Pulang

Pulang
Season 2 #Ajakan Makan Siang


__ADS_3

"Loh, Nya? Udah dateng? Berarti tadi si artis dari sini?" Hanung menyapa sang anak buah yang terlihat sedang sibuk menata meja kerjanya.


"Si artis?"


Kening perempuan itu berkerut. Tidak memahami ucapan sang kepala redaksi yang merujuk pada "si artis". Sebab, seingat perempuan itu, mereka tidak pernah membicarakan seseorang dan menyebutnya sebagai si artis.


Bahkan Kanya tidak berpikiran bahwa "si artis" yang disebutkan Hanung oleh adalah Putra. Dan kemungkinan mereka bertemu di lobi ataupun tempat parkir.


"Iya, si vokalis Nada Sumbang."


"Oh...Putra maksudnya? Iya, sih. Mas Hanung kok tahu?" Kanya balik bertanya dengan tatapan heran.


"Elah, Nya. Nada Sumbang lagi dikenal sejagat Indonesia. Gimana bisa gue nggak tahu."


"Bukan itu. Maksud gue, kok Mas Hanung tahu kalau dia dari sini? Kan bisa jadi dia punya urusan lain gitu?" tanya Kanya semakin heran.


Seingat perempuan itu, dia tidak pernah bercerita tentang hubungannya dengan Putra. Atau memang entah dia yang lupa. Tapi, fakta bahwa Hanung mengetahui jika dirinya memiliki hubungan dengan Putra, cukup mengejutkan bagi Kanya.


"Lo sadar tanya gitu?" Hanung justru balik bertanya sebagai tanggapan.


"Eh? Memang aku salah tanya?"


Dengan gemas Hanung mendekati perempuan itu dan menjitak kepalanya.


"Mas Hanung! Apaan sih, sakit tahu," keluh perempuan itu dengan suara keras.


Dia tidak mengada-ada ketika mengatakan sakit. Karena bekas jitakan laki-laki itu di keningnya memang meninggalkan rasa sakit.


"Heran gue, sejak pacaran sama Araz kok lo jadi bloon gini sih?" ucap laki-laki itu tanpa kontrol. Mulutnya dengan tajam mengatai sang anak buah.


"Ya gue kan tanya karena nggak ngerti, Mas. Ini malah ngejitak kepala orang sembarangan."


"Ya harusnya lo kan tahu, sekalipun lo nggak pernah cerita sama gue, tapi kan gue sahabat karib pacar lo, Kanya."


"Oh, jadi dia yang cerita sama, Mas Hanung?"


"Bukan, Shinta yang cerita sama gue."


"Kok malah, Mbak Shinta? Emang Mbak Shinta, tahu dari siapa?" Kanya semakin tidak memahami maksud ucapan sang kepala redaksi yang kini sedang menggaruk-garuk kepala.


Perempuan itu pun tidak tahu pasti, apa yang membuat Hanung menggaruk kepalanya.


"Busyet deh nih anak. Serah lo deh, Nya."


"Lah, gimana sih? Kok malah terserah gue? Kan Mas Hanung, yang ngomong dari tadi," protes Kanya membuat Hanung semakin keras menggaruk kepalanya.


"Ck, heran gue sama lo. Bisa-bisanya jadi bloon gitu sejak pacaran sama...."


"Ssttt... Bisa diam nggak tuh mulut. Anda jangan asal mangap aja ya kalau ngomong! Tempat umum nih, Bos. Bisa mampus mendadak gue kalau ada yang tahu," ucap Kanya memotong pembicaraan sang kepala redaksi.

__ADS_1


Dia bahkan mengangkat tangan kanannya supaya Hanung tidak melanjutkan kalimat yang bakal diucapkan laki-laki itu.


"Kenapa sih?"


"Ya soal itu jangan disebut namanya juga dong, Bos. Mau bikin musuhku di sini makin banyak?"


Hanung menggelengkan kepala. Dia tidak tahu dengan cara berpikir Kanya maupun sahabat karib laki-laki itu.


Sang pemilik perusahaan MediaPena, CEO, orang nomor satu di perusahaan ini, apa yang membuat Kanya tidak mau mengungkapkan hubungannya dengan Araz pada semua orang?


Harusnya perempuan itu justru memanfaatkan privilege tersebut untuk membuat orang-orang agar tidak bisa semena-mena dengannya.


Tapi, Kanya justru menyembunyikan fakta tersebut dari semua orang.


"Ini nih, makin bikin gue heran aja nih. Bisa-bisanya kalian backstreet. Kayak anak SMA aja."


"Eh, kita backstreet cuma di sini doang ya. Ortu udah sama-sama tahu," kata perempuan itu sambil menjulurkan lidah.


Bagi Kanya, lebih membanggakan ketika kedua orang tua sudah saling setuju dan mendukung. Ketimbang orang lain yang mendukung hubungan mereka, tapi tidak dengan orang tua keduanya.


"Bangga amat, Non?"


"Iyalah. Jadi nggak perlu repot memohon restu."


Seketika Hanung tertawa puas saat mendengar pernyataan Kanya.


