Pulang

Pulang
Mungkinkah ini Hanya Perasaanku?


__ADS_3

Renjana Kanya


"Anya, bengong saja ih. Dimakan itu, keburu dingin nanti," kata Putra memangkas lamunan dalam benakku.


Aku menghela napas panjang. Kami masih di kantin rumah sakit saat hari menjelang malam. Memesan dua mangkuk bakso dan jeruk panas yang mulai menghangat. Putra hampir menandaskan isi mangkuknya. Sementara aku sama sekali belum menyentuhnya, kecuali mengaduk-aduk kuah tanpa minat.


Kupandangi bakso di depanku dengan tidak berselera. Mama mungkin sudah sadar dan membuat perasaanku lega, tetapi masih ada hal yang menjadikan batinku tersiksa. Apalagi kalau bukan pesan-pesanku yang tidak juga dibalas oleh Araz. Jangankan dibalas, dibaca saja tidak.


Belum lagi soal Ayah Eka yang tiba-tiba memintaku untuk keluar dari pekerjaanku di Jakarta. Laki-laki itu memintaku menjadi manajer Putra agar kejadian pemukulan terhadap kakak tiriku beberapa waktu lalu tidak terulang lagi.


Ya, kejadian itu terjadi beberapa jam yang lalu, saat aku dan Ayah Eka memutuskan pulang sebentar, sebelum akhirnya kembali menunggui Mama di rumah sakit. Putra baru saja selesai mandi dan meneguk air mineral di dapur saat mereka berpapasan. Yang artinya, Putra belum sempat menutupi bekas luka memar di beberapa bagian wajahnya yang masih tampak jelas.


Ayah Eka syok. Ditelitinya wajah anak sulungnya itu dengan wajah tegang menahan amarah. Tidak mungkin beliau bisa dibohongi jika itu ulah keteledoran Putra yang mengakibatkan dia jatuh dari tangga atau semacamnya. Pertanyaan pertama yang keluar dari bibir Ayah Eka menunjukkan dengan jelas jika beliau tahu apa yang sudah terjadi.


"Siapa yang lakuin ini sama kamu?"


"Nggak sengaja, Pa."


"Nggak sengaja gimana? Ini jelas dilakukan dengan sengaja. Mana ada nggak sengaja, tapi bekas lukanya sampai kayak gini. Bilang sekarang, siapa yang lakuin ini sama kamu?"


Suara Ayah Eka menggelegar. Di wajahnya terpahat jelas amarah yang menguasainya. Bahkan saat aku hendak melangkah meninggalkan area menegangkan itu, beliau dengan tegas memintaku diam di tempat.


"Kamu tahu soal ini semua 'kan, Anya?"


Putra memberi isyarat agar aku menggeleng. Sialnya isyarat itu baru tertangkap setelah aku menganggukkan kepala.


"Kenapa nggak bilang sama, Ayah? Kalian sengaja menutupi ini semua?"


"Ini bukan salah Kanya, Pa. Iky yang minta supaya Anya nggak bilang sama Papa."

__ADS_1


"Biar apa?"


Putra diam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan suara rendah yang hampir tidak terdengar. "Iky nggak mau, Papa bertindak berlebihan dengan cara Papa."


"Rizky Putra Mahameru! Kamu pikir orang tua mana yang sanggup melihat anaknya disakiti orang lain?"


"Ya, tapi nggak harus dengan cara Papa juga 'kan? Toh manajemen sudah selesaikan semua perkara ini. Jadi, Papa nggak perlu khawatir."


Ayah Eka menghela napas panjang. Laki-laki itu mendadak tampak kusut dan terlihat lebih tua dari umur sebenarnya. Dia duduk di salah satu bangku meja makan dan menopang kepala dengan telapak tangan.


"Gimana bisa Papa nggak khawatir kalau itu menyangkut kekerasan yang melibatkan kamu. Mana bisa Papa tak acuh kalau kamu seperti ini. Pasti di hari yang sama kamu juga melewati masa-masa sulit yang membangkitkan ingatan itu lagi 'kan?"


Senyum Putra mengembang. Laki-laki itu meletakkan gelas di meja makan dan meraih tangan Ayah Eka yang masih menopang kepala. Digenggamnya tangan keriput laki-laki yang mewariskan hampir seluruh gennya pada Putra itu. Meski di satu sisi mereka terkadang tak terlihat akrab, kini mereka tampak seperti anak dan ayah yang saling menguatkan satu sama lain.


"Putra beruntung karena punya adik yang menyembuhkan rasa sakit itu, Pa," kata Putra membuat laki-laki menjelang setengah abad itu tersentak. Sesaat aku melihat raut penyesalan di wajah laki-laki itu. Namun, segera berubah cepat saat mengatakan hal yang tak terduga olehku sebelumnya.


