Pulang

Pulang
Sehangat Mentari Pagi


__ADS_3

Renjana Kanya


Lirik lagu yang dinyanyikan Putra sebagai penutup konser tadi malam masih membekas dalam pikiranku. Aku tak bisa memungkiri jika air mata yang jatuh adalah sebentuk luka yang tak lagi berbentuk. Ingin kusebut haru saja. Sebab, semua tak bisa berjalan sesuai keinginan kami untuk bersama. Pun hatiku sudah tertawan pada Araz. Tak mengapa bukan jika aku menyimpan nama Putra sebagai rindu saja? Seperti lirik yang dia nyanyikan semalam.


Aku tahu inilah yang terbaik untukmu


Terus berjalan meski tanpa diriku


Usai sudah cerita aku dan kamu


Kita kini hanyalah bayangan semu


Pergilah sejauh langkah yang kau mampu


Raih semua mimpi juga anganmu


Asal jangan pernah kau lupakan aku


Jika kita dulu pernah menjadi satu


Cerita kita bukan hanya rangkaian kata


Seperti bait puisi ataupun novela


Maka kenanglah aku di hati saja


Sebagai rindu pernah bertemu


Dan aku ‘kan belajar cara merela


Bukan hanya Putra, aku pun masih belajar caranya merelakan. Beruntungnya, aku lebih dulu menemukan penawar yang sanggup membuatku melangkah dari perasaan yang memeram luka. Dan, aku pun berharap Putra juga menemukan penawarnya.


Mungkin, Angel.


Bukan tanpa sebab sebenarnya, saat aku berbisik di telinga laki-laki itu ketika usai manggung tadi malam.


"Sesekali lihatlah, Angel. Meski lo nggak pernah melihatnya, dia selalu ada di belakang lo. Sejak dulu dan nggak pernah berubah. Tatapan matanya masih tetap sama. Dia jatuh cinta, bukan hanya sekadar kagum."


Namun, Putra menyangkalnya. Insiden di Juanda yang membuat mereka terlibat dalam suatu momen masih menjadikan laki-laki itu kesal setiap kali mengingatnya. Pun ia mengaku jika sampai saat ini, gadis itu sama sekali tak meminta maaf kepadanya.


"Ya kenapa Angel harus minta maaf. Wajar sih kalau dia nggak minta maaf juga. Dia nggak salah, Putra. Itu tuh cuma keakuan lo aja yang pengen dikenal semua orang. Padahal maksud Angel juga baik loh. Kalau waktu itu dia teriak terus para fans lo tahu, bakal lebih rumit keadaannya," kataku mencoba memberi pengertian pada Putra sekali lagi.


Tak peduli setelah ini dia masih bersikap keras kepala atau tidak. Namun, aku percaya Putra akan luluh dengan sendirinya suatu saat nanti. Apalagi aku melihat kegigihan Angel saat berhadapan dengan saudara tiriku itu. Perempuan itu memiliki hati yang tulus mencintai Putra sejak lama. Aku bisa merasakannya. Yah, walau di beberapa momen Angel sempat mengaku secara gamblang saat masih belia. Siapa yang bisa menebak rencana semesta jika sekarang kami kembali dipertemukan dengan cara yang berbeda. Mungkin sudah tugasku mengembalikan Putra ke sisi yang lebih berhak bersamanya.

__ADS_1


"Udah, kamu nggak usah sibuk mikirin aku mesti gimana. Kalau udah waktunya juga pasti bakal ketemu sosok yang tepat."


"Ya asal nggak jatuh ke pelukan yang salah aja. Tahu nggak sih kalau lo itu diintai sama serigala betina sejak lama?"


"Cindy?" Tawa Putra seketika pecah saat aku menyebut Cindy sebagai serigala betina. "Gitu juga dia perhatian loh sama aku."


"Iyalah, ada maunya. Mana ada dia tulus," kataku sewot. Tak mampu menyembunyikan perasaan kesal setiap kali menyebut nama perempuan itu. Sejak dulu, dialah sumber pertengkaran antara aku dan Putra.


"Dia udah mau nikah, Nya. Nggak mungkin nempel ke mana pun aku pergi."


"Sialan, giliran kita belajar buat terima kenyataan kenapa dia justru mau nikah aja? Kenapa nggak dari dulu aja coba."


"Menyesal?"


"Nggak sih. Kita lebih baik gini aja. Lagian cowok gue seganteng artis Korea, mana mau gue tukar lagi sama lo."


"Sialan. Oh, gitu ya, berani bandingin aku sama cowok lainnya sekarang."


"Lah, bukannya dari dulu gue selalu bandingin lo sama Arlan?"


Kami sama-sama terdiam sebelum akhirnya tertawa bersamaan.


"Makasih ya, Nya."


"Karena sudah hadir dalam hidup aku dan nggak memutuskan buat pergi-pergi lagi. Kamu tahu, mau jadi apa pun itu, selama kamu yang ada di samping aku, aku bakal terus bertahan dalam kondisi terburuk sekalipun. Makasih sudah membuatku bertahan sampai saat ini. Makasih untuk segala hal yang pernah kamu lakukan buat aku. Dan, maaf ... aku ... ."


