Pulang

Pulang
Tatapan Kecewa


__ADS_3

Renjana Kanya


"Sebelum ke lokasi, kita mampir ke kantor aku dulu ya, Nya? Ada barang yang ketinggalan. Sori ya, padahal udah aku siapkan semuanya, tapi masih aja ada yang ketinggalan," kata Araz saat kami memasuki mobil. Itu obrolan pertama kami setelah melewatkan sarapan sepotong sandwich dalam diam.


"Nggak apa-apa Mas, santai aja. Belum pernah main ke kantor LF juga aku."


"Nggak ada yang spesial, Nya. Soalnya udah kerja sama Hanung."


"Eh?"


"Hahaha... Emang iya 'kan, yang seulet dan secekatan kamu udah kerja sama Hanung. Jadi ya nggak ada yang spesial di LF."


"Mas Hanung cerita apa aja sih, kok Mas Araz sampai bisa bilang aku ulet dan cekatan? Jangan-jangan Mas Hanung lebay nih kalau cerita," tanyaku pura-pura kesal.


Bukannya sombong, tapi memang banyak dari rekan kerjaku yang mengakui jika aku adalah tipikal orang yang ulet dan cekatan. Tambah pekerja keras serta mampu diandalkan. Terbukti, tahun lalu aku yang meng-handle hampir semua pelimpahan liputan saat yang lain tumbang akibat sakit. Dan Mas Hanung merupakan orang yang selalu membanggakan aku pada siapa pun itu yang dijumpainya.


"Nggak, Hanung sih cuma sedikit cerita tentang kamu, waktu aku minta bantuan buat nulis terkait batik Tuban. Selebihnya aku sering lihat kamu pas main ke kantor Hanung. Nggak merasa diperhatikan ya?"


"Lagi mati rasa Mas, lupa rasanya diperhatikan. Sampai nggak peka kalau ada yang perhatian."


"Ya udah kalau gitu mulai sekarang aku perhatiin ya. Nolak nggak?"


Pertanyaan Araz membuat pipiku terasa panas. Aku tidak menyangka jika lelaki itu memilih jawaban sekaligus pertanyaan yang membuat jantungku berdetak tak berirama. Sedangkan ia dengan santainya mengendalikan setir sambil sesekali tersenyum geli saat melihatku mendadak kikuk. Siapa yang peduli ia memperhatikanku atau tidak saat main ke kantor Hanung? Namun tetap saja mengetahui fakta itu membuatku sedikit salah tingkah.


"Mas Araz tuh ternyata orangnya suka iseng ya. Dari awal ketemu loh, suka banget godain orang."


"Eh, tapi kata-kataku barusan nggak cuma guyonan loh. Aku sih siap-siap aja kalau harus perhatiin kamu tiap saat. Bersyukur malah kalau kamu beneran mau."


"Oke, terima kasih tawarannya Tuan Araz, tapi kayaknya kita harus tunda dulu deh pembahasan ini. Kantor LF udah kelewat, Mas," kataku membuat Araz terkejut.


"Oh ya?" Seru Araz sambil menginjak rem. Untung tidak ada kendaraan di belakang kami hingga menghindarkan dari kecelakaan beruntun.


Araz menepikan mobilnya dan menengok ke belakang. Kantor LF benar-benar sudah terlewatkan dua blok dari tempat kami berhenti saat ini.


Lelaki itu tidak memperhatikan jalan saat mengobrol denganku. Alhasil kami harus putar balik untuk menuju kantor LF yang berada di kawasan jalan satu arah itu.


"Nih bukti kalau aku tuh merhatiin kamu, sampai kelewatan kan tujuan kita," kata Araz sambil menarik gas dan melajukan mobilnya kembali. Mencari haluan putar balik untuk sampai ke tujuan. Sementara aku hanya tertawa menyadari kekonyolan kami yang ajaib.

__ADS_1


Padahal ada dua orang di mobil ini, tapi dua-duanya justru tidak menyadari jika sudah sampai tujuan dan justru tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Melihatku menertawakan kekonyolan kami, menjadikan Araz ikut tertawa dan baru berhenti saat mobil lelaki itu terparkir di halaman kantor LF.


