
Renjana Kanya
Aroma tanah basah dan harum pucuk dedaunan teh mengusik indera penciumanku. Hawa dingin yang bukan berasal dari AC juga menyapa lembut kulit wajahku. Setelah mengumpulkan kesadaran aku bisa melihat megahnya kaki Gunung Gede yang masih berselimut kabut. Sedangkan sejauh mata memandang, di kanan-kiri jalan membentang perkebunan teh yang tampak asri.
Aku menggeliat demi meregangkan otot dan tulang punggungku yang terasa kaku. Tanpa sadar jika di sebelahku duduk lelaki yang sejak pagi sudah menjadi tawananku, akibat menyita waktunya untuk menemaniku hingga ke Sukabumi. Ah, sebenarnya itu bukan murni akibat ulahku, sebab ia sendiri yang menyanggupinya.
"Selamat pagi menjelang siang, Putri Tidur. Bagaimana, sepertinya nyenyak sekali tidur Anda selama perjalanan?" tanya Araz sambil memperhatikan wajah bangun tidurku. "Aku heran deh, kenapa justru jok mobil aku sih yang bisa bikin kamu tidur nyenyak. Coba aja kalau itu aku, bakal lebih nyenyak kali ya tidur kamu."
"Dih, pembahasan ngaco apa itu. Emang aku tidur lagi ya, Mas?" kataku balik bertanya sambil nengerjapkan mata. Rasanya aku memang tidur sepanjang perjalanan. "Kita beneran di Sukabumi?" tanyaku basa-basi. Padahal jelas, didepan sana Gunung Gede menjulang dengan gagahnya.
"Yah kamu sih masih bilang pengen ke Sukabumi sebelum kita masuk tol tadi. Jadi ya aku bawa ke sini," jawab Araz masih memperhatikan wajahku hingga membuatku salah tingkah. Merasa diperhatikan, aku menyisir rambutku yang berantakan dengan jari.
"Kenapa sih Mas, ada yang aneh dengan wajahku ya?"
"Cantik," ucapnya membuat pipiku terasa panas. Aku mengalihkan pandangan pada Gunung Gede yang masih berselimut kabut di kejauhan. "Apalagi kalau senyum. Kecantikan kamu meningkat seribu kali lipat."
Tanpa terlihat oleh Araz, aku mengulum senyum. Bukan karena gombalan Araz yang bilang aku cantik jika tersenyum, meski tak dapat kupungkiri jika wajahku terasa panas. Namun rasa berdebar yang tiba-tiba menyusup dalam hati, membuatku merasakan perasaan yang seakan sudah lama hilang.
Huftt... tapi di satu sisi, perasaan itu justru menjadi bumerang bagiku. Menggantikan debar menjadi nyeri yang menghimpit dada.
"Hati itu sedalam palung yang kita bahkan nggak bisa menebak kedalamannya, Mas. Kalau nggak mau jatuh dan terluka, apalagi nggak bisa berenang, jangan coba-coba untuk menyelam. Karena aku nggak mau Mas Araz terjebak di kedalaman palung nggak bahkan kita juga nggak tahu apa yang bakal dijumpai di sana," kataku menahan perih.
Raut muka Araz berubah saat mendengar pernyataanku. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu. Wajahnya tampak berpikir menanggapi ucapanku sebagai bentuk pertahanan agar dia tidak melangkah terlalu jauh dari batas seharusnya.
__ADS_1
Aku harus mengakui jika tebakan Damar maupun Almira benar soal Araz. Meskipun lelaki itu tak menyatakan secara gamblang "aku suka kamu" atau "aku Cinta kamu", tapi ia selalu menggiringku untuk mempercayai semua kalimatnya yang tersurat.
Dan pernyataannya di kafe kala itu, selalu membuatku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Takut terjebak dalam kisah cinta yang semu salah satunya. Aku tak sanggup terluka sekali lagi ataupun melukai hati yang tulus mencintai. Lantas bagaimana aku sanggup berjalan beriringan dengannya jika hatiku saja tak sanggup untuk terluka.
"Kalau menurutku, hati itu ibarat penjara. Barang siapa yang udah masuk ke dalamnya, nggak akan mudah keluar begitu aja. Bahkan ketika ia dinyatakan tidak bersalah sekalipun. Mana yang lebih menakutkan? Bagiku sama aja, Kanya. Pilihanmu maupun pilihanku, sama-sama menakutkan."
