
Renjana Putra
Setelah hampir seharian Putra melamun di tepi pantai, lelaki itu memutuskan pulang. Pesan singkat dari Danu akhirnya menggerakkan lelaki itu dari tempatnya melamun. Ia menstarter mobil dan meninggalkan kawasan Pantura. Ada janji yang harus dipenuhi malam ini.
"Seharian dari mana aja lo? Suntuk banget pulang-pulang," sapa Noah ketika Putra sampai di rumah kakeknya.
Sepupunya itu kebetulan pulang di tengah kesibukannya sebagai dokter ahli kejiwaan atau lebih umum disebut psikiater, di salah satu rumah sakit di Surabaya. Biasanya Noah pulang untuk memastikan keadaan Putra baik-baik saja. Sebab, saat ia memutuskan mendalami ilmu kejiwaan, Putra lah yang menjadi objek observasi utamanya. Lantas menjadi ahli yang sering menangani kondisi Putra jika sewaktu-waktu sepupunya itu membutuhkan pertolongan.
Sudah lama Noah tidak pulang ke rumah kakeknya karena Putra jarang mengeluhkan tentang keadaannya. Awal-awal keretakan hubungan Putra dengan Kanya dua tahun lalu, membuat Noah sering bolak-balik Surabaya-Tuban demi memastikan adik sepupunya itu tidak melakukan hal bodoh. Setelah sekian lama, meski tak sepenuhnya pulih, Noah melihat lagi wajah Putra dua tahun lalu. Wajah lelah yang begitu frustrasi.
Padahal beberapa bulan terakhir, Noah sering mendengar kabar jika sepupunya itu semakin sibuk dengan Nada Sumbang. Kabar terbaru yang sempat ia dengar, ada label musik yang cukup terkenal menawarkan untuk rekaman. Sesekali ia juga masih memantau keadaan Putra dari jauh. Semua tampak wajar-wajar saja. Tidak ada hal yang membuat Noah harus khawatir. Namun kini saat melihat kondisi sepupunya itu, Noah yakin Putra sedang menghadapi kemelut hidupnya sendiri.
"Kapan lo pulang, Kak?" tanya Putra tak acuh sambil merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Sementara Noah menyesap kopi dari cangkir yang ia bawa sebelum menjawab pertanyaan Putra.
"Tadi sore. Kakek bilang lo lagi di rumah Tante Sukma. Tumben ke sana?" Sebelum Putra memberikan jawaban, tatapan Noah tertuju pada bekas lebam di sudut bibir sepupunya itu. Bahkan lebam di pelipisnya pun masih terlihat jelas. "Eh, kenapa tuh muka lo?"
"Sstt... Itu kenapa gue pulang ke sana. Kalau Kakek tahu, bakal murka dia."
"Lo sih aneh-aneh aja. Abis berantem sama siapa sih?"
Bukannya menjawab, Putra justru memejamkan mata. Apa berbagi keluh dengan Noah akan berguna sekarang? Ya, selama ini hanya Noah tempatnya berkeluh kesah. Mengarahkannya agar tidak terjerumus di labirin yang makin berliku dan menyesatkan. Toh, Kanya sudah pergi jauh meninggalkan dirinya. Lagi.
"Kak, menurut lo, gue harus gimana ngadepin Kanya?" tanya Putra tiba-tiba saat keheningan menyelimuti mereka sekian lama.
Noah yang duduk di samping Putra menegakkan punggung. Ditatapnya wajah sepupunya yang kini semakin kalut. Lelaki itu tahu, ada yang disembunyikan Putra darinya.
"Gue tanya ini sebagai sepupu lo, Put. Apa Kanya yang bikin lo kayak gini lagi?"
"Babak belur maksud lo? Nggak lah. Mana ada kita baku hantam sampai begini."
"Lo tahu maksud gue, Put. Nggak usah ngeles."
Putra menghembuskan napas panjang. Percuma menyembunyikan sesuatu dari Noah. Sekalipun dia melepaskan embel-embel psikiater saat ngobrol, Putra tak boleh lupa jika lelaki yang lebih tua lima tahun darinya itu telah mengetahui segala-galanya tentangnya.
__ADS_1
"Iya, puas lo!" kata Putra pada akhirnya setelah Noah memandangnya penuh selidik. "Dia pulang beberapa hari lalu. Sempet datang juga ke reuni, tapi sama sekali nggak mau pulang. Ke rumah Tante Ambar maksud gue. Nggak mau ngobrol juga sama gue. Jangankan ngobrol, ketemu sama gue aja dia nggak mau."
"Trus, memar di wajah lo kenapa?"
Putra membisu. Ia tak berniat menjawab pertanyaan Noah. Lelaki itu tak mau melewatkan sesi konsultasi dengan Noah saat pikirannya sedang sangat kacau.
"Karena Kanya, 'kan?"
Pertanyaan Noah justru membuat Putra semakin mengingat perempuan itu. Menyebabkan pusing yang tiba-tiba menyerang kepala Putra. Lelaki itu menekan-nekan pelipisnya dengan harapan pusing di kepalanya mereda. Bukannya berkurang, tapi justru semakin menjadi saat ingat sosok lelaki yang sudah meninggalkan lebam di wajahnya.
