Pulang

Pulang
Apa Jatuh Cinta Semanis ini?


__ADS_3

Renjana Kanya


Senin yang panas. Bukan hanya akibat sinar matahari, melainkan juga karena ruang rapat yang mendadak tegang. Diskusi berjalan alot tanpa sebuah mufakat. Mas Hanung bersikeras bahwa pemberitaan harus mengambil langkah antisipasi, jika sewaktu-waktu virus yang sedang ramai diperbincangkan itu - menyebar cepat.


Sementara Mas Tama - si redaktur pelaksana - memiliki pandangan lain terkait pemberitaan selama satu minggu ke depan. Dia ingin kami menggarap sektor perekonomian dan pariwisata yang mungkin saja bakal merasakan dampaknya paling cepat, jika melihat kondisi dunia yang kurang sehat akibat pandemi.


Benar-benar Senin yang melelahkan. Kedua orang itu masih saja berdebat dan belum ada tanda-tanda mencapai mufakat. Vina dan Deni yang duduk mengapit kanan-kiriku, saling senggol dengan maksud memintaku menengahi perdebatan sengit itu.


Aku menatap mereka bergantian dengan mata melotot. Bisa-bisanya melemparkanku sebagai umpan. Apakah mereka tidak tahu, masuk dalam arena perdebatan antara Mas Hanung dan Mas Tama, sama saja menjadikan diri sendiri sebagai sasaran terbaik untuk menembakkan amunisi mereka. Apalagi jika tidak mencari peluang yang tepat. Aku tak mau terlibat. Biar saja mereka beradu argumen sampai menyadari ada berpasang-pasang mata yang mengamati mereka dengan sebal.


Sebenarnya Mas Hanung dan Mas Tama jarang berselisih paham. Mas Hanung bukan tipikal pimimpin yang keras kepala dan memaksakan kehendaknya. Dia bisa dengan mudah menerima masukan dari anak buah jika memang dirasa itu perlu dan penting. Mas Tama juga begitu. Intuisinya melihat keadaan sekitar tak dapat diragukan. Hasil laporannya selalu tajam dan terencana dengan matang. Topik yang dia pilih selalu menarik dan tak cepat basi meski tersaji dua pekan kemudian.


Hanya saja, momen-momen seperti ini bisa saja terjadi dua atau tiga kali dalam sebulan. Ingin menunjukkan dan beradu kecerdasan kalau kubilang. Semua semata-mata hanya ingin terlihat jika masih memiliki eksistensi di kantor yang bergerak di bidang media cetak ini.


Deadlock. Diskusi terhenti. Masih belum menemukan kesepakatan. Sedang aku sudah tak bisa menunggu lebih lama. Apa mereka tidak tahu jika sekarang waktunya makan siang dan cacing-cacing di dalam perutku sudah protes sejak tadi?


"Maaf nih Mas, kenapa nggak semuanya aja dijadikan tajuk rencana sih? Intinya 'kan juga sama-sama tentang virus itu. Unsur antisipasi masuk, dampak ekonomi, sosial juga budaya juga masuk."


Aku tak tahan untuk tidak bersuara. Kulihat wajah-wajah yang duduk melingkari meja mendadak terlihat lega. Seperti menyerahkan harapan terakhir mereka untuk segera bebas dari ruangan panas ini, kepadaku.


Namun, tak semudah itu. Mas Hanung masih mempertahankan argumentasinya. Dia bahkan kembali menegakkan punggungnya yang semula sudah disandarkan pada kursi.


"Ya nggak bisa gitu dong, Nya. Negara kita belum ada yang terkonfirmasi positif kok. Beda lagi kalau udah ada kasus positif dong."


Aku tersenyum mendengar jawaban Mas Hanung. Sepertinya aku mulai memahami maksud lelaki itu. Mas Hanung memang hanya ingin mengajak berdebat saja. Ada kesuntukkan yang harus dia salurkan agar tidak mengendap dalam pikiran terlalu lama. Mungkin karena pekerjaan Mbak Sinta yang lebih berisiko dibandingkan dengannya yang lebih banyak berdiam diri di balik kursi. Setahuku, perempuan itu masih melakukan penerbangan ke negara-negara yang disinyalir sudah tertular virus yang berasal dari Cina itu.


"Mas, sekalipun belum terkonfirmasi positif, bagaimanapun kita juga udah ngerasain dampaknya."


"Nah, itu yang gue maksud! Kita ngomongin antisipasi karena ada dampak yang mengikuti!" Mas Tama kembali bersuara dari tempat duduknya yang berseberangan dengan Mas Hanung.


"Ya 'kan yang penting urutannya, Bro! Kita bahas antisipasinya dulu, baru dampaknya menyusul."

__ADS_1


"Lah, mana bisa gitu. Kita udah ngerasain dampaknya sekarang, Men. Bener kata, Kanya."


Perdebatan antara Mas Hanung dan Mas Tama kembali bergulir, dengan aku sebagai pemicu. Kini, tatapan sebal tidak hanya dilayangkan pada mereka, tapi juga padaku.


"Oke, saya mau tahu pendapat teman-teman. Bagaimanapun, kita juga yang bakal terjun ke lapangan, mengumpulkan dan menulis laporannya. Jadi siapa yang setuju saran Mas Hanung, Mas Tama atau keduanya seperti yang saya bilang."


"Udah gue bilang nggak bisa dilaporkan bareng, Nya," kata Mas Hanung ngeyel.


Tanpa sadar aku membuang napas panjang karena menahan jengkel dan menatapnya tajam.