"Haha...iya, iya. Calon mantu yang udah dikenalin sama mama-papa mertua," ledek Hanung tidak membuat Kanya kesal. Karena nyatanya, dia memang sudah dikenalkan kepada kedua orang tua Araz.


Kanya mendengus kesal.


"Mas Hanung kan tahu, nggak ngapa-ngapain aja gue udah digosipin macem-macem. Gimana kalau sampai mereka tahu? Bakal jadi musuh semua orang dong gue?"


"Tumben peduli. Lagian apa sih yang lo khawatirin? Takut dibilang nepotisme, gara-gara masuk setelah penerimaan karyawan baru ditutup?"


"Ya lo kan tahu Mas, gimana mulut para nitijen yang terhormat dan yang paling maha benar itu. Males ah cari ribut sama mereka. Gue mau kehidupan kantor gue di sini aman, tenteram, dan damai."


"Mimpi lo!" ucap Hanung dengan senyuman jahat membingkai wajahnya.


"Iya sih, kalau bos gue kayak Satan, mana bisa kehidupan kantor gue bakal aman, tenteram, dan damai."


Ucapan Kanya sukses membuat Hanung menjitak kepala perempuan itu sekali lagi. Kali ini lebih keras dan membuat perempuan itu mengaduh.


"Aduh, sakit kali ini, Mas. Emang bener-bener Bos Satan sih kalau gini."


"Udah, balik kerja. Siapkan materi buat hari ini. Gue tunggu. Kita rapat redaksi begitu yang lain datang."


Kanya menirukan gaya bicara sang kepala redaksi begitu laki-laki itu meninggalkan mejanya.


"Oh ya, bahan buat deep news siapkan juga ya. Cari materi apa gitu kek yang menarik. Gue kasih kesempatan buat main ke lapangan lo. Biar nggak bertapa mulu di kantor."

__ADS_1


Kanya seketika berdiri dari tempat duduknya. Wajah perempuan itu benar-benar terlihat kesal kali ini.


"Kok gitu? Kan nggak perintah di rapat redaksi kemarin?"


"Ini gue baru kasih perintah," ucap Hanung sama sekali tidak berperasaan.


Bagaimana bisa Kanya menyiapkan materi dalam beberapa menit sebelum rapat?


Perlakuan Hanung kali ini, benar-benar membuatnya kesal.


Perempuan itu menghempaskan pantatnya ke kursi dan menggerutu karena kesal. Dia bahkan tidak menyadari jika sejak tadi, seseorang sedang mengamatinya dari pintu masuk ruang redaksi.


"Ehm...."


Deheman yang terdengar serak dan berat itu membuat Kanya menoleh ke sumber suara. Wajah perempuan itu mendadak pucat saat menyadari Araz sedang berdiri di depan pintu.


"Nah loh, mampus gue," bisik Kanya pada dirinya sendiri.


Dia sama sekali tidak menyadari jika sang kekasih sudah berdiri di sana dan sedang mengamatinya. Entah sudah berapa lama.


Mungkin sejak Hanung memberikan materi padanya. Bisa jadi lebih lama dan mereka tidak menyadari.


Dengan begitu, bisa jadi laki-laki itu mendengar seluruh pembicaraannya bersama Hanung.


Kanya memaksakan senyum di wajahnya. Kaku. Apalagi ketika Araz berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di depan perempuan itu. Jarak mereka sangat dekat hingga membuat napas Kanya terasa sesak.


"Ma...Mas Araz, kita bisa bikin orang lain...salah paham," ucap Kanya dengan suara serak. Dia benar-benar mati kutu.


"Biar aja. Biar mereka semua tahu kalau aku pacar kamu. Ah, bukan, harusnya biar mereka tahu kalau aku calon suami kamu. Dan yang paling penting, biar semua orang tahu, kalau kamu calon istriku. Dengan begitu, mereka nggak bakal berani macem-macem sama kamu."


Kanya menarik ujung bibirnya. Senyum perempuan itu benar-benar terlihat sangat kaku.


"Haha...Mas Araz...dengar semua obrolanku sama...Mas Hanung?"


"Oh ya, tentu saja. Bisa-bisanya ada orang yang udah bikin pacarku susah dan...."


"Morniiing..." Sapaan Destia - salah satu karyawan bagian pemasaran - yang begitu tiba-tiba ketika memasuki ruangan, membuat keduanya terkejut.


Seketika kedua orang itu saling menjauh dan berusaha agar terlihat tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


"Eh, ada Pak Araz. Pagi, Pak. Saya mau ada urusan sama, Kanya. Tapi, kayaknya kalian lagi...ngobrol penting," ucap Destia seolah menangkap yang terjadi di antara keduanya.


"Eh, ah, bukan. Nggak. Pak Araz cuma mau bilang kalau dia ngajakin makan siang."


Tatapan Destia makin curiga.


"Ya, makan siang bareng satu kantor maksudnya." Araz yang tampak salah tingkah dengan cepat menambahkan.


"Yes, jatah makan siang gue aman hari ini!" teriak Hanung dari ruangan terpisah.

__ADS_1


"Mampus sudah," bisik Kanya pada dirinya sendiri.


Sedangkan Destia tetap menatap keduanya dengan sorot mata curiga.


__ADS_2