
Renjana Kanya
Kami memutuskan menginap satu malam lagi di rumah orang tua Arez. Bunda melarang kami kembali ke Jakarta di hari yang sama. Kata bunda, besok pagi-pagi, Pak Dadung - sopir keluarga mereka - akan mengantar kami pulang.
Aku tidak keberatan dengan permintaan bunda. Toh aku ingin tahu lebih banyak tentang Arez. Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin menyembuhkan rindu yang masih membelenggu. Dan, ada hal yang ingin kuketahui lebih dari apa pun. Tentang pertemuan Araz dengan Arez hingga berakhir pada perjanjian yang tak masuk akal.
"Arez hanya boleh mengizinkan aku jatuh cinta sama kamu. Dia minta supaya jaga hati kamu biar nggak terluka. Seperti dia selalu menjaga perasaannya selama ini buat kamu."
Araz mengucapkan kalimat itu saat kami berjalan kembali ke tempat bunda dan ayah yang sudah menunggu. Aku sempat berhenti melangkah dan menatap punggung lelaki di depanku itu. Jadi selama ini, semua yang dia lakukan hanya demi Arez? Bukan perkara di benar-benar suka sama aku atau...
Hah, mengingatnya saja sudah membuat dadaku sesak. Lelaki itu memang benar-benar tak bisa ditebak. Kadang ia mendadak bilang cinta, kadang juga bilang ayo menikah, tapi tak pernah serius meminta. Sedangkan kini aku tahu ada perjanjian yang telah ia sepakati dengan Arez sebelum temanku itu kembali pada pangkuan bumi. Lantas bagaimana perasaan Araz yang sebenarnya?
"Kanya, makan yang banyak Nak. Liat itu badan kamu kurus gitu."
Suara bunda memutus lamunanku tentang dua sosok lelaki yang kini menjadi satu tubuh. Bagaimana tidak, Araz memiliki tubuh yang sehat, tapi jantungnya tak mendukung lelaki itu untuk beraktivitas sesuai keinginannya. Sedangkan Arez, memiliki jantung yang sehat, tapi tubuhnya menolak segala aktivitas akibat cedera otak yang dialaminya. Hingga mereka dipertemukan oleh takdir menjadi satu kesatuan. Tubuh sehat Araz dan jantung yang berdenyut normal milik Arez.
"Jangan sungkan-sungkan Kanya, anggap saja sedang di rumah sendiri. Kamu makannya sedikit mulu dari kemarin." Ayah ikut berkomentar saat melihat piringku yang hanya berisi sedikit nasi dan ayam goreng. Aku kehilangan nafsu makan setelah mengetahui fakta yang menyakitkan tentang Arez hari ini.
"Ini ambil sayur sopnya. Ini tuh kesukaan Arez kalau pulang. Sayur sop ditambah irisan daging yang masih ada lemaknya pakai santan. Padahal dia harus diet dan mengurangi lemak, tapi tetep saja bandel dan minta bunda masakin kalau pulang. Dia pernah cerita sama Bunda, kalau dia pulang sama kamu, Bunda harus masakin masakan ini buat kamu," kata Bunda sambil menuangkan sayur ke piringku.
Melihat wajah penuh harap perempuan setengah baya itu, membuatku menyuapkan sesendok nasi bersama sayur yang baru dituangkan bunda. Meski tampilannya sedikit pucat dari kuah santan, tapi rasanya memang tak bisa dipungkiri jika benar-benar lezat. Aroma tumis bawang merah dan putih, berpadu dengan merica dan cabai rawit yang dibiarkan utuh. Sementara khas santan seakan memberi sensasi pecah di dalam mulut. Tekstur dagingnya pun lembut. Sempurna ditambah sayur-mayur seperti wortel, buncis, bunga kol, sawi putih, dan lain sebagainya.
"Gimana, cocok sama lidah kamu 'kan?"
"Enak Bunda, aku emang lebih suka makanan pedas."
"Syukur deh kalau cocok sama lidah kamu. Sengaja Bunda masak agak pedas karena Arez bilang kamu nggak begitu suka manis."
Suasana hangat di meja makan membuatku canggung. Mendengar cerita bunda, seolah Arez sudah menceritakan begitu banyak hal tentangku kepada kedua orang tuanya. Sedekat itukah lelaki itu dengan keluarganya? Tiba-tiba hatiku mendung. Sudah lama aku tak merasakan kehangatan sosok seorang ibu.
