Pulang

Pulang
Panggilan


__ADS_3

Renjana Alcatraz


"Jangan pergi!" pinta Kanya dengan mata terpejam.


"Ini sudah malam, Kanya. Bisa bahaya kalau aku tetap di sini," balasku meski tak yakin apakah Kanya mendengarnya atau tidak. Namun, aku pernah mengajaknya bicara saat perempuan itu tertidur dan dia dengan lancar menjawab semua pertanyaanku.


"Plis, jangan pergi!"


Kali ini Kanya merengek dibarengi dengan adegan menarik tanganku, hingga membuatku terjatuh di tempat tidur. Jika aku tak bisa menjaga keseimbanganku, sudah pasti akan menimpa tubuh Kanya. Untung aku cukup terlatih dan menggunakan siku untuk menopang berat badanku.


"Besok pagi aku akan ke sini lagi. Aku buatkan makanan hangat yang bisa bikin sakit kamu reda. Oke."


Kanya tak menjawab, tapi juga tak melepaskan genggaman tanganku. Aku tersenyum. Malam ini, aku melihat begitu banyak sisi lain kepribadian Kanya yang selama ini belum pernah dia tunjukkan. Senyumku mengembang. Sedang hatiku terasa hangat.


Pada akhirnya aku tidak jadi pulang ketika Kanya mengigau tengah malam. Sesaat setelah aku memindahkannya ke tempat tidur. Perempuan itu beberapa kali mengeluhkan jika perutnya sakit dengan mata terpejam. Bahkan dia terlihat begitu gelisah dan tak nyaman dalam tidurnya.


Sesekali aku mengganti kompres di perutnya dengan air hangat yang baru. Sekaligus menahannya agar tepat ke pusat rasa nyeri. Meski sebenarnya aku pun tak begitu yakin, apakah benar bagian yang kukompres yang dirasakan nyeri oleh Kanya. Perempuan itu bahkan memintaku diam saat aku bertanya pada bagian mana rasa nyeri yang dia rasakan.


Hampir pukul 03.00 dini hari, ketika Kanya tertidur pulas tanpa mengeluh ataupun bergerak gelisah. Aku membetulkan letak selimutnya dan merebahkan tubuh di sofa ruang tamu. Mataku benar-benar terasa berat setelah berusaha untuk tidak terpejam.


Namun, belum lama rasanya aku tertidur, sudah dibangunkan oleh dering telepon yang bukan berasal dari milikku. Dengan mata masih setengah terpejam, aku mencari letak sumber suara yang menganggu tidurku. Suaranya berasal dari rak buku yang menjadi pembatas ruang tamu dengan dapur. Gawai milik Kanya.


Pukul 04.30 pagi saat retina mataku menangkap jam di dinding ruang tamu apartemen Kanya. Siapa sih yang telepon subuh-subuh gini? Menganggu orang tidur saja.


Dering masih saja berbunyi saat aku menemukan gawai keluaran terbaru dari salah satu merek terkenal itu. Namun, dari segala kecanggihan gawai itu, justru si peneleponlah yang membuatku terjaga sepenuhnya. Nama asing muncul di layar gawai dengan sebutan My Destiny ♥.


Didorong rasa tak nyaman yang diam-diam mengusik pikiran juga hatiku, aku menjawab telepon yang seharusnya tak boleh kulakukan tanpa seizin Kanya. Namun aku cukup penasaran dengan siapa pemilik nama kontak yang ditulis begitu spesial oleh perempuan yang kini menjadi pacarku. Ah, sial. Harusnya aku memintanya jadi istriku saja. Daripada harus merasakan cemburu berlebih hanya karena sebuah nama di kontak gawai.


"Halo," jawabku pada akhirnya. Setelah meredam amarah yang diam-diam membakarku.


"Siapa nih? Kok suara cowok?"

__ADS_1


Pertanyaan dari seberang justru membuatku semakin tak mampu menahan amarah. Dia yang telepon Kanya pagi-pagi buta, justru yang bertanya siapa aku ketika menjawabnya.


"Harusnya gue yang tanya siapa lo, telepon istri gue pagi-pagi buta."


Sungguh, aku menyesal seketika saat kalimat itu meluncur dari mulutku. Menyadari kenyataan bahwa mungkin saja di seberang sana bukanlah orang biasa. Melainkan seseorang yang kenal akrab dengan Kanya.


Kecurigaanku terbukti. Lelaki itu terbahak saat mendengar pernyataanku. Mungkinkah Damar? Tidak, jika memang Damar, aku pasti bisa menebak suaranya. Mungkinkah... Putra? Tidak mungkin juga. Aku akrab dengan suara Putra. Apalagi setelah lelaki itu bersama bandnya menjadi artis pendatang baru yang sedang naik daun akhir-akhir ini. Suaranya sering diputar di radio maupun TV nasional. Jika bukan, lantas siapa yang menyandang nama semanis itu di kontak telepon Kanya?


"Sori Bung, gue tau ini masih terlalu pagi dan lo bisa aja masih bermimpi, tapi ini lebih penting daripada gue harus ladenin halusinasi lo. Di mana Kanya?"


"Dia masih tidur."


"Kalau gitu bangunin, gue butuh ngomong sama dia."


"Bisa ngobrol sama gue kalau emang penting. Nanti bakal gue sampaikan kalau dia bangun."


"Astaga, heran gue sama Kanya. Punya pacar sama-sama posesifnya. Oke, terserah mau lo. Gue mau sampaikan kalau Putra kecelakaan. Sekarang lagi ditangani di IGD dan kondisinya lumayan parah. Jadi, tolong bangunkan Kanya karena cuma dia satu-satunya keluarga dekat Putra di Jakarta. Makasih."


