Pulang

Pulang
Season 2 #Perempuan yang Terpilih


__ADS_3

"Hai, maaf ya menunggu lama. Ada hal yang aku obrolkan sama Ayah," sapa Araz saat muncul dari balik pohon tempat dia bersembunyi. Kanya menatapnya lalu tersenyum simpul. Tampak begitu manis. Bagaimana mungkin Araz sanggup mengantikan perempuan itu dengan yang lainnya, jika senyumnya saja sudah membuat dia tenang.


"Nggak apa-apa kok. Santai aja, Mas. Lagian, Cassandra lumayan menarik buat diajak ngobrol."


Mendengar ucapan Kanya, Araz menunjukkan ekspresi terkejut. Dia tidak ingin dianggap menguping pembicaraan mereka yang justru membicarakan tentang dirinya.


"Oh ya? Memang kalian ngobrol soal apa?" pancing Araz. Dia ingin tahu, apakah Kanya akan menceritakan apa yang tadi dibicarakan dengan Cassandra.


"Tentang Mas Araz lah. Apalagi. Dia ke sini 'kan memang niatnya mau ketemu sama Mas Araz," ucap Kanya tidak terdengar seperti biasanya. Nada bicaranya agak meninggi, meski dia berusaha untuk menutupinya. Dan, Araz tahu, gadis itu pasti kesal dengan kemunculan Cassandra yang tiba-tiba serta mengacaukan segalanya. Bahkan termasuk dirinya sendiri. Jelas, Araz yang paling kesal dengan sepupu dari pihak ibunya itu.


"Boleh aku membuatmu semakin kesal dengan menceritakan siapa Cassandra sebenarnya?"


Araz mengawali pembicaraan dengan pertanyaan. Bagaimanapun dia akan menceritakan sebuah kisah yang cukup panjang dan mungkin saja cukup menyebalkan bagi Kanya. Setidaknya, Araz harus menunggu kesediaan Kanya mendengarkan ceritanya agar tidak membuat perempuan itu bosan. Terlebih mau menerima serta memahami tentang hubungannya dengan Cassandra yang tidak pernah Araz inginkan.


"Bakal lama nggak sih? Aku lapar, Mas," ucap Kanya dengan polosnya dan membuat Araz tertawa.


Araz melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul tujuh pagi. Jelas saja Kanya sudah mengeluh lapar. Gadis itu memang terbiasa sarapan tepat waktu. Katanya, untuk memulai aktivitas yang berat, tubuh harus dikondisikan agar tetap fit. Apalagi pekerjaannya di bidang media bukanlah suatu hal yang bisa diremehkan. Pikiran dan tenaga harus benar-benar disiapkan agar tidak menyusahkan diri sendiri saat meliput peristiwa di lapangan.


"Oke, kita sarapan dulu deh kalau gitu. Eomma juga pasti sudah menyiapkannya di meja makan. Tahan-tahan ya, kalau ada orang yang membuatmu merasa nggak nyaman saat sarapan."


Kanya tersenyum mendengar ucapan Araz. Sebenarnya dia belum benar-benar merasa lapar. Malam sebelumnya Kanya begitu banyak makan hingga membuat perutnya masih terasa penuh. Itu hanya sebuah trik agar kekasihnya itu menunda menceritakan tentang Cassandra. Setidaknya dia butuh kekuatan ekstra demi mendengar cerita siapa sebenarnya sosok Cassandra yang tiba-tiba datang dan menyebut Araz sebagai calon tunangannya. Kanya hanya belum siap patah hati terlalu pagi. Walaupun dia yakin Araz tidak mungkin mematahkan hatinya.


"Baiklah. Aku hanya perlu menebalkan telinga saat mendengar obrolan tidak penting bukan? Ya, aku berharap aja dia nggak sampai mendominasi pembicaraan di meja makan."


Araz menepuk pelan kepala Kanya. Lalu mengajak perempuan itu memasuki rumah. Seperti yang dia duga, Cassandra sudah duduk di kursi meja makan bersama ibu, ayah, dan juga Jenna. Seperti juga yang dia duga, suasana meja makan tampak suram dengan wajah suntuk Cassandra yang sama sekali tidak berusaha dia tutupi. Mungkin dia baru saja berdebat dengan Jenna, sebab wajah gadis remaja itu pun terlihat tidak senang.

__ADS_1


"Kak Kanya, duduk di sampingku aja," sapa Jenna begitu mereka sampai di meja makan.


"Eh, nggak bisa gitu dong. Di samping gue juga kosong. Harusnya dia duduk paling dekat dengan tuan rumah dong." Cassandra menyela pembicaraan adik sepupunya. Jelas terlihat jika sedang merencanakan sesuatu terhadap Kanya.


"Dih, sori aja ya, gue nggak akan kasih izin Kak Kanya duduk di samping lo. Gue tahu apa yang udah lo rencanakan," imbuhnya sambil mendekat pada Cassandra. "Udah Kak, duduk samping aku aja."


"Heh, anak kecil ... "


"Kalian ingat peraturan di meja makan 'kan?" suara berat milik Bagaskara menghentikan kalimat Cassandra. Meski terlihat tidak suka, dia mengikuti teguran pamannya untuk tidak bersuara saat di meja makan. Sementara Jenna menjulurkan lidah karena merasa dibela oleh pamannya.


