Pulang

Pulang
BAB 10 Sigan


__ADS_3

Ada satu kata dari Korean Selatan yang paling aku sukai, yaitu ‘Sigan’. Artinya waktu. Waktu bisa menjadi kesempatan dan keterbatasan. Kamu bisa memiliki waktu dan memanfaatkannya, tetapi waktu tetap memilki batas. Terkadang kamu bisa mengetahui kedatangan kesempatan dan akhir keterbatasan. Terkadang tidak. Hidup tidak akan menjadi misteri lagi jika kamu mengetahui semuanya.


Banyak pepatah menggunakan waktu, seperti waktu adalah uang atau waktu adalah pedang. Begitu berharganya waktu dalam hidup ini. Banyak orang yang mengatakan jangan menyiakan-nyiakan waktu. Aku setuju dengan itu. Akan lebih baik jika kesempatan yang dimiliki memiliki keterbatasan yang panjang. Menghabiskannya dengan orang yang dicintai dan disayangi. Akan tetapi dalam hidup, waktu sedikit yang dimiliki bisa menjadi waktu yang akan paling dikenang dan dihargai selamanya.


Hari ini adalah hari kedua aku menghabiskan waktuku bersama Putra. Aku tidak bisa tidur nyenyak. Setiap aku terbangun, aku mengecek kalender. Aku takut waktu akan berubah. Akan tetapi, aku bahagia sekali karena aku masih berada di waktu aku masih bisa bersamanya. Jujur. Aku masih ingin menghabiskan waktu sedikit lagi bersamanya sebelum aku mengatakan selamat tinggal. Selamanya.


Aku memasuki sekolah dengan wajah yang sumringah dan antusias. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan Putra lagi. Aku seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Seperti inikah jatuh cinta? Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta lagi semenjak Putra meninggalkan kami. Rasanya, senang sekali merasakan jatuh cinta.


Setelah sampai di kelas, aku melihat Putra sudah berada di kursinya. Dia sedang mengobrol bersama Malik dan Alif. Dia tersenyum melihatku, aku juga membalas senyumnya. Kelas sudah lumayan ramai, tetapi aku belum melihat May. Dia pasti masuk kan? Dia menghindariku dari kemaren. Dia juga belum menjelaskan maksud perkatannya. Aku mengerti. Saat remaja, emosi masih labil. Dia pasti terkejut mendengar pengakuanku. Apalagi aku adalah sahabatnya. Aku mengerti. Aku juga pasti melakukan hal yang sama dengannya ketika aku remaja. Tidak mudah untuk remaja berumur 16 tahun membuat keputusan. Aku menghembuskan nafasku kecil. Mungkin aku saja yang mengajaknya berbicara terlebih dahulu.


Aku sedang memasukkan tasku ke laci meja. Sebuah susu kotak dan roti tiba-tiba saja berada di mejaku. Lalu, orang tersebut duduk di kursi May yang berada di samping kiriku.


“Good morning, kacang arab,”ucap Putra sambil memamerkan senyumnya.


Aku memutar tubuhku menghadapnya.


“Good morning, Begu,”balasku dengan senyum jail.


“Aihh. Nggak ada nama panggilan lain apa? Begu kan artinya setan. Emang aku kayak setan?” protesnya.


Aku tertawa mendengar protesnya dan raut wajahnya yang seperti anak kecil. “Nggak mau. Males gantinya,”balasku.


“Terserahlah. Nih susu dan roti kesukaan, Bu Ratu.”


“Ada peletnya, kan?”tanyaku memasang wajah curiga.


“Iya. Biar kaunya nggak galak,”jawabnya dengan wajah bosan mendengar pertanyaanku yang ini. Dia mengambil susu kotak tersebut dan membuka lapisan pelindung sedotan. Lalu, menusuknya ke kemasan susu. Ia memberikannya padaku.


“Thank youu,”ucapku sambil menerimanya.


Dia tersenyum melihatku yang asyik meminum susu. “Kayak bayi,”ucapnya.


“Siapa?”tanyaku.


“Kau haha,”jawabnya dengan tertawa. “Di masa depan masih suka susu nggak?”tanyanya.


“Masih,”jawabku. Lalu, aku terdiam dan menatapnya. Aku menyipitkan mataku.


“Kenapa?”tanyanya.


“Nggak apa-apa,”jawabku.


“Aku bawa laptop hari ini. Ayo nonton,”ajaknya.