Hufftt... Tanpa sadar aku menghela napas. Membuat Araz yang duduk di sampingku meremas tangan kiriku di bawah meja. Meski terkejut, sentuhannya membuatku merasa lebih tenang.
"Maafin Bunda ya Nya, yang nggak langsung cari kamu begitu keadaan Arez memburuk. Padahal Arez pengen banget ketemu kamu, tapi Bunda juga nggak tahu mau cari kamu di mana."
"Nggak apa-apa Bunda, harusnya Kanya yang minta maaf karna nggak bisa di samping Arez saat dia butuh." Suaraku tercekat di kerongkongan. Rasa bersalah masih bergelayut di hatiku.
"Bunda selalu bersyukur bisa ketemu sama, Kanya. Dulu Arez selalu cerita kalau punya teman yang cantik banget. Udah gitu juga baik hati karena udah ngajak tinggal bareng dengan sewa yang lebih murah daripada kos. Apalagi sewa apartemen. Harusnya dulu Bunda sama Ayah langsung ketemu kamu ya. Biar kita bisa lebih sering ngobrol." Air muka bunda berubah sendu saat berbicara kepadaku. Aku tahu, masih ada duka di balik sikap ikhlas perempuan setengah baya itu.
"Kita juga masih bisa tetep sering-sering ngobrol kok Bun, mulai sekarang. Araz janji akan sering ajak Kanya ke sini kalau ada waktu luang. Iya 'kan, Nya?" tanya Araz meminta persetujuanku.
"Iya, Bunda tahu kalau kamu pasti akan lakuin apa pun itu demi perempuan tua ini, tapi kamu juga nggak bisa paksa kesehatan kamu, Araz. Kamu harus jaga diri baik-baik biar selalu sehat. Jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi," imbuh perempuan setengah baya itu sambil menahan mendung di wajahnya agar tidak menjadi hujan. Bagaimanapun, aku yakin bunda pasti merindukan kehadiran sang buah hati di tengah-tengah keluarga mereka.
__ADS_1
Ayah merangkul bahu perempuan itu. Memberikan kekuatan yang terasa begitu hangat di mataku. Aku bahkan bisa merasakan mereka saling memberikan kekuatan lewat pelukan. Setidaknya Arez beruntung, ia tumbuh di tengah keluarga yang begitu hangat. Kehangatan yang sudah lama tak pernah kurasakan.
"Sudah, lanjut dulu makannya. Harusnya kita nggak ngobrolin hal sedih di meja makan 'kan?" ucap Ayah begitu Bunda terlihat lebih tenang.
Kami melanjutkan makan dalam diam. Meski lidahku terasa pahit saat menyadari perempuan itu mencoba begitu tegar atas kehilangan anak semata wayangnya. Mungkinkah mama juga merasakan hal sama?
Heh, entahlah. Aku sudah lama kehilangan rumah yang memberikan cinta dan kehangatan. Sebab aku rajawali yang dipaksa terbang dari ketinggian oleh sang induk. Dipaksa belajar bertahan hidup seorang diri dari dunia yang semakin kejam.
***
Tidurku gelisah. Sudah sejak pukul 09.00 malam tadi aku pamit pada bunda untuk tidur lebih awal. Nyatanya sampai menjelang pukul 11.00 malam, mataku belum juga terpejam. Ada hal yang menganggu pikiranku. Masih tentang Arez.
Aku memutuskan membuka membuka ruang obrolan chatku dengan araz. Memastikan apakah lelaki itu masih terjaga atau sudah terbuai oleh mimpi-mimpi.
Anya
Mas, udah tidur?
Tak ada balasan dari chat yang kukirim. Cukup lama aku menunggu, sampai akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan ulang kepada Araz. Masih juga belum ada balasan. Hingga lima menit kemudian lampu notifikasi gawaiku berkedip. Satu pesan dari Araz muncul di layar gawai enam inchi lebih itu.
Alcatraz
Belum, aku baru aja bikin coklat panas biar bisa tidur. Mau?
Anya
Alcatraz
Dapur. Kamu tunggu di ruang keluarga aja. Atau mau bantuin aku? Aku yakin sih bukannya bantu kamu malah ngacauin dapur.
