Pulang

Pulang
Season 2 #Aksi Balas Dendam


__ADS_3

Kepalang basah, Kanya menoleh dan membalas sapaan Araz dengan senyuman. Perempuan itu salah tingkah.


Toh dia juga sudah tidak bisa menghindar. Tidak mungkin kan dia meminta Pak Syarif menepikan mobil dan dia turun begitu saja?


Kalaupun dia memiliki alasan yang tepat supaya Pak Syarif menepikan mobil, tetap saja bakal memancing kecurigaan pria itu.


Maka satu-satunya cara hanyalah menuntaskan tugas jebakan ini sampai akhir. Kanya tidak bisa mundur seperti pengecut hanya karena jebakan yang sudah disiapkan Hanung.


"Awas aja, gue nggak bakal tinggal diam! Lihat aja Mas Hanung, gue pasti balas perbuatan lo!" sumpah Kanya dalam hati.


Tangan perempuan itu mengepal karena dendam. Dia tidak akan membiarkan Hanung bisa bersikap seenaknya saja.


Sedangkan Araz tampak gelisah begitu sang kekasih duduk di sampingnya. Laki-laki itu tidak tahu harus berbuat apa.


Masih tersisa malu atas peristiwa tadi malam yang membuatnya menghindar seharian dari Kanya. Namun tiba-tiba, dia harus berada dalam satu mobil dengan perempuan itu.


Jelas Araz kian kikuk. Dia sama sekali tidak memprediksikan hal ini terjadi.


"Si Hanung kenapa? Sakit perut?" tanya Araz cukup asal-asalan demi mencairkan suasana canggung di antara mereka.


Laki-laki itu masih tercengang. Dia tidak menyangka jika Kanya bakal duduk di sampingnya secara tiba-tiba. Meski Araz tahu pasti siapa yang sudah merencanakan skenario memalukan ini.


Siapa lagi kalau bukan sahabatnya yang suka bertindak seenaknya dan selalu ikut campur dengan hubungan orang lain?!


Padahal sampai satu jam yang lalu, jadwal mereka masih sama. Sesuai rencana, harusnya Hanung dan Araz yang berangkat mendatangi undangan dari kementerian itu.


Namun, di menit terakhir keberangkatan mereka, justru Kanya yang menyerobot masuk ke dalam mobil dan meminta Pak Syarif menjalankan mobil. Tanpa Hanung.


Araz yang masih syok dengan kondisi tiba-tiba itu, hanya bisa menatap Kanya dan tersenyum kaku.


Dan, dapat dipastikan bahwa Hanunglah yang sudah merencanakan situasi di antara mereka saat ini.


Araz tidak tahu apakah harus bersyukur atau mengutuk perbuatan Hanung. Tapi, sudah kepalang tanggung, dia tidak bisa meminta Pak Syarif kembali ke kantor atau menurunkannya di tengah perjalanan. Apa pun alasan yang berusaha dia sebutkan.


Satu-satunya cara yang dia pikirkan saat ini, hanyalah mencairkan suasana di antara mereka. Sebab tidak mungkin mereka hanya diam selama di perjalanan.


Hal itu pasti akan membuat Pak Syarif curiga. Pria paruh baya itu merupakan salah satu karyawan yang menyaksikan adegan dramatis saat makan siang kemarin.


Tentu saja beliau juga tahu bagaimana hubungan Araz dan Kanya. Akan sangat mencurigakan sekaligus memalukan jika mereka tidak saling bicara.


"Ah, Mas Hanung kasih surat undangan ini baru aja, Pak. Saya pikir, ini undangan liputan biasa. Saya nggak tahu kalau ternyata Mas Hanung sama Pak Araz yang harusnya berangkat.


Dia cuma bilang kalau Pak Syarif...."

__ADS_1


Kanya menepuk jidatnya cukup keras begitu menyadari sesuatu.


"Bego, kenapa baru kepikiran sekarang!"


"Aduh." Araz mengaduh saat melihat Kanya memukul jidatnya. "Kenapa pukul jidat gitu, Nya?" Baru setelah itu bertanya kenapa perempuan itu memukul jidat.


"Nggak apa-apa tuh?" Araz memburu Kanya dengan pertanyaan sambil menunjuk kening perempuan itu.


Kanya menoleh ke samping dan memperhatikan wajah Araz yang tampak khawatir.


"Ah, nggak, Pak. Nggak sakit kok." Meski begitu dia tak bisa menyembunyikan wajahnya yang meringis.


"Terus kenapa kamu mukul jidat kayak gitu?"


"Ah, nggak. Aku baru sadar, sejak kapan staf kaya saya punya fasilitas mobil perusahaan?" ucap Kanya menyadari kebodohannya.