“Kapan? Nonton apa?”tanyaku antusias.


“Pulang sekolah. Kau pasti suka filmnya,”jawabnya.


“OK, OK,”balasku.


“Nanti ke kantinnya sama-sama ya,”lanjutnya.


“Iyaaaaa Putraa,”balasku.


Dia meninggalkan kursi May dan berjalan menuju mejanya. Aku memutar posisi dudukku yang awalnya membelakangi pintu menjadi menghadap depan. Ahh, May ternyata sudah berada di pintu kelas dari tadi. Dia mungkin berhenti di sana karena melihat Putra duduk di kursinya. May tidak mengatakan apa-apa dan duduk di kursinya. Mukanya juga datar. Aku tahu dia pasti galau dan kecewa. Mungkin. Akan tetapi kali ini, aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku. Di masa depan, tidak akan ada yang memilikinya. Bukan aku, May, dan juga Anisa.


*****


Sesuai janji, aku dan Putra ke kantin berdua hari ini. Aku mengajak May ke kantin bersama karena aku merasa tiba-tiba tidak enak dengannya, tetapi dia menolaknya. Dia membawa bekal dari rumah. Aku tidak bisa memaksanya. Putra pergi ke kantin terlebih dahulu karena aku harus ke toilet. Ketika di toilet, aku mendengar beberapa cewek sedang menggosip. Awalnya aku tidak tertarik untuk mendengarkannya, tetapi aku menajamkan pendengaranku ketika namaku disebut.


“Si Aira pacaran ya sama si Putra?”tanya cewek pertama.


“Nggaklah. Mereka sahabatan aja itu,”jawab cewek yang kedua.


“Sahabat tapi kok kayak yang pacaran,”balas cewek yang pertama.


“Bukannya si Putra lagi PDKT samamu, Nis?”tanya cewek yang kedua.


Ah, itu Anisa dan teman satu gengnya.


“Nggak PDKT. Sering sms-an aja,”jawab Anisa.


“Yah PDKT lah namanya itu,”balas cewek yang pertama.


“Udahlah. Aku pun nggak suka-suka kali pun,”balas Anisa.


Aku mendengar suara kaki menjauhi toilet. Aku pun keluar dari salah satu bilik toilet. Aku tahu Putra memang melakukan pendekatan pada Anisa. Dan pada akhirnya mereka berpacaran. Tetapi, Ami mengatakan padaku kalau Putra menyukai cewek lain bukan Anisa. Ami bahkan mengatakannya di hari aku mengetahui Putra dan Anisa berpacaran dulu. Akan tetapi, aku terlalu keras kepala saat itu. Aku menulikan telingaku dan menutup mataku. Berpura-pura tidak peduli dan ingin tahu. Kenyataannya, aku juga penasaran sampai aku tidak bisa mencintai orang lain lagi.


Aku juga tahu Anisa tidak terlalu mencintai Putra karena seminggu Putra meninggalkan kami, ia sudah melakukan pendekatan dengan cowok lain. Ami juga pernah mengatakan bahwa ia kasihan pada Putra karena harus berpacaran dengan Anisa. Ami mengatakannya setelah kami lulus SMA, setelah Putra meninggalkan kami. Aku juga menulikan telingaku dan mengeraskan hatiku. Aku tidak bertanya lebih lanjut. Aku mengabaikannya meskipun aku sudah menyadari bahwa aku mencintai Putra. Aku hanya berpikir bahwa itu adalah masa lalu dan tidak perlu dibahas kembali. Kenyataannya, aku ingin membahasnya. Aku harus menanyakan hal ini pada Putra.


Aku mengitari kantin dengan mataku. Putra melambaikan tangannya padaku. Dia duduk di sudut kantin sebelah kanan. Tempat favoritku setiap aku ke kantin dulu. Aku tersenyum dan berjalan ke arahnya.


“Sudah aku pesan soto dan teh manis dingin,”ucapnya sambil tersenyum.


“Tau aja aku bakalan mesan soto,”balasku.


“Iyalah. Aku tahu semuanya yang kau suka.”


“Oh ya? Yakin?”tanyaku.


“Coba aja tanya,”jawabnya sambil memakan sotonya. Dia juga memesan soto dan teh manis dingin.


“Ntar aja. Banyak orang di sini,”balasku.


