Pulang

Pulang
Season 2 #Merasa Lebih Baik


__ADS_3

Kanya memperhatikan lelaki itu dari tempat duduknya di bangku taman. Perbincangan Araz dan sang kakek belum juga selesai dan tak bisa dimungkiri bahwa terlihat jelas di wajah lelaki itu, jika dia tampak tertekan.


Meski begitu, Kanya tetap membiarkan sang kekasih memiliki ruang sendiri untuk menyelesaikan persoalannya dengan sang kakek.


Perempuan itu tidak mau terlalu mengambil peran dalam penyelesaian masalah antara Araz dan sang kepala keluarga Lee itu. Bukan karena Kanya tidak peduli, tapi dia belum siap mengetahui apa yang sedang mereka perdebatankan.


Entah bagaimana, Kanya hanya merasa jika perdebatan kakek dan cucu itu, memiliki keterikatan dengan dirinya.


Dia bahkan tak berani menduga ataupun mengambil kesimpulan yang akan membuatnya salah paham.


Namun, melihat sikap Araz yang terlihat tidak nyaman, sepertinya pembicaraan mereka cukup serius, sehingga membuat Kanya tak berani mengganggunya.


Dia hanya akan menunggu sampai lelaki itu bicara dengannya. Tentang apa pun itu yang sedang dibicarakan Araz dengan sang kakek.


Biar Araz yang nantinya membicarakan persoalan ini dengan sendirinya. Kanya tidak akan bertanya apalagi memaksa laki-laki itu untuk mengakui perbincangannya dengan sang kakek.


Namun, sampai saat pembicaraan mereka sudah berakhir sekalipun, Araz tak juga kembali dan masih duduk seorang diri di bangku taman. Cukup jauh jaraknya dari tempat Kanya berada. Meski begitu, Kanya masih bisa dengan jelas memperhatikan kekasihnya itu.


Sedangkan wajah sang kekasih menunjukkan jika dirinya tidak baik-baik saja.


"Apa aku samperin dia aja? Gimana kalau ternyata dia pengen menyendiri dulu?" gumam Kanya dalam benaknya. Dia tampak bimbang dan ragu-ragu.


Lantas urung mendekati Araz yang kembali menerima panggilan telepon tak lama kemudian.


Kanya menghela napas panjang. Dia menengadah dan menikmati cahaya matahari dari celah-celah pepohonan. Meski hal itu membuat pandangannya kabur dan menggelap.


Setidaknya dengan demikian, dia bisa melupakan sejenak pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.


"Kak Cantik, lagi apa? Aku boleh ikut duduk sini nggak?" Tiba-tiba seorang bocah perempuan - sekitar lima atau enam tahun - menghampiri Kanya yang sedang melamun.


Perempuan itu tersentak. Dia terkejut ketika mendapati bocah perempuan itu dengan raut muka menahan tangis. Meski dia berusaha untuk tetap terlihat tegar.


"Eh, adik manis, kamu kenapa? Kamu ngapain di tempat ini sendirian? Orang tua kamu mana?" Kanya balas bertanya saat melihat bocah itu sendirian.


Dia terlihat panik sambil memperhatikan keadaan sekitar. Tidak ada wanita dewasa yang tampak seperti orang tua anak perempuan itu.


"Mama lagi beli ice cream, Kak. Sebentar katanya. Kami mau makan ice cream sambil main balon.


Tapi...aku takut ditinggal sendirian. Soalnya ada om-om yang marah-marah sambil telepon di sana," bisik bocah perempuan itu di telinga Kanya.


Suaranya gemetar. Sangat jelas terdengar jika bocah itu menahan takut seperti yang dia bilang.


"Om-om?" Kanya mengulang pertanyaan si bocah perempuan.


"Iya, Kak. Serem deh. Dia marah-marah gitu di telepon. Aku jadi takut nungguin Mama sendirian."

__ADS_1


Kening Kanya berkerut. Dia tidak memahami siapa om-om yang sedang marah-marah yang disebutkan bocah itu. Tapi, tidak ada orang lain di taman tersebut selain dirinya, Araz, seorang penjual balon, dan tentu saja bocah perempuan itu.


Lagipula, ketimbang fokus pada om-om yang disebutkan bocah perempuan itu, Kanya lebih mempertanyakan ibu si gadis kecil yang meninggalkan anaknya sendirian di taman.


"Apa dia nggak takut anaknya diculik?" pikir Kanya tak habis pikir.


Namun, dia mencoba tak peduli dan kembali memperhatikan si gadis kecil yang kini mencengkeram ujung kemeja Kanya. Sepertinya gadis kecil itu memang ketakutan dengan om-om yang marah-marah yang dia sebutkan di awal.


Kening Kanya berkerut. Dia kembali bertanya-tanya, siapa sebenarnya om-om yang disebutkan bocah perempuan itu?


"Apa mungkin yang dia maksud, Mas Araz?" bisik Kanya dalam hati.


"Memang di mana om-om yang marah-marah itu?" Iseng Kanya bertanya pada bocah perempuan itu.