***


Aku memperhatikan bangunan kantor tiga lantai di depanku. Mulanya aku berniat menunggu Araz di mobil, tapi lelaki itu memaksaku untuk turun. Dengan dalih aku harus melihat suasana kantornya seperti pengakuanku tadi, jika aku belum pernah main ke kantor LF.


Setelah melewati lantai satu yang berfungsi sebagai ruang tunggu dan resepsionis, kami naik ke lantai dua yang digunakan untuk para staf dari berbagai divisi. Entah bagaimana pembagiannya, aku tidak terlalu memperhatikan. Araz pun tidak mencoba menjelaskan kepadaku. Ia bahkan hanya sekilas menyapa para pekerja yang masih berada di meja mereka. Padahal mereka - yang kebanyakan perempuan - begitu bersemangat saat menyapa Araz.


Iya juga. Kenapa aku baru sadar sekarang? Sejak memasuki kantor, Araz hanya tersenyum sekadarnya saat disapa oleh resepsionis maupun para staf di lantai dua. Bahkan saat tatapan mereka tertuju padaku, tidak seramah saat menatap Araz. Oh baiklah, sepertinya aku akan menjadi musuh bersama dan trending gosip di LF.


"Mas Araz punya banyak fans juga ternyata," bisikku sambil terus mengikuti Araz dari belakang.


"Dapat dipastikan kamu bakal jadi musuh publik AFC kalau berita ini sampai nyebar."


"AFC, apaan tuh? Araz Fans Club?" Bukannya menjawab pertanyaanku, lelaki itu hanya mengangguk mengiyakan. "Serius?"


"Iya, ini pertama kalinya dalam sejarah aku membawa seorang perempuan ke kantor. Jadi tahan sebentar ya kalau seandainya pengen ke toilet. Mereka agak bar-bar kalau ada perempuan yang dekat-dekat sama aku."


"Eh, sefanatik itu? Jangan-jangan itu kenapa Mas Araz nggak pacaran? Fansnya terlalu kejam sama kehidupan pribadi idolnya."


"Nggak ada kaitannya, Kanya. Tapi serius, kamu harus tahan kalau pengen ke toilet."


"Pernah, adiknya Hanung. Dia ke sini disuruh Abangnya ngantar pesananku. Eh malah dirundung sama anggota AFC."


"Trus Mas Araz diam aja?"


"Waktu itu sih nggak. Aku marah lah pastinya. Udah menganggu kenyamanan. Cuma setelah insiden itu, aku nggak ambil pusing lagi soal mereka. Asal nggak ngelakuin perundungan lagi."


Aku hanya mengangguk menanggapi pernyataan lelaki itu, meski aku tak yakin dia melihatnya. Sedangkan setelah melewati kubikel yang berjajar rapi dan menyisakan beberapa orang pekerja, kami menuju ke lantai tiga. Jika dibandingkan dengan anak tangga menuju lantai dua, kini lebih rendah. Hanya sekitar sepuluh anak tangga. Namun ruangan di lantai dua tetap luas dan tinggi seandainya dikosongkan. Aku tidak tahu bagaimana desain perkantoran ini, tapi yang jelas cukup modern dan terasa nyaman jika tinggal berlama-lama.


Jika di lantai dua cenderung sepi dan menyisikan beberapa pekerja saja - mungkin yang lain sudah berangkat menuju lokasi, aku juga tidak tahu berapa orang yang ikut dalam kegiatan ini - maka di lantai tiga suasananya agak ramai. Bahkan seorang lelaki dengan dandanan nyentrik sudah berseru saat Araz muncul di anak tangga terakhir.


Ada sekitar tujuh orang yang sedang duduk melingkar di sofa ruang tamu mini di lantai tiga. Berdampingan dengan meja resepsionis yang juga masih ada penghuninya.


Jika melihat tatanannya dengan satu orang resepsionis di sana, aku menduga lantai tiga dikhususkan untuk petinggi-petinggi perusahaan. Mungkin untuk pimred, penanggung jawab, serta kepala divisi seperti Araz.


