Pulang

Pulang
Hello, Lil Sis


__ADS_3

Renjana Putra


Sampai tiba di terminal kedatangan Juanda, Putra masih kepikiran siapa sosok yang ditabraknya sebelum terbang menuju belahan bumi yang lain. Wajah perempuan itu sama sekali tidak asing. Dan, dia menyebutnya sebagai pacar Kanya, bukan vokalis Nada Sumbang yang sedang digandrungi seluruh penduduk negeri ini. Berarti pertemuan mereka jauh sebelum dia dikenal banyak orang seperti sekarang.


Sebenarnya Putra tidak tertarik secara personal dengan sosok yang tadi ditabraknya. Hanya saja tatapan tajam penuh amarah itu masih membekas jelas dalam ingatannya. Putra akan merasa lebih lega jika perempuan itu menamparnya, daripada tiba-tiba datang dan pergi begitu saja dengan membawa perasaan terluka. Sebab, dia tidak akan bisa lupa bagaimana perempuan itu menatapnya.


"Mas Putra, di sini, Mas," sapa seorang laki-laki yang sudah bekerja untuk keluarganya sejak dia di sekolah dasar.


"Pak Ratno, ssttt ... ."


Putra memberi tanda pada laki-laki itu saat mencoba memanggilnya lebih keras lagi. Mata Putra mendadak awas saat melihat beberapa perempuan usia remaja sedang berkumpul sambil membawa poster Nada Sumbang. Untung Pak Ratno tidak membawa banner penjemputan yang bertuliskan namanya. Kalau saja laki-laki itu membawa banner bertuliskan namanya, pasti para fans yang berkumpul di pintu kedatangan bandara akan menyadari kehadirannya.


"Langsung ke rumah sakit ya, Pak," pinta Putra saat mereka sudah sampai di mobil.


Laki-laki itu menurunkan sandaran kursi dan bersiap untuk tidur. Badannya terlalu lelah setelah melakukan perjalanan. Apalagi ketika mengalami kejadian tidak terduga saat berkejaran menghindari para fans. Belum soal kemunculan tiba-tiba seorang perempuan yang masih saja mengganggu pikirannya.


Sebenarnya Putra tidak ingin sok artis dengan menghindari para fansnya. Hanya saja melakukan itu tanpa pengawalan akan sangat merepotkan. Tidak masalah jika mereka hanya sekadar meminta foto. Namun, tidak jarang mereka berbuat nekat dengan memeluk tubuhnya, bahkan mencuri ciuman di pipinya yang membuat Putra merasa tidak aman. Terlebih tanpa pengawalan.


Sebelum nama mereka melambung pun, Putra sebenarnya sudah memiliki banyak penggemar. Meski begitu, tidak ada dari mereka yang bertingkah kelewatan. Itu saja kerap kali memicu pertengkaran dengan Kanya.


Kanya.


Nama itu muncul bagai suara genta dalam kepala Putra. Ingatannya kembali pada pesan yang sempat dikirim sebelum terbang. Dengan mata setengah terpejam akibat kantuk, Putra mengambil gawai dari saku celana.


Seperti biasa, gawainya selalu penuh dengan pemberitahuan media sosial. Laki-laki hampir putus asa saat tidak menemukan nama Kanya di layar gawai. Namun, pandangannya teralihkan pada pesan yang tertumpuk paling bawah. Nama Kanya masih tersimpan dengan sebutan lamanya.


Jiwaku ❤.


Putra bergegas membuka kunci layar dan membaca pesan yang dikirimkan Kanya.


Jiwaku ❤


Memang sudah sembuh? Kok mau pulang? Itu bekas luka sudah hilang? Kalau ditanyain Ayah bakal jawab gimana?

__ADS_1


Sudut bibir Putra mengembang. Kecut. Rasanya aneh saat Kanya menyebut Eka dengan ayah, tetapi hal itu membuat Putra semakin menyadari posisinya saat ini. Meski hati tidak bisa dibohongi, jika dia masih ingin memiliki Kanya seutuhnya. Bukan sebagai saudara. Namun, dia dihadapkan kenyataan yang tidak bisa membuatnya bersikap egois.


Putra menelan ludah. Getir. Di satu sisi dia bahagia bisa berhubungan baik lagi dengan Kanya, tetapi di sisi lain dia harus menelan kenyataan pahit jika di antara mereka kini hanya sebatas hubungan kakak adik yang tak mungkin bisa lebih. Semua pernah terjadi di masa lalu dan itu cukup memberinya pelajaran.


Kini, Putra hanya bisa diam. Menelan kenyataan jika memang tidak akan ada kisah cinta yang indah antara dia dan Kanya. Apalagi, perempuan itu telah berbesar hati menerima kenyataan yang sama. Putra tidak mungkin merusaknya lagi. Kanya terlalu berharga. Dia tidak ingin membuatnya lagi-lagi harus terluka.


Jiwaku ❤


Kenapa nggak dibalas? Kok cuma dibaca doang? Ini bukan layanan koran daring, Kakak. Bisa 'kan, balas pesanku?