"Kenapa nggak? Toh keduanya saling berkaitan. Daripada susah harus menulis laporan dua kali kenapa nggak sekalian aja sekali jalan? Lebih efisien dan hemat tenaga. Semua sektor juga bisa langsung tercakup bersamaan. Selanjutnya kita hanya perlu memperbarui setiap peristiwa yang terjadi. Tenaga nggak terbuang sia-sia dan bisa dimanfaatkan untuk menulis laporan yang lain."


Baik Mas Hanung maupun Mas Tama tak ada yang membantah. Mereka menatapku dan tujuh orang reporter lainnya, belum termasuk tiga reporter foto dan dua editor - yang duduk melingkari meja. Hingga akhirnya Mas Hanung membuat keputusan, meski raut wajahnya terlihat belum puas.


"Oke, kita pakai ide Kanya. Siapkan semua bahan mulai besok. Selanjutnya gue serahkan ke Tama," kata Mas Hanung sebelum mengakhiri rapat.


Aku bernapas lega. Diikuti pelukan Vina yang mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan jam makan siangnya. Namun, sebagai gantinya Mas Hanung memberiku tugas tambahan untuk menuliskan laporan utamanya.


***


"Nggak turun lo?" ajak Vina saat kami kembali ke meja masing-masing. Sedangkan Deni sudah menghilang lebih dulu. Lelaki itu paling tidak bisa menahan lapar.


"Nggak, gue ntar dulu deh," jawabku sambil pura-pura sibuk di depan komputer. Padahal ada sudah menyembunyikan kotak bekal di bawah mejaku.


Siapa lagi yang membuatkan kalau tidak Araz. Sesampainya di apartemenku, dia sibuk di dapur dan membuatkanku bekal makan siang. Dia sama sekali tak mengizinkan aku mengintipnya. Jadi, aku pun tak tahu apa yang sudah disiapkan Araz untukku.


"Oh, mau makan sama Abang ya?" goda Vina sambil menaik-turunkan alisnya.


Oh iya, aku lupa lagi mengabari Putra. Setelah makan, aku akan menelepon lelaki itu sebelum melaporkanku ke polisi dengan tuduhan penculikan, orang hilang, atau semacamnya.


"Ih, kepo. Udah gih sana. Keburu abis jam makan siang," kataku membuat bibir Vina cemberut. Namun, tetap saja ia beranjak dari kursinya untuk menuju kafe di lantai bawah atau mungkin deretan rumah makan tak jauh dari pusat perkantoran kami. "Btw, boleh nitip jus alpukat nggak? Kayak biasa..."

__ADS_1


"Nggak pake kental manis, nggak pake susu, sedikit gula. Udah hafal gue. Kena ongkir nih ntar."


Aku hanya tertawa menanggapi pernyataan Vina, sebelum perempuan itu benar-benar meninggalkan ruangan.


Setelah suasana benar-benar sepi, aku mengeluarkan paper bag dari bawah meja dan mengeluarkan kotak bekal berwarna biru laut yang cerah. Entah mengapa, hatiku begitu berbunga hanya dengan membuka bekal dari Araz. Ah, lelaki itu, entah sejak kapan membuat hatiku sering kali merasa gembira.


Dulu, aku sering membayangkan menjadi tokoh utama dalam serial manga ataupun anime. Di jam istirahat makan siang membuka bekal dari orang kesayangan. Tidak menyangka jika kelak akan ada momen-momen seperti itu. Nyatanya, momen itu kualami saat ini. Di hadapanku sudah terhidang bekal makan siang ala-ala komik Jepang.


Dua onigiri dibalut rumput laut yang tersenyum, sosis berbentuk gurita yang imut, egg roll bertekstur lembut, serta potongan ayam dan sayur serupa wortel, buncis, dan brokoli bercampur daun bawang yang disiram saus asam manis, menjadi paket lengkap bekal makan siangku. Diam-diam membuat pipiku terasa panas.


Sebuah pesan singkat yang diselipkan di tempat sendok dan sumpit, membuat pipiku semakin memanas. Aku tidak pernah tahu, jika Araz bisa bersikap seromantis ini. Apa benar dia belum pernah pacaran sebelumnya? Darimana dia belajar bersikap romantis seperti ini?


Iseng, aku memotret bekal makan siangku dan mengirimkannya pada Araz.


Anya


Makasih bekal makan siangnya, Mas. Btw, aku paling suka kalimatnya. Makasih.


Keperhatikan sekali lagi secarik kertas bertuliskan "Aku tahu, masakanku bisa membuatmu jatuh cinta. Jadi makanlah dan tetap mencintaiku selamanya. With love, Araz." itu dengan senyuman mengembang. Mengapa dengan membacanya saja membuat hatiku terasa hangat?


Gawai bergetar. Satu pesan dari Araz.


Alcatraz


Oh ya? Aku bisa lihat sih. Kamu sangat menikmati makan siangmu sampai-sampai membuatmu tersenyum begitu manis.


Kepalaku refleks menoleh setelah membaca pesan dari Araz. Lelaki itu berdiri di depan pintu ruangan Mas Hanung sambil melambaikan gawai ke arahku. Senyum yang membuat ujung matanya berkerut itu, tercetak di wajahnya.


Aku buru-buru menunduk. Kurasakan jantungku berdetak lebih cepat dari seharusnya. Namun, bibirku masih saja mengembangkan senyum. Astaga. Apakah jatuh cinta semanis ini?


Jika ada cermin di depanku, aku pastikan wajahku sangat merah saat ini. Araz memang tak mudah ditebak dan selalu penuh kejutan.

__ADS_1


__ADS_2