
Renjana Kanya
Aku tersesat sebab berani menantang memasuki penjara yang terkenal menyeramkan di seluruh dunia itu. Alcatraz. Tempat penjahat kelas kakap seperti Al Capone gangster Amerika yang memimpin pada masa era pelarangan sindikat kejahatan mendekam di balik jeruji dinginnya. Atau sebut saja Robert Franklin Stroud yang dijuluki manusia burung dari Alcatraz.
Tidak hanya menyeramkan, Alcatraz juga diklaim sebagai penjara dengan tingkat keamanan paling tinggi. Hampir tidak ada yang bisa melarikan diri. Meski bukan berarti tidak ada yang pernah mencobanya. Narapidana yang mencoba kabur berakhir dengan kehilangan nyawa mereka. Tertembak atau mati tergulung ombak.
Sedangkan aku, tanpa senjata dan persiapan apa pun berani menantangnya. Memasuki setiap labirin yang memanjang dan gelap, hingga membuatku tersesat. Tak ada jalan untuk kembali mencari pertolongan. Alcatraz telah memenjarakanku melalui sorot mata dan bibir kami yang bertemu.
Harusnya aku menolak saat Araz mendorong tubuhku. Namun aku tak kuasa menahan perasaan rindu yang menggebu. Ia mendorong tubuhku hingga terjatuh ke tempat tidur di belakang kami. Napas Araz terasa panas menyentuh kulit leherku yang terbuka. Bibirnya masih mengunci bibirku. Berbagi rindu akibat lama tak bertemu.
Ciuman Araz semakin dalam. Bahkan tangannya dengan lihai mengelus leherku. Mengaduk-aduk dasar perutku hingga terasa geli. Tidak, sensasi ini tidak boleh diteruskan. Cukup sekali aku melakukan kesalahan yang tak termaafkan. Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, aku mendorong tubuh lelaki itu dengan sekuat tenaga.
Tatapan kami bertemu. Wajah Araz terlihat menyesal saat menatapku.
"Maafkan aku, Kanya," ucapnya sesaat setelah kesadaran menguasai kami.
Aku hanya tersenyum lemah membalas ucapannya. Bukannya aku tak menginginkan ciuman itu, tapi... argh, aku malu jika harus mengatakannya.
Sebelum setan berhasil menggoda kami lagi, aku meminta Araz meninggal kamar. Lelaki itu hanya mengangguk dan menepuk pucuk kepalaku sebelum pergi. Ia bahkan sempat-sempatnya mengecup keningku dan membuat jantungku kehilangan iramanya.
"Astaga Kanya, lo gila! Bahkan lo nggak tahu tempat dan main balas aja ciuman Araz!" makiku pada diri sendiri. Setelah Araz keluar dari kamar Arez.
__ADS_1
Aku menggulung tubuhku dalam selimut beraroma coklat bercampur mint. Aroma A... raz. Heh, sekarang otakku hanya dipenuhi nama lelaki itu. Padahal tujuanku ke sini adalah mencari kebenaran tentang Arez. Namun aku justru terjebak dalam penjara yang terkenal dengan sebutan the rock itu.
Wajahku memanas. Teringat lagi ciuman hangat, ah... justru lebih pantas disebut panas - yang baru saja kami lakukan. Bekas bibir Araz masih terasa di bibirku. Astaga, kenapa aku masih saja tak bisa lupa?
Jika diingat-ingat, aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta. Sejak putus dengan Putra pun, aku tak berminat pacaran lagi. Meski beberapa kali terlibat kencan yang akan berakhir tiga hari kemudian. Satu minggu paling lama. Mereka yang memutuskan pergi, sebab aku tak mudah membuka hati.
Dengan Arez pun lebih tepat jika disebut kagum. Aku tak pernah memiliki keinginan untuk terus bersamanya sebagai kekasih atau pun pasangan hidup. Arez hanya sekadar sahabat yang mengajarkan perasaan berdebar yang lain dan berbagi ciuman. Ya semacam tikungan di jalan yang melulu lurus dan panjang.
Namun bersama Araz mengajarkan kekompleksan hidup yang belum juga kupahami. Tentang dirinya sebagai keseluruhan Araz, tentang Arez yang disadari keberadaannya dalam hidupku, juga keluarganya yang tak memiliki garis kemiripan sama sekali dengan lelaki itu.
