
Renjana Kanya
Wajah Putra masih terlihat jengkel saat kami dalam perjalanan pulang dari D'Caffe. Dia masih tidak bisa menerima perlakuan Angel yang mangabaikannya dan pura-pura tak mengenal bahwa dirinya, Putra, saat berjumpa di bandara. Vokalis Nada Sumbang yang digandrungi banyak orang.
Aku pun tak tahu pasti, apa yang menyebabkan Putra begitu jengkel saat Angel pura-pura tak mengenalinya. Putra yang kutahu, tidak tertarik mengurusi hal apakah dia dikenal banyak orang atau tidak. Namun, perlakuannya begitu aneh hanya karena Angel pura-pura tak mengenalnya. Toh, dia pun lupa siapa perempuan itu meski dulu pernah bertemu. Harusnya impas ‘kan, dan justru tidak membuatnya uring-uringan.
Dari balik kemudi, sesekali aku melirik Putra yang terlihat sangat kesal. Bahkan setelah meminta maaf sekalipun, sikapnya pada Angel tidak berubah. Meski perempuan itu terlihat berusaha merasa nyaman di dekatnya. Ya, sekarang siapa yang bisa merasa nyaman di dekat orang yang sudah melecehkannya.
"Harusnya lo tuh bersyukur kali, Kak. Yang ketemu sama lo waktu itu, Angel. Coba bayangkan kalau orang lain. Bisa jamin orang itu juga bakal bersikap sok nggak kenal sama lo dan justru berteriak memanggil seluruh penggemar lo yang sudah nunggu di bandara? Oh, atau memang itu yang lo mau? Semua orang memuja dan mengelu-elu nama lo? Itu sih bukan gaya lo banget, Kak."
"Kok kamu kesannya belain Angel mulu sih dari tadi?" Putra masih bersikap keras kepala. Mematahkan semua argumentasiku.
"Ha? Kok malah nuduh gue belain Angel, gimana sih? Gue nggak lagi belain siapa pun di sini. Gue cuma mau kasih lo pengertian."
Putra membuang pandangannya ke arah lain. Aku mengajaknya berhenti di tepi pantai demi membuatnya bisa merasa lebih tenang. Kami memang sengaja berangkat dengan mobil terpisah tadi. Entah mengapa, aku seolah memiliki firasat kalau hal ini bakal terjadi.
"Aku nggak butuh," katanya hampir tak terdengar meski aku masih bisa menangkapnya dengan jelas.
"Lo bilang nggak butuh, tapi justru itu yang paling lo butuhin. Gini deh, kalian ketemu nggak sengaja, terus lo ajak dia lari menghindari para fans. Kalau waktu itu dia mau jelasin siapa dia sebenarnya, gimana bisa? Setelah itu apa? Kamu mojokin dia ke dinding demi ... ." Aku menghela napas panjang. Rasanya nyeri mengetahui fakta bahwa Putra telah melakukan hal yang merugikan orang lain. Kalau saja aku bisa menamparnya mewakilkan Angel. Nyatanya, aku tak sanggup melakukan itu. "Ngerti nggak sih lo, tindakan lo itu sudah termasuk pelecehan, Kak. Terus waktu itu, lo masih berharap Angel bakal baik sama lo?"
"Iya, aku tahu. Aku sadar kalau apa yang aku lakukan itu salah. Aku sudah minta maaf tentang hal itu. Dua kali. Waktu di bandara dan rumah sakit ketika nggak sengaja ketemu dia. Aku sudah berusaha baik sama dia. Tapi nyatanya apa, dia mempermainkan aku. Padahal aku berniat mengganti uangnya untuk membayar bakso yang kita makan waktu itu. Cuma itu doang. Tapi dia malah menghindar. Sembunyi di ruangan yang entah ditempati oleh siapa."
"Dan apa lo bisa pastikan, Angel trauma atau nggak sama kejadian itu? Lo sadar nggak sih Kak, dengan dia menghindar artinya dia nggak nyaman sama lo. Dia nggak nyaman di sekitar lo. Masih untung dia mau jadi manajer kalian dan mengesampingkan perasaan pribadinya. Kalau gue jadi Angel, gue nggak bakal mau ketemu sama lo lagi. Apalagi bekerja sama."
Tak ada jawaban. Putra hanya diam. Masih menatap laut lepas yang ditelan kegelapan malam.