Aku tercekat mendengar jawaban Araz. Dari semua pernyataan, aku tak pernah memikirkan jika ia akan memilih jawaban semacam itu. Air mataku kembali mengalir. Mengapa Tuhan tidak mempertemukan aku dengan Araz sebelum bertemu Putra? Mengapa lelaki seperti Araz harus terjebak dengan hati yang penuh duri? Mengapa kami baru dipertemukan sekarang? Mengapa... mengapa... terlalu banyak mengapa hingga aku pun tak sanggup mengurainya.
"Kalau gitu kenapa Mas Araz nekat menyelam ke dalam palung atau bahkan bertaruh untuk masuk penjara?" tanyaku ketika sanggup menguasai hati yang semakin nyeri.
Sungguh aku ingin jatuh cinta sebagaimana dulu pernah mencintai Putra. Namun mengapa pula rasanya berat untuk mencintai yang lainnya?
"Aku udah bilang dari awal sama kamu, Kanya. Ajakanku tempo lalu bukan cuma main-main. Aku nggak bisa mengucapkan kalimat manis saat menyatakan cinta, tapi aku yakin dengan keinginanku untuk menikahi kamu.
Araz dengan lancar mengucapkan hal yang entah sudah berapa lama ia pendam. Lelaki itu lekat menatapku yang berurai air mata. Seolah mencari sesuatu dalam sorot mataku. Mungkinkah itu luka? Sebab hanya luka lah yang terlihat jelas di kedua iris mataku. Lantas ia membuang pandangannya pada hamparan perkebunan teh yang menghijau di kanan-kiri jalan itu.
"Aku dan dia memiliki kisah yang cukup rumit Mas," kataku pada akhirnya setelah cukup lama berdiam diri. Araz menatapku lebih lekat kali ini.
"Aku bersedia menjadi pendengar yang baik kalau itu yang kamu inginkan," ucapnya mencoba tersenyum. "Lebih menyakitkan kalau kamu pendam semua sendirian Kanya."
Air mataku lolos tanpa mampu kukendalikan. Kuceritakan dari awal bagaimana kisah yang terjalin dengan Putra. Termasuk sampai detik ini bahwa aku masih mencintai lelaki itu meski tak dapat kupungkiri jika aku mulai sedikit tertarik dengan Araz. Lantas apakah dia sanggup berbagi rasa sakit dari lukaku itu?
Tubuhku terasa kaku saat tiba-tiba Araz merengkuhku dalam pelukannya. Hangat tubuhnya sejenak membuatku lupa akan rasa sakit yang selama ini mengikuti ke mana pun aku pergi. Jika begini bolehkah aku merasakan sedikit lama rasa nyaman ini?
__ADS_1
"Kalau kemunculannya membuat kamu semakin merasakan sakit, maka izinkan aku menyelami seberapa dalam palung yang kamu sebut, Kanya. Biarkan aku melihatnya secara langsung, apa saja yang hidup di kedalamannya. Biar aku juga bisa mengusir sosok-sosok jahat yang membelenggu jiwamu. Kamu pantas bahagia, Kanya," bisik Araz tak melepaskan pelukannya.
Dulu, aku pernah merasakan kehangatan yang sama. Pelukan hangat seorang cowok yang mengikrarkan diri sebagai sahabat, kemudian pergi tanpa pernah kembali. Pelukan yang tak pernah memaksa apalagi menuntut. Pelukan yang akan merengkuhku saat aku lelah maupun terpuruk. Pelukan yang selalu menjadi tempatku pulang dari keluh. Pelukan yang membuatku kembali utuh.
Arez.
Nama itu kembali mengetuk-ngetuk pintu memoriku tentangnya.
"Kenapa Mas Araz, selalu ingetin aku sama Arez? Siapa sebenarnya kalian?"
Araz tak menjawab. Ia hanya mengelus punggungku agar kembali tenang. Memberikan rasa nyaman hingga tubuhku tak tersengal lagi.
"Siapa pun kalian, kenal atau pun nggak, boleh aku ngerasain kehangatan ini lebih lama?"
"Selama yang kamu mau, Kanya. Kalau itu juga yang membuatmu jatuh cinta sama aku."
"Seandainya bisa semudah itu, Mas."
Bisa kurasakan Araz tersenyum di balik punggungku.
"Kanya, bagaimana jika aku memang kenal siapa cowok yang kamu sebut? Apakah kamu akan menerimaku jadi pendamping hidup atau justru membenciku?"
Pertanyaan Araz membuatku tak paham. Ia kembali merengkuh tubuhku saat aku mencoba melepaskan diri. Lelaki itu tak mengizinkan aku melihat wajahnya yang entah sejak kapan berurai air mata. Jika air hangat itu tidak jatuh di pundakku, aku tak akan pernah tahu jika ia sedang menangis.
__ADS_1