Aku memakan soto yang dipesan Putra dengan lahap. Akhirnya, aku bisa memakan soto ini lagi. Aku memakan suapan pertamaku dengan antusias. “Ummm enaknyaaa,”ucapku.


Putra tertawa melihat reaksiku. “Berlebihan,”ucapnya.


“Bodo amat,”balasku. Dia tidak tahu saja bahwa soto ini tidak akan ada lagi di masa depan karena bu kantin memutuskan untuk pulang kampung ke Jawa.


Putra tidak membalas lagi, tetapi dia menertawaiku setiap aku menyuapkan soto ke mulutku.


“Jangan ketawa kau,”ucapku.


“Bodo amat,”balasnya.


Aku menyipitkan mataku dan pura-pura tidak suka. Dia tahu aku tidak bersungguh-sungguh karena setelahnya aku langsung ikut tertawa. Dia memang suka sekali mengikuti kata-kataku. Sejak dulu.


“Ra, kau lagi ada masalah sama si May, ya?”tanyanya hati-hati. Dia memperbaiki duduknya dan menatap mataku. Dia sedang serius.


Aku juga memperbaiki dudukku dan menyeruput es teh manis yang dipesannya. “Sebenarnya sih nggak ada. Dia tiba-tiba jadi pendiam pas aku ajak kau jalan kemarin,”jawabku. Aku berbohong. Kami memang ada masalah karena aku mengatakan aku menyukai Putra dan ia sudah mengetahuinya. Aku hanya tidak ingin mengatakannya pada Putra sekarang. Ya kali nembaknya di kantin? Kan nggak lucu.


“Dia marah karena aku juga mau jalan sama kau kali,”balasnya masih menatap mataku.

__ADS_1


“Bisa jadi. Apalagi aku tahu dia suka kau kan.”


“Kau mau aku pindah ke kursi si May? Biar May duduknya sama Malik,”tanyanya.


“Nggak usah. Kan yang bermasalah aku sama May, bukan kau sama May,”jawabku.


“Tumben. Biasanya kau selalu minta tukaran tempat duduk sama Malik.”


“Itu karena aku mau jodohin kau sama si May.”


“Kalau mau jodohin bukannya aku harus duduknya sama si May, bukan sama Bu Ratu Aira,”balasnya.


“Iya, ya? Harusnya kau yang lebih sering semeja sama si May, bukan samaku,”balasku.


Aku juga baru sadar. Kenapa aku tidak berpikir seperti itu dari dulu? Astaga. Aku memang sudah bucin ke Putra sejak dulu. Aku menjodohkan May dengannya, tetapi tanpa sadar aku juga melakukan pendekatan dengannya. Aku serius baru menyadarinya sekarang.


“Kau nggak akan jodohin aku sama May lagi, kan?”tanyanya curiga karena aku tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya. Raut wajahku juga menunjukkan aku baru menyadari hal itu.


Aku memasang wajah serius dan menatapnya. Aku diam. Dia membalas menatapku dengan wajah serius. “Ya nggak lah. Kan kau nggak suka, masa aku paksain,”jawabku sambil tersenyum lebar.


“Aihh. Nyebelin kau. Kirain bakalan berubah pikiran,”balasnya. Dia mengelus kepalaku, lalu memberantakkan rambutku. Aku tidak menguncir rambutku hari ini. Dia tertawa melihat rambutku yang berantakan dan wajahku yang kesal.


“Senangnyaaa berantakin rambut orang,”ucapku sambil menyisir rambutku dengan jari.


“Iyaa. Senang kaliii,”balasnya.


Dia mengulurkan tangannya ke kepalaku. Aku menjauhkan tubuhku. “Mau kau berantakin lagi, kan?”tanyaku.


“Nggak. Sini maju. Suudzon terus kau,” ucapnya. Dia menarik kepalaku dan membantuku merapikan rambut. Rasanya aku ingin lebih lama lagi di sini bersamanya, tetapi aku tahu aku tidak boleh serakah.


*****


Putra mengeluarkan laptopnya dan menghidupkannya. Dia juga mengeluarkan DVD dari film yang akan kami tonton. Aku melihat sampul DVD tersebut. Mataku membesar dan mulutku terbuka. Aku terkejut. Dia tertawa melihat ekspresiku.


“Ini kan drama yang kucari-cari,”kataku. Aku memeriksa sampul DVD tersebut untuk memastikannya.


“Iya. Terkejut kan?”balasnya.