"Wah, tumbenan ngajak cewek. Pacar nih? Pacar kan pasti?"

__ADS_1


"Ngaco, kenalin nih, Kanya. Dia salah satu relawan yang bakal bantuin kita hari ini," kata Araz terdengar tenang meski teman-temannya begitu riuh menggodanya.


"Hallo Kak, kenalin, Kanya," kataku berusaha riang sambil menyalami satu per satu dari mereka.


"Kalo gitu boleh gue gebet dong," goda seorang lelaki berpakaian nyentrik yang kusebut tadi.


"Coba aja, kalau dia mau," tantang Araz begitu percaya dia. Seolah yakin jika aku akan menolak ajakan teman lelaki itu.


"Gimana Nya, daripada digantung sama Alcatraz, mending sama gue yang pasti ajalah," celetuk lelaki itu yang kemudian kutahu bernama Henry.


"Heh, gue yang digantung, bukan dia."


"Wah, catatan rekor nih. Seorang Alcatraz diabaikan sama seorang cewek. Biasanya juga ke mana-mana cewek pada antre. Gimana Nya, udah sama Bang Henry aja. Dijamin masa depan Kanya nggak akan suram."


Seorang cewek yang mengenalkan diri sebagai Sazkia hanya menonyor kepala Henry dan mereka terlibat saling ejek. Sementara aku hanya tersenyum kikuk di antara manusia-manusia yang saling melempar jokes dengan hangat.


"Eh, gue nanti bareng lo ya, Raz," kata seorang cewek berpenampilan cantik dibalut kemeja abu-abu lengan panjang dan rok hitam selutut.


Rambutnya yang melebihi pinggang dikuncir ekor kuda yang membuat penampilannya terlihat segar. Make up tipisnya pun menjadikan penampilannya makin sempurna. Ketika berbicara, suaranya seperti nyanyian bangsa Elf dalam film The Lord of Rings. Begitu merdu dan menenangkan. Perempuan itu bernama Bianca. Dia jadi satu-satunya orang yang menatapku sinis saat datang bersama Araz.


"Sori, gue udah bareng Kanya, Bi. Ini juga harus bawa kamera shooting dan perlengkapan lainnya. Makanya gue ke sini dulu."


"Yaahh, trus gue gimana dong?" keluh perempuan itu. Sekilas aku bisa melihat raut kecewa di wajahnya. Bahkan dia tak berusaha menyembunyikannya demi menarik simpati Araz. "Emang nggak ada tempat lagi ya?"


Melihat kegigihan Bianca, aku bisa menebak jika perempuan itu termasuk salah satu anggota AFC. Atau justru dialah pelopor pembentukan AFC di La Femmes. Entahlah, hanya saja dia membuatku merasa tidak nyaman berada di dekatnya.


"Nggak bisa, Bi. Kamera segede itu, 'kan perlu banyak tempat."


"Nanti bisa gue pangku deh kalo itu."


"Sori Bi, beneran nggak bisa. Bareng Henry aja. Lagian emang dia yang bertugas ngurus transportasi 'kan?"


"Males gue bareng kutu loncat satu itu."


"Ini nih, alasan kenapa Araz nggak pernah suka sama lo. Kata-kata lo tuh sering nggak difilter. Nyakitin hati mulu. Pantes kalo lo dicampakin sama Araz."


"Jangan libatkan gue ya!" kata Araz terdengar tidak suka sebelum pamit ke ruangannya.

__ADS_1


"Apaan sih, Hen. Nggak penting banget deh lo!" seru Bianca terlihat kesal. Perempuan itu segera berlalu dari lantai tiga dan entah ke mana perginya. Sedangkan Araz sudah ke ruangannya untuk mengambil barang yang diperlukan.


Jika tadi aku memaksa menunggu di mobil, aku tak pernah tahu apa bila ada seseorang yang menatap Araz dengan pandangan kecewa, saat lelaki itu menolak permintaannya. Bahkan kekecewaan itu semakin jelas terasa, saat alasannya adalah keberadaanku di samping lelaki itu.


__ADS_2