Tuttt... Sambungan telepon terputus setelah sosok di seberang sana mengucapkan terima kasih. Tak lama kemudian, sebuah chat dari nama yang sama muncul di layar gawai mengirimkan alamat rumah sakit tempat Putra dirawat.


Lantas bagaimana aku harus menyampaikannya pada Kanya? Jika setiap kali bertemu Putra, perempuan itu selalu saja menghindar?


Hampir setengah jam aku memikirkannya. Meski masih ragu dengan reaksi Kanya dan perasaan gundah akibat sebuah nama di kontak gawai perempuan itu, aku memutuskan membangunkan Kanya yang masih tidur meringkuk seperti terakhir kali aku meninggalkannya.


Kubelai wajahnya yang terlihat tenang saat memejamkan mata. Entah mengapa, ada perasaan ragu yang diam-diam mengusik hatiku. Mungkinkah Kanya benar-benar mencintaiku saat memutuskan menerima pengakuanku? Jika memang iya, mengapa ada sebuah nama yang tersimpan spesial di kontak teleponnya. Atau hanya aku yang terlalu cemburu berlebihan?


"Hei, selamat pagi," ucapku saat Kanya membuka mata akibat sentuhanku di pipinya. Dia tersenyum. Lantas menarik tanganku dan menjadikannya tumpuan. "Tidurmu nyenyak?"


"Iya, bahkan sepagi ini aku masih bermimpi ketemu Mas Araz."


Ujung bibir mengembang. Sepertinya Kanya belum sepenuhnya sadar.

__ADS_1


"Kamu nggak lagi mimpi, Sayang. Ini beneran aku. Kamu nggak ingat kalau semalam kamu nggak izinin aku pulang?"


Mendengar ucapanku, Kanya refleks terbangun dan menatapku sambil mengerjapkan mata. Sementara tangannya sibuk merapikan riap-riap rambut yang menghalangi pandangan. Begitu menggemaskan. Padahal dia tetap saja terlihat cantik meski dengan rambut berantakan ketika bangun tidur.


"Jadi Mas Araz semalaman di sini?"


"Ya nggak juga, aku tidur di sofa ruang tamu," kataku menjawab pertanyaan Kanya yang terdengar ambigu.


"Oh..."


"Udah, oh aja? Nggak ada ucapan atau kiss selamat pagi gitu?" godaku membuat pipi Kanya bersemu. Perempuan itu, mudah sekali tersipu. Sedangkan dengan gemas aku mencubit ujung hidungnya. "Mandi dulu, aku mau Subuh. Ada hal yang mau aku sampaikan setelah itu."


"Apa?"


"Nanti aja. Biar kita bisa sama-sama tenang hadapinnya. Nggak terlalu emosi atau terburu-buru," kataku sambil menepuk pucuk kepala Kanya. Padahal sesungguhnya, akulah yang tidak siap untuk menyampaikan kabar sebenarnya kepada Kanya. Lebih tepatnya aku takut melihat reaksi Kanya saat mendengar kabar jika Putra mengalami kecelakaan.


***


Selepas Subuh, Kanya sudah rapi dengan dress selutut berbahan kaus warna abu-abu yang terlihat kasual. Sedangkan harum sabun bercampur sampo menguar dari tubuhnya setiap kali dia bergerak. Wajahnya terlihat segar meski tanpa polesan make up. Hanya lipstik tipis warna merah jambu yang menghiasi bibirnya. Dia sedang sibuk membuat roti bakar dan dua gelas susu vanila yang terlihat masih mengepul di meja makan.


"Sori, aku nggak ahli masak kayak Mas Araz, tapi kalau urusan roti bakar, jangan khawatir. Aku bisa bikin yang enak. Adanya selai coklat. Mas Araz makan coklat 'kan?"


"Aku makan segalanya kok. Makan kamu juga kalau diizinin," godaku lagi-lagi membuat Kanya tersipu. Sungguh melihatnya begitu malu-malu membuatku gemas dan ingin sekali mencubit pipinya setiap kali pipi Kanya bersemu.


"Jadi, Mas Araz mau bilang apa?" tanya Kanya sambil mengulurkan sepiring roti bakar di hadapanku. Dari aromanya memang terlihat lezat.


"Sori sebelumnya, tadi aku angkat telepon kamu dari seseorang yang..." Ragu-ragu aku melanjutkan kalimatku. "Nama kontaknya My Destiny." Gerakan mengunyah Kanya terhenti saat mendengar ucapanku. Namun, dia tak mengatakan apa pun sampai aku melanjutkan kalimatku. "Dia bilang kalau Putra mengalami kecelakaan dan sekarang masih ditangani di rumah sakit."


"Putra? Sekarang dia di rumah sakit mana? Kenapa Mas Araz baru bilang sekarang sih kalau ternyata yang mau disampaikan sepenting ini?"


Reaksi Kanya yang di luar bayanganku, membuatku terkejut. Aku tak pernah menyangka jika perempuan itu akan begitu panik saat mendengar kabar bahwa Putra kecelakaan. Dalam bayanganku, Kanya akan mengutuk lelaki itu dan tak akan peduli sama sekali. Namun, reaksinya justru berkebalikan dengan yang kubayangkan. Apakah sesuatu telah kulewati saat aku tidak sedang bersama Kanya?

__ADS_1


"Mas, kok diem aja sih? Putra dirawat di rumah sakit mana?"


"Aku antar!" kataku tegas sambil meletakkan roti bakar yang baru segigit kumakan. Selera makanku hilang. Dan ada yang diam-diam lagi membakar hatiku.


__ADS_2