“Iyalah. Dapat dari mana kasetnya? Kan susah nyarinya,”tanyaku.


“Cari di pasar kemaren. Susah kali nyari kasetnya karena udah lama itu dramanya tayang,”jawabnya. Dia memasukkan DVD tersebut di CD Room laptopnya.


“Iyalah. Aku juga nontonnya di TV waktu itu. Tahun 2007 lagian itu. Waah. Kau keren bisa nemunya. Makasih loh,”balasku tulus dengan wajah terharu.


“Biasa aja,”balasnya, lalu tertawa kecil melihat ekspresiku.


Drama yang akan kami tonton adalah drama Taiwan yang berjudul Silence. Aku sangat-sangat menyukai drama ini. Aku bahkan masih sering menontonnya di masa depan. Drama ini tayang tahun 2006 di Taiwan dan tayang di Indonesia tahun 2007. Saat itu aku masih SMP. Aku tidak pernah melewatkan satu episode pun dulu. Aku terharu Putra tahu aku suka sekali drama ini. Dulu, aku mencari-cari DVDnya bersama temanku Fitri, tetapi kami tidak menemukannya. Drama ini tidak terlalu populer dan tidak tayang lagi di TV, makanya susah menemukan DVDnya. Fakta bahwa dia tahu aku sangat menyukai dan mencari drama ini membuatku terharu. Dia yang terbaik.


Silence menceritakan gadis bisu bernama Zhao Shen Shen dan pria kaya tetapi dingin bernama Qi Wei Yi. Mereka bertemu di Rumah Sakit saat mereka kecil dan berjanji bertemu kembali di Natal tahun 2006. Sebelum Natal tahun 2006, mereka sudah bertemu. Akan tetapi, mereka tidak mengenal satu sama lain. Sampai akhirnya, Qi Wei Yi menyadari bahwa Zhao Shen Shen adalah cinta pertamanya. Namun, takdir berkata lain. Dia memiliki kanker dan tidak akan bisa sembuh. Nantinya, Zhao Shen Shen juga tahu bahwa Qi Wei Yi adalah cinta pertamanya. Waktu Qi Wei Yi hanya 3 bulan lagi dan dia menghabiskannya bersama Zhao Shen Shen. Begitulah singkat cerita dramanya.


“Ini ada 20 episode? Wow!”seru Putra.


“Nggak banyak itu. Masih banyakan episode sinetronnya Indonesia,”balasku.


“Mau nonton dari episode mana?”tanyanya.


“Dari episode satulah,”jawabku.


Aku dan Putra pun mulai menonton drama kesukaanku ini. kami menontonnya di kelas, tepatnya di mejanya. Tidak hanya kami yang di kelas, masih ada teman-teman yang lain yang mengikuti kegiatan ekskul. Kelas memang selalu lumayan ramai setelah pulang sekolah. Kami juga sering mengerjakan PR bersama di sini dulu. Jadi, kami tidak hanya berdua.


“Udah selesai?”tanyanya ketika episode tersebut selesai.


“Iya,”jawabku ketus.


“Gila. Nontonnya sejam satu episode,”balasnya.


“Lah kan emang drama kayak gitu. Sinetron juga gitu,”balasku kesal.


“Ya mana tau aku. Kan aku nggak pernah nonton sinetron,”balasnya lagi. “Terus akhirnya gimana?”tanyanya lanjut.


“Tonton sendiri lah. Nggak seru lah kalau ku kasih tau,”jawabku.


“Banyak episodenya. Belum lagi harus di pause kalau terjemahannya panjang,”protesnya.


“Seru loh itu dramanya. Tonton ajalah,”balasku.


“Nontonnya sebulan kalau gitu. Satu episode satu hari.”


“Kelamaan. Besok juga bisa selesai.”


“Kan aku pengen nonton dramanya samamu,”ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


Aku diam. Aku tidak yakin aku akan di sini selama 20 hari kedepan. Bisa saja besok aku sudah tidak di sini lagi. Aku memang tidak tahu kapan aku kembali ke masa depan, tetapi aku merasa aku akan kembali segera. Aku terlalu bahagia sekarang. Hidup tidak akan membiarkan manusia terus bahagia. Semuanya akan datang tiba-tiba. Tanpa permisi dan pamit.


“Kenapa? Kau nggak mau?”tanyanya menatapku.