"Itu bukan salah kamu. Kita sama-sama naif dan menganggap bahwa akan bersama selamanya bukan? Nggak ada hal yang perlu disesali, Kak. Justru itu membuat kita belajar bukan, untuk nggak melakukan kesalahan yang sama di masa depan?"


Kugenggam tangan Putra dengan erat. Aku tahu itulah penyesalan terbesar yang pernah Putra lakukan. Begitupun dengan aku. Namun, kita tak mungkin mengulang waktu dan memperbaiki semua dari awal bukan? Tidak untuk memperbaiki yang telah rusak ataupun mempertahankan yang telah terenggut.


Pertemuan itu berakhir pukul sepuluh malam. Nada Sumbang harus kembali ke penginapan. Besoknya pagi-pagi sekali, mereka harus mengawali perjalanan tour untuk konser selanjutnya.


Kami berpisah dengan pelukan. Hangat. Tak lagi mendebarkan, tetapi membuatku merasa sangat nyaman. Seperti berada dalam pelukan seorang kakak yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan ketika dia mengecup keningku pun, tak ada getar-getar aneh yang dulu sering kurasakan. Mungkin, sepenuhnya hatiku telah sembuh dan mengisinya dengan kisah yang lain.


"Kita bakal lama nggak ketemu, jangan rindu ya," ucap Putra saat memelukku.


"Gimana sih, katanya disuruh mengenang sebagai rindu saja. Mana yang harus gue percaya coba?"


Putra tertawa sambil mengacak-acak rambutku sebelum akhirnya mengantarku pada Araz yang memilih menunggu di luar tenda.


"Jagain adik gue ya, Bang. Kelak kalau kita ketemu lagi, gue berharap lo udah manggil gue sebagai Abang," kelekar Putra ditanggapi tawa oleh Araz.


"Rasanya bakal aneh nggak sih, panggil lo dengan sebutan, Abang."

__ADS_1


"Hahaha ... iyalah, gue masih imut-imut gini, dipanggil Abang sama lo yang udah amit-amit."


Mereka tertawa. Tak ada lagi canggung di antara keduanya.


Dalam hati aku bersyukur telah memutuskan pulang tepat pada waktunya dan tidak meninggalkan sesal di kemudian hari.


"Ngelamunin apa sih?" tanya Araz mengagetkanku yang termenung di bangku taman samping rumah.


"Nggak ada sih, Mas. Cuma lagi keinget tadi malam aja."


Senyum mengukir di wajah Araz yang tampak segar selepas mandi. Laki-laki itu duduk di sampingku dan meregangkan tubuhnya.


"Memang apa yang membuat kamu kepikiran?"


"Entahlah, tiba-tiba aja ingat kejadian tadi malam dan semua peristiwa yang udah aku lalui. Rasanya masih nggak nyangka aja kalau aku bakal lama di sini. Di rumah ini. Berdamai dengan rasa sakit yang selama ini aku hindari mati-matinya. Menolak kenyataan bahwa aku sama Putra ... ya, seperti yang Mas Araz tahu sih."


"Nggak apa-apa, kamu boleh nangis kok kalau mau nangis," ucap Araz sambil menoleh kepadaku. Pernyataannya memancing tawa. "Kok malah ketawa? Bukannya tadi mau nangis ya?"


"Apaan sih, Mas? Siapa yang mau nangis sih. Astaga. Aku nggak secengeng itu kok."


Digenggamnya tanganku erat. Laki-laki itu menatapku lekat.


"Kalau ada hal yang membuat hati kamu sedih, gundah, merasa nggak nyaman, gelisah, atau apa pun itu, kamu kasih tahu aku ya. Biar aku yakin kalau kamu menganggapku sebagai bagian dari jiwamu."


Laki-laki itu selalu saja sanggup membuatku tersipu. Entah ucapannya, perbuatannya atau bahkan sikapnya yang sering iseng tiba-tiba.


"Makasih ya, Mas."


"Bukannya itu kalimat Putra tadi malam ya?"


"Eh ... Mas Araz dengar?"


"Ya dengar dong. Termasuk lihat juga waktu kalian pelukan," jawab santai tanpa menunjukkan ekspresi kesal sedikit pun. Sedang aku tak sanggup menyembunyikan sikapku yang salah tingkah. "Udah, nggak usah merasa bersalah. Aku nggak apa-apa kok. Santai aja. Putra juga udah rela kalau adik perempuannya ini, bakal aku jagain sampai akhir. Asal kamu mau janji satu hal."


"Kok jadi bersyarat gini sih?"


"Ya mau atau nggak?"


"Iya deh, apa?"


"Tetaplah tersenyum sehangat mentari pagi, Kanya. Sebab itulah yang membuatku yakin kalau kamu memang milikku. Senyuman kamu."


Sungguh, aku tak tahu seberapa banyak kalimat manis yang Araz punya, tetapi setiap kali laki-laki itu mengucapkannya padaku, selalu berhasil membuatku luluh seketika. Aku berjanji, suatu saat pasti akan membalas perbuatannya yang selalu membuatku tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2