Pulang

Pulang
Keisengan Hanung


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Bel apartemenku berbunyi saat aku masih sibuk memasak capcay di dapur. Siapa yang datang bertamu menjelang Mahgrib seperti ini? Aku tidak memiliki banyak teman hingga seakrab itu mau bertamu ke apartemenku. Kalaupun ada mungkin satu dua dari teman kantor. Itu pun jarang sekali bertamu saat petang. Satu-satunya orang yang bisa berbuat seenaknya hanyalah Hanung. Sementara lelaki itu sudah berada di sini sejak pukul 04.30 sore tadi.


Dengan sedikit tergesa, aku mematikan kompor dan setengah berlari menuju depan. Sebelum membukanya, aku mengintip melalui lubang pintu. Seorang perempuan berambut bob di atas pundak dengan setelan jeans putih dan jaket boomber warna senada berdiri membelakangi pintu. Ia tampak celingukan seperti memastikan sesuatu di layar gawainya.


Kanya? Apa yang sedang dilakukan perempuan itu di depan apartemenku?


Tanpa membuka pintu, aku berlari mencari Hanung. Aku yakin lelaki itu pasti yang menyuruh Kanya untuk datang kemari.


"Lo suruh Kanya ke sini?" tanyaku saat Hanung baru saja keluar dari kamar mandi setelah mengambil air wudhu.


"Iya, biar kalian semakin akrab. Masa abis minta tolong nggak lo traktir makan sih? Mumpung lo masak banyak juga 'kan?" ucap Hanung tanpa merasa bersalah. Ia justru bangga dengan idenya memanggil Kanya yang dirasa paling cemerlang.


"Kok lo nggak bilang gue sih?"


"Lah, gimana sih? Katanya lo pengen kenal sama dia? Ya biar makin akrab lah. Lo nggak tahu usaha gue gimana biar dia datang ke sini? Nggak mudah, my Bro."


"Ya setidaknya lo tanya pendapat gue dulu dong!" kataku semakin kesal karena Hanung tak juga memahami posisiku setelah kejadian tadi siang.


Apa dia tidak memikirkan bagaimana canggungnya aku setelah bersikap tidak profesional, saat tahu Kanya menghubungi Putra ketika di bandara tadi? Aku justru ngambek seperti anak kecil dan mendiamkan perempuan itu hanya karena cemburu. Dan sekarang, tiba-tiba Hanung memintanya datang dengan dalih meminta titipannya agar diantar ke sini.


Sialan memang bapak satu anak itu. Kalau saja tidak ada Abi, aku pasti akan mengajaknya duel.


"Kelamaan tanya pendapat lo segala. Lagian gue yang belanja ini. Suka-suka gue dong mau ngajak makan siapa. Udah cepet sana buka pintu."


"Nggak, lo aja yang buka."


"Gimana sih Al Dol. Lo kan yang punya rumah."


"Lo kan yang seenaknya nyuruh dia ke sini?"

__ADS_1


"Udah adzan tuh. Kasihan anak perawan lo biarkan berdiri di depan gitu. Gue tiga rakaat dulu sama Abi."


Hanung benar-benar berniat mengerjaiku. Dia segera mengajak Abi untuk memasuki ruangan yang sengaja kufungsikan sebagai tempat beribadah. Bahkan si kecil Abi ikut menggodaku sebelum menyusul ayahnya yang sudah masuk lebih dulu.


Sial, memang dasar sialan tuh Hanung.


Bel masih berbunyi nyaring. Kali ini bahkan disertai ketukan di pintu. Setelah mengatur napas agar tidak terlihat gugup dan berusaha senatural mungkin seolah tidak mengetahui kedatangan Kanya, aku baru membuka pintu dengan ekspresi kaget yang jelas kubuat-buat. Namun, ekspresi terkejut justru tercetak jelas di wajah Kanya. Sepertinya dia pun menjadi korban keisengan Hanung.


"Mas Al... Araz? Kenapa... Kok..." kata Kanya bahkan sampai kebingungan harus merespon bagaimana saat aku muncul dari balik pintu.


"Aku tinggal di sini. Dan kamu..."


"Ah, Mas Hanung minta antarkan pesenan dia ke... sini."


"Oh, masuk yuk. Nggak baik anak perawan jam segini masih di luar rumah. Hanung masih berjemaah sama Abi."


Sebagaimana aku, Kanya juga terlihat canggung saat berhadapan denganku. Bahkan aku tak bisa membayangkan apa yang ada dalam pikirannya tentangku, saat kejadian memalukan tadi siang. Heh, bahkan sekarang aku baru sadar jika sikapku mendiamkan Kanya benar-benar memalukan.


