
Renjana Alcatraz
Selama penerbangan menuju bandara Juanda, hatiku berdebar kencang. Seperti halnya orang yang jatuh cinta dan akan berjumpa pertama kali dengan pujaan hatinya. Padahal ini bukan pertemuanku yang pertama kali dengan Kanya.
Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca buku digital melalui layanan playbook. Namun, tetap saja jantungku berdebar tak karuan. Apalagi saat Kanya mengabarkan jika sudah sampai setengah perjalanan.
Kota tempat tinggal Kanya memanglah kabupaten kecil yang tidak memiliki akses bandara ataupun stasiun. Stasiun terdekat jaraknya satu jam perjalanan di kabupaten tetangga. Dan, jarak tempuh menuju bandara membutuhkan waktu sekitar empat jam perjalanan jika ditempuh dengan kecepatan sedang. Itulah sebabnya dia berangkat lebih awal, bahkan sebelum aku berangkat ke bandara.
Sedangkan jika aku memilih menggunakan kereta api, perjalanan yang terlalu panjang membuatku semakin tidak sabar berjumpa Kanya. Terlebih, aku semakin tidak tega jika Kanya harus menjemputku di stasiun saat dini hari.
Sementara aku buta arah jika harus naik kendaraan umum untuk sampai ke tempat Kanya tinggal. Sekalipun itu kota kecil. Rasanya masih terlalu besar untuk dijelajahi dengan kendaraan umum, sebab aku belum pernah melakukannya. Mungkin suatu saat, aku akan mengajak Kanya menjelajah kotanya dengan kendaraan umum sampai ke perbatasan kabupaten.
Gawaiku bergetar. Nama Kanya muncul di layar berukuran enam inchi itu. Meski sudah aku mode pesawat, saat ini maskapai penerbangan sudah menyediakan layanan wifi. Jadi aku masih bisa berkirim pesan singkat melalui aplikasi chatting.
Kanya
Udah masuk Sidoarjo nih, Mas. Nggak lama lagi bakal sampai bandara. Aku tunggu di terminal kedatangan ya.
Jantungku berdetak semakin kencang membaca pesan dari Kanya. Rindu yang kutahan selama hampir satu minggu ini rasanya semakin tak beraturan. Jantungku berdebar kencang. Tidak sabar ingin bertemu dengan Kanya.
Alcatraz
Tunggu aku ya. Kalau saja jalur darat, pasti aku bisa kasih kamu kabar, sekarang sudah sampai mana.
Anya
Ya Mas Araz kira-kira saja, lagi terbang di atas ketinggian berapa kaki. Kali saja bisa mengira-ngira juga sekarang sudah sampai mana.
Senyumku terpancing dengan balasan Kanya yang terlihat asal bicara. Dia memang selalu begitu. Sanggup memancing tawa hanya melalui sebuah kata yang terangkai dalam kalimat absurd makna. Inilah mengapa aku begitu merindukan perempuan itu meski sehari saja tidak bertemu. Bicaranya yang terkadang asal, membuatku gemas dan ingin sekali mencubit pipinya. Walaupun justru lebih banyak membuat kesal karena membuatku terjebak dalam kalimat dan tak sanggup berkata-kata.
Alcatraz
Yah, sayang aku nggak bawa penggaris. Gimana kalau kamu bantuin ngukur?
Balasku mengikuti alur permainan Kanya. Walaupun aku yakin pada akhirnya dia pasti sanggup berkelit.
__ADS_1
Kanya
Ngapain susah, Mas Araz jalan turun saja dari pesawat. Terus hitung deh kira-kira bakal sampai berapa ribu langkah kaki. Tapi syaratnya harus jalan ya, bukan terjun payung. 😁
'Kan, apa kubilang. Kanya tidak mungkin serius menanggapi obrolan kami. Toh memang tidak ada hal yang harus ditanggapi dengan serius. Dan, justru hal-hal semacam inilah yang membuat kami saling menertawakan keadaan. Rasanya nyaman sekali berada di dekat perempuan itu jika dia banyak tersenyum bahkan tertawa. Dadaku akan menghangat. Ikut dalam derai tawa yang mengembang di bibirnya.
Alcatraz
Oke, nanti aku coba pinjam jubah milik Superman. Kali saja bisa kupakai buat jaga keseimbangan saat jalan turun dari pesawat terbang.
