Pulang

Pulang
Season 2 #Tak Bisa Menghindar


__ADS_3

Sepanjang hari, Kanya selalu mencari alasan agar tidak berpapasan apalagi sampai bertemu dengan Araz. Bahkan ketika harus menyerahkan berkas pada tim periklanan pun - bertepatan saat laki-laki itu berada di dalam ruangan tersebut - dia memilih jalan memutar dan menundanya untuk masuk ke dalam ruangan.


Tidak hanya itu, Kanya harus membatalkan keinginannya membuat kopi di pantry untuk menghilangkan kantuk, ketika melihat lelaki itu sedang menyeduh teh bersama Hanung. Dia lebihh memilih memesan kopi melalui ojek online demi menghindari Araz.


Beruntung Hanung tidak sempat melihatnya saat dia menuju pantry. Kalau saja Hanung memergoki Kanya, pasti tak akan bisa membuatnya berkutik.


Saat laki-laki itu masuk ke ruangannya sekalipun, dia sempat mendatangi meja Kanya dan bertanya pada anak buahnya itu.


"Lo kenapa sih sama Araz?"


"Hah?" Kanya tersentak. Pertanyaan Hanung cukup membuatnya kaget.


Namun, dia memilih untuk pura-pura tidak mengetahui maksud ucapan Hanung.


"Iya, lo sama Araz kenapa?" Hanung mengulangi pertanyaannya.


"Apanya yang kenapa sih, Mas? Memang gue kenapa?"


"Hilih. Ngeles aja. Nggak elo nggak Araz, pinter banget memang kalau disuruh akting."


Kening Kanya berkerut. Dia tetap berlagak tidak tahu dengan maksud ucapan Hanung.


"Apaan sih, Mas? Gue beneran nggak ngerti loh ini. Gue sama Mas Araz nggak kenapa-kenapa kok. Memang gimana kelihatannya?"


Senyum jahil mengembang di wajah sang kepala redaksi MediaPena. Laki-laki itu mendekat ke arah Kanya dan melewati penyekat yang membatasi meja perempuan itu.


"Sikap kalian seperti Adam dan Hawa setelah ketahuan memakan buah khuldi."


"Astaghfirullah." Seruan Kanya sontak membuat Hanung terkejut.


Dia bahkan menatap Kanya cukup lama. Seakan tidak memercayai pendengarnya sendiri.


Selama mengenal perempuan itu, Kanya merupakan orang yang tidak pernah menunjukkan kepercayaannya pada orang lain. Bahkan banyak yang mengira bahwa perempuan itu non muslim.


Meski sebenarnya dia merupakan seorang pemeluk teguh yang tak pernah meninggalkan ajaranNya. Walaupun dia tidak pernah menunjukkannya pada orang lain. Kanya selalu bergumam pelan dan hampir tanpa suara setiap kali beristighfar.


Justru terbalik dengan Hanung yang sering kali dianggap muslim karena sering mengucapkan istighfar setiap kali ada hal yang mengejutkan laki-laki itu.


Namun kali itu, Kanya sampai berseru cukup keras hingga membuat Hanung tersentak.


"Ngeliat reaksi lo yang sampai kayak gini, gue makin yakin kalau udah terjadi sesuatu di antara kalian!" tebak Hanung tak mau menyerah.


"Nggak usah ngadi-ngadi deh, Mas. Nggak ada. Nggak ada kejadian kayak gitu.


Bisa-bisanya bandingin sama Adam dan Hawa makan buah terlarang itu." Kanya berseru kian keras.


Dia tak lagi peduli jika saat itu sedang berada di ruangan yang penghuninya bukan cuma mereka. Ada Reihan seorang mahasiswa magang dan Farel yang mengikuti masa training mulai hari ini.

__ADS_1


Hanung justru tertawa. Sikap Kanya menunjukkan hal yang sebaliknya. Hanung yakin pasti soal hal itu.


"Haha...berarti nyaris?" kulik Hanung tak bisa berhenti mendesak sang anak buah.


"Eh, Kutil Kuda! Gue bilang nggak usah ngadi-ngadi ya!


Awas lo bahas hal ini sama Mas Araz. Gue nggak bakal kasih ampun!" Kanya merendahkan ucapannya saat mengatakan kalimat terakhir.


Dia tidak mau membuat kesan buruk di hari pertama kedua lelaki itu bergabung dengan divisi pemberitaan.


"Haha...mau lo tutupin kayak gimana pun, gue tetep aja tahu, Nya. Gue lebih pengalaman daripada kalian!" Hanung tetap tertawa puas sambil berjalan ke ruangannya.


"Sial!" umpat Kanya.


Itulah mengapa Kanya terus menghindari Araz dan juga Hanung seharian ini. Apalagi di saat kedua lelaki itu sedang berada di tempat yang sama.


