
Renjana Kanya
Dua jam lebih aku menunggu Araz. Namun, pesawat yang ditumpanginya masih belum juga mendarat. Kedatanganku lebih cepat dibanding alat transportasi yang membawa laki-laki itu dari Jakarta. Demi mengusir bosan, aku memilih menunggu di kafe menikmati secangkir kopi sambil menjawab pesan yang dikirimkan Araz.
Sebenarnya saat aku bilang padanya sudah memasuki Sidoarjo, aku sudah sampai di Juanda. Bahkan aku berangkat lebih awal hanya demi ingin cepat bertemu dengannya. Padahal, semua penerbangan sudah terjadwal dan Araz sudah memberitahukan padaku jam berapa pesawat lepas landas.
Hanya saja, aku yang terlalu bersemangat menyambut kedatangan laki-laki itu. Bahkan saat Pak Ratno menawarkan untuk mengantarku, aku menolaknya dengan alasan mau mampir ke suatu tempat bersama Araz. Pun Putra yang menatapku dengan pandangan galak saat aku memutuskan menjemput Araz seorang diri - lagi. Setelah sebelumnya mengantar ke Juanda ketika dia balik ke Jakarta.
Kata Putra,"Serius kamu mau jemput Araz sendirian? Nggak mau aku temenin?"
"Seriuslah. Dekat doang ini. Nggak sampai empat jam juga. Lagian lo juga harus persiapan tour besok 'kan? Sudah, fokus saja sama persiapan Nada Sumbang. Lagian gue 'kan sudah biasa perjalanan jauh sendirian."
Gila saja gue ajak lo jemput Araz. Yang ada dia pasti bakal cemberut sepanjang perjalanan. Bukannya bikin hubungan gue sama Araz membaik, justru makin memperburuk keadaan. Imbuhku dalam hati. Sebab kami sudah sepakat untuk melanjutkan kisah dengan buku yang berbeda. Maka tidak ada lagi kisah yang mengharuskan kami bersikap manis dan membuat baper satu sama lain, kalau akhir cerita itu sudah tertebak akan bagaimana. Sebisa mungkin, aku menghindari sering berkontak dengan Putra, demi menjaga kewarasanku agar tetap sehat.
"Benar kamu nggak apa-apa jemput Araz sendirian? Kalau perlu teman dan nggak mau diantar Pak Ratno, biar Kakak kamu saja yang antar, Nya."
"Nggak usah, Yah. Aku sudah biasa nyetir jarak jauh sendirian. Jangankan sampai Surabaya, bahkan sampai Jakarta pun aku sudah pernah kok," kataku sesumbar, tetapi tak lantas membuat Ayah Eka mempercayaiku.
"Kenapa nggak diantar Pak Ratno saja sih, Nya?"
"Kayaknya Ayah deh yang lebih butuh Pak Ratno. Katanya hari ini harus keliling ke beberapa tempat? Mama juga hari ini sudah boleh pulang 'kan?" Aku mencari alasan. Masih menghindar bagaimana caranya agar Putra tidak dipaksa untuk mengantarku menjemput Araz.
"Tapi 'kan, Nya ... ."
"Yah, Kanya sudah biasa bawa mobil sendiri. Nggak usah diantar Kak Putra juga, Kanya sudah biasa."
__ADS_1
Ayah Eka pun ikut meragukan kecakapanku berkendara jarak jauh seorang diri dan meminta Putra menemaniku. Aku bahkan sedikit curiga, apa yang menyebabkan laki-laki setengah baya itu begitu gigih mendekatkan kami berdua. Tidak mungkin beliau punya pikiran merestui hubungan kami berdua setelah menentangnya dengan skenario paling tak masuk akal bukan?
Huufftt ... aku menghela napas panjang saat pikiran buruk itu mendadak memenuhi pikiranku. Mana ada kisah semacam itu, mungkin Ayah Eka hanya ingin melihat anak-anaknya rukun. Baik aku dengan Putra maupun baby Victor.
Gawaiku berdering. Memecah lamunan yang tadi pagi sempat kami perdebatan sebelum aku berangkat ke Sidoarjo. Nama Araz muncul di layar. Dia mengabarkan jika telah sampai di terminal kedatangan. Aku bergegas bangkit dari kursi kafe dan menuju kasir setelah memesan dua gelas kopi hangat sebagai buah tangan untuk Araz.
"Mau kami tuliskan pesan di cup kopinya, Kak?" tanya penjaga kasir sebelum aku berpindah tempat dari hadapannya.