Anya
Enak aja, aku bisa masak kok kalau cuma air.
Alcatraz
Itu sih balita juga bisa, Kanya.
Anya
Dih, serius Mas, aku bisa masak. Kapan-kapan deh aku masakin buat Mas Araz, tapi jangan diketawain ya. Soalnya nggak seenak masakan Mas Araz.
__ADS_1
Alcatraz
Iya deh. Jadi mau coklat panas nggak? Kok di ruang keluarga nggak ada orang? Atau mau aku antar ke kamar?
Apa? Jadi lelaki itu serius saat bilang sedang membuat coklat panas? Aku tidak tahu jika Araz memiliki kebiasaan membuat sesuatu yang mengenyangkan jika tidak bisa tidur. Apa pula katanya? Mau mengantar coklat ke kamar? Tidak, tidak. Sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, aku bangun dari tempat tidur dan keluar dari kamar Arez. Lelaki itu sudah berdiri di balik pintu kamar sambil membawa dua gelas coklat panas dengan campuran aroma mint segar.
Mint?
Astaga, aku baru menyadari jika itu aroma tubuh lelaki yang berdiri di hadapanku.
"Delivery midnight Anda sudah datang, Tuan."
"Makasih. Aku pikir Mas Araz cuma bercanda waktu bilang lagi bikin coklat," kataku sambil menerima uluran gelas berisi coklat dari Araz. Lelaki itu hanya tersenyum sambil mengusap pucuk kepalaku.
"Apa sekarang titel pembohong udah melekat buat aku?" tanya Araz mengulum senyum.
"Yah, nggak gitu juga sih. Cuma ini udah malam banget buat nikmati segelas coklat panas."
"Udah kebiasaan kalau nggak bisa tidur. Mau minum bir atau rokok juga nggak bisa 'kan. Ya udah bikin coklat ajalah buat ngilangin penat."
Lelaki itu berjalan ke arah sofa ruang tamu. Membiarkan lampunya tetap padam. Ruangan itu cukup temaram dari lampu duduk yang diletakkan di atas meja di sudut ruangan. Juga sorot lampu dari taman.
Araz duduk sambil meluruskan kakinya di atas sofa panjang. Sedangkan aku memilih duduk agak jauh darinya. Sungguh, aku tidak berharap peristiwa-peristiwa yang lalu terjadi lagi jika dekat dengannya. Meski aku juga tak sanggup menolak. Hanya saja harus ada yang kupastikan agar semua menjadi jelas.
"Sebenarnya ada hal yang mau aku tanyakan sama Mas Araz."
"Tentang Arez?" Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan lelaki itu. Senyuman yang meninggalkan kerut di ujung matanya itu, terukir di bibir Araz. "Aku bakal dengan senang hati jawab pertanyaan kamu selama aku sanggup, Kanya."
"Ehm, sebenarnya aku penasaran apa maksud Mas Araz bilang kalau..." Kalimatku terjeda. Kupandangi diam-diam wajah Araz di temaram cahaya lampu ruang keluarga rumah Arez. Entahlah, aku masih tak bisa menerka takdir yang begitu rumit.
"Ya?"
"...kalau Mas Araz... Arghh, Mas Araz pasti tahu maksud aku."
"Nggak Kanya, aku nggak mungkin tahu maksud kamu kalau kamu nggak kasih tahu," jawab Araz jelas sekali dia sedang menggodaku. Lelaki itu tahu benar apa yang ingin aku tanyakan.
"Mas Araz, plis..."
"Ya aku nggak tahu kamu mau ngomong apa, Nya."
"Soal tadi siang, waktu Mas Araz bilang kalau Arez... Mas, aku malu."
__ADS_1
Araz tertawa pelan melihat yang kegugupanku. Padahal aku tidak sedang menyatakan cinta, tapi tatapan mata Araz membuat separuh otakku tidak bisa berpikir jernih. Apa susahnya bilang,"Apa maksud Arez bilang kalau lelaki itu tidak boleh jatuh cinta pada perempuan lain?" Sudah, habis perkara. Namun ternyata, kalimat itu tak juga terucap dari bibirku. Lidahku kelu hanya dengan menatap sorot matanya yang memikat.
Oh Tuhan, aku sungguh terjebak dalam penjara yang menakutkan itu. Alcatraz.