Pulang

Pulang
Nada Sumbang


__ADS_3

Renjana Putra


Putra merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu yang baru saja diantar oleh kurir. Mulai hari ini, dia dan keempat anggota Nada Sumbang lainnya, resmi tinggal di Jakarta. Tubuh lelaki itu terasa lelah setelah melewati rutinitas yang lumayan padat sejak kedatangannya beberapa hari lalu.


Sudah tiga hari terakhir Putra dan juga anggota Nada Sumbang lainnya tiba di Jakarta. Banyak hal ini itu yang harus diurus sebelum mereka memutuskan melebarkan sayap di industri musik tanah air. Ada sejumlah kontrak yang harus dipahami betul sebelum ditandatangani. Belum juga mengurus tempat yang akan menjadi basecamp selama mereka tinggal di Jakarta.


Awalnya Putra tak pernah menyangka jika band yang sudah dia bentuk sejak SMA bersama tiga temannya akan bertahan sampai saat ini. Bahkan mereka dilirik oleh sebuah lebel yang cukup terkenal, setelah bertahun-tahun bertahan di industri musik indie. Toh tanpa bergabung dalam lebel sekalipun, Nada Sumbang sudah memiliki pangsa pasar dan penggemar mereka sendiri. Hanya saja keputusan mereka untuk bergabung dalam lebel memberikan lebih banyak keuntungan di tengah maraknya musisi-musisi yang mulai bermunculan.


Arlan yang pertama kali mengenalkan Nada Sumbang dengan Bang Ugi salah satu promotor Semesta Production - lebel yang menaungi mereka saat ini. Perkembangan musik indie di daerah memang tak semaju di kota-kota besar. Iven yang melibatkan mereka pun masih terbatas. Bahkan tawaran banyak datang dari luar kota yang sudah benar-benar mengenal Nada Sumbang. Termasuk kawan sekolah maupun kuliah yang sudah tersebar di seluruh penjuru negeri dan kebetulan juga menggeluti dunia yang sama.


Dari iven-iven itulah Arlan bertemu dengan Bang Ugi yang juga menaungi Antariksa Band - salah satu musisi yang akhir-akhir ini sedang naik daun. Bukan keputusan mudah sebenarnya, memutuskan bergabung dengan Semesta Production. Apalagi menghadapi segala bentuk keras kepala Putra dan keakuannya yang begitu tinggi.


Namun lelaki itu pun tak dapat memberikan solusi ketika iven semakin sepi dan membuat Nada Sumbang kian tenggelam di antara musisi lain yang mulai bermunculan. Memang Nada Sumbang sudah banyak dikenal orang, tapi mereka juga butuh panggung lebih besar untuk menunjukkan eksistensi mereka. Tidak mudah bertahan di dunia perindustrian musik yang terus berkembang jika mereka tak mau bergerak dan menunjukkan diri.


"Ky, mobil lo udah datang nih," teriak Danu dari teras rumah yang sekaligus menjadi basecamp mereka selama di Jakarta. Hanya lelaki itu yang memanggil Putra dengan nama tengahnya. Biar Nada Sumbang selalu banyak rezeki katanya, ketika ditanya mengapa lebih suka memanggil Rizky. "Ky, elah malah tidur nih bocah. Woi, bangun. Mobil lo datang tuh."


Putra mengerjapkan mata. Diamati bayangan Danu yang masih samar tertangkap retina matanya. Temannya itu menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Putra yang masih ngantuk berat.


"Kenapa nggak lo yang terima aja sih," protes Putra setengah menguap. Rasanya ia baru saja sebentar memejamkan mata.


"Gila, itu kurir siapa yang bayar? Ogah gue nerima." Ucapan Danu membuat Putra tampak berpikir.


"Sial, perhitungan banget sih orang itu. Awas aja kalau sampai dia minta tolong," makinya kemudian saat menyadari ulah Noah yang membebankan ongkos kirim pada penerima. Meski begitu ia tetap berjalan keluar dan menerima paket mobil yang dikirim Noah setelah ia berangkat ke Jakarta. "Makasih ya, Mas. Nggak ada yang lecet kan?"


"Nggak kok, Mas. Sudah kami cek dan semua aman."