Suka. Aku mau. “Kau nonton sendiri aja. Lebih cepat lebih baik. Lagian, kau pasti malu nanti nangis di depanku,”jawabku. Aku tidak ingin berjanji karena aku tak yakin aku bisa menepatinya.


“Sad ending?”tanyanya.


“Tonton sendiri makanya,”balasku.


“Oke lah.”


“Bentar ya, aku ke kantin dulu,”ucapku.


“Kau lapar? Aku aja yang ke kantin,”balasnya. Dia sudah berdiri dari kursinya.


“Nggak usah. Aku aja. Kau duduk aja. OK?”pintaku.


Aku pun langsung pergi meninggalkannya sebelum ia mulai berdebat. Kami belum makan siang. Dia pasti lapar dan aku juga pastinya. Aku membeli beberapa gorengan dan biskuit. Tidak sampai 10 menit, aku sudah kembali lagi ke kelas. Putra sedang memainkan ponselnya.


“Silakan jajanannya kakak,”kataku dengan nada penjual yang sering didengar di pasar.


“Hahaha. Makasih, Bu Ratu,”balasnya sambil mengambil bakwan.


Kami memakan gorengan sambil mengobrol tentang futsal, pramuka, dan drama yang tadi kami tonton.


“Main game yuk,”ajakku.


“Game apa?”tanyanya.


“Pilih 1 dari 2 hal yang aku bilang. Contohnya, mendengarkan musik atau menonton. Mana yang kau suka?”jelasku.

__ADS_1


“Mendengarkan musik tapi kalau nggak ada yang aku suka gimana?”tanyanya.


“Ya tetap harus pilih salah satu,”jawabku. “Siap nggak?”lanjutku.


“OK, siap”jawabnya.


“Futsal atau basket?”


“Futsal”


“Futsal atau Pramuka?”


“Pramuka”


“Udah ketebak. Umm arsitek atau TNI?”tanyaku lagi.


“Arsitek,”jawabnya.


“Waah. Kenapa?”


“Kan kau yang nyaranin. Katamu aku cocok jadi arsitek karena gambaranku bagus,”jawabnya.


Aku hanya mengatakannya sambil lalu dan tidak serius dengan ucapanku kala itu. Waktu kelas X, aku melihatnya sedang menggambar sketsa rumah untuk pertama kalinya. Lalu, aku mengatakan dia cocok menjadi arsitek karena gambarannya sangat bagus. Aku tidak menyangka dia mendengarkanku.


“Kan itu terserah kau. Aku juga nggak serius nyaranin kau jadi arsitek. Karena gambarmu bagus, aku mikirnya kau ada bakat jadi arsitek,”jelasku. Dia harusnya mengikuti mimpinya, bukan perkataanku.


“Itu mimpiku kok. Awalnya memang nggak tau aku mau jadi apa, tetapi waktu kau bilang aku cocok jadi arsitek, mulai kepikiran aku. Aku juga suka jadi arsitek,”balasnya.


“Emang kau cocok jadi arsitek sih. OK lanjut. Umm sahabat atau cinta?”


“Cinta,”jawabnya.


“Waah. May atau Anisa?”tanyaku.


“Kauuu. Yang baguslah ngasih pertanyaan,”jawabnya. Mukanya seperti sedang tertangkap basah.


“Apa? Ini udah benar pertanyaannya,”balasku. “Ayo jawab. May atau Anisa?”tanyaku lagi.


“Anisa,”jawabnya ragu dan sibuk mengotak-atik laptopnya.


Aku mengatur ekspresi wajahku untuk sedatar mungkin, tetapi jantungku sebenarnya berdetak lebih kencang. “Next. Anisa atau Aira?”tanyaku menatapnya yang masih sibuk dengan laptopnya . Bagaimana jika jawabannya bukan seperti yang aku kira?


“Aira,”jawabnya. Dia menghentikan kesibukannya dan menatap mataku. “Aira Putri,”ulangnya.


Aku terdiam. Mataku mulai berair. Tidak. Tidak boleh. Aku tidak boleh menangis sekarang. Jika kalian bertanya bagaimana perasaanku, jujur aku tidak tahu. Ada perasaan tidak adil karena aku tidak akan bisa lebih lama bersamanya. Ada rasa ingin menyalahkan, tetapi aku juga bersalah. Semuanya akan berjalan lebih baik dulu jika semuanya jujur. Aku jujur, May jujur, Ami jujur, dan Putra juga jujur. Kisah cinta yang sering aku sebut kisah sedih SMA akan menjadi kisah bahagia jika semuanya jujur. Membuang semua ego dan gengsi, tetapi kami masih terlalu muda saat itu. Tak mengerti waktu punya keterbatasan.