"Anya, kamu bisa keluar dari pekerjaan kamu sekarang dan membantu kakak kamu 'kan? Sebagai manajernya, asisten pribadi, atau apa sajalah sebutannya. Ayah akan menggaji kamu tiga kali lipat. Atau sebutkan saja nominal yang kamu mau."


Terlebih, ini seorang Putra. Rizky Putra Mahameru. Vokalis band Nada Sumbang yang sedang naik daun. Kakak tiri yang juga pernah menjadi mantan pacarku. Bagaimana aku sanggup menata hatiku tanpa berharap kisah kita masih bisa diulang dari awal, jika jarak selalu membuat kami saling menyapa dan melempar senyuman atau bahkan candaan? Jelas suatu hal yang sulit dilakukan.


"Maaf Yah, Anya nggak bisa!" tolakku dengan tegas. Wajah Ayah terkejut. Namun, dia dengan cepat mampu menguasai keterkejutannya.


"Tolong pikirkan sebelum kamu memutuskannya, Anya. Ayah benar-benar butuh bantuanmu demi menjaga, Putra."


"Pa, Iky udah gede. Ngapain sih minta hal yang nggak masuk akal sama Anya? Anya juga punya impiannya sendiri."


"Tapi pada kenyataannya cuma dia yang kamu butuhkan setiap kali butuh ketenangan."


Hatiku rasanya runtuh mendengar ucapan Ayah Eka. Perasaan kecewa diam-diam menyusup tanpa permisi. Aku ingin berteriak marah padanya saat dia menyadari jika memang hanya akulah yang dibutuhkan Putra, tapi dia justru merusak segalanya.

__ADS_1


Huffttt ... aku menghela napas panjang. Tidak ada tempat untuk memikirkan dan menyesali semua yang sudah terjadi. Bagiku percuma memikirkan hal sia-sia yang sudah ketebak bagaimana akhir kisahnya. Aku tak suka. Lebih tak suka saat memikirkan Araz belum juga berkabar dan membuat mood-ku semakin berantakan.


Huufftt ... aku menghela napas. Tarikan napas yang cukup keras membuat Putra yang duduk di depanku meletakkan alat makannya. Ditatapnya mataku lekat seolah berkata,"Bisa nggak kamu sekarang fokus makan aja dan nggak usah mikirin apa-apa. Mau pingsan lagi karena dehidrasi?"


"Apa?"


"Kamu tahu apa yang mau aku omongin. Bisa 'kan?"


Sebelum aku menjawab pertanyaan Putra, pendengaranku teralihkan oleh nada dering panggilan masuk. Mataku berkaca-kaca saat membaca nama yang muncul di layar gawai. Alcatraz.


"Hallo," sapaku dengan antusias. Namun, bunga-bunga yang semula bermekaran mendadak layu saat mendengar suara Araz.


"Hai, apa kabar, Nya? Sori, aku nggak sempat kasih kabar karena mesti urus ini-itu."


"Oh ... ."


Balasku singkat dan mendadak tidak bersemangat. Suara Araz seperti asing di telingaku. Bahkan sapaannya tidak seperti Araz yang kukenal dan biasa menyapaku dengan suara lembut dan menenangkan.


Bahkan rasanya ada hal yang sedikit dipaksakan dalam suaranya. Seolah laki-laki itu sedang tak ingin diribetkan oleh segala hal yang membuatnya terbebani. Entahlah. Mungkin hanya perasaanku saja. Atau mungkin akibat rindu yang terlalu menggebu.


"Aku benar-benar minta maaf, Nya. Kamu marah?"


Tanpa sadar aku mendengus kesal dan menumpahkan segala yang mengganggu pikiranku. Namun, jawaban laki-laki itu justru membuat hatiku makin pilu saat air mata justru turut mengambil peran. Menyebalkan.


"Hemm, sori Nya, kayaknya kita mesti udahan dulu teleponnya. Nanti aku hubungi kamu lagi ya. Aku makan dulu. Lapar. Kamu juga jangan lupa makan ya. See you, Nya."


Apa ini? Hanya sebatas itu saja? Bahkan dia tak bersemangat saat aku bilang Mama sudah sadar. Apa-apaan ini?


Tanpa memedulikan Putra, aku bangkit dari dudukku dan pergi meninggalkan laki-laki yang kini memanggil namaku dan berlari mengejarku.

__ADS_1


Araz, menyebalkan! Dalam tiga hari cepat sekali dia berubah! Huufftt ... percuma gue nangisin orang kayak gitu!


Meski begitu, air mata masih saja mengalir di pipiku.


__ADS_2