
Renjana Kanya
"Halo, Ma. Selamat siang!" sapaku riang sambil mengecup kening Mama yang belum juga sadarkan diri.
Bunyi alat yang menempel di tubuh Mama, membuatku semakin miris setiap kali mengunjungi ruangan ini. Usai mengikuti kegiatan rutin Putra setiap pagi, aku memutuskan segera ke rumah sakit setelah mandi dan berganti pakaian. Padahal, Putra memintaku menunggunya agar kami bisa berangkat bersama. Namun, sebelum laki-laki itu menyelesaikan mandinya - yang lebih lama dibanding tuan putri - aku bergegas ke tempat Mama.
Berada di rumah terlalu lama justru membuatku semakin senewen akibat pesan yang kukirimkan pada Araz sejak kemarin tidak juga terbalas. Setidaknya, saat bersama Mama, aku memiliki waktu untuk berbagi keluh dengan wanita itu dan melupakan kekesalanku pada Araz.
Huh, mengingat namanya saja sudah membuatku uring-uringan. Dan, itu jelas sangat menyebalkan. Bisa-bisanya dia sama sekali tidak memberi kabar.
Aku tahu, sedang ada yang dipersiapkan Araz demi masa depannya. Cita-citanya. Rangkaian masa yang tidak akan mudah dilaluinya. Akan sangat egois jika aku menuntut perhatiannya. Namun, tidak lantas menghilang tanpa kabar sama sekali ‘kan? Bahkan Mas Hanung saja masih menyempatkan untuk menghubungiku ketika berpamitan saat memutuskan mengundur diri. Sedangkan dia yang mengaku sebagai kekasih justru sama sekali belum menghubungiku.
Hufftt ... sungguh, hal ini membuatku berpikir, apakah ada dari sikapku yang membuat Araz bersikap demikian? Jika dipikir, memang aku jahat sekali. Dia begitu tulus mencintaiku, tetapi aku justru masih memikirkan perasaanku kepada Putra hanya karena terbawa suasana. Tidak, meski tidak terbawa suasana sekalipun, tidak bisa kupungkiri jika masih tersisa perasaan sayang kepada laki-laki yang kini menjadi kakakku itu. Ya, tapi mau bagaimana, lembar kisah kita sudah selesai dan berlanjut pada kisah lain yang tidak mungkin semudah itu diubah begitu saja. Kita hanya menjalankan peran masing-masing bukan?
Kuakui, sikapku kepada Araz memang jahat sekali. Meski begitu aku juga tidak bisa memaksakan diri untuk segera melupakan kenanganku bersama Putra bukan? Dan, Araz berusaha menerimanya – walaupun aku tahu itu pasti sangat sulit baginya. Lantas tidak harus dengan mengabaikanku ‘kan? Padahal dia berjanji akan membuatku jatuh cinta berkali-kali. Apa aku salah jika berharap lebih pada ucapan Araz?
Huffttt ... aku menghela napas panjang sekali lagi. Masih belum ada tanda-tanda dari Araz bahwa laki-laki itu telah membalas chat yang kukirimkan.
__ADS_1
Pandanganku teralihkan pada wajah Mama. Kupandangi wajah wanita yang masih terlihat damai dalam tidurnya itu. Senyumku mengembang. Ada gelisah yang ingin kubagikan. Namun, Mama sepertinya masih ingin tertidur lebih lama dari yang kuduga.
"Ma, masih nyenyak ya tidurnya? Kanya, kangen. Mama, kapan bangun? Ada banyak hal yang mau Kanya ceritakan sama Mama."
Sudah enam hari berlalu, tetapi kondisi Mama masih sama saja. Tubuhnya terbaring lemas dengan bantuan alat-alat yang siaga 24 jam. Walau kata dokter, Mama sudah berhasil melewati masa kritisnya. Tetap saja wanita itu belum menunjukkan akan segera sadarkan diri.
Kubelai wajah Mama yang tampak damai dalam tidur panjangnya. Meski kerutan tampak jelas, tetapi kulit Mama terlihat sehat terawat. Aku tersenyum getir. Dulu, Mama yang selalu bawel agar aku melakukan perawatan ini dan itu agar wajah juga tubuhku sehat terawat. Namun, aku selalu mengabaikan permintaan wanita itu. Sampai aku menyadari dengan sendirinya betapa pentingnya merawat diri. Bukan untuk orang lain, tetapi demi diri sendiri.
"Cantik," gumamku sambil mengamati struktur tulang pipi Mama yang tegas. "Pantas kalau Ayah Eka nggak bisa move on dari Mama."
