Pulang

Pulang
Menerima Maaf


__ADS_3

Renjana Kanya


Kami sedang berada di taman rumah sakit menjelang sore hari. Sama-sama bisu dan memendam perasaan kami dalam hati. Sementara hiruk-pikuk manusia di lorong-lorong panjang, orang-orang berseragam putih, hingga sirine yang menjerit tidak membuat kami berpaling dari keheningan. Mungkin saja, di dalam kepala kami justru lebih hingar bingar dibanding segala keributan yang terjadi di sini.


Meski begitu, laki-laki itu tidak bisa menyembunyikan raut lelah. Wajahnya kusut. Ia lebih banyak diam, menitikkan air mata sejak dokter memanggil kami setelah Mama selesai operasi. Wanita itu berhasil diselamatkan meski belum melewati masa kritisnya. Dokter tidak memberi kami banyak harapan. Bahkan untuk melewati hari ini pun, dokter tidak sanggup membesarkan hati kami yang terisi belati. Dokter hanya meminta kami untuk banyak memohon dan berdoa agar Mama sanggup melewati masa kritisnya.


Hampir 30 menit kami saling membisu. Tak saling bicara ataupun menunjukkan bagaimana perasaan kami selain dengan tangis. Pun denganku. Kukira, aku akan biasa saja menghadapi kenyataan buruk yang terjadi saat ini. Nyatanya, air mataku tumpah juga setelah lama kutahan agar tidak jatuh. Setidaknya, tidak di hadapan Om Eka.


Ada penyesalan yang begitu hebat bergejolak dalam hatiku. Ada beribu kata yang berlarian ingin memeluk Mama. Ada utang maaf yang tidak sanggup kuungkapkan. Ada pula rasa sakit yang kian menyakitkan saat mengetahui fakta bahwa semua perasaan itu tidak sanggup berlabuh dengan semestinya.


Melihatku terisak, Om Eka merengkuhku dalam pelukannya. Hangat. Rasanya begitu hangat seperti pelukan Ayah. Tangisku semakin tidak terkendalikan. Aku tergugu. Menyadari satu hal jika laki-laki yang memelukku kini memiliki hati yang hangat dan seluas samudra. Mampu menampung segala keegoisan juga sikap keras kepala yang menumpuk bertahun-tahun. Mampu menampung semua jenis penolakan yang berusaha kulakukan hingga akhirnya berlabuh pula dalam pelukannya.


"Maafkan Om Eka, Kanya. Maafkan Om Eka, jika selama ini nggak bisa jadi Papa yang baik buat kamu. Maafkan jika Om Eka menghancurkan hati kamu. Maaf, jika dulu dengan bodohnya Om Eka, telah membuat kamu juga Putra terluka. Mengabaikan perasaan kalian dan membuat kamu harus terpisah dengan Sukma. Om Eka, benar-benar minta maaf, Kanya. Om Eka bersalah padamu. Maafkan Om Eka, jika pada akhirnya juga nggak bisa menjaga Mama kamu. Menjaga adik kamu. Maafkan, Om Eka."


Isak Om Eka yang sedari tadi berusaha ia tahan, akhirnya tumpah juga. Kami menangis sambil berpelukan. Sesekali aku bisa melihat orang-orang yang berlalu-lalang menatap aneh ke arah kami. Namun, aku tidak peduli. Aku hanya ingin hatiku lega kali ini. Dan, berada dalam pelukan Om Eka membuat segala beban, mungkin juga luka yang selama ini membeku dalam hatiku, berlahan mencair oleh kehangatan laki-laki itu.


Mungkin, aku merasa kami sedang sama-sama berjuang demi menunggu Mama siuman dan ... aku makin terisak saat pikiran buruk itu melintas di benakku.


"Om, Mama nggak mungkin ninggalin Kanya, 'kan? Mama pasti bakal bangun dan ... dan ... kita bisa jadi ... keluarga yang utuh 'kan?" tanyaku justru membuat Om Eka semakin terisak dan mengeratkan pelukannya.


