
Ruangan mendadak penuh sorak sorai para pegawai MediaPena setelah Araz memberikan pengumuman tentang hubungannya dengan Kanya. Sebagian besar mendukung. Ada juga yang mempertanyakan kebenaran pengakuan sang CEO MediaPena.
Sementara Kanya yang berada dalam gendongan lelaki itu hanya mampu menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Tanpa melihat bayangannya sendiri, Kanya tahu betul bagaimana rupa wajahnya saat ini.
Meski begitu, Kanya tak bisa mengabaikan setiap komentar ataupun tanggapan yang ditujukan padanya. Terutama dari para perempuan yang selama ini mendeklarasikan sebagai penggemar berat Alcatraz.
Pendengaran Kanya seakan menajam dan mampu mendengarkan semua ucapan yang ditujukan kepadanya.
"Serius? Pak Araz udah jadian sama Kanya? Demi apa?" seru salah satu dari mereka tak luput dari pendengaran Kanya.
"Gue nggak rela sih, tapi kalau itu Kanya...kok gue pengen dukung mereka," sambung yang lain.
Ada juga yang terang-terangan menentang hubungan kedua orang itu meski bentuk keberatannya tidak akan mengubah apa pun.
"Pak Araz jahat. Dia kan harusnya milik semua orang! Kenapa pacaran sama Kanya sih. Nggak, pokoknya gue nggak rela kalau Pak Araz jadian sama Kanya."
"Dih, siapa elo bisa ngatur-ngatur perasaan orang. Hubungan mereka nggak ada sangkut pautnya sama elo. Emang Kanya ngerebut Pak Araz dari elo," ucap Destia mengomentari mulut tajam para karyawan yang mencoba mengganggu hubungan Kanya dengan Araz.
Ting...ting...ting...
Perhatian mereka sejenak teralihkan pada Hanung yang mengetukkan sumpit pada gelas berisi sake yang dihidangkan.
"So, Gais, mau kalian komentar kayak gimana pun, itu nggak bakal berpengaruh buat mereka. Udahlah, jadi terima nasib aja deh buat kalian yang ngefans sama Araz ataupun Kanya. Kalian udah nggak punya kesempatan.
Makan siang ini juga dalam rangka perayaan hari jadi mereka. Jadi, gue sarananin mundur aja deh kalian yang mau berencana ngancurin hubungan mereka." Hanung turut memberikan komentar dan membuat para penggemar Araz menggerutu akibat kecewa.
"Yah...masa gitu sih? Nggaklah, sebelum janur kuning melengkung, gue pasti masih punya kesempatan." Seorang di antara mereka masih berucap penuh harap.
"Mimpi lo!" tegas Destia sambil melemparkan tissu bekas di depan meja perempuan itu.
Seketika semua orang tertawa.
"Ya kan belum dicoba. Apa salahnya pergi mengangkat senjata sebelum tumbang di medan perang?"
"Duh, kalau itu sih nggak tahu malu namanya. Masa mau kayak yang itu sih? Sok keganjenan," ucap Destia menjurus pada dua orang di antara para karyawan.
"Siapa yang lo sebut ganjen?" teriak Carol tiba-tiba.
__ADS_1
"Wah, gue nggak sebut nama, tapi langsung ada yang nyaut nih. Lo ngerasa kalo sikap lo keganjenan, Buk?" sindir Destia kian memperkeruh suasana.
"Kalau gitu, ngapain pake nyindir segala? Langsung sebutin nama dong!" tantang Carol dari tempat duduknya.
Perempuan itu sudah siap berdiri menantang Destia yang pura-pura terlihat ketakutan. Namun, sikap Destia justru mengundang gelak tawa.
Tidak ada yang menganggap serius ucapan Carol. Kebanyakan dari mereka justru kembali sibuk berdebat tentang hubungan yang terjalin antara Araz dan Kanya.
Kebanyakan dari mereka mendebatkan hal-hal lucu dan bukanlah bersifat ambisius seperti Carol.
Suasana kembali mencair. Dua kubu yang bertentangan saling memberikan pendapat satu sama lain. Hal itu membuat Kanya merasa sedikit lega, tapi juga malu di saat yang bersamaan.
Lega karena masih ada orang-orang yang berpikiran waras di MediaPena dan tidak berniat mengganggu hubungannya dengan Araz. Dan, malu karena dengan begitu, Kanya akan menjadi sorotan banyak mulai sekarang.
Dia bukanlah tipikal orang yang suka menjadi pusat perhatian banyak orang. Meskipun dengan tidak sengaja, banyak hal dalam diri perempuan itu yang membuatnya menjadi pusat perhatian.
