Pulang

Pulang
Season 2 #Tak Sanggup Jika Tanpanmu


__ADS_3

Wajah Araz begitu panik saat mendorong brankar menuju ruang gawat darurat. Kanya terbaring lemah. Perempuan itu belum juga sadar dan masih dalam kondisi memejamkan mata.


Napasnya sangat pelan. Beruntung pendarahan dari bekas tusukan di bagian perutnya bisa dihentikan dengan alat seadanya.


"Apa yang terjadi, Pak?" tanya salah seorang tenaga kesehatan yang menyambut kedatangan mereka dan mengecek kondisi Kanya.


"Itu...seseorang menusuknya." Araz menjawab panik dan tidak memiliki ide apa pun selain memberikan jawaban itu pada sang tenaga kesehatan.


"Bagian mana yang terluka?"


Araz menunjuk bagian perut kanan Kanya yang masih berbalut kemeja miliknya. Hampir penuh oleh darah.


Sedang dia sendiri hanya menggunakan kaus yang sebelumnya digunakan Araz sebagai dalaman.


"Kami akan segera menangani pasien, Pak. Mohon tunggu dan laporkan ke bagian administrasi," ucap tenaga kesehatan itu sambil menutup ruangan tempat mereka mengambil tindakan.


Araz meraup mukanya dengan telapak tangan. Wajah lelaki itu menunjukkan kalau dia sangat frustrasi.


Dia tidak menyangka jika Cassandra bakal berbuat nekat dan melukai Kanya.


Perempuan itu benar-benar sudah kehilangan akal. Bisa-bisanya dia mencelakai Kanya dengan begitu mudah. Hanya beranggapan bahwa Kanya telah merebut apa yang seharusnya jadi milik perempuan itu.


Araz membasuh mukanya dengan telapak tangan sekali lagi. Pikiran lelaki itu sedang kacau sekarang.


Dia bahkan tak juga beranjak dari ruang gawat darurat tempat Kanya dirawat, meski tenaga kesehatan yang menangani perempuan itu meminta Araz untuk mengurus administrasi.


"Gimana, Kanya?" tanya Hanung.


Tidak lama sahabat karib Araz itu, mendekatinya dan menanyakan kondisi Kanya.


"Belum tahu, mereka masih menangani Kanya?"


"Udah lapor ke bagian administrasi?"


"Astaga, gue...."


Hanung menepuk pundak laki-laki itu. Memahami kondisi Araz yang dalam keadaan bingung dan panik.


"Kamu di sini aja dulu. Biar aku yang urus administrasinya."


"Makasih, Nung. Gue...."


"Iya, gue tahu. Udah, fokus aja sama, Kanya. Itu yang paling penting sekarang."


Hanung segera menuju bagian administrasi tak lama kemudian.


Sementara Araz masih menunggu di depan pintu ruang gawat darurat.


Laki-laki itu tak bisa tenang. Dia berjalan mondar-mandir begitu Hanung kembali meninggalkannya sendirian.


Detik yang berjalan terasa lambat. Araz berharap pintu ruangan itu segera terbuka dan membawa pesan baik. Namun, tetap saja pintu ruangan itu tak juga terbuka dan membuat Araz semakin panik.

__ADS_1


Hampir satu jam berlalu. Hanung pun sudah kembali menemani Araz di depan ruang tindakan gawat darurat. Baru tak lama kemudian, pintu itu terbuka.


Seorang petugas kesehatan memanggil keluarga Kanya untuk menerima penjelasan tentang kondisi perempuan itu. Sang petugas didampingi seorang perempuan lain yang sepertinya dokter jaga ruang gawat darurat.


"Keluarga saudara, Kanya?" panggilan itu membuat Araz tersentak.


Dia bergegas mendekati sang perawat dan dokter jaga itu, didampingi oleh Hanung.


"Saya, Sus."


"Anda?"


"Ya, saya atasannya. Keluarganya di Jawa dan dia tinggal sendirian di Jakarta. Jadi, Anda bisa memberikan penjelasan pada saya."


Sesaat, perempuan seusia Araz yang menggunakan snelli dengan stetoskop menggantung di lehernya itu, memperhatikannya. Dirasa bahwa lelaki di depannya itu cukup bisa dipercaya, baru dia tidak ragu memberikan penjelasan pada Araz.


"Baik kalau gitu. Saya akan menyampaikannya pada Anda.


Sejauh ini kondisi Nona Kanya baik-baik saja. Luka tusukannya tidak terlalu dalam.