"Boleh, tuliskan ini di cup-nya ya, Mas."
Aku menarik sebuah kertas dan menuliskan kalimat yang bertalu-talu di dadaku.
Selamat datang, kamu. Aku rindu. I love you.
"Buat pacarnya, Mbak?" tanya penjaga kasir iseng.
"Saya aminkan deh, Mbak."
Aku tersenyum lebar saat menyingkir dari hadapannya demi menunggu pesanan. Biar saja Araz yang menanti saat ini. Penantianku lebih lama dibanding dia yang mungkin hanya beberapa menit saja. Walaupun sebenarnya kakiku gemetar akibat ingin sekali berlari ke arahnya dan memeluknya erat demi melabuhkan rindu yang sudah lama tak bertemu.
Saat seorang pelayan kafe menghampiri sambil membawa pesananku, aku bergegas bangkit dari kursi. Dengan sedikit tergesa aku menuju pintu terminal kedatangan Araz.
Dari ratusan orang yang berlalu-lalang, aku bisa menemukannya. Laki-laki berpawakan tinggi kurus itu, berjalan sambil menyeret koper. Di tangan kanannya tergantung tas ransel berukuran sedang. Melihat penampilannya yang menggenakan sweater warna hitam di balik kemejanya dan celana blue jeans, membuat Araz terlihat lebih muda dari umur sebenarnya. Rambutnya yang sudah agak panjang melewati kerah baju, dibiarkan berantakan dan hanya ditutupi dengan topi senada warna sweater-nya. Sepatu kets putih melengkapi penampilan Araz dengan sempurna.
Jika bergaya casual seperti saat ini, Araz benar-benar mirip dengan pemeran Train to Busan. Aku bahkan sampai tak berkedip saat melihatnya berjalan ke arahku. Senyumnya yang menawan membuat beberapa orang menoleh ke arahnya. Dan aku tidak suka. Apalagi sejak langkah kami bertemu, tatapan laki-laki itu hanya tertuju pada cup kopi dalam genggamanku.
__ADS_1
"Beli produk dalam negeri lebih baik 'kan daripada bantuin pengusaha luar negeri yang menjamur di sini?" komentarku saat Araz meraihnya dari genggamannya. Dan bukannya berterima kasih, laki-laki itu hanya menatap cup kopi seolah sedang meneliti dengan seksama hal yang tak aku pahami.
"Atau Mas Araz lebih suka yang berlabel perempuan? Mau ganti sama yang lain?" tanyaku tetap tak mendapat jawaban dari Araz. Bahkan hanya sekadar sapaan hai. Padahal aku ingin sekali memeluknya setelah tidak bertemu sekian lama.
"Bawel banget sih. Peluk dulu sini," kata Araz tiba-tiba sambil membawaku dalam pelukannya.
Tanpa peduli tempat, dia menaruh kopernya dan membawaku dalam pelukannya. Beberapa pasang mata melirik ke arah kami. Bahkan ada yang jelas-jelas menatap dengan pandangan risih maupun tidak suka. Aku berontak akibat malu atas tatapan orang-orang. Namun, Araz tak membiarkan aku lepas dari pelukannya.
"Mas, malu. Ini tempat umum ih."
"Biarin. Meluk pacar sendiri juga, bukan milik orang lain. Apa salahnya coba?"
"Ya, nggak tahu juga sih," kataku di balik dada Araz yang hari ini beraroma cendana bercampur pucuk-pucuk cemara yang baru saja terguyur hujan.
"I love you too, Kanya. Aku juga kangen, bukan, justru rindu, sama kamu."
Tubuhku menegang dalam pelukan Araz. Sebelum akhirnya rileks dan membalas lembut memeluk laki-laki itu. Aku tersenyum sambil menyembunyikan wajah di dadanya.
"Mas Araz lama. Aku sampai jamuran tahu nunggunya."
"Wah, panen dong kalau gitu. Bisa ditumis sama sayuran atau dipepes sama kelapa. Gimana kalau kita makan malamnya sama jamur saja?"
"Mas Araz, ihhh ... nggak gitu juga maksud aku."
Araz tertawa. Dia mencubit pucuk hidungku dengan gemas sebelum akhirnya berjalan menuju tempat parkir. Matahari sudah perlahan merebahkan tubuhnya di ufuk barat. Cahayanya yang temaram membuat suasana semakin riuh dengan sorak kerinduan. Dalam pelukannya aku merasa tenang.
__ADS_1
Selamat datang, kamu. Sungguh aku benar-benar rindu. Selamat bertemu.