"Mama kamu wanita yang kuat, Kanya. Mama kamu wanita yang kuat. Hanya wanita yang kuat yang nggak pernah menunjukkan rasa sakitnya. Om yakin, Mama kamu wanita yang kuat. Dia pasti bisa melewati semua rasa sakit yang dialami. Percayalah."


"Kanya takut, Om. Kanya takut jika ... bagaimana jika ... ."


"Jangan khawatirkan hal itu, Kanya. Jangan khawatirkan hal nggak masuk akal kayak gitu. Percayalah, Mama kamu pasti akan sanggup melewati semua ini."

__ADS_1


Aku tidak tahu pasti apa yang membuat Mama harus menjalani operasi. Hanya saja yang kutahu, terjadi benturan cukup keras di kepalanya saat Mama terjatuh. Syok yang dialami berakibat pada janin yang dikandung dan membuat si bayi harus diselamatkan meski belum genap sembilan bulan. Bayi itu selamat, tetapi Mama harus berjuang melawan masa kritisnya untuk tetap bertahan hidup.


Dari semua hal yang kutakutkan, aku begitu keras kepala selama ini dan tidak pernah menganggap kehadirannya. Aku selalu abai. Menolak setiap usaha wanita itu yang memintaku untuk pulang dan memohon maaf yang sering kali dia lakukan. Hatiku begitu keras. Luka yang kurasakan kuanggap tidak sebanding dengan apa yang dirasakan wanita yang telah melahirkan aku itu. Dan, ketika aku memutuskan pulang, tetap tidak ada perasaan tulus untuk meminta maaf atas sikapku selama ini.


Namun, setelah mengalami hal yang begitu menyakitkan ini, baru aku sadar jika aku bukanlah apa-apa tanpa Mama. Aku tidak mungkin ada di dunia jika bukan karenanya. Aku tidak mungkin ... aku tidak mungkin ... menjadi sosok Kanya yang sekarang jika bukan karena Mama.


Mataku mengabur. Air mata menghalangi pandangan. Terlebih, pandanganku selama ini dibutakan rasa sakit kekanak-kanakkan yang menganggap cintaku dengan Putra terlalu suci hingga berpikir sanggup mengalahkan segalanya. Putra lagi-lagi mengatakan hal yang benar. Jika bukan kamilah pemilik cinta yang tulus itu, melainkan Mama dan Om Eka. Aku bahkan bisa melihat ketulusan itu di mata laki-laki yang belum juga bisa kupanggil dengan sebutan ... Papa.


"Om, Kanya takut. Kanya takut, Mama nggak bakal bangun lagi. Kanya harus bagaimana kalau hal itu sampai terjadi, Om? Kanya, harus bagaimana?"


Lagi-lagi pikiran buruk itu kembali menggangguku meski sudah kucoba untuk mengusirnya menjauh. Aku terlalu takut. Aku benar-benar takut Tuhan menghukumku yang tidak mau berbakti pada orang tua. Aku takut, Tuhan sama sekali tidak memberiku kesempatan kedua sebagaimana yang Araz, Putra ataupun Damar bilang. Bagaimana jika benar Tuhan tidak pernah memberiku kesempatan sejak awal? Atau kesempatan itu sudah Dia berikan, tetapi aku dengan sombongnya justru mengabaikan?


Tuhan, kalau benar itu yang terjadi, harus dengan cara apa aku sanggup menebusnya? Aku takut, aku takut Engkau benar-benar mengambil kesempatan bagiku untuk meminta maaf pada Mama. Bagaimana aku memenuhi janjiku pada Ayah, Tuhan?


Aku meratap dalam hati. Bayangan Mama dan Ayah datang silih berganti seperti kaleidoskop yang berputar cepat.


"Anya, kalau Ayah pergi suatu saat nanti, jaga Mama buat Ayah ya. Mama kamu, biar pun terlihat tegar, aslinya begitu rapuh. Sama kayak kamu. Sok jagoan, tetapi aslinya mudah sekali baper."


"Ih, Ayah apaan sih. Memang Ayah mau tugas keluar kota lagi? Berapa lama? Jangan lama-lama, sebentar lagi Anya wisuda loh. Sudah cepat-cepat lulus ini. Masa iya Ayah nggak datang diwisuda, Anya?"