Anya
Wah, Gatutkaca gimana? Kan sama-sama bisa terbang. Dan dia lebih lokalitas ketimbang Superman.
Alcatraz
😏 Dia nggak pakai jubah, Kanya.
Anya
Terbang tanpa jubah kan lebih praktis, Mas Araz.
Alcatraz
Ya udah kalau gitu, aku bakal pinjam selendang Nyi Rara Kidul saja.
Anya
Dia pakai selendang bukan buat terbang, Mas. Lagian bisa dipakainya di lautan sama darat doang.
Alcatraz
Ya sudah kalau gitu, kamu saja yang bikin terbang.
Anya
__ADS_1
Itu sih gampang. Aku bilang I love you juga pasti Mas Araz merasa lagi terbang.
Alcatraz
😂 Kita ini lagi ngomongin apa sih? Kok pembahasannya jadi ngelantur?
Anya
Yang bikin undang-undang juga kadang suka ngawur, Mas. Apalagi rakyat jelata kayak kita.
Tawaku tak sanggup kutahan lagi. Tanpa sadar senyum mengembang terlalu lebar sampai membuat penumpang di sebelahku menoleh. Untung aku berada di bangku dekat jendela. Jadi tidak semua orang bisa melihatnya.
Tak lama, dari pengeras suara terdengar suara pramugari yang mengumumkan jika pesawat akan segera sampai tujuan. Terbangnya pun semakin rendah. Pucuk-pucuk rumah maupun gedung perkantoran mulai terlihat. Langit senja menebarkan warna jingga dan lampu-lampu kota mulai menyala.
Sengaja aku tak membalas pesan Kanya dan membiarkannya tetap centang biru. Kumasukkan gawai dalam saku kemeja dan mengikuti perintah pramugari yang meminta mengenakan lagi sabuk pengaman. Tanda penerbangan sudah semakin dekat dengan tujuan.
***
Terminal kedatangan interlokal Juanda menjelang petang menawarkan kehangatan. Bukan sebab cuaca panas atau keramahan penduduk lokal - toh lebih banyak pelancong daripada warga sekitar, kecuali mungkin beberapa pekerja kasar yang hilir mudik (aku sebenarnya juga tak yakin jika mereka warga lokal), tetapi siapa yang menyambutku sambil membawa segelas kopi yang terlihat masih mengepul dari sebuah merek dagang lokal.
"Beli produk dalam negeri lebih baik 'kan daripada bantuin pengusaha luar negeri yang menjamur di sini?"
Komentar Kanya saat aku tanpa sengaja menatap lama karton kopi yang kini sudah berpindah tangan. Padahal aku fokus menatap tulisan yang dibubuhkan di karton kopi yang kini kupegang.
"Atau Mas Araz lebih suka yang berlabel perempuan? Mau ganti sama yang lain?"
Kanya masih saja bertanya kepadaku tentang apa yang kuinginkan. Padahal perempuan itu sendirilah yang kunantikan selama dipenerbangan. Tanpa peduli tempat, aku menaruh koperku dan membawa perempuan itu dalam pelukan. Kubiarkan tubuh Kanya yang berontak dan memprotes jika malu diperhatikan orang. Aku pun tak peduli jika menjadi tontonan banyak orang layaknya adegan dalam sebuah film, di mana pengambilan gambar dilakukan dari segala penjuru dengan gerakan kamera memutar. Aku berbisik di telinganya demi membalas tulisan yang dia butuhkan di atas karton kopi yang masih kupegang.
"I love you too, Kanya. Aku juga kangen, bukan, justru rindu, sama kamu."
Aku merasakan tubuh Kanya menegang dalam pelukanku. Sebelum akhirnya rileks dan membalas lembut memelukku. Bisa kurasakan dia tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di dadaku.
"Mas Araz lama. Aku sampai jamuran tahu nunggunya."
"Wah, panen dong kalau gitu. Bisa ditumis sama sayuran atau dipepes sama kelapa. Gimana kalau kita makan malamnya sama jamur saja?"
__ADS_1
"Mas Araz, ihhh ... nggak gitu juga maksud aku."
Aku tertawa menanggapi pernyataan Kanya. Pada akhirnya dia terjebak juga dalam permainan kata-kata yang sering kali dilakukan.