Pulang

Pulang
Selamat Malam Kekasih


__ADS_3

Renjana Alcatraz


"Boleh aku bilang sesuatu?" tanyaku pada Kanya saat perempuan itu selesai membacakan puisinya.


"Kenapa mesti izin dulu? Dari tadi kita juga lagi ngomong 'kan?" jawab Kanya memancing senyum di bibirku.


"Ya sudah, kalau gitu kamu dengarkan baik-baik ya. Jangan sampai ada kata yang terlewat sedikit pun."


"Ih, apaan sih Mas? Jangan bikin penasaran deh," kata perempuan itu terdengar menggemaskan. Bisa kubayangkan senyum Kanya malu-malu saat mengatakannya.


"Iya makanya dengarkan dulu. Ini aku mau ngomong."


Aku membuka jurnal yang terletak tak jauh dari gapaian tanganku. Beberapa hari yang lalu, aku menulisnya saat perasaan rindu ini tak sanggup terbendung lagi.


"Jadi ... mau ngomong apa? Kok malah diem?" tanya Kanya terdengar tidak sabar. Aku tersenyum sebelum membacakan sebuah puisi untuknya.


Selamat malam kekasih


Sudahkah engkau terlelap dalam buaian mimpi?


Ataukah, masih terjaga dan mengeja aksara tanpa jeda?


Mungkinkah, kau justru sedang bercengkrama, menyenandungkan gelisah pada malam yang semakin tak bertuan?


Kasih, kukirimkan sajak rindu dalam amplop biru


Lengkap dengan gelak kupu-kupu


Juga kembang warna ungu


Agar engkau tahu


Jika raga juga batinku menyebut namamu


Tak lupa kusisipkan tembang asmarandana untuk mengobati hatimu yang pilu


Sebab perkara rindu kita yang tak juga bertemu


"Aku ... nggak tahu kalau Mas Araz, nulis puisi juga," ucap Kanya lirih setelah aku selesai membacakan puisi. Lagi-lagi aku bisa membayangkan wajahnya yang bersemu merah muda.


"Gimana, bagus nggak?"


"Apanya, Mas?"


Tawaku berderai menanggapi pertanyaan Kanya. Perempuan itu bisa salah tingkah juga meski tidak sedang bertatap muka.

__ADS_1


"Yah, apa pun itu. Mungkin puisinya atau saat aku baca barangkali."


Kanya tak langsung menjawab. Dia tampak seperti berpikir dan menyusun kata-kata yang tepat sebelum mengucapkannya. Senyumku semakin lebar. Seandainya aku bisa melihat ekspresinya secara langsung, mungkin di saat yang sama aku sudah mencubit pipinya yang memerah setiap kali dia tersipu.


"Nya, kok diem? Kamu nggak ketiduran 'kan?"


"Hemmm ... nggak kok, Mas. Cuma aku bingung mesti gimana kasih tanggapan. Mau bilang puisi Mas Araz bagus, tapi kok kesannya biasa banget. Maksudku bukan puisinya yang biasa, tapi komentar yang bakal aku ucapin. Aduh, gimana ya. Aku nggak pernah baca puisi Mas Araz sebelumnya, jadi nggak ada perbandingan. Ah, tahulah. Aku nggak tahu mesti komentar gimana lagi."


Kanya terdengar buru-buru saat memberi penjelasan. Semakin terlihat jika dia sedang salah tingkah dan tersipu malu. Sikapnya membuatku tak sanggup menahan tawa.


*Kok Mas Araz malah ketawa sih? Memang ada yang lucu?"


"Aku nggak minta kamu komentarin pakai istilah yang rumit, Kanya. Aku cuma mau tahu gimana pendapat kamu tentang puisiku."


Kanya menghela napas. "Hemm ... aku suka puisi Mas Araz. Apalagi bagian "kukirimkan sajak rindu dalam amplop biru. Lengkap dengan gelak kupu-kupu. Juga kembang warna ungu". Nggak tahu kenapa rasanya aku jadi melayang waktu Mas Araz bacainnya. Mas Araz suka nulis puisi?"


"Yah, kalau itu bisa disebut puisi sih, berarti aku lumayan suka."


"Berarti Mas Araz sering nulis?" tanya Kanya terdengar antusias. Senyumku lagi-lagi mengembang.


"Ya, kalau ada waktu luang, ketimbang bengong kadang buat nulis saja sih."


