araz yang mendadak berdiri kaku di sampingku. Gesturnya menunjukkan dia cemburu. "Oh ya Mas, jadi ini nanti kue sama bunganya dikasihkan pas lagu terakhir ya."
"Panggil Leon, nggak usah pakai Mas. Nggak keberatan kan Bang, kalau pacarnya panggil nama saja," goda laki-laki itu membuatku tertawa. Araz hanya tersenyum kaku menanggapinya. "Nanti aku balik ke sini kalau Nada Sumbang mau menyanyikan lagu terakhir."
"Siap, makasih ya."
Sepeninggalan Leon, aku mencolek pinggang Araz yang masih saja hemat senyum.
"Susah ya kalau pacaran sama cewek cantik. Banyak banget yang godain."
"Dih, kayak sendirinya nggak aja. Tahu nggak sih, waktu Mas Araz lewat tadi, cewek-cewek tuh pada noleh terus berkedip keganjenan."
"Masa sih? Kok aku nggak tahu ya? Oh, pasti karena yang aku lihat cuma kamu. Gimana bisa yang lain kelihatan kalau kamu udah mengalihkan duniaku."
__ADS_1
Aku mendengus. Terkadang level iseng Araz selalu membuatku kesal. Namun, diam-diam tersipu malu dibuatnya.
"Putra punya kejutan apa buat kamu?" tanya Araz tiba-tiba saat kami saling diam.
"Kalau dikasih tahu namanya bukan kejutan dong. Kok Mas Araz tahu Putra mau kasih kejutan? Aku aja nggak tahu loh. Nggak jadi terkejut deh."
Laki-laki itu tertawa pelan. Lantas ditariknya tubuhku agar lebih dekat dengannya. Sebelah tangannya merangkul pundakku dengan protektif. Sebagai bentuk perlindungan diri atau mungkin justru sebagai tanda kepemilikan agar semua orang mengetahuinya.
"Maaf ya," katanya tiba-tiba.
"Maaf untuk apa?"
"Karena nggak mengizinkanmu kembali pada Putra."
Aku mendongak menatap laki-laki itu yang juga menatapku. Pandangan kami bertemu. Lantas bertukar senyuman. Juga sekilas ciuman.
"Aku justru makasih sama Mas Araz."
"Buat apa?"
"Segalanya," ucapku singkat, tetapi tegas.
Termasuk membuatku lebih berani melangkah pergi dari rasa sakit yang selama ini menghantui.
Adegan romantis di antara kami harus diakhiri saat Leon menyingkap pintu tenda dan meminta kami naik ke atas panggung. Tak ada yang spesial kecuali penyerahan kue dan buket bunga yang sudah Mama siapkan sebagai wujud doa untuk kesuksesan Nada Sumbang. Sampai Putra melalui mic-nya mengatakan akan menyanyikan sebuah lagu penutup yang khusus ditujukan untukku.
"Thank you to my little Sister, yang udah hadir dalam hidupku. Mulai Nada Sumbang belum apa-apa sampai sekarang dikenal banyak orang dan akan semakin menyentuh hati lebih banyak orang. Boleh dong tetap berdiri di sini menemani bernyanyi. Lagu ini tercipta khusus buat kamu. Kenang aku sebagai rindu saja."
Aku tahu inilah yang terbaik untukmu
Terus berjalan meski tanpa diriku
Usai sudah cerita aku dan kamu
Kita kini hanyalah bayangan semu
Pergilah sejauh langkah yang kau mampu
Raih semua mimpi juga anganmu
Asal jangan pernah kau lupakan aku
Jika kita dulu pernah menjadi satu
Cerita kita bukan hanya rangkaian kata
Seperti bait puisi ataupun novela
Maka kenanglah aku di hati saja
Sebagai rindu pernah bertemu
__ADS_1
Dan aku ‘kan belajar cara merela