Pulang

Pulang
Season 2 #Kompak


__ADS_3

Ponsel Kanya berdering. Panggilan dari Hanung.


Perempuan itu sengaja tidak mengangkatnya dan membiarkan panggilan dari sang kepala redaksi.


Laki-laki itu pasti sedang bingung sekarang.


Meski kelihatannya Hanung bisa dengan mudah bergaul dengan orang lain, tapi ada hal-hal yang tak mudah dia toleransi. Meminjam kendaraan pribadi merupakan hal yang anti Hanung lakukan.


Tentu saja Kanya tahu betul tentang hal itu dan meminta si anak baru untuk menggembosi ban mobil mobil milik Hanung. Dengan begitu, Hanung pasti akan panik saat melihat mobilnya tidak bisa digunakan.


Sementara dia harus segera mengantarkan kamera pada Kanya. Dia tidak mungkin meminjam kendaraan pada karyawan. Sedangkan mobil perusahaan sedang digunakan untuk mengantar Araz dan Kanya mendatangi undangan.


Membayangkannya saja sudah membuat Kanya tak bisa menahan tawa.


"Biar mampus tuh," gumam Kanya pada dirinya sendiri.


"Gimana?" tanya Araz tiba-tiba sudah duduk di samping Kanya.


Acara baru saja dimulai dan membuat para undangan duduk di tempat yang sudah disediakan.


"Dia baru aja telepon aku," ucap Kanya sambil menunjukkan notifikasi panggilan tak terjawab dari Hanung.


Araz menahan tawa. Lalu mengulurkan tangannya untuk high five dengan perempuan itu.


"Biar tahu rasa dia. Siapa suruh suka banget isengin orang."


"Fix, ini sih Mas Hanung bakal pakai ojol buat sampai ke sini."


"Biar saja. Sesekali dia harus kena panas sinar matahari. Itu pembalasan paling sadis yang harus dia rasakan!" imbuh Araz penuh dendam.


Keduanya tertawa pelan. Sambil menunggu episode terbaru sebuah drama begitu Hanung sampai di tempat acara.


Ya, mereka memang bersekongkol untuk membalas perbuatan Hanung. Bagaimanapun hasilnya saat ini - yang membuat hubungan Araz dan Kanya kembali menghangat - Hanung harus tetap mendapat balasan yang setimpal.


Bermula dari ide Kanya yang tiba-tiba saat melihat baterai cadangan kameranya, muncul sebuah gagasan untuk mengerjai Hanung.


"Ehm...Mas, kita perlu ngerjain Mas Hanung nggak sih?" tanya Kanya cukup tiba-tiba.


Mereka baru saja mengisi daftar tamu undangan dan berjalan masuk ke tempat acara.


"Eh, gimana tuh? Kamu punya ide?" Araz balik bertanya dengan antuasias.


Lalu Kanya menjelaskan dengan singkat ide balas dendam yang bergelegak dalam benaknya.


Araz tampak setuju dan membuat Kanya dengan cepat mengeksekusi ide tersebut. Dia segera menghubungi si anak baru di divisi pemberitaan untuk bekerja sama.


Kanya tidak keliru memilih sekutu. Terbukti anak baru itu sama antusiasnya dengan Kanya begitu mendengar jika dia harus membalas perbuatan Hanung.


Untuk hal itu, Kanya memiliki pemikiran jika si anak baru merupakan mantan gebetan adik perempuan Hanung yang tertolak, akibat ulah laki-laki itu.


Mungkin itulah sebabnya, mengapa dia mau membantu Kanya. Perempuan itu akan mencari tahu begitu kembali ke kantor nanti.

__ADS_1


Keduanya kembali tertawa saat tatapan mereka bertemu. Tentu saja dalam benak mereka memikirkan hal yang sama. Kesengsaraan Hanung yang selalu menuntut kesempurnaan.


Tidak menunggu lama, giliran ponsel Araz yang berdering. Dari penelepon yang sama. Hanung.


Laki-laki itu menunjukkan ponselnya pada Kanya.


"Lihat, dia telepon aku sekarang."


Kanya cekikikan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Wajah perempuan itu tampak puas melihat kepanikan sang kepala redaksi tempatnya bekerja.


"Angkat nggak nih?" tanya Araz meminta pendapat.


Kanya berpikir sejenak sebelum menjawab,"Angkat deh, Mas. Aku pengen denger gimana paniknya orang itu."


Araz setuju. Dia menggeser ke atas tombol hijau di layar ponsel.


"Halo," sapa Araz basa-basi.


Dia menahan tawa agar tidak ketahuan jika sedang mengerjai sahabatnya itu.


Laki-laki itu juga sengaja mengeraskan volume ponsel, agar Kanya mendengar dengan jelas percakapan mereka.


"Asem kalian! Susah banget sih dihubungi dari tadi? Kanya mana? Gue baru jalan ke lokasi nih. Naik ojol.