"Duduk sini," bisik Jenna pada Kanya dan meminta perempuan itu duduk di sampingnya. Kanya menurut dan duduk di samping kiri Jenna. Sementara Cassandra duduk di samping kanan gadis remaja itu. "Kalau Kak Kanya duduk di samping Cassandra, aku yakin, masakan Bibi pasti jadi terasa hambar."


Kanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih menanggapi pernyataan Jenna. Dia tahu betul bahwa Jenna sedang berusaha melindunginya dari keusilan Cassandra. Perempuan itu pasti sudah memiliki cara agar membuat Kanya terlihat memalukan di hadapan kedua orang tua Araz.


"Kalau udah balik ke Jakarta, Kakak harus traktir aku makan. Oke?" bisik Jenna lagi.


"Percayalah, itu trik yang nggak akan bisa meluluhkan hati Paman dan Bibi," bisik Jenna pada Kanya. Sepertinya Jenna menangkap ketidaknyamanan di wajah Kanya saat melihat perlakuan Cassandra.


Di seberang meja berhadapan dengan Jenna, Araz seolah juga menyiratkan padangan yang sama. Kanya tersenyum samar. Dia bersyukur ada Jenna di sampingnya yang cukup mampu untuk menghibur. Setidaknya dia tidak merasa terbebani dengan sikap Cassandra.


"Bagaimana tidurnya semalam, Nya? Nyenyak?" tanya Bagaskara di tengah-tengah waktu sarapan begitu memperhatikan mendung di wajah Kanya. Laki-laki itu tahu betul, sikap Cassandra tentu membuat Kanya merasa tidak nyaman dan Araz terlalu salah tingkah untuk memberikan dukungan moril pada kekasihnya di depan mereka.


"Nyenyak banget, Om. Rumahnya nyaman," jawab Kanya.


"Syukurlah. Ngomong-ngomong, jangan panggil Om, dong. Panggil Ayah saja, biar sama kayak Araz,"imbuh Bagaskara membuat Cassandra melotot tidak terima. Namun, dia tidak berani protes saat melihat lirikan tajam dari pamannya. Sementara ibu Araz yang duduk berdampingan dengan sang anak, tampak setuju dengan ide suaminya.

__ADS_1


"Benar, kamu juga harus memanggil Eomma. Duh, senangnya punya anak perempuan. Kamu tahu, dari dulu Eomma ingin sekali punya anak perempuan. Tapi kondisi Eomma tidak memungkinkan untuk punya anak lagi setelah melahirkan adik Araz. Coba, panggil Eomma."


Sambutan hangat orang tua Araz membuat Kanya salah tingkah. Hal itu bukannya membuat dia merasa menang dari Cassandra, tetapi justru memberikan beban tersendiri bagi perempuan itu. Apalagi dengan permintaan mereka yang ingin dipanggil ayah dan eomma. Kanya semakin salah tingkah.


"Eomma."


Ragu-ragu Kanya menuruti permintaan ibu Araz - Lee Haneul - untuk memanggilnya dengan sebutan eomma. Rasanya terdengar begitu aneh. Lidahnya tidak terbiasa mengucapkan bahasa Korea meski dia pernah mempelajarinya saat masih kuliah. Atau sesekali menonton film maupun drama atas rekomendasi Almira. Namun, melihat respon ibu Araz, Kanya yakin pengucapannya tidak sebaik dengan harapan wanita itu. Meski begitu, wanita itu tetap bersikap ramah dan tampak senang mendengar Kanya memanggilnya dengan sebutan eomma.


"Omo, aku terharu mendengarnya. Araz sering-sering pulang mengajak Kanya. Eomma ingin mengajak Kanya jalan-jalan."


"Ayah juga berharap kamu sering pulang, Raz. Kamu nggak akan pernah tahu bagaimana kesepiannya kami karena tidak ada orang lain di rumah ini. Kamu ingin setiap hari kami hanya berbincang berdua atau sesekali dengan Karjo, Parman, Pariyem, atau Mbok Siti?" tandas Bagaskara menyebutkan pengurus rumah mereka. Sedangkan sang anak hanya tersenyum tipis sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Benar itu, Raz. Kanya juga pasti senang kalau kamu ajak main ke sini. Iya 'kan, Nya?" ucap ibu Araz semakin membuat Kanya salah tingkah. Dia tidak mungkin menjawab jika masih merasa sungkan. Walaupun dia cukup menikmati selama tinggal di rumah orang tua Araz.


Kanya yakin betul, wajahnya kini terlihat sangat merah. Apalagi saat Jenna berbisik di telinganya.


"Aku yakin betul, Kak Kanya pasti perempuan yang terpilih. Lihat saja respon Paman dan Bibi yang ingin menegaskan keberadaan Kak Kanya di sini. Tenang aja Kak, Cassandra bukan lagi saingan berat kalau mereka udah memilih Kak Kanya. Kakak hanya perlu menyiapkan paspor untuk jalan-jalan ke Korea."


"Maksud kamu?" tanya Kanya dengan berbisik pula.


"Kakak pasti akan segera tahu," kata Jenna sok misterius. Sialnya, hal itu membuat Kanya semakin penasaran.


...----------------...


Oh God, setelah kubaca ulang aku baru sadar dong kalau ternyata bab yang aku unggah kemarin tertukar. 🥺🥺🥺

__ADS_1


Harusnya bab ini diunggah lebih dulu sebelum "Calon Istri yang Sudah Dipersiapkan". Hikss ... hikss ... hikss ...


Ini sih akibat kurang teliti. Jadi, anggap saja kalian dapat bonus membaca bab selanjutnya lebih dulu.


__ADS_2