Pulang

Pulang
Berbahagialah, Besok Pasti Akan Jadi Lebih Baik


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Senyum di wajah Kanya mekar, walaupun tangis juga tidak dapat dihindarkan. Namun, senyum itu terlihat lebih tulus dibandingkan senyum paksa yang coba dia tunjukkan saat aku menghiburnya. Bayi mungil tanpa dosa itu membawa lebih banyak kebahagiaan, meskipun masih ada seseorang di dalam ruang operasi yang mempertaruhkan nyawa demi bertahan hidup.


Kanya menggenggam tanganku erat. Aku bisa merasakan tangannya hangat dalam genggamanku. Tidak lagi dingin seperti saat-saat menegangkan ketika menanti kelahiran bayi mungil itu. Walaupun - sekali lagi - penantian itu belum benar-benar selesai.


"Mama pasti akan selamat dan bakal ketemu sama Baby Boy 'kan, Mas? Mama nggak akan ninggalin kami 'kan, Mas?"


Pertanyaan itu membawa kembali mendung yang sempat pergi dari wajah Kanya. Perempuan itu menitikkan air mata lagi, sambil tidak lepas menatap bayi mungil dalam inkubator yang mengingatkan aku pada Kanya sekaligus Putra dalam waktu bersamaan.


Tubuh Kanya gemetar dalam pelukanku. Aku tahu, kesedihan yang menumpuk membuat fisiknya melemah. Apalagi, perempuan itu belum benar-benar tertidur pulas setelah melewati perjalanan panjang. Meski selama hampir dalam perjalanan mata perempuan itu terus terpejam. Namun, aku yakin, kebisingan dalam kepalanya tidak pernah mau berhenti.


"Percayakan saja semua akan baik-baik saja, Kanya. Kumohon, buang jauh-jauh semua hal negatif yang menganggu pikiran kamu. Ya?"


Berat bagi Kanya untuk menganggukkan kepala. Membuatku semakin tidak ingin melepaskan pelukan dari tubuh perempuan itu. Seakan jika aku lepaskan pelukanku, maka tubuh Kanya akan hancur berkeping-keping layaknya boneka porselen.


"Aku sudah coba, Mas, tapi rasa takut itu nggak juga hilang."


"Aku tahu Kanya, dan aku nggak bisa memaksamu untuk menghilangkan perasaan takut itu dalam sekejap. Cobalah pelan-pelan. Aku yakin kamu pasti bisa."


Kanya tidak lantas menjawab. Perempuan itu masih fokus menatap bayi mungil dalam inkubator yang kini telah selesai diazankan oleh Om Eka. Entah apa yang ada dalam benak Kanya. Mungkin sebuah nama.


Obrolan kami mendadak sunyi. Hanya deru napas panjang Kanya yang sesekali terdengar. Hingga Om Eka menghampiri kami dan mengajak mengobrol di bangku tidak jauh dari ruangan bayi. Aku baru bisa menyapanya dengan benar dan mengenalkan diri sebagai teman laki-laki Kanya. Namun, perempuan itu justru mengoreksinya dan bilang pada ayah sambungnya jika aku kekasihnya. Terdengar konyol mungkin, tetapi aku merasa bangga dengan Kanya menyebutku sebagai kekasih.


"Om Eka, sudah dengar dari Putra. Terima kasih Nak, sudah mengantar Kanya pulang," ucap laki-laki itu terdengar lembut dan sopan. Meski begitu, ketegasan seorang laki-laki juga tidak luntur dari dirinya. Walaupun suaranya bergetar menahan tangis.


"Nggak masalah, Om. Saya senang melakukannya."


Kesunyian lagi-lagi menyelimuti kami. Jelas sekali kecanggungan di antara Kanya dengan laki-laki yang tah menjadi ayah sambungnya itu. Om Eka pun tampang bingung, harus membicarakan apa dengan anak istrinya itu. Seolah dari awal, hubungan mereka tidak pernah baik. Atau memang begitulah sejak awal, mereka tidak pernah mengenal baik satu sama lain.

__ADS_1


"Om, boleh Kanya minta sesuatu?"


Kanya akhirnya bersuara setelah sekian lama terdiam. Sekilas, aku bisa melihat raut senang di wajah laki-laki itu saat Kanya mengatakan ingin meminta sesuatu. Merasa keberadaanku membuat suasana semakin canggung, aku memohon pada Kanya untuk menyingkir. Namun, perempuan itu justru menarik tanganku agar duduk semakin mendekat.


"Mas Araz di sini saja, nggak usah pergi. Bukan hal yang privasi juga yang mau aku obrolkan sama Om Eka."


"Tapi.... ."


"Om, boleh aku kasih nama baby boy?" Kanya bertanya pada Om Eka, memotong kalimat yang sudah berada di ujung lidahku. Namun, pertanyaan perempuan itu sukses membuatku maupun Om Eka sama-sama terkejut oleh rasa haru.


"Tentu saja. Om akan sangat berterima kasih kalau kamu mau memberi nama untuk adikmu."


"Victor, namanya Victor. Dari kata victory," kata Kanya hampir tanpa suara. Lirih. Aku yang duduk di sampingnya pun tidak mendengar jelas suara perempuan itu. Sesaat, ia terisak. Itulah mengapa ia berkata dengan lirih, sebab tangis lebih dulu menguasainya. "Dalam kisah ini, dia pemenangnya, Om. Dia yang berhasil memenangkan semua kisah rumit yang mengikat kita. Bahkan aku sempat berniat untuk ... memisahkan kalian yang sama sekali nggak punya kesalahan. Dia yang terlalu suci untuk menanggung kebencian dalam hatiku. "


Mendengar penjelasan anak sambungnya, Om Eka dengan canggung meraih tangan perempuan itu. Ditepuknya lembut punggung tangan Kanya.