Apes banget gue. Nggak ada orang di ruangan. Baterai cadangan kamera Kanya nggak ada di laci. Gue pinjem ke divisi iklan.


Udah gitu, ban mobil ikutan gembos pula."


"Mana dulu nih yang mesti gue kasih tanggapan?"


Gue bela-belain antar kamera buat anak buah yang teledor. Pecat aja deh anak buah kayak gitu. Bisa-bisanya nyuruh bos anterin kamera.


Mana ada bos yang mau kayak gini kalau bukan gue?"


Kanya yang duduk di samping Araz sontak menutup mulut dengan telapak tangan.


Perempuan itu tertawa di balik mulut yang tertutup. Dia tidak mau jika Hanung sampai mendengarnya tertawa.


Bisa jadi rencana mereka bakal gagal kalau sampai ketahuan Kanya sedang tertawa.


"Katanya nggak bisa mikir. Buktinya masih lancar-lancar aja tuh mulut."


"Ck, bawel. Udah buruan, Kanya mana?"


"Ya dia lagi liputanlah. Ngumpulin data Kan elo yang suruh dia berangkat.


Lagian apa gunanya cari Kanya, kan kameranya juga masih ada di elo." Araz lancar sekali saat mengucapkan kebohongan dari mulutnya.


Padahal Kanya jelas-jelas berada di sampingnya dan sedang mendengarkan pembicaraan kedua lelaki yang bersahabat itu.


"Sial! Iya juga ya. Ngapain gue cariin, Kanya?"

__ADS_1


"Ya mana gue tahu, Monyet. Memang apa yang bakal lo pastiin ke Kanya?"


Hanung tidak langsung menjawab. Laki-laki itu sepertinya sedang berpikir. Atau lebih tepatnya berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu yang berkaitan dengan Kanya.


Sementara suara angin terdengar kencang dari ujung pelantang suara. Menunjukkan jika Hanung benar-benar sedang menggunakan ojek online untuk mencapai tempat acara.


"Ah ya, gue cuma mau mastiin apa dia kehilangan momen penting?" tanya Hanung begitu mengingat apa yang ingin dia sampaikan ketika hendak menelepon Kanya.


Sialnya sang anak buahnya itu tidak menjawab telepon Hanung meski dia sudah mencobanya berulang-ulang.


Sementara Araz yang mendapatkan pertanyaan tidak terduga dari Hanung, tampak bingung harus menjawab apa.


"Bilang aja kalau kita kehilangan banyak momen," bisik Kanya hampir tanpa suara.


Beruntung Araz memahami ucapan perempuan itu dan segera mengatakannya pada Hanung.


"Kita udah kehilangan banyak momen."


"Argh...sial. Ini udah paling ngebut nih. Nggak bisa lebih cepet lagi.


Suruh dia ambil foto pakai HP deh. Nggak apa-apa hasilnya nggak maksimal.


Gue bakal usahakan secepat mungkin sampai di sana. Lagian tumben banget acara pemerintahan nggak molor dan bisa tepat waktu," keluh Hanung di akhir obrolan sebelum mengakhiri panggilan telepon dengan Araz.


Seketika tawa Kanya tak bisa terbendung. Meskipun perempuan itu masih menahannya agar tidak terlalu kencang tertawa.


"Haha...sumpah deh, dia pasti panik banget tuh."


Berselang tiga puluh menit sejak Hanung menutup teleponnya, laki-laki itu tiba di tempat acara. Security yang berjaga melarangnya masuk sebab dia tidak membawa undangan.


Sempat terjadi perdebatan dan hal itu tak luput dari perhatian Kanya.


"Mas, kayaknya Mas Hanung tertahan di depan deh. Gimana kalau kita aja yang ke sana?"


"Boleh juga tuh. Aku juga pengen lihat gimana muka Hanung setelah panas-panasan."


Kompak, mereka bangkit dari kursi dan melangkah ke pintu masuk acara diselenggarakan.


Wajah laki-laki itu sangat merah. Ditambah setelah berdebat dengan penjaga keamanan di pintu masuk. Semakin membuat Hanung tampak menyedihkan.


"Kasihan," gumam Kanya tanpa sadar.


Saat itu pandangan mereka bertemu.


"Nah, nah...itu rekan saya, Pak. Saya ke sini mau ngantar kamera ini!" seru Hanung dengan nada kesal.


"Ya bilang dari tadi dong!"


"Saya udah bilang dari tadi, Pak. Astaghfirullah."


"Nah kan, mulai lupa jati dirinya." Araz ikut bergumam.

__ADS_1


"Haha...tapi puas sih kalau lihat wajah dia seperti itu," ucap Kanya dengan suara pelan.


Diam-diam keduanya tersenyum dan melakukan high five tanpa ketahuan.


__ADS_2