Dari sisi penampilan misalnya. Mix and match outfit yang dia kenakan, seringkali menjadi sumber inspirasi orang lain untuk meniru gayanya.
Belum lagi kecantikan alami yang membuat siapa pun pasti bakal berdecak kagum. Kanya dianggap memiliki kecantikan serupa Aphrodite.
Agak berlebihan barangkali, tapi banyak yang mengakui bahwa paras Kanya memang cantik. Padahal perempuan itu hanya memakai make up tipis - bahkan hampir tidak terlihat - setiap kali berangkat ke kantor. Tapi, justru itulah yang menjadi daya tariknya.
Bagian mana yang memiliki cela? Tidak ada..
Hanya saja, terkadang Kanya tidak pernah menyadari hal itu. Dia terlalu fokus dengan dunianya dan tidak tertarik mengurusi urusan orang lain. Bahkan ada kalanya dia tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki dan hal itu menghambat langkahnya.
Seperti halnya tentang hubungannya dengan Araz. Kanya tampak ragu-ragu jika hubungannya dengan Araz diketahui banyak orang. Padahal Araz justru tidak masalah jika hubungan mereka diketahui orang-orang kantor.
Hal itu justru membuat Araz bangga.
Lagipula siapa yang tidak bangga jika memiliki Kanya sebagai kekasih? Lelaki normal mana pun, pasti akan bangga jika memiliki Kanya sebagai kekasih. Tapi justru perempuan itu yang tidak percaya diri dengan kelebihan yang dia miliki.
"Tuh kan, banyak juga tuh yang dukung kita," bisik Araz ketika dia berbalik dan menahan tubuh sang kekasih agar tidak jatuh.
Perempuan itu tersentak. Bisikan Araz membawanya kembali dari lamunan yang cukup panjang.
"...."
__ADS_1
Kanya tak hendak memberikan tanggapan apa pun. Lidahnya mendadak kelu dan dia tidak tahu, apa yang akan disampaikan pada Alcatraz.
Sementara suitan yang ditujukan pada Kanya dan Araz masih terdengar mengiringi mereka keluar dari restoran. Dengan posisi Kanya masih berada dalam gendongan Araz.
"Ehm...Mas, bisa turunin aku sekarang nggak?" ucap Kanya begitu mereka keluar dari rumah makan Jepang yang menjadi tempat pilihan makan siang mereka.
Kening Araz bertaut.
"Kenapa gitu? Emang kamu udah kuat jalan sendiri?" Araz balik bertanya dan membuat wajah Kanya tampak merah.
"Aku nggak apa-apa, Mas."
"Oh ya? Tapi, kayaknya kamu keliatan nggak baik-baik aja tuh. Wajah kamu merah banget loh, Nya."
Araz menggoda sang kekasih yang semakin tersipu malu dalam gendongannya.
"Lagian kenapa sih buru-buru mau turun? Kita harus kasih pertunjukan yang mereka mau sampai akhir dong. Masa cuma setengah adegan doang sih? Nggak seru lah."
Ucapan Araz semakin membuat wajah Kanya memerah. Dia merasa tersindir dengan perkataan sang kekasih dan membuatnya malu luar biasa.
Perempuan itu bukannya ingin memberikan pertunjukan pada orang-orang yang sampai saat ini masih memperhatikan mereka. Namun, Kanya harus tetap melakukan hal itu untuk membuat Carmen dan Carol sadar tempat.
Pertunjukan yang sama sekali di luar rencana justru diperparah dengan keikutsertaan Hanung yang tiba-tiba menyelonjorkan kaki hingga membuat Kanya terjatuh.
"Itu semua sih karena ulah, Mas Hanung," keluh Kanya dalam hati.
Namun, dia tidak mungkin mengatakan hal itu pada Araz. Lelaki itu bisa saja salah paham dan Kanya tidak mau hal itu terjadi.
"Tapi kalau kayak gini terus, aku malu, Mas," ucap Kanya hampir tak terdengar.
Suaranya seakan tersekat di kerongkongan. Kanya kesulitan mengatakan apa yang ingin dia ucapkan.
Yang dia pikirkan hanyalah kalimat itu, akibat tak ada hal lain yang bisa dia lakukan supaya Araz menurunkan tubuhnya dari gendongan dan membiarkannya berjalan.
Mendengar pengakuan Kanya, Araz justru semakin iseng dengan mendekap tubuh sang kekasih lebih erat dari sebelumnya.
"Kalau kayak gini, kira-kira bakal hilang nggak malunya?" bisik Araz di telinga sang kekasih.
__ADS_1
Wajah Kanya semakin terasa panas.
Sementara Araz hanya tertawa lepas ketika menatap wajah sang kekasih yang sudah bersemu merah. Kanya benar-benar tersipu malu.