"Sip," kata Putra sambil menandatangi bukti penerima dan menyerahkannya lagi pada sang kurir. Setelah ini ia bertekad akan melanjutkan tidurnya.


"Put, mau makan apa lo?"


Kali ini suara Arlan yang mengganggunya saat Putra mencoba memejamkan mata di ayunan yang terletak di halaman samping. Ia baru saja menikmati semilir angin yang membuai matanya untuk segera terlelap. Namun lagi-lagi gagal karena ulah teman satu bandnya. Putra mengacak rambut, bagaimana ia sanggup tinggal bersama orang-orang yang suka sekali mengganggu tidurnya sampai waktu yang tak bisa ditentukan.


"Terserah, gue ikut aja kalian mau pesan apa," akhirnya ia memutuskan.


"Eh Put, Kanya di Jakarta bikin restauran?" tanya Arlan lagi tak membiarkan Putra memejamkan mata. Lelaki itu bahkan duduk di bangku taman bawah pohon mangga dan mengganggu Putra. "Put, serius tanya gue. Kanya bikin restauran di Jakarta?"

__ADS_1


"Ar, lo iseng banget sih. Gue mau tidur. Apaan juga tanya Kanya bikin restauran?" tanya Putra mulai sewot.


Sungguh ia hanya ingin tidur pulas sekarang. Setelah beberapa hari susah tidur karena ada saja ulah Nada Sumbang selain mengurus keperluan kontrak, latihan hampir tengah malam, hingga bayangan mantan yang selalu mengiris kenangan. Tubuhnya lelah. Termasuk pikirannya yang tak bisa dialihkan untuk tidak memikirkan Kanya. Jika saja rutinitasnya tak begitu padat, Putra sudah menuju tempat perempuan itu.


"Dih, sewot. Nih, ada restauran namanya Gayatri. Ya siapa tahu aja kan dia buka usaha sampingan."


Putra melotot mendengar jawaban Arlan yang dirasa tak masuk akal. Hanya karena sebuah nama, lelaki itu memancing Putra untuk mengingat sosok Kanya. Ini yang katanya mendukung untuk cepat move on? Yang ada justru mereka lah yang sering meledeknya dan membuatnya tak bisa melupakan adik tirinya itu.


"Ya 'kan siapa tahu, Put. Dia udah sukses di Jakarta, udah punya usaha sendiri, makanya nggak mau pulang. Apalagi bakal ketemu lo. Makin nggak mau lah dia."


"Bisa diem nggak?" teriak Putra sebal sambil melempar bantal sofa di ayunan ke arah Arlan. Bukannya jera, keyboardist Nada Sumbang itu justru menertawakan kemarahan Putra dan meninggalkan halaman samping.


"Kalau ada yang berani ganggu tidur gue lagi, awas aja kalian," tegasnya lagi sebelum mengambil posisi yang nyaman untuk memejamkan mata.


Anggit yang baru saja muncul di pintu pembatas ruang tengah dengan halaman samping mengurungkan niatnya. Namun tetap saja teman SMP Kanya itu melontarkan kalimat yang mungkin diharapkan oleh Putra.


"Padahal gue mau kasih info soal Kanya. Ya udah kalau lo nggak butuh," kata Anggit sambil berbalik. Belum sempat ia melangkah, Putra sudah berdiri di sampingnya dan merangkul bahu lelaki itu.


"Apa?"


"Buruan gih, lo mau kasih info apa soal Kanya?" tanya Putra pada Anggit tanpa memedulikan guyonan Danu.


"Jadi, temen gue ada yang penulis. Inget nggak lo sama Audya? Kalian pernah ketemu dulu pas di Jogja."


"Mana inget dia, Nggit. Di hati Abang cuma ada Kanya seorang," balas Arlan yang masih sibuk dengan pesanan daringnya.


"Berisik. Inget gue. Kanya pernah cerita kalau Audya suka nulis novel. Pas kita ketemu juga dia lagi nyiapin novel pertamanya. Semua Akan Jadi Debu judulnya ka..."


"Gila, momen sama Kanya sampai diinget sedetail itu loh. Giliran ngapalin lirik kalau bukan ciptaan dia susahnya minta ampun." Alfian yang sejak awal lebih banyak diam pun, ikut berkomentar. Menyudutkan Putra yang memerah wajahnya karena menahan malu.