Seharusnya dia menyadari sejak awal kalau ini cuma akal-akalan Hanung buat mengerjai perempuan itu.


"Bodohnya gue! Mikir apa sih lo, Kanya, bisa aja dikadalin sama Hanung, sialan itu?" keluh perempuan itu dalam hati.


Sementara Pak Syarif yang sedang fokus di belakang kemudi, tampak menahan senyum.


Kanya melirik kesal. Bisa-bisanya pria itu justru menertawakan situasinya dengan Araz saat ini.


"Ini pertama kalinya saya melihat Pak Araz sama Mbak Kanya tugas bareng. Cuma ada saya ini. Nggak usah bersikap formal juga nggak apa-apa loh.


Saya bisa maklumi pasangan muda kayak kalian kok. Apalagi yang baru jadian," komentar Pak Syarif membuat Kanya semakin salah tingkah menahan malu.


"Pak Syarif, bisa-bisanya ngomong gitu," ucap perempuan itu dalam hati.


Sedangkan Araz hanya tersenyum salah tingkah begitu mendengar ucapan Pak Syarif.


Dan, selama sisa perjalanan mereka, baik Araz maupun Kanya berusaha membicarakan apa pun yang berkaitan dengan pekerjaan.


Hal itu cukup membantu dan menjadikan suasana di antara mereka tidak lagi canggung.


Meski begitu, Kanya tetap tidak akan tinggal diam. Dia harus membalas perbuatan Hanung.


...***...


Kanya langsung mencari tempat yang cukup sepi begitu sampai di tempat acara. Dia mengambil ponsel dari kantong celana dan mencari sebuah nomor di kontak teleponnya.


Dia harus balas dendam!

__ADS_1


Tidak lama sampai panggilan telepon terhubung. Laki-laki itu tertawa sebelum menyapa Kanya lebih dulu.


"Gimana, seru kan tugas liputan kali ini? Ditemani sama, Ayang. Haii, Ayang," goda Hanung tanpa bisa menahan tawa.


Kanya berusaha untuk tidak terpengaruh. Dia harus berhasil menjalankan misi demi membalas perbuatan Hanung.


"Duh, Mas. Bukan waktunya bercanda sekarang. Genting nih. Gawat banget!" ucap Kanya mendramatisir.


Di ujung pelantang suara, Hanung mendadak serius seketika.


"Gawat kenapa, Nya? Lo sakit? Atau Araz?"


"Ck, bukan itu. Kamera gue mati. Lupa nggak bawa charger. Bisa minta tolong anterin baterai cadangan di laci gue nggak?" pinta Kanya dengan nada panik yang dibuat-buat.


"Oke. Gue bakal minta anak-anak buat anterin ke sana."


"Oke, makasih, Mas. Gue telepon anak-anak nggak ada yang respon soalnya."


"Iya, iya. Santai. Bakal gue cariin buat lo."


"Oke, makasih, Mas," ucap Kanya sekali lagi.


Tentu saja semua itu bohong. Baterai kamera Kanya masih penuh. Dia juga membawa baterai cadangan yang disebut.


Kedua, Kanya sudah mengirimkan pesan pada semua rekan satu divisinya. Perempuan itu meminta agar mereka meninggalkan ruangan.


Bahkan dia meminta pada si anak baru untuk mengatur agar rencananya berhasil.


Dan, anak baru itu memang bisa diandalkan.


Tidak lama kemudian, dia bisa mengondisikan ruangan sepi tanpa orang. Baru setelah itu Kanya menelepon Hanung untuk menjalankan aksinya.


Kanya tahu betul bahwa Hanung merupakan orang yang sangat bertanggung jawab.


Pertama, Hanung pasti akan mencari baterai cadangan kamera milik Kanya. Jika tidak ketemu juga, dia pasti akan menggunakan cara lain. Mungkin dengan meminjam kamera pada divisi periklanan.


Kedua, dia akan berusaha meminta bantuan orang lain untuk mengantarkan kamera itu pada Kanya. Tapi, ketika dia menyadari bahwa tidak ada orang di ruang redaksi, hal itu bakal mendorongnya untuk menggunakan cara lain. Agar Kanya tetap bisa menggunakan kamera untuk mengambil moment saat acara berlangsung.


Bagi Hanung, foto dalam sebuah berita merupakan hal penting. Seperti halnya jiwa dalam diri manusia. Sebab melalui foto dari angle yang tepat, bisa memberikan gambaran yang tepat pula bagi pembaca.


Inilah bagian yang paling Kanya tunggu. Perempuan itu tidak sabar menantikan peristiwa yang bakal terjadi selanjutnya.


Pembalasan dendam dimulai ketika Hanung keluar dari kantor MediaPena.

__ADS_1


__ADS_2