Mungkin Araz lupa, tapi aku masih ingat lelaki itu pernah bercerita tentang ibunya yang berasal dari Korea. Dari ibunyalah ia diwarisi mata sipit yang akan menghilang ketika tersenyum. Dari ibunyalah wajah tampannya itu diperoleh. Namun saat bertemu kedua orang tuanya aku sama sekali tak menemukan kemiripan itu pada keduanya. Tidak dengan ibunya pun dengan sang ayah. Aku justru melihat wajah Arez di kedua orang tua yang menyambutku dengan hangat tadi.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Aku yakin jika Araz bukanlah bagian dari keluarga ini. Meski beberapa foto lelaki itu terpajang di dingin ruang tamu maupun ruang keluarga. Diperkuat dengan foto keluarga yang memotret momen mereka berempat. Namun semakin kuteliti, semakin aku tak menemukan kemiripannya. Terlebih saat bunda menunjukkan album yang penuh berisi foto Arez sendirian. Tanpa Araz.
"Ternyata kamu bukan cuma penjara yang menakutkan, tapi juga soal matematika yang susah dipecahkan. Aku sama sekali nggak suka matematika. Menyebalkan. Rumit dan harus butuh ketelitian juga kesabaran untuk menyelesaikannya. Kenapa terus berbelit-belit sih? Kamu matematika, tapi juga bahasa yang memiliki seribu makna meski hanya satu klausa."
Bukan tanpa alasan aku menyebutnya begitu. Ia memang penjara, sesuai namanya. Jika belum mengenalnya mungkin orang akan menganggapnya sosok yang dingin, tak banyak bicara, juga berwibawa.
Namun tak selamanya penjara itu menakutkan bukan? Masih ada sedikit sisa kehangatan yang bisa ditemukan. Ikatan antar senasib sepenanggungan, momen haru dari kunjungan keluarga dan semacamnya.
Begitu pula Alcatraz. Dia sosok yang dingin juga hangat secara bersamaan. Namanya pun sungguh sesuai dengan image yang melekat padanya.
__ADS_1
Heh, bahkan aku pun tak tahu bagaimana bisa aku menyamakannya dengan matematika. Soal-soal yang rumit itu. Aku pernah membencinya setengah mati. Bahkan mungkin sampai sekarang. Itu pula yang membuatku berkuliah di jurusan Sastra Indonesia demi menghindari urusan angka dan matematika.
Meski pada kenyataannya belajar bahasa dan sastra pun tak semudah kelihatannya. Sama seperti Araz. Ia begitu banyak makna hanya dengan satu klausa. Bahkan ia hanya menanggapiku dengan satu kata tanya. Apa?
"Apa?"
Ya, apa? Hanya itu yang ia ucapkan sambil menatap ke arahku. Padahal aku ingin mendengar lebih banyak tentangnya. Tentang Araz. Apa ia tak pernah merasakan bagaimana tidak enaknya ketika digantung oleh sesuatu yang tak pasti?
"Aku cuma mau tahu di mana Arez, Mas. Ada begitu banyak kata maaf yang nggak sempat aku sampaikan. Tolong pertemukan aku dengan Arez. Dia baik-baik aja 'kan? Dia bukan adik Mas Araz yang udah meninggal 'kan?"
"Kanya... "
"Di mana Arez sekarang, apa kita beneran nggak bisa nemuin dia sekarang?"
"Kamu nggak akan bisa membantah Bunda atau Ayah, Kanya, kita pergi sama-sama besok."
"Kalian nggak sedang mempermainkan aku kan?" tanyaku penuh selidik.
"Kamu boleh menganggapku mempermainkan kamu, Kanya. Tapi mereka berdua adalah orang-orang tulus yang pernah aku kenal." Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku sudah taruh titipan Arez buat kamu di atas ranjang. Sori, aku keluar dulu. Kamu bisa istirahat sebentar."
"Apa selain soal matematika dan bahasa, Mas Araz juga sejarah yang dibelokkan? Kenapa susah sekali buat memahami Mas Araz? Aku..."
__ADS_1
...ingin tahu tentang Mas Araz secara keseluruhan. Tanpa ada yang kamu sembunyikan. Aku meneruskan ucapanku dalam hati. Tak ada yang bisa kulakukan selain memeluk punggungnya dengan air mata berderai membasahi pipi.