"Bukan gitu, gue sempat dikasih lihat bukunya sama Kanya."


"Tuh kan, ujung-ujungnya juga bakal balik ke Kanya juga 'kan."


Arlan yang paling gencar menggoda Putra. Sungguh lelaki itu tak tahu, akan ada berapa banyak momen lagi bagi teman-teman satu bandnya untuk menghabisinya perkara Kanya.

__ADS_1


"Udah deh, jadi apa info yang mau lo kasih Nggit?" tanya Putra pada akhirnya kembali pada Anggit.


"Gue dapat kabar di grup alumni. Soalnya pada ramai bahas Kanya yang nggak ada di grup karena nggak ada yang punya nomornya. Kanya dulu kan populer banget, jadi banyak yang tanyain dia."


"Almira nggak kasih?"


"Ya kan lo tahu sendiri Kanya kayak gimana orangnya. Mana berani Almira kasih nomor orang sembarangan. Yang ada Almira bakal dimusuhi Kanya seumur idup. Lo tuh yang udah bikin dia berubah jadi kayak sekarang," tuduh Anggit justru membuat Putra gemas. Dia tak ingin disudutkan lagi soal Kanya.


"Iyaa, gue emang brengsek. Udah puas kalian semua?"


"Nggaklah, selama lo masih belum move on dari Kanya juga kita bakal terus ejekin lo," celetuk Arlan. "Gue pesen pizza. Ada yang mau nambah lainnya nggak?"


"Gue mau burger dong," balas Anggit menanggapi Arlan dan melupakan Putra yang menunggu kelanjutan ceritanya. Mereka terlibat transaksi pemesanan makanan daring dan benar-benar mengabaikan keberadaan Putra.


"Monyet, gue nungguin woi. Sengaja ya lo?" tanya Putra mulai murka karena diabaikan oleh Anggit.


"Santai dong, gue perlu makan biar lancar ceritanya. Mana duit buat bayar makan?" palak Anggit tanpa sungkan. Tanpa membantah, Putra mengambil dompet di saku celananya dan menyerahkan semua pada bassist Nada Sumbang itu. "Nah gini kan cakep."


"Sering-sering cari info tentang Kanya aja Nggit, biar kita bisa makan gratis tiap hari," kelekar Danu disambut sorai yang lain. Mereka semakin gencar menggoda Putra saat tahu ekspresi lelaki itu.


"Iya, gitu aja trus. Emang paling bisa manfaatin temen kalian semua," kata Putra semakin sebal oleh kelakuan personil Nada Sumbang. Rumah yang baru saja mereka tempati mulai hari ini pun pecah oleh canda tawa. "Woi, buruan cerita Monyet."


"Iya, iya. Audya bilang kalau masih sering kontak-kontakan sama Kanya. Dia pasti yang pesen pertama kali kalau Audya luncurin novel baru."


"Intinya apaan dah? Lama amat ceritanya."


"Sabar woi. Orang sabar disayang Tuhan. Karena gue yakin Kanya udah nggak sayang sama lo. Biar lo disayang Tuhan aja." Anggit justru semakin iseng menggoda Putra dan membuat lelaki itu melempar bantal sofa ke arahnya. Anggit tertawa saat menangkap bantal sofa yang dilemparkan oleh Putra. "Intinya, dia tahu alamat apartemen Kanya di mana karena sering ngirim novel ke mantan lo itu."


"Serius?"


"Ya ngapain gue bohong, Monyet."


"Trus Kanya tinggal di mana?"


"Nanti gue kirim WA, nunggu makanannya sampai. Awas aja lo tapi kalau langsung ke tempat dia. Hari ini kita mesti latihan lagi," ancam Anggit mengingat Putra bukanlah tipikal orang yang sabaran.

__ADS_1


Terbukti, wajah vokalis Nada Sumbang itu mendadak lesu saat mendengar ucapan Anggit dan pastinya menjadi bahan candaan yang lain. Begitu keseruan mereka menggoda Putra hingga tawa mereka berhenti saat pesanan makanan sudah sampai dan berlanjut ketika makan.


__ADS_2