Senyumku mengembang. Mungkin memang itulah sejatinya cinta. Meski sudah terpisah ribuan purnama, tetap saja mereka dipersatukan oleh semesta walaupun dengan cara yang berbeda. Dengan cara yang juga meninggalkan air mata serta luka.
Oh iya, Victor sudah diizinkan pulang. Ada Mbak Ita, babysitter yang merawat dia. Bi Lastri juga bantuin sih. Tugasnya jadi bertambah. Tapi, Victor pintar banget, Ma. Dia nggak pernah rewel. Nggak pernah bikin repot Mbak Ita ataupun Bi Lastri. Bahkan kalau malam pun dia nggak pernah rewel. Beda banget sama Kanya dulu. Yang kata Mama selalu ngajak begadang setiap malam.
Ma, ada juga laki-laki yang mau Kanya kenalin sama Mama. Namanya, Alcatraz. Seram ya, Ma. Kanya pertama kali tahu namanya juga merasa seram. Namanya bikin Kanya ingat sama penjara yang terkenal itu. Tapi, nggak heran sih. Ayahnya pensiunan Polisi. Meski begitu, sifatnya nggak seseram namanya kok. Bahkan dia baik banget malah. Saking baiknya, Kanya sampai terkadang bingung mesti bagaimana saat berhadapan dengannya. Ada perasaan sungkan. Takut kalau-kalau sikap Kanya, justru membuat Araz sakit hati. Walaupun Kanya juga nggak bisa menghindari kenyataan bahwa sudah melukai perasaan laki-laki itu.
Maafin Kanya ya, Ma. Maaf jika selama ini, Kanya selalu menyusahkan Mama. Menuntut Mama harus ini dan itu. Menuntut Mama agar meninggalkan Om Eka, padahal Kanya tahu, cuma itu kebahagiaan Mama. Maafin Kanya juga, kalau kenyataannya Kanya belum bisa sepenuhnya melupakan Putra. Tapi, Kanya nggaka akan meminta Mama buat ninggain Om Eka lagi, kok. Jadi Kanya mohon Ma, Mama cepat bangun ya. Kanya kangen, Mama. Kanya mau, Mama peluk Kanya. Kanya, kangen Ma."
__ADS_1
Suaraku semakin pelan. Habis tak terdengar. Terkalahkan oleh tangis yang diam-diam membasahi kedua pipiku. Aku terisak sambil memeluk tubuh Mama yang belum juga memberikan respon.
"Kanya kangen, Ma. Kanya benar-benar kangen sama, Mama," gumamku sambil terus memeluk tubuh wanita itu.
Aku terisak dalam pelukannya. Rasanya tak ada lagi yang bisa kusampaikan selain tangis yang menderas. Aku benar-benar merindukan Mama. Aku ingin wanita itu membalas pelukanku dan mengusap rambutku seperti dulu. Ya, dulu sekali. Saat Mama belum berubah menjadi sosok yang menyebalkan di mataku. Sebelum Mama selalu memaksakan kehendak atas apa yang dia inginkan padaku. Mama yang akan selalu memeluk tubuhku saat malam-malam dingin yang terasa panjang.
"Ma, aku rindu," kataku lirih hampir tanpa suara.
Rasanya dadaku begitu nyeri menahan kerinduan yang selama ini kutahan mati-matian. Pura-pura tidak membutuhkan pelukan hangat yang bahkan kini sudah kulupakan. Padahal, aku begitu merindukannya. Merindukan pelukan dan belaian hangat Mama. Aku sungguh merindukan wanita itu.
Tuhan, aku boleh ‘kan merasakan hangat peluknya seperti dulu? Aku rindu. Aku sungguh merindukan Mama memelukku. Izinkan aku merasakan hangat peluk itu lagi, Tuhan. Kumohon.
Tangisku tak bisa kucegah. Membasahi sekujur tubuh Mama yang berbalut baju pasien lengkap dengan alat-alat yang menopang hidupnya.
“Mama!”
Refleks aku terbangun dari posisiku memeluk Mama, saat merasakan gerakan tangan wanita itu yang teramat pelan. Hampir saja aku berteriak histeris. Bola mata yang biasanya tidak bergerak, kini berkedip. Semakin lama, gerakannya semakin cepat sebelum akhirnya benar-benar membuka mata sepenuhnya.
__ADS_1
Tatapannya terkunci padaku. Bibir pucat dan kering itu tersenyum. Menyebutkan namaku meski lirih.
Seketika, tangisku semakin keras. Dengan langkah cepat, aku keluar dari ruangan Mama dan menuju ruang perawat untuk mengabarkan jika Mama telah siuman. Ya, Mama telah siuman. Tuhan mendengar doaku. Tuhan mengizinkan aku merasakan pelukan Mama lebih lama lagi.