"Ehm, aku nitip ini aja buat Mas Hanung. Kayaknya aku pamit aja deh, Mas," tolaknya seolah menghindari suasana yang mungkin akan semakin tidak mengenakkan.


"Tapi Mas..."


"Masuk nggak lo!" Ancam Hanung menghentikan niat Kanya untuk pamit pulang. "Lo juga gimana sih Raz, bukannya disuruh masuk malah dibiarkan berdiri depan pintu. Mau lo gue panggil..."


"Eits, jangan macem-macem lo sama gue! Kanya udah gue suruh masuk juga kali. Lo aja yang tiba-tiba muncul ngerusak suasana."


Sebelum perdebatan semakin panjang, aku memilih masuk apartemen. Melanjutkan aktivitas memasakku yang bahkan belum tuntas akibat kedatangan Kanya yang mendadak.


***


Keisengan Hanung masih berlanjut. Setelah mengundang Kanya makan malam tanpa persetujuanku, bapak satu anak itu berulah lagi dengan memintaku mengantar Kanya pulang. Dengan alasan, Abi sudah tidur nyenyak. Kasihan jika harus mengantar Kanya lebih dulu.

__ADS_1


Bukannya aku menolak, hanya saja aku khawatir Kanya merasa tidak nyaman dengan pergerakan Hanung yang terlalu kentara. Oke, aku memang memintanya untuk mencomblangkan dengan Kanya, tapi setidaknya dengan cara yang elegan. Bukan macam pendekatan yang seperti anak SMA. Masa-masa seperti itu udah terlewatkan. Oh sial, aku pun tak terpikirkan cara bagaimana agar dekat dengan perempuan itu.


"Aku bisa naik taksi atau ojek online kok Mas."


"Aku antar aja. Bahaya cewek pulang malem sendirian," kataku begitu Hanung menyatakan keberatannya mengantar Kanya pulang. Meski banjir tidak sampai menggenang di daerah tempat tinggalku, tetap saja tidak pantas rasanya membuat Kanya pulang sendirian. "Sori ya Nya, Hanung terkadang kalau iseng suka berlebihan."


Kami menyusuri lorong apartemen yang sepi menuju lift yang terletak paling ujung. Sesekali perempuan berambut pendek itu mengetatkan jaketnya. Mungkin untuk menghalau hawa dingin akibat hujan yang mulai turun perlahan.


"Aku sih udah hafal tabiat Mas Hanung. Tebakku dia emang udah niat dari awal kalau goal-nya bakal minta Mas Araz buat ngantar aku balik," ucap Kanya tak lagi merasa canggung semenjak mengobrolkan banyak hal di dapur tadi. "Atau jangan-jangan kalian justru bersekongkol?"


"Mana ada. Kalau aku sengkongkol sama dia yang ada ngajak kamu ke tempat yang lebih layak, bukan ke apartemenku."


"Emang tempat Mas Araz nggak layak?"


"Bukan gitu juga maksudku. Gimana ya jelasinnya. Hmm... Di tempat yang makanannya lebih lezat mungkin, romantis, dan nggak cuma makan capcay."


Kanya tersenyum mendengar ucapanku dan menunjukkan paper bag yang berisi churros. "Tapi aku suka masakan Mas Araz tuh."


"Ini bukan trik biar aku masakin kamu tiap hari 'kan?"


"Haha... Nggaklah Mas, tapi kalau Mas Araz mau juga nggak nolak."


"Makanya, jadi istri aku kalau mau dimasakin tiap hari," godaku membuat pipi Kanya merona.


Aku tahu perempuan itu tidak nyaman setiap kali membahas perkara nikah, tapi melihatnya salah tingkah selalu membuatku ingin menggodanya.


"Mas Araz suka banget sih godain aku," katanya kemudian saat mendengarku tertawa.


"Ya 'kan usaha Nya, siapa tahu kamu khilaf trus terima tawaranku," ucapku masih dengan tertawa. Sedang wajah Kanya semakin merona.


Ting...

__ADS_1


Obrolan kami sempat terhenti saat pintu lift terbuka. Selama turun ke basement sekalipun masih ada banyak hal yang kami bicarakan. Meleburkan jarak di antara kami yang kian menipis.


Urusan Kanya kelak mau menerimaku atau tidak, aku tidak akan memikirkannya sekarang. Paling penting membuat Kanya merasa nyaman di dekatku. Hanya, hal yang tidak akan kulupakan, masih ada seseorang yang tinggal dalam kepalanya. Bahkan juga hatinya.


__ADS_2