Gawai Putra berkedip, diiringi notifikasi pesan masuk. Masih dari Kanya.


Putra Mahameru


Bawel. Aku sudah sembuh kok. Inget ya, jangan bilang apa pun sama Papa soal insiden beberapa hari lalu. Aku nggak mau kalau Papa sampai marah begitu dengar kabar ini.


Jiwaku ❤


Iya. Aku tahu kok apa yang bakal dilakuin Ayah kalau sampai anak kesayangannya kenapa-napa. Memang Kak Putra sekarang sampai mana? Btw, aneh tahu nggak manggil Kakak. Boleh panggil nama aja nggak?


Putra Mahameru


Jiwaku ❤


Sembarangan. Araz aja nggak pernah gue panggil, Sayang.


Lagi-lagi Putra tersenyum getir. Hati laki-laki itu kembali terasa nyeri saat menyadari bagaimana nyamannya Kanya berkirim pesan dengannya. Tidak lagi tersisa sosok Kanya yang malu-malu, kadang juga menjaga image saat berkomunikasi dengannya.


Apa gue benar-benar udah dianggap sebagai kakak sama dia? Rasanya malah jadi semakin asing. Lagian apa yang lo harapkan sih, Put. Back the real world. Kanya sudah bahagia bersama Araz.


Putra menyimpan gawainya di saku celana. Dia tidak berniat membalas pesan Kanya. Bagaimanapun, Putra ingin melindungi hatinya agar tidak semakin terluka.


Setelah memutuskan berdamai dengan Kanya dan menerima kenyataan di antara mereka, entah mengapa rasanya semakin ke sini semakin berat bagi Putra untuk mengakui status hubungan mereka. Putra selalu ingin menuntut lebih setiap kali berdekatan dengan Kanya. Dan rasanya begitu menyiksa.

__ADS_1


Demi meredam perasaannya sendiri, laki-laki itu benar-benar memutuskan untuk memejamkan mata. Setidaknya ketika dia tidur, tidak ada beban apa pun yang mengganggunya.


***


Jam yang melingkar di pergelangan tangan Putra menunjukkan pukul 11.45 saat dia tiba di rumah sakit umum daerah. Langkahnya tergesa menuju ruang rawat inap saat mengetahui fakta bahwa Kanya harus dirawat setelah ketahuan pingsan pagi tadi.


Sebelumnya mereka sempat bertukar kabar, tetapi perempuan itu sama sekali tidak memberitahunya jika sedang dirawat akibat kelelahan dan kekurangan cairan. Kalau saja Pak Ratno tidak memberitahunya, Putra pun tidak akan tahu jika Kanya sedang dirawat inap. Bahkan papanya tidak mengatakan pada Putra tentang kondisi yang sebenarnya. Padahal Putra pun sempat menanyakan kabar Kanya pada Eka.


Langkah kaki Putra panjang-panjang. Tergesa. Dia tidak sabar untuk segera bertemu dengan Kanya. Tidak peduli jika seandainya di ruang yang sama ada Araz sekalipun. Putra hanya ingin menunjukkan rasa pedulinya pada Kanya. Tidak lebih.


"Gimana kamu bisa ikut tumbang sih?"


Pertanyaan itulah yang pertama kali muncul dari mulut Putra saat dia membuka pintu dan memastikan penghuni kamar tersebut adalah orang yang tepat. Sedangkan sosok yang sangat dikhawatirkan itu, justru duduk bersandar pada tempat tidur dan mengobrol santai bersama Araz.


"Kakak, kapan sampai? Sudah ketemu sama Viktor belum?" Kanya terlihat antusias saat melihat Putra berdiri di pintu.


"Gimana bisa, kalau aku dengar kabar dari Pak Retno, jika kamu ditemukan pingsan saat menemani Mama tadi malam. Mau sok jagoan apa gimana sih?" omelan Putra justru membuat tawa Kanya semakin berderai. Sementara Araz, hanya menatap Putra sejak awal laki-laki itu membuka pintu.


"Gue rencananya mau adu kekuatan sama makhluk tidak kasat mata sih. Gimana, mau adu kekuatan sekalian?"


Putra tidak menanggapi pernyataan Kanya. Laki-laki itu hanya ingin menuruti kata hatinya saja saat ini. Tidak peduli jika Araz juga harus menanggung perasaan sakit yang sama.


"Hallo, little Sister," kata Putra sambil membawa Kanya dalam pelukannya. Cukup lama.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ehm, jadi podcast spesial Q&A episode 100 lalu sudah tayang di spotify.


Yuk dengerin jawaban Araz tentang pertanyaan yang sudah kalian kirimkan.


Klik tautan di bawah ini ya.


https://open.spotify.com/episode/3In0wmNQ8RS0LiiXWnHiDf?si\=Doazq5a6QpeiZGWDvMmVPg

__ADS_1


Atau ketikkan saja Semesta Yoru di kolom pencarian. Pasti ketemu kok. Sampai jumpa di Q&A selanjutnya. Tungguin ya, Yoru masih punya kejutan lainnya buat kalian.


__ADS_2