Dengan jari telunjuknya yang gemuk dan mungil, bocah perempuan itu menunjuk ke arah tempat duduk Araz yang masih menjawab telepon sang kakek.


Kanya menahan tawa saat tahu dugaannya benar.


Sepertinya memang benar jika persoalan yang dihadapi sang kekasih cukup serius. Namun, bukan itu yang membuat Kanya menahan tawa. Ucapan bocah perempuan itulah yang membuatnya ingin tertawa.


"Kenapa Kakak Cantik, ketawa?" tanya bocah itu dengan polosnya.


"Ah, maaf ya. Kakak cuma ngerasa lucu aja, soalnya Kakak kenal sama om-om yang kamu bilang lagi marah-marah itu.


Aslinya dia baik kok. Nggak nyeremin kayak yang kamu bilang. Tapi mungkin, omnya lagi banyak masalah, jadinya pengen marah-marah mulu deh."


Senyum membingkai wajah Kanya. Dia membelai rambut bocah itu yang terasa lembut saat bersentuhan dengan jemarinya.


"Nggak dong. Kan marah juga emosi yang wajar buat manusia. Adik manis, kalau lagi kesel sama orang, pasti juga pernah marah kan?


Tapi, apa Mama atau Papa, Adik Manis takut sama kamu? Nggak kan?


Gitu juga sama Kakak. Kakak nggak takut kok kalau omnya marah-marah. Karena itu salah satu cara supaya omnya merasa lebih baik.


Yang penting, dia nggak marah sama Kakak ataupun Adik Manis kan?"


Sepertinya, bocah itu memahami ucapan Kanya. Dia tersenyum dan tak lagi menunjukkan ekspresi muka ketakutan. Dia bahkan mengajak bermain balon sampai seorang wanita menghampiri mereka.


"Cilla, astaga, Nak. Kan Mama bilang buat nggak main sama orang sembarangan," ucap wanita itu dengan wajah panik sekaligus kesal.


Kalau saja di hadapannya tidak ada anak kecil, ingin sekali Kanya menjawabi ucapan wanita itu.


Dia yang meninggalkan anaknya sembarangan, tapi menuduh orang lain seakan hendak berbuat jahat pada anaknya.


Namun, Kanya memilih untuk menghadapi dengan kepala dingin.

__ADS_1


"Maaf Tan, tadi Cilla takut karena ditinggal sendirian. Makanya dia nyamperin saya. Maaf kalau bikin Tante nggak nyaman."


"Oh...iya, makasih," ucap wanita itu tak juga menyadari jika dirinya sudah melakukan kesalahan dengan meninggalkan anaknya sendirian.


Kanya hanya tersenyum menanggapi ucapan sengak wanita itu.


"Yuk, Cilla. Kita pergi," ajak wanita itu sambil menarik tangan Cilla pergi.


Lagi-lagi Kanya hanya menghela napas panjang.


"Bener-bener deh tuh orang," ucapnya sebal dalam hati. "Beruntung anaknya nggak niru kayak gitu," imbuhnya masih dalam hati.


Perempuan itu menjadi julid akibat sikap si wanita yang sudah meninggalkan anaknya sembarangan, tapi justru menuduhnya sebagai pelaku kejahatan.


"Daahh...Kakak Cantik," sapa bocah perempuan itu sebelum meninggalkan Kanya.


"Daahh...." Kanya balas melambai. Pura-pura tersenyum meski sebenarnya menahan kesal.


"Bisa-bisanya ada ibu kayak gitu," keluh Kanya sampai dia tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari jauh.


Perempuan itu kesal dengan sikap sang ibu yang menyebalkan.


Barulah beberapa saat, sosok itu mendekati Kanya yang kembali melamun di bangku taman tempatnya duduk menunggu Araz.


"Hai, Kakak Cantik, sendirian aja nih? Boleh aku temenin nggak?" sapa lelaki itu.


Kanya menoleh dan mendapati Araz sudah berdiri di sampingnya sambil memegang balon.


"Mas Araz, ngapain?" tanya perempuan itu refleks menutup mulutnya dengan tangan. Dia menahan senyum haru sekaligus tersipu malu.


"Kasih Kakak Cantik ini balon, soalnya kasihan duduk di taman sendirian." Lelaki itu mengembangkan senyum di wajahnya, meski terlihat sangat buruk.


"Kok nggak diambil sih?" tanya Araz masih terus mengulurkan balon pada sang kekasih.


"Ya...masalahnya aku bukan anak kecil sih."


"Hemm...jadi, aku lepas aja nih balon?" ucap Araz sambil pura-pura hendak melepaskan balon di tangannya.


"Eh, eh...jangan dong! Sini buat aku balonnya," ujar Kanya sambil meraih balon dari tangan Araz.


"Tuh, udah aku terima dengan aman," imbuh perempuan itu membuat senyum membingkai wajah sang kekasih.


"Makasih, ya."


"Lah, kok Mas Araz yang bilang makasih?"

__ADS_1


"Iya, berkat kamu aku jadi merasa lebih baik."


Kanya tidak tahu, apa yang dimaksud baik oleh laki-laki itu. Jika wajahnya saja masih terlihat sangat buruk.


__ADS_2