Aku pun tak hendak bicara. Rasanya percuma memberi Putra pengertian di saat laki-laki itu tak bisa menerima penjelasan yang kuberikan. Terlebih aku tak punya hak menceritakan kisah Angel. Tentang apa pun itu. Meski aku sedikit mengetahui tentang luka perempuan itu.
Juga fakta lain jika dulu, Angel pernah menyukai Putra lebih dari sekadar penggemar kepada idolanya. Namun, sebagai laki-laki yang ingin dijadikannya kekasih. Itulah kenapa kami dulu bisa dekat. Saat tahu aku berpacaran dengan Putra, tidak lantas membuatnya menjauhiku. Dia justru mendukungku, walaupun di satu sisi dia juga mengatakan padaku jika akan bertekad membuat Putra memandangnya suatu saat nanti. Meski itu tidak pernah terjadi selama kami masih berpacaran.
Aku menghela napas panjang. Kami sama-sama saling membisu dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Putra keluar dari mobil dan berdiri di atas trotoar yang menjadi pembatas antara pantai dan jalan raya. Sedangkan aku membiarkannya menyendiri sambil menatap punggungnya dari dalam mobil.
Terkadang, jika sedang kacau, laki-laki itu hanya perlu menyingkir dan menenangkan kemelut yang ada dalam benaknya. Seorang diri. Tak butuh waktu lama, Putra pasti akan segera luluh jika pikirannya sudah mulai jernih.
Menjelang pukul 21.30, Putra mengetuk kaca mobil dan memintaku berpindah tempat. Wajahnya sedikit lebih baik, meskipun masih tersisa sedikit kejengkelan. Dia mengusap wajahnya dengan tangan sebelum menatapku yang kini sudah duduk di bangku penumpang.
"Maaf, aku nggak seharusnya marah-marah sama kamu," katanya terlihat menyesal. "Kamu benar, rasanya aku jahat banget sudah bersikap seenaknya sama Angel dan justru menyalahkan perempuan itu atas kesalahan yang aku lakukan. Tapi maaf Nya, perasaan dibohongi sama Angel masih belum bisa aku terima."
Aku menghela napas panjang. "Ya sudahlah. Itu urusan kalian. Gue nggak mau ikut campur lebih dari ini."
__ADS_1
"Iya, makasih sudah mau perhatian sama aku."
Putra tersenyum samar sebelum menjalankan mobil membelah jalanan kota yang mulai sepi. Kami lebih banyak diam selama perjalanan pulang. Aku pun tak ingin membahas lebih panjang apa yang menjadi beban pikiran laki-laki itu.
...***...
Gawaiku berdering tepat saat aku turun dari mobil. Nama Araz muncul di layar. Senyumku mengembang. Tanpa memedulikan Putra yang masih mematikan mesin mobil, aku berjalan memasuki rumah. Ayah Eka yang baru saja keluar dari kamar utama di lantai satu sampai heran saat melihat senyumku.
"Ayah mau balik ke rumah sakit?" tanyaku sambil mencium telapak tangannya.
"Iya, kalian baik-baik di rumah ya. Nggak usah nyusul ke rumah sakit. Jagain Victor saja."
"Iya, besok pagi-pagi, Anya ke rumah sakit gantiin Ayah jaga Mama."
Pria menjelang setengah baya itu tersenyum. Ditepuknya pucuk kepalaku pelan, sebelum berkata,“Seneng amat kelihatannya.”
"Iya pasti dong. Anya angkat telepon Araz dulu ya, Yah. Ayah hati-hati di jalan," kataku berlalu dari hadapan Ayah Eka sambil melambai ke arahnya. Sedang tangan kiriku sibuk menekan tombol hijau di layar gawai dan menjawab panggilan telepon Araz. "Halo, Mas."
"Hai, Nya. Lama amat angkatnya?"
"Maaf, aku habis keluar sama anak-anak Nada Sumbang. Mereka ketemu sama calon manajer yang baru. Ini baru saja sampai rumah, terus ketemu sama Ayah Eka di depan. Beliau mau rumah sakit. Kami ngobrol sebentar tadi."
"Oh ... kalah prioritas nih sama kesibukkan kamu."