Ayah hanya tersenyum waktu itu. Tidak menjawab pertanyaanku seperti biasa. Beliau justru bilang,"Ayah bakal tagih janji kamu kelak."


"Janji apa, Ayah?"


"Janji bakal jagain Mama, janji kalian nggak akan adu argumentasi sampai bertengkar berhari-hari, dan janji bakal dukung apa pun keputusan Mama kelak."

__ADS_1


"Iya, iya, Kanya janji."


"Ayah serius, Kanya. Ayah bakal tagih kalau kita ketemu lagi nanti."


"Iya, memang Ayah mau tugas ke mana sih?"


"Justru karena tugas Ayah sudah selesai, makanya Ayah minta kamu supaya mau janji."


"Maksud, Ayah?"


"Suatu saat kamu akan paham jika benar-benar membutuhkan jawaban dari, Ayah. Dan, pertanyaan pertama yang bakal Ayah tanyakan saat ketemu kamu adalah, bagaimana Kanya Gayatri, apa kamu sudah bisa membahagiakan Mama?"


Ya, waktu itu aku hanya menganggap jika Ayah hanya bercanda seperti yang biasa dia lakukan. Tanpa benar-benar menyadari jika itu adalah wasiat yang ditinggalkan Ayah, hingga aku baru saja menyadarinya. Saat semua terasa terlambat dan aku tidak tahu harus berbuat apa.


Lantas bagaimana aku akan menjawab pertanyaan Ayah kelak? Aku telah berjanji pada Ayah untuk menjaga Mama. Sampai Mama memilih kembali pada cinta pertamanya dan mengabaikan aku. Rasa sakit ini masih ada, tetapi rasanya lebih menyakitkan jika membayang aku tidak bisa meminta maaf atas keegoisanku sebagai anak. Bagaimanapun aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka.


"Maka yang kamu lakukan hanya menerima maaf mereka, Anya. Lapangkan hati kamu dan segalanya akan menjadi baik-baik saja. Untuk semuanya. Tidak ada salahnya juga 'kan memanggil Om Eka, Papa?"


Bulu tubuhku meremang. Sesaat, aku seperti mendengar Ayah berbisik di telingaku. Bahkan, saat aku menatap di kejauhan di bawah pohon tabebuya yang bermekaran, aku melihat Ayah melambaikan tangan ke arahku. Beliau tersenyum. Sangat hangat. Begitu hangat. Seperti terakhir kali aku melihatnya sebelum ia berangkat dinas keluar kota. Hari di mana aku melihatnya untuk terkahir kali. Dan, aku seperti mendengar suaranya lagi.


"Jika laki-laki yang menjadi pengganti Ayah itu, Eka, Ayah lebih ikhlas dibanding laki-laki lain yang bersanding dengan Mama, Nak. Maka, terimalah segala bentuk maaf yang sampai padamu. Terima juga maaf darimu untuk dirimu sendiri. Kamu sudah terlalu keras pada dirimu sendiri, Anya. Terima juga maaf dari seluruh semesta yang mendukungmu. Percayalah, Mama pasti akan baik-baik saja."


"Ayah."


Aku tanpa sadar memanggilnya. Om Eka yang masih memelukku melepas rangkulannya. Dipandanginya wajahku dengan raut penuh tanda tanya. Tidak mungkin aku bilang padanya jika melihat Ayah bukan? Aku pasti dianggap gila. Aku pun tidak yakin dengan penglihatanku sendiri. Bahkan mungkin ini hanyalah halusinasi.

__ADS_1


Demi menghilangkan anggapan gila, aku berkata,"Jika aku memanggil Om Eka dengan sebutan berbeda dari Kak Putra, boleh 'kan? Ayah?"


Lelaki itu menangis lagi. Kali ini dengan senyum menghiasi raut wajahnya. Lagi-lagi dibawanya aku dalam pelukannya. Aku ikut tersenyum. Merasakan hangat yang diam-diam menyelimuti kami. Sedang Ayah masih di sana. Tersenyum di bawah pohon tabebuya yang kuning bermekaran. Hingga sosok Ayah menghilang tepat saat azan Mahgrib berkumandang.


__ADS_2