“Ayo, pulang. Udah sore, nanti kau kena marah,”ajaknya.


Dia merapikan laptop dan tasnya. Aku juga merapikan tasku. Dia meminta izin padaku untuk ke parkiran terlebih dahulu mengambil motornya. Aku menunggu di gerbang sekolah. Sepanjang perjalanan ke gerbang sekolah, aku melamun. Mataku tidak bisa menampung air yang sudah menggenang di mataku. Aku pun menangis. Aku sudah sampai di halaman depan sekolah. Aku berhenti sebentar di kelas kami waktu kelas X. Kelas ini memberikan banyak kenangan untukku. Kenangan yang membuatku hidup selama ini dan membuatku menjadi kuat, tetapi sebenarnya, hatiku mati dan rapuh. Aku pintar sekali menutupinya. Selama 10 tahun aku berpura-pura.


Suara klakson motor membangunkanku dari lamunan itu. Dia sudah berada di depan kelas dengan motornya. Aku mengambil helm yang diberikannya dan memakainya. Aku tidak mengatakan apapun lagi. Dia juga. Selama 5 menit perjalanan, aku memutuskan harus berbicara dengannya. Masalah Anisa harus selesai hari ini juga.


“Putra, kita ke jembatan penyebrangan yang di depan gangmu dulu ya,”kataku.


“Mau ngapain?”tanyanya.


“Ada pokoknya,”jawabku.


Dia tidak membalasku lagi dan membelokkan motornya menuju jembatan penyebrangan yang di depan gang rumahnya. Setelah sampai, aku menaiki tangga tersebut dan membuka helm. Aku memandang jalanan di depanku. Tenang sekali rasanya. Hari ini juga tidak banyak kenderaan. Hanya angkot dan beberapa motor. Jalanan ini memang lumayan sepi dilewati karena bukan jalan utama.


Langit biru sudah mulai pudar. Matahari juga sudah mengurangi sinarnya. Ada goresan oranye sedikit di sana. Langit sore memang selalu menenangkan. Aku tidak akan melewatkannya setiap aku di kantor atau di rumah kontrakanku di Depok. Melihat matahari secara perlahan mulai pulang membuatku ingin pulang juga. Matahari seperti tahu apa yang aku rasakan. Berpura bersinar di siang hari dan meratap di malam hari karena tidak akan ada yang melihat.


Namun, kali ini berbeda. Aku sudah pulang dan aku sedang menatap matahari yang masih bersinar keemasan bersamanya. Aku tahu Putra berdiri di sampingku dan juga memandang jalanan di depan. Kami sama-sama tersihir dengan ketenangan jalan dan keindahan langit sore ini.


“Cantik ya langitnya,”ucapku memecahkan kedamaian ini.


“Iya. Aku baru tahu,”balasnya.


“Aku paling suka melihat langit.”


“Kalau itu aku tahu.”


“Langit selalu membuatku tenang. Ia seakan mengatakan aku akan mendengarkan ceritamu. Kau tidak sendiri di sini. Ke mana pun kau pergi, aku akan bersamamu,”ceritaku.


“Benar. Langit bisa membuat kita tenang,”responsnya.


Aku memutar tubuhku menghadapnya. Dia juga memutar tubuhnya menghadapku.


“Sebenarnya, ada yang ingin kutanya. Aku nggak akan tenang sebelum nanya ini,”kataku.


“Apa?”tanyanya.


“Kau .... sama Anisa... Kau...,”tanyaku tergagap.


“Kau dengar dari Ami, ya?”potongnya.


“Nggak. Aku nggak serius sama si Anisa. Itu biar buat kau berhenti aja,”lanjutnya.


“Hah? Maksudnya?”tanyaku.


“Kau terus jodohin aku dengan May padahal aku udah bilang berhenti. Aku mencari cara gimana buat kau berhenti. Aku sebenarnya ngerti maksudmu baik. Ingin membuat sahabatmu bahagia. Aku juga mengerti kau sangat loyal. Kau nggak akan menerima perasaanku karena kau ingin menjaga hati sahabatmu. Kalau dia tidak bisa memilikiku, maka kau juga. Itu yang kau pikirkan, kan?”tanyanya.


