Pulang

Pulang
Sisi Lain


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Hangat dan lembut bibir Kanya yang beraroma vanilla masih melekat di bibirku. Jika tidak sadar tempat, aku ingin melanjutkan ciuman yang memabukkan itu. Namun, aku harus menghentikannya sebelum Hanung ataupun Sinta mempergoki kami. Tak mengapa jika mereka berdua, aku lebih khawatir jika Abi yang menyaksikan kami berciuman di dapur.


“Biar saja kalau ada yang lihat, paling juga Hanung,” komentarku sambil menyibak riap-riap anak rambut Kanya yang menghalangi pandangan. “Cantik,” kataku lagi sambil menarik kedua ujung bibirku.


Reaksiku membuat pipi Kanya memerah. Momen yang entah mengapa membuatku selalu suka saat melihatnya. Wajah Kanya yang bersemu membuatnya terlihat semakin cantik di mataku. Rasanya aku selalu ingin menciumnya lagi dan lagi setiap kali melihatnya tersipu.


“Mereka pasti curiga kalau kita kelamaan di dapur, Mas.”


“Biarkan saja, mereka yang menganggu. Padahal malam ini aku berencana mengajakmu kencan, tapi Hanung justru mengacaukan segalanya. Awas aja ke depan kalau dia masih sering gangguin kita,” kataku kesal. Demi mengikuti permintaan Hanung aku rela membatalkan reservasi di restoran yang sudah kupesan tadi siang.


Kanya tersenyum menanggapi pernyataanku. Ia menurunkan tanganku dari almari dan mendorong tubuhku pelan agar bisa terlepas dari kungkunganku. Lantas menata piring di atas meja makan dan mengambil sendok serta garpu dari tempat yang sama setelah menggeser tubuhku.


“Aku nggak tahu kalau Mas Araz bisa ngambek juga sama Mas Hanung. Kukira kalian selalu adem-ayem aja pertemenannya.”


“Ya nggaklah, apalagi Hanung tuh sering ngeselin. Lagian ya, aku ini bukan orang yang nggak punya perasaan Kanya.”


Perempuan itu tertawa sambil mengatur sendok dan garpu. “Aku nggak bilang kalau Mas Araz nggak punya perasaan, Mas. Ya ‘kan kali aja kalian kompak forever and ever. Aku taruh ini ke depan dulu ya.”


Aku tersenyum menanggapi pernyataan Kanya. Sepeninggalan perempuan itu, aku kembali fokus pada penggorengan yang sempat kutinggalkan akibat tergoda oleh kehadiran perempuan itu. Entah mengapa, aroma perempuan itu selalu berhasil menggodaku untuk memeluknya.


Haahh… kalau terus seperti ini, bisa-bisa aku menjadi gila.


“Kenapa lo?” pertanyaan Hanung membuyarkan pikiran jorok memenuhi kepalaku. “Mikir mesum nih pasti. Habis ngelakuin yang enak-enak ya lo? Inget anak orang belum lo halalin. Jangan macem-macem lo!”


“Elah Nung, nggak percaya amat sih lo sama gue.”


“Gue percaya sama lo, tapi gue nggak percaya sama setan.”


“Busyet dah, emang setan bisa semudah itu godain gue?”


“Banget, buktinya itu udah bangun aja tuh peliharaan kamu,” kata Hanung sambil menunjuk dengan dagunya ke bawah perutku.


Sial! Reaksi tubuhku ternyata lebih jujur daripada mulutku. Sialnya, aku sedang berhadapan dengan Hanung. Lelaki itu tertawa saat melihatku salah tingkah dan mengerang.


“Sialan lo emang, Nyet.”

__ADS_1


“Makanya lain kali ditahan tuh nafsu, biar nggak mudah digodain setan,” kelekar Hanung sambil membawa lauk yang baru saja kutuangkan ke dalam piring saji ke ruang tamu.


Sialan memang tuh orang!


***


Hanung dan Sinta berserta Abi baru pulang dari apartemen Kanya saat jam menunjukkan pukul 11.00 malam. Bocah itu sudah tidur sejak pukul 08.00 malam, tapi kedua orang tuanya masih saja asyik membicarakan entah apa saja dengan Kanya. Sementara aku sibuk di dapur dengan adonan churros demi menuruti keinginan sang tuan rumah berserta dua tamu tak tahu diri. Baru pada pukul 09.00 malam aku ikut bergabung dengan ketiga orang itu yang ternyata sedang bermain ular tangga sampai jam menunjukkan pukul 11.00 dan mereka berpamitan pulang.