Sejak Araz mengakui perasaannya yang belum sepenuhnya rela jika aku semakin dekat dengan Putra – sebagai saudara, membuat semua sikapnya menjadi jelas. Aku pun tak bisa memaksakan Araz harus menerima kenyataan itu. Namun, bagaimanapun juga aku berusaha agar tak lagi terjebak oleh ilusi suasana. Toh, Putra juga sedang berusaha untuk tidak menggodaku sebagai perempuan. Kami semua belajar, untuk menerima kenyataan jika memang sudah tidak sejalan.
"Mereka mulai tour Jawa Timur minggu depan, Mas. Sedangkan sampai sekarang belum ada manajer yang mengatur keperluan mereka. Makanya, mumpung aku bisa bantuin, sekalian aku bantu mereka."
"Iya, Kanya. Maaf ya, kalau terkadang cemburuku terlalu berlebihan. Btw, Hanung minta aku menanyakan hal yang sama lagi. Bagaimana menurut kamu? Mau bergabung sama MediaPena?"
"Hemm ... boleh nggak Mas, aku jawabnya nanti saja. Bisa ‘kan, kalau kita nggak ngomongin kerjaan dulu?" tanyaku hati-hati.
"Kenapa? Nggak asik ya ngomongin kerjaan sama aku?"
Aku menghela napas panjang. Entah mengapa, Araz menjadi sensitif akhir-akhir ini. Sering sekali dia menjadi salah paham dengan apa yang aku ucapkan. Padahal apa yang aku pikirkan sama sekali berbeda dengan apa yang ada dalam benaknya.
"Nggak, bukan gitu maksudku, Mas. Aku cuma pengen ... ngobrolin tentang kita saja. Bisa ‘kan?"
Tak ada jawaban dari seberang. Hanya helaan napas Araz yang terdengar. Lalu katanya,"Maaf kalau sikap aku menyebalkan. Aku kangen, tapi kerjaan belum bisa aku tinggal. Rasanya berat banget. Aku pengen ketemu kamu. Aku butuh kamu ada di dekatku saat ini."
__ADS_1
Mataku terpejam mendengarkan ucapan Araz. Sudut bibirku tak bisa menyembunyikan senyum. Hatiku mengembang saat laki-laki itu mengatakan jika merindukanku. Perasaan hangat menyelimutiku. Aku pun merasakan hal yang sama.
"Wah, berarti kangennya nggak bertepuk sebelah tangan dong," kataku mencoba menyembunyikan detak jantung yang mulai tidak karuan.
"Kok bertepuk sebelah tangan?"
"Nggak bertepuk sebelah tangan, Mas. Maksudnya, Mas Araz nggak lagi kangen sendirian."
Araz tertawa mendengar pembelaanku. Aku yakin laki-laki itu sudah tahu maksudku dan hanya menggodaku semata. Terbukti ‘kan, sekarang dia tertawa saat aku mengatakan maksudku yang sebenarnya.
"Eh, Mas Araz lagi ngapain sekarang?" tanyaku bermaksud mengalihkan pembicaraan.
"Tuh kan, mengalihkan perhatian." Tawa masih tersisa saat Araz mengucapkan kalimat itu. Meski begitu dia tetap menjawab pertanyaanku. "Lagi santai saja sih. Ini juga masih di kantor. Kayaknya bakal lembur lagi malam ini. Biasalah, masih ada yang perlu diurus sebelum aku tinggal. Oh ya, mungkin lusa aku ke sana. Menepati janji aku."
"Iya? Aku nggak sabar nunggunya."
"Tungguin aku ya."
"Iya, Mas. Oh iya, aku boleh bacain Mas Araz puisi nggak? Tadi aku baru baca bukunya Phutut EA."
"Wah, baru kali ini aku kamu bacain puisi loh. Tumben banget. Ada apa nih?"
"Kok ada apa sih? Ya, anggap saja hadiah buat seseorang yang sedang merindu dan sabar banget ngadepin aku."
Araz tertawa. "Iya deh, bakal aku dengerin."
Senyumku mengembang sebelum akhirnya membacakan potongan sajak Phutut EA dalam buku "Jalan Bercabang Dua di Hutan Kesunyian".
Aku mendengar musik lembut
yang memanggilku dari jauh.
Dari jantung hutan yang gelap di seberang sana. Aku
digelandang angin, seperti
menunggangi ratusan kuda maya. Memenuhi panggilan
itu dengan gelora dan rasa
__ADS_1
rindu yang tak tertahankan.*
*Keping A : Bersama Angin (Jalan Bercabang Dua di Hutan Kesunyian - Phutut EA)