Meski begitu dia tetap harus mendapatkan jahitan agar lukanya cepat pulih.


Dan juga, meski darah yang keluar cukup banyak, itu tidak mempengaruhi kondisinya. Mungkin akibat syok yang dia alami yang membuatnya kehilangan kesadaran.


Tapi sejauh itu, semuanya aman. Tinggal menunggu waktu sampai dia siuman.


Untuk lebih amannya, biarkan Nona Kanya dirawat inap lebih dulu untuk memastikan kondisinya."


"Nggak perlu sungkan. Ini sudah menjadi tugas saya. Setelah semua administrasi beres, Nona Kanya bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.


Jaga kondisinya agar tetap aman ya, Pak," kata dokter perempuan itu membuat kening Araz berkerut.


"Maksudnya, Dok?"


"Tidak, saya hanya mengingatkan. Terkadang perempuan bisa berbuat apa saja kalau sedang cemburu.


Kalau berada dalam situasi seperti ini terus, kasihan Nona Kanya," imbuh dokter itu dengan senyum membingkai wajahnya.


"Saya permisi dulu."


Araz hanya mengangguk tak mengerti. Lalu menoleh ke arah Hanung yang sama kagetnya dengan laki-laki itu.


"Apa maksud dokter itu bilang gitu?"


"Nggak tahu. Gue rasa dia empath. Atau mungkin juga cenayang."


"Jangan bercanda!"


"Gue juga nggak tahu, Nyet. Yang penting sekarang masuk dulu dan temuin Kanya."


......***......

__ADS_1


Kanya terbangun ketika jam yang melingkar di pergelangan tangan Araz menunjukkan hampir pukul dua belas malam.


Perempuan itu masih terbaring lemas. Selang infus terpasang di pergelangan tangannya.


Kepalanya masih terasa pusing. Dia juga merasa mual. Bahkan ada sensasi perih di perut bagian kanan.


Dia tidak begitu ingat apa yang terjadi.


Samar-samar dia hanya mengingat jika sedang menjalankan tugas bersama Araz dan Hanung. Mereka langsung kembali ke kantor MediaPena begitu acara kementerian yang meluncurkan program baru itu telah rampung.


Sepanjang perjalanan dia menahan kesal akibat Araz lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berdebat dengan Hanung.


Begitu sampai kantor MediaPena, Kanya langsung turun tanpa mengatakan apa pun Araz maupun pada atasannya.


Namun, seorang perempuan yang tidak asing bagi Kanya, sudah berdiri di lobi MediaPena sambil memainkan pisau di tangannya.


"Hai, San. Ada apa ke sini?" tanya Kanya basa-basi. Meski Kanya tidak ingin berurusan dengan Cassandra.


"Pergi dari sini dan kembalikan apa yang seharusnya jadi milik gue," ucap Cassandra sambil berjalan ke arah Kanya.


Gerakannya begitu cepat saat mengayunkan pisau di tangannya. Kanya tidak sempat menghindar. Dengan mudah tubuh perempuan itu jatuh ke atas lantai setelah Cassandra menusuknya.


Selebihnya, Kanya tidak ingat apa-apa. Darah yang begitu banyak keluar dari bekas luka tusukan pisau Cassandra, lebih dulu membuat perempuan itu pingsan. Kanya sama sekali tidak kuat melihat begitu banyak cairan merah tersebut.


Dan, sekarang....


Kanya memperhatikan keadaan sekitar. Dia sedang berada di rumah sakit.


Bagaimana bisa? tanya perempuan itu dalam benaknya.


Pertanyaannya terjawab saat melihat Araz tidur menelungkapkan tubuhnya di brankar samping Kanya. Perempuan itu juga baru menyadari jika sang kekasih sedang menggenggam tangannya.


"Mas Araz?" panggil perempuan itu seketika membuat Araz terbangun.


Wajahnya tampak lelah sekaligus lega ketika melihat Kanya sudah membuka mata.


"Kanya, kamu udah bangun?" tanya lelaki itu sambil mengucek matanya.


Perempuan itu hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Aku...benar-benar minta maaf. Ini...."


"Ssttt...Mas Araz nggak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu."


"Tapi...."


"Sini peluk. Biar aku cepet sembuh," ucap Kanya seketika membuat Araz menghambur dalam pelukan sang kekasih.


"Aku takut kalau kamu...."


Laki-laki itu terisak. Dia tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya.

__ADS_1


Araz baru saja akan mengatakan jika dia tak sanggup jika harus hidup tanpa Kanya.


__ADS_2