“Malem ini bakal balik ke hotel ‘kan lo?” tanya Hanung saat aku mengantarnya ke depan pintu.


“Iya, gue bantuin Kanya beres-beres dulu baru balik hotel.”


Memang setelah keluar dari rumah sakit beberapa hari lalu, aku memutuskan tinggal di hotel milik salah satu saudara sepupu eomma. Sebab ayah sudah menjual apartemen tanpa persetujuanku. Lelaki itu juga yang membuat surat pengunduran diriku untuk La Fammes. Tentu saja dengan paksaan saat meminta tanda tanganku. Mereka berharap aku mau pulang ke Bandung.


Ah, perkara LF, mereka sangat menyayangkan pengunduran diriku yang terlalu tiba-tiba. Aku memang berencana keluar dari industri majalah fashion itu. Aku bersama Hanung ingin membangun perusahaan kami sendiri yang tentu tak jauh dari dunia jurnalistik. Namun sebelum kami sempat melangkah untuk menentukan arah, ayah dengan semena-mena membuatku mundur dari LF.


Lagi-lagi kami bersitegang. Ayah memaksaku pulang ke Bandung, tapi aku tetap bersikeras untuk tetap tinggal di Jakarta. Bagaimana dia bisa memintaku kembali ke pelukan mereka, jika dia telah bersikap seenaknya atas kehidupan yang kujalani? Aku tak akan semudah itu menuruti permintaan mereka. Toh, aku masih punya begitu banyak mimpi yang belum sempat aku wujudkan. Dan aku ingin mewujudkannya bersama Arez. Membahagiakan Kanya.


Jadilah eomma meminta Cha Tae-sik ahjussi untuk menampungku sementara sampai aku mendapatkan apartemen baru. Meski begitu tetap saja aku membayar setengah harga sewa suite room yang sangat tak murah itu. Bagaimanapun aku tak mau merepotkan paman Cha Tae-sik yang sudah merelakan salah satu suite room-nya kutempati dengan setengah harga.


“Awas lo nginep sini.” Sayup suara Hanung membawaku kembali ke dunia nyata.


“Heh, gue ngelindungi lo dari godaan setan tahu. Mana ada temen yang perhatiannya kayak gue. Sama lo ini. Nggak ada yang betah temenen lama-lama sama lo kalau bukan gue. Harusnya lo berterima kasih sama gue, Monyet,” kata Hanung panjang lebar sambil sesekali membetulkan gendongan Abi yang merosot.


“Iya, iya, makasih Mas Hanung, udah ingetin gue, perhatian sama gue, udah mau jadi temen gue juga selama ini, trus…”


“Udah, udah, nggak usah lo sebut semua. Geli gue dengernya. Bukannya terharu malah bikin orang pengen nabok aja. Ke mana sih Sinta? Nggak liat kalau ini udah malam banget?”


Cukup lama kami mengobrol di depan pintu apartemen Kanya. Sedangkan Sinta entah masih sibuk melakukan apa dengan pemilik rumah. Alu tak pernah tahu jika hubungan mereka ternyata begitu dekat layaknya sahabat lama. Bahkan pada suatu momen aku sering melihat Sinta menunjukkan perasaannya seperti kepada adiknya sendiri. Padahal dia tak begitu dengan adik Hanung meski sama-sama perempuan. Kanya juga tampak manja pada istri temanku itu. Yah, mungkin pembawaan Kanya juga yang membuat orang lain selalu ingin menyayanginya. Abi pun juga begitu akrab dengan perempuan itu.


“Mau gue panggilkan,” tawarku pada Hanung. Kasihan juga melihatnya kesusahan menggendong Abi.


“Iya deh, gue minta tolong. Capek gendong Abi dari tadi.”


“Sori Babe, aku mengajarkan trik-trik kecil pada Kanya untuk melindungi diri dari serangan rerigala,” kata Sinta tiba-tiba sambil menatapku penuh selidik. Senyum jahil mengembang di wajahnya.