Big no.


Kanya tidak mau mencari masalah atau melemparkan dirinya sendiri sebagai bahan ejekan Hanung.


Tidak akan pernah.


Dan, begitu juga sebaliknya. Araz tak cukup berani menyapa sang kekasih lebih dulu. Masih tersisa perasaan malu dalam diri laki-laki itu setelah apa yang terjadi tadi malam.


Dia tidak cukup berani jika harus berhadapan dengan Kanya. Kecuali dalam situasi tidak terduga seperti tadi pagi ketika mereka bertemu di tempat parkir.


Dia tak bisa bertindak gegabah dan memilih menghindar untuk sementara waktu.


Laki-laki itu yakin dengan sendirinya baik Araz ataupun Kanya bisa menghilangkan perasaan canggung di antara mereka.


Walaupun dia tidak yakin membutuhkan waktu berapa lama.


Namun, tanpa mereka sadari, sikap kedua orang itu sama sekali tidak luput dari perhatian Hanung. Sering kali Hanung memergoki Kanya menghindar setiap kali ada Araz.


Begitu juga sebaliknya. Bagaimana Araz menghindar setiap kali hampir berpapasan dengan Kanya.


Ketika berada di pantry pun, Hanung tak luput memperhatikan Kanya yang memilih balik kanan begitu melihat mereka berdua.


Jelas Kanya tidak hanya menghindari Araz, tetapi juga dirinya.


Apalagi setelah peristiwa tadi pagi. Tentu saja Kanya tidak akan menyerahkan dirinya untuk digoda oleh Hanung.


Laki-laki itu sudah begitu hafal dengan tabiat Kanya.


Namun, tidak dengan Kanya ataupun Araz yang belum bisa sepenuhnya memahami keisengan Hanung yang bisa saja muncul secara random.


Begitu juga saat melihat sebuah undangan tergeletak di atas meja kerjanya. Itu undangan dari salah satu deputi bidang kementerian yang akan meluncurkan sebuah program.

__ADS_1


Hanung sengaja bakal datang bersama Araz untuk mengenalkan MediaPena. Agar para pejabat terbiasa dengan media mereka yang baru jika hendak menjalin kerja sama.


Bagaimanapun Hanung dan Araz masih dikenal berasal dari media yang sudah membesarkan nama mereka sebagai wartawan senior.


Dengan senyum membingkai wajahnya, Hanung berjalan keluar ruangan. Dia mengatur raut mukanya agar tampak sedatar mungkin ketika berhadapan dengan Kanya. Meskipun dia berusaha mati-matian agar tidak tertawa.


"Nya, undangan nih. Kamu yang datang ya."


"Jam berapa, Mas?"


"Jam dua. Sepuluh menit lagi."


"Hah? Gila ah, undangan jam dua, jam segini baru dikasihkan. Sengaja ya?" protes Kanya dengan nada geram.


Meski begitu dia tetap berkemas dan menuruti perintah sang atasan untuk berangkat liputan.


"Pak Syarif yang bakal nganterin. Dia udah di stand by di lobi. Nggak usah lebai deh."


"Mas Hanung tuh, ngasih tugas ngadi-ngadi aja. Mana belum tahu lagi, program apa yang bakal mereka launching," gerutu Kanya dengan kesal.


"Haha...sori. Gue juga baru inget. Paling nggak kan ada Pak Syarif yang nganterin."


"Ck. Tahu deh. Kompensasi ya. Gue kirim lebih dari deadline."


"Iya, udah sana. Jangan lupa kasih kartu nama ke narasumber!"


"Bawel!"


Begitu menjawab pernyataan Hanung, perempuan itu langsung melesat meninggalkan ruangan.


Memang benar mobil perusahaan sudah menunggu di lobi depan.


Sayangnya Kanya melupakan satu hal. Sejak kapan reporter dikasih akomodasi mobil dinas dari perusahaan? Beserta sopir pula?


Harusnya dia segera sadar jika mobil dinas dan sopir hanya diperuntukkan bagi para petinggi perusahaan.


Sialnya Kanya tidak segera menyadari hal itu.


Dengan bergegas perempuan itu masuk ke bangku belakang dan meminta Pak Syarif segera berangkat.


"Jalan, Pak," pinta Kanya dengan nada gugup.


Tanpa menyadari bahwa di sampingnya sudah duduk orang lain yang menatapnya dengan raut tegang.


"Kanya?" sapa sosok itu seketika membuat tubuh si perempuan membeku.


Lehernya terasa kaku ketika menoleh dan mendapati Araz duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Mati aku!" gumamnya tanpa sadar. Perempuan itu tak bisa lagi menghindar.


__ADS_2