Hahh, tapi Putra bisa apa. Lelaki itu menyadari jika sifatnya kemarin terlalu berlebihan hingga menyakiti Kanya. Dia memang pantas dipukul karena kesalahan itu. Namun...
Hufftt... Apa lagi yang Putra harapkan saat ini?
Pada kenyataannya Kanya memilih bahagia dengan orang lain dan meninggalkannya jauh di belakang? Apa dia rela? Tentu saja tidak. Putra tak pernah rela jika Kanya meninggalkannya sendirian dalam kubangan masa lalu. Sebab ia masih di sana. Menunggu Kanya kembali padanya.
Seandainya takdir mereka tak serumit ini, mungkin sekarang telah berbahagia sebagai pasangan suami-istri. Seandainya dulu Putra mengabulkan permintaan Kanya untuk menolak pernikahan Eka dan Sukma bersama-sama, mungkin perempuan itu masih di sisinya. Ah, terlalu banyak pengandaian, sampai Putra lupa jika mengandai-andai justru semakin menyiksa batinnya.
"Eh malah bengong nih anak," kata Noah mengagetkan Putra yang sedang melamun.
"Dia pulang sama laki-laki. Mungkin cowoknya. Gue nggak tahu harus gimana Kak."
Noah menepuk pelan pundak Putra. "Lo sendiri pengennya gimana sih sama Kanya?"
"Ya gue maunya terus sama dia lah Kak. Gue sayangnya beneran, nggak kayak yang dituduhkan si Eka itu. Seenaknya sendiri bilang kalau cinta gue ke Kanya tuh sementara lah, cinta monyet lah. Lo sendiri kan tahu kalau gue sayang dia sebagai perempuan Kak, bukan rasa sayang buat saudara."
"Iya makanya gue tanya, mau lo sekarang gimana sama Kanya? Dua tahun loh, kalian menjauh satu sama lain. Yang satu lari, yang satu mengejar bayangan. Batin lo yang sakit, Putra. Fisik lo yang melemah."
"Kita jelas nggak bisa memaksakan untuk tetap menikah. Gue cuma pengen hubungan kita kembali membaik kayak dulu. Gue cuma pengen dia memaafkan kesalahan gue. Keegoisan gue. Sikap gue yang nggak bisa tegas. Banyak hal yang pengen gue lakuin sama Kanya, Kak."
"Kalau lo masih kesal lihat Kanya jalan sama cowok lain artinya lo belum sanggup kehilangan dia."
"Ya gue mesti gimana, Kak? Nggak ada yang bisa gue lakuin juga 'kan? Kanya juga dulu nggak mau saat gue ajak nekat buat kawin lari."
__ADS_1
"Ya nggak gitu juga kali, Putra. Duh, masa lo masih mikir buat kawin lari sih?"
"Kalau Kanya mau ikutin mau gue, gue bisa lakuin apa aja, Kak. Termasuk ngajak dia kawin lari."
"Kalau gue jadi Kanya, gue juga nggak bakal mau kali Put."
"Ya kenapa harus nggak mau?"
Noah menghela napas panjang. Untung dia sudah menanggalkan latar belakang profesinya sebelum berbicara dengan Putra. Jika tidak, dia pasti sudah menyalahi aturan karena justru memojokkan orang yang sedang diajaknya berbicara.
"Karena perempuan butuh wali saat menikah. Lo nggak mikir sampai ke sana?"
"Nah kan, pada akhirnya gue nggak punya pilihan apa-apa Kak. Gue cuma mau hubungan kita kembali membaik."
Akhirnya keluh kesah Putra mengalir juga. Wajahnya tampak kesal. Bahkan sesekali ia mendengus menghadapi pertanyaan Noah. Namun ada sedikit perasaan lega yang diam-diam menyusup dalam hatinya setelah berbicara dengan Noah meski belum menemukan solusinya.
"Hanya butuh waktu. Kanya juga perlu jeda untuk menyembuhkan lukanya, Putra. Lo nggak bisa memaksakan hal itu."
"Tapi sampai kapan?"
"Sampai dia tahu alasannya pulang tanpa harus dipaksakan orang lain. Tidak juga lo, Tante Sukma, atau bahkan Almira sekalipun."
"Jadi apa yang harus gue lakuin supaya dia maafin aku, Kak?"
"Menunggu waktu menyembuhkan luka di hati Kanya. Termasuk luka yang ada di hati lo. Gue yakin, waktu itu nggak akan lama lagi."
"Gimana lo bisa yakin?" tanya Putra saat menyadari Noah seolah menyembunyikan sesuatu darinya. Lelaki itu hanya tersenyum sebelum meninggalkan Putra di ruang keluarga.
"Ntar lo juga bakal tahu jawabannya. Oh ya, kalau lo udah pindah ke Jakarta, sempatkan sekali dua kali buat ketemu Kanya. Gue yakin, dia nggak akan seniat dulu ngehindari lo."
"Kok lo bisa tahu?"
"Kuncinya cuma yakin, Putra."
__ADS_1
Suara Noah benar-benar menghilang kali ini. Meninggalkan sunyi yang kini menenggelamkan Putra dalam lamunan. Ia bahkan melupakan tujuannya pulang ke rumah setelah menerima pesan dari Danu, salah satu personil Nada Sumbang.