“Sial, lo pikir gue serigala? Kira-kira dong Buk, gue nggak mungkin ngelakuin hal itu sembarangan,” kataku menatap sinis pada Sinta. Perempuan itu hanya tertawa sambil menepuk pundakku.

__ADS_1


“Iya, percaya gue sama lo, tapi gue nggak percaya sama setan. Udah ya, kita balik dulu. Jagain Kanya, jangan macam-macam lo sama dia,” ancam Sinta sebelum mereka benar-benar pergi dari apartemen Kanya.


Tidak suami, tidak istri, sama-sama curiganya padaku. Kompak banget. Apa aku terlihat seperti serigala lapar yang bisa sewaktu-waktu memangsa Kanya? Bahkan kalimat yang mereka ucapkan bisa sama persis seperti memang sudah janjian. Iya, mereka memang percaya sama aku, tapi mereka tidak percaya pada setan yang jelas bisa menggodaku. Huftt… menyebalkan.


“Mereka udah balik?” tanya Kanya begitu aku masuk ke dalam apartemen. Perempuan itu terlihat berbaring lemah di kursi ruang tamu. Wajahnya terlihat pucat. Padahal tadi masih terlihat baik-baik saja saat aku mengantar Hanung ke depan pintu.


“Iya. Kamu kenapa, sakit?” tanyaku khawatir sambil memegang kening perempuan itu. Tidak demam, tapi justru terasa dingin di ujung jemariku.


Bukannya menjawab, Kanya justru memejamkan mata. Seperti menahan sakit. Namun aku tak tahu bagian mana yang membuat perempuan itu merasa tidak nyaman. Hanya, sesekali aku menghapus keringat yang membasahi keningnya.


“Apa perlu aku ambilkan sesuatu?”


“Nggak usah. Aku baik-baik aja, Mas. Ini udah biasa kok, nanti juga ilang sendiri.”


“Kamu kenapa?”


Tak ada jawaban. Kanya memilih meringkuk di sofa dan mengabaikan pertanyaan yang baru saja kulontarkan. Sedang aku memilih duduk di karpet samping tempat Kanya berbaring.


“Nya, apa kita perlu ke rumah sakit?” tanyaku lagi justru membuat Kanya menatapku tidak suka. Meski begitu, mulutnya masih saja tetap terkunci. “Kamu kelihatan kesakitan banget. Aku…”


“Mas plis, aku nggak apa-apa. Bisa tolong diam, jangan ajak aku bicara,” kata Kanya sinis pada akhirnya. Bahkan dia terdengar begitu marah.


“Tapi…”


“Gue cuma pengen tidur!”


Bentakan Kanya benar-benar menandakan jika dia sedang kesal. Cukup membuatku terbengong dan hanya mampu menatapnya tanpa berani protes. Bahkan untuk berpamitan pulang pun, aku tak tahu harus memulainya dari mana.


Apa aku telah melakukan kesalahan tanpa kusadari? Sepertinya tidak. Selama makan malam berlanjut pada permainan ular tangga kami banyak tertawa. Bahkan tadi kami juga masih sempat bertukar ciuman. Lalu, apa yang salah? Ahh… rasanya sangat menyebalkan saat tahu pacarmu marah tanpa alasan dan membuat perasaan semakin tidak nyaman.


Sementara napas Kanya semakin halus. Menandakan jika perempuan itu sudah jatuh tertidur.


Saat aku bermaksud memindahkan tubuh Kanya ke kamar, aku baru menyadari jika perempuan itu memeluk botol kaca berisi air hangat dalam tidurnya. Aku sering melihat beberapa teman perempuanku melakukannya untuk meringankan nyeri datang bulan.


Jadi ini yang membuatmu begitu sensitif?


Tanpa sadar aku tersenyum. Ternyata Kanya lebih menakutkan dari siapa pun yang pernah kukenal ketika sedang datang bulan. Baiklah, aku akan mencatatnya baik-baik sisi lain perempuan itu. Sungguh, seharusnya dia lebih baik jujur daripada menyembunyikan fakta penting itu dariku. Apa dia menganggapku tak tahu soal dunianya itu?

__ADS_1


Aku mengecup kening Kanya sebelum membawanya ke tempat tidur.


__ADS_2