"Boleh dibacain lagi dong kalau gitu," pinta Kanya tanpa merasa sungkan.


"Boleh saja sih, tapi nggak melulu soal romantisme loh. Kemarin yang aku ingat kamu, makanya jadi puisi itu."


Pujian Kanya yang lugas membuatku tersenyum. Aku tahu perempuan itu mencintai sastra, tetapi aku belum pernah membicarakannya dengan Kanya. Ternyata dia menjadi semakin optimis saat membicarakan sastra. Kalau saja aku tahu sejak awal, pasti jalan ini yang akan kugunakan untuk dekat dengannya. Ah, bukan suatu kesalahan yang perlu disesalkan juga kan? Toh, kami sekarang sudah bersama meski masih saja ada halangan yang merintangi.


"Mas Araz, kok diam?"


"Aku mencari puisi yang pas buat kamu."


"Dan ... ketemu?"


"Iya, coba dengarkan ya."


Aku menghirup napas agak panjang sebelum akhirnya membacakan puisi lain dalam jurnalku. Kanya diam mendengarkan.


Dalam kepala perempuan itu, ada kota paling bising di dunia.


Kota yang tak juga tertidur meski bumi sudah berotasi 24 jam.


Selalu saja ada kebisingan-kebisingan di kota dalam kepala perempuan itu yang datang dan pergi silih berganti.


Terkadang, ada pesawat tempur yang melintas di atas kota.

__ADS_1


Kadang pula ada teriakan-teriakan yang tak jelas darimana asalnya.


Sering kali perempuan atau laki-laki gila bermonolog sepanjang hari.


Pernah suatu ketika, rombongan sirkus juga mampir di kota dalam kepala perempuan itu.


Tidak jarang, laki-laki berwajah tampan hilir-mudik di jalanan kota yang tidak juga pernah sendirian.


Segala kebisingan terjadi di sana.


Semua bentuk bingar tidak dapat dihindarkan.


Hingga tiada tempat bagi perempuan itu beristirahat sejenak dari kebisingan kota dalam kepalanya.


Hingga suatu ketika, perempuan itu memenggal kepalanya.


Berharap kebisingan kota di dalam kepalanya ikut lenyap sekejap mata.


Namun, bising kota justru menjelma dari tubuh tanpa kepala.


Lama, setelah aku membacakan puisi, Kanya tak juga bersuara. Entah apa yang dipikirkan perempuan itu. Sampai aku memanggilnya tiga kali, dia baru menyahut dari ujung telepon.


"Dengerin puisi Mas Araz, akujadi merasakan hal yang sama."


Sudut bibirku mengembang. Puisi itu memang aku representasikan dari Kanya. Dia seorang pemikir yang dengan segala bentuk kebisingan dalam kepalanya. Ada saja hal yang dia renungkan. Dengan atau tanpa sadar.


Itu pula kesan pertama yang aku tangkap saat bertemu pertama kali di lift. Melihatnya yang gugup dan tak bisa tenang, menjadikanku tanpa sadar membaca isi kepalanya. Dan, aku terkejut saat membayangkan betapa bisingnya isi kepala Kanya.


"Jadi sebising apa kota dalam kepalamu?"


"Hemmm ... tidak seribut biasanya. Mungkin karena ngobrol sama Mas Araz kali ya. Tapi, ada saat-saat tertentu juga yang memang benar-benar berisik. Seperti saat ini, sedikit lebih berisik menyebut nama Mas Araz dan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi."


"Memang kemungkinan apa yang kamu pikirkan?"


Kanya tampak termenung. Dia tak langsung menjawab pertanyaanku dan aku tiba-tiba benci kesunyian yang terjadi di antara kami. Rindu ini terlalu kuat memasungku dan aku mulai rakus untuk menuntut lebih.


Aku menghela napas. Sekejap aku jadi ingat potongan kalimat yang sempat viral beberapa waktu lalu. Siapa lagi kalau bukan si Dilan yang menjadi idola kaum remaja hingga orang tua. "Rindu itu berat, biar aku saja". Dan, ternyata perasaan rindu bisa menjadi semenakutkan ini.


"Kemungkinan jika aku nggak ketemu Mas Araz. Mungkin aku nggak akan melangkah sampai di titik ini."


"Jadi ... ?"


"Aku beruntung ketemu Mas Araz."


Jawaban Kanya membuatku bernapas lega.

__ADS_1


"I Miss U, Kanya. Kita pasti akan segera bertemu."


__ADS_2