"Kamu nggak harus menyalahkan dirimu sendiri, Nak. Kami juga ikut andil membuatmu jadi seperti ini. Maafkan, Om. Maafkan kami. Kami sudah bersalah dengan membiarkan kamu pergi, tanpa benar-benar tulus meminta untuk kembali."


"Victor Manzo Angkara. Sang pemenang kelembutan hati dari kemarahan. Bagaimana menurut, Om?"


Om Eka mengangguk antusias menanggapi pernyataan Kanya. Senyum laki-laki itu mengembang. Menghiasi wajahnya yang tampak begitu lelah. Begitu tulus. Begitu hangat. Mungkin laki-laki itu menganggap jika hati Kanya sudah luluh dengan kahadiran bayi mungil di tengah-tengah mereka.


“Nama yang indah, Kanya. Om senang kamu mau memberi nama adik laki-lakimu,” kata Om Eka, membuat kegelisahan juga kekhawatiran di wajahnya semakin mencair.


Meski terasa ganjil, mereka berpelukan. Menjadikan suasana semakin hangat. Sampai panggilan seorang suster membuyarkan momen hangat yang sedang terjadi. Perempuan yang masih menggunakan alat pelindung diri itu meminta Om Eka menemui dokter untuk mendengar penjelasan tentang Tante Sukma.


Tidak lama, Om Eka kembali dengan wajah yang susah ditebak. Diraihnya tangan Kanya sebelum mengatakan,“Mama kamu berhasil diselamatkan, Kanya, tapi ... .”


Tak ada kalimat yang keluar dari bibir Om Eka. Laki-laki itu menitikkan air mata. Tubuhnya gemetar, sekalipun dia ingin terlihat tegar. Tangis tetap tidak bisa dia sembunyikan.

__ADS_1


"Maafkan Om, Kanya. Maafkan Om yang nggak bisa menjaga Mama kamu. Maafkan Om, jika Mama kamu harus mengalami kejadian seperti ini. Om benar-benar minta maaf, Kanya."


Laki-laki itu tergugu sambil memeluk lengan. Tangisnya semakin tidak bisa dia tahan. Walau terlihat ragu, Kanya menyentuh pundak laki-laki itu dan menepuknya pelan.


"Om ... ."


Tak ada suara yang keluar dari bibir Kanya. Perempuan itu bingung harus bersikap bagaimana. Bahkan untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi pun, dia tidak mampu. Walaupun dia begitu penasaran, bagaimana kondisi Sukma saat ini. Kanya masih tetap menepuk punggung Om Eka, sampai laki-laki itu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. Bibir Om Eka mengembang, meski sepasang mata itu tidak ikut tersenyum.


"Mama kamu belum melewati masa kritisnya, Kanya. Saat ini kondisinya masih koma pascaoperasi. Dokter nggak bisa menjanjikan apa pun meski mereka bisa menyelamatkannya saat ini, " jelas Om Eka sesaat setelah menghela napas berulang-ulang. Mungkin setelah meyakinkan dirinya sendiri, jika semua pasti akan baik-baik saja dan dia kesembuhan Tante Sukma adalah sebuah keajaiban. Tidak salah jika kita memang mengharapkan kejadian bukan?


Tidak seperti dugaanku, Kanya terlihat tenang. Dia mencoba menyimpan air matanya. Meski aku tahu, ujung mata perempuan itu sudah menyimpan berton-ton air yang mencoba mendobrak bendungannya.


"Om sudah mengusahakan yang terbaik. Maafkan Kanya yang justru bersikap egois dan ..." Kalimat Kanya terputus. Dia mengambil jeda, sekalipun tidak ada sepatah kata yang terucap. Hanya tangis perempuan itu yang lagi-lagi menjawab apa yang dia rasakan.


Dadaku terasa nyeri. Bahkan ini lebih nyeri dibanding rasa sakit yang selama ini kurasakan. Melihat Kanya menangis setiap saat rasanya aku ingin menggantikan posisi perempuan itu. Agar aku yang menanggung deritanya. Namun, tidak ada yang sanggup kulakukan selain berbisik lembut di telinganya.


"Berbahagialah, besok pasti akan jadi lebih baik."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Wah, nggak terasa udah episode 100 nih.


I Love U para reader yang udah baca novel Pulang. 😍😍 Tanpa kalian, apalah arti novel ini. Pasti masih tersesat atau justru tak mudah menemukannya di antara ribuan judul yang beterbangan di dunia rekaan ini.


Sekali lagi, makasih buat para reader yang udah mengikuti novel Pulang dari awal sampai episode ini. Sungguh, tanpa kalian, Pulang atau Yoru bukanlah apa-apa. Yoru besyukur kalian menemukan Pulang atau justru Pulang lah yang menemukan kalian. Apa pun itu, makasih tak terputus dari Yoru buat kalian. I Love You guys.


Jadi dalam episode ini, Yoru bakal buka Q&A yang bisa kalian tujukan langsung buat para tokoh. Eehh ... 🙊🙊


Caranya gampang banget sih. Kalian cukup kirim pertanyaan di kolom komentar bab ini. Pertanyaan paling menarik bakal dijawab langsung oleh Araz ataupun Kanya dalam podcast Semesta Yoru yang bakal tayang hari Jumat, 09 Oktober 2020 mendatang.

__ADS_1


Yuk, kirim pertanyaan kalian. Siapa tahu pertanyaan kamu yang bakal dibaca dan dijawab langsung sama Araz. 🙂🙂


__ADS_2