“Iya, dulu,”jawabku.


“Kau juga nggak akan berhenti jodohin aku meskipun kau marah samaku. Yang aku pikirkan, salah satunya cara aku punya pacar biar kau berhenti. Tetapi, kau tiba-tiba berubah. Kau bilang akan berhenti jodohin aku dengan May. Jujur, aku terkejut. Aku bahkan belum yakin. Dulu. Sekarang, aku udah yakin. Kau akan berhenti. Jadi, tidak akan ada Anisa,”jelasnya sambil menatap mataku.


Dugaanku benar. Dulu aku sempat berpikir bahwa dia berpacaran dengan Anisa hanya untuk membuatku berhenti menjodohkannya dengan May. Berhasil. Aku langsung berhenti kala itu. Ami mengatakan padaku Putra dan Anisa tidak akan berpacaran lama. Aku sekali lagi menulikan telingaku. Aku mengatakan May sakit hati dengan keputusan Putra kepada May. Sebenarnya, aku juga sakit hati, tetapi aku mengatakan tidak saat Ami bertanya apakah aku tidak cemburu dengan Anisa.


“Hanya ada Aira Putri,”ucapnya, lalu membelai kepalaku lembut. Dia tersenyum dan masih mengelus kepalaku.


Aku menatapnya. “Aku bahagia,”ucapku dengan suara bergetar. Air mataku sudah berada di ujung mataku. “Aku bahagia,”ucapku lagi. Aku pun menangis. Aku tidak berusaha menahannya lagi. Aku benar-benar bahagia.


“Aku juga bahagia,”balasnya. Matanya memerah. Dia sepertinya juga ingin menangis. Aku memang terlalu cengeng. Tetapi kalian akan mengerti. Aku tidak bisa lagi melihat laki-laki ini di masa depan.


Aku sudah menangis selama 10 menit dan masih susah untuk berhenti. Aku termasuk orang yang susah menangis, tetapi setiap aku menangis, itu akan bertahan lama. Oleh karena itu, aku selalu menahan diri untuk tidak menangis.


“Nggak apa-apa nangis aja,”katanya sambil menepuk pelan bahuku. Bukannya berhenti, air mataku mengalir lebih banyak. Dia mengambil tisu dari laci tasku dan memberikannya padaku.


“Ada satu hal yang ingin aku bilang padamu. Aku tahu kau sering memendam masalahmu, amarahmu, sedihmu, perasaanmu. Tidak semua masalah memang bisa diceritakan. Aku sebenarnya ingin menjadi orang pertama yang mendengar semua keluhanmu dan ceritamu. Kalau kau memang nggak bisa menceritakannya, anggap saja aku sebagai langit. Ceritakan semuanya padaku seperti kau sedang bercerita ke langit,”pintanya.


“Aku sudah melakukannya. Setiap aku berbicara dengan langit, aku selalu menganggap aku sedang berbicara denganmu. Baik siang maupun malam. Aku sudah melakukannya,”ucapku dalam hati. Aku selalu menganggapnya langit semenjak dia meninggalkan kami.


“Iya,”balasku lirih tapi dia masih bisa mendengarnya.

__ADS_1


Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia menepuk bahuku. Semenjak dia pergi, aku selalu menangis sendiri. Tidak ada yang menepuk bahuku, membelai rambutku, dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Aku akan pergi ke luar dan menatap langit. Anehnya, aku memang merasa ada yang mendengar ceritaku dan menepuk bahuku. Seolah mengatakan aku tidak sendiri. Lalu, aku akan merasa tenang. Dia tidak mengatakan itu padaku dulu karena hubunganku dengannya tidak baik saat dia meninggalkan kami. Aku berbicara dengan langit secara tidak sengaja karena aku tidak tahu harus berbicara dengan siapa lagi. Karena berbicara dengan manusia terkadang melelahkan. Terlebih dia sudah tidak ada. Langitlah tempatku berbicara dan berdiskusi. Dan dia di sana.


Warna oranye di langit sudah muncul semakin nyata. Matahari juga sudah dekat dengan rumahnya. Aku masih menangis di jembatan ini bersama laki-laki yang sangat aku cintai. Satu mengetahui waktu akan selesai, dan yang satunya tidak mengetahui waktu mempunyai batas. Tetapi mereka saling mencintai. Itu yang penting.


__ADS_2