
Wajah Alcatraz masih terlihat sembab saat mereka kembali ke Jakarta. Rencana awalnya mereka hendak mampir terlebih dulu di rumah orang tua Arez sebelum kembali ke ibu kota, tetapi terpaksa harus batal sebab kondisi Araz yang tidak memungkinkan. Laki-laki itu tak akan sanggup menjawab pertanyaan yang akan diajukan oleh orang tua Arez tentang wajahnya yang sembab seandainya ia dan Kanya mampir ke rumah mereka.
Selama perjalanan tidak banyak percakapan di antara mereka. Araz terlalu fokus pada jalanan - mungkin juga sisa-sisa penyesalan yang ada untuk Aksa. Sedangkan Kanya lebih banyak diam untuk memberikan Araz kesempatan memeluk luka yang dia rasakan.
Hanya sesekali, Kanya mengajaknya berbicara ketika Araz mulai tidak fokus pada jalan. Padahal, Kanya juga sudah menawarkan diri untuk menggantikan Araz menyetir, tetapi laki-laki itu menolak dan tidak membiarkan sang kekasih mengambil alih kemudi.
"Kalau Mas Araz capek, kita bisa berhenti dulu loh. Nggak perlu buru-buru. Kan udah izin sama Mas Hanung juga kalau kita nggak pergi ke kantor hari ini," ucap Kanya ketika konsentrasi Araz mulai tidak fokus. Beberapa kali ia hampir keluar dari badan jalan dan hal itu membuat Kanya semakin was-was.
"Kita berhenti di rest area depan ya." Araz mengalah. Untuk kali ini ia menuruti permintaan Kanya sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan pada mereka, akibat laki-laki itu tidak fokus menyetir.
Sebenarnya, Araz masih memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Sudah lama sejak Aksa meninggal, tetapi baru saat ini dia mengetahui isi hati adik semata wayangnya itu. Jika bukan karena Kanya yang memberinya pemahaman kalau Aksa mungkin saja meninggalkan pesan untuknya, Araz juga tidak akan mengetahui tentang perasaan adiknya.
Araz sangat terpukul. Tentu saja. Selama ini dia mengakui jika tidak pernah memberikan waktunya kepada Aksa. Bukan hanya itu saja, Araz juga tidak pernah peduli jika Aksa benar-benar membutuhkannya sebagai pendukung yang memiliki andil cukup besar dalam hidupnya. Araz hanya memikirkan dirinya sendiri bahkan sampai Aksa menutup mata untuk selamanya. Araz tidak sepenuhnya menyadari kekeliruannya sebagai kakak. Sebagai anak. Sampai ia menemukan kotak Pandora yang menyimpan perasaan Aksa entah sudah berapa lama.
__ADS_1
Laki-laki itu kembali menangis saat mereka tiba di rest area. Pikirannya masih dipenuhi tentang Aksa. Padahal orang tuanya pun sudah melarang agar mereka tidak kembali ke Jakarta hari ini juga. Tapi, Araz memaksa hanya karena tidak ingin orang tuanya khawatir melihat keadaannya. Kini, justru Kanya yang merasa tidak tega melihat betapa tersiksanya Alcatraz.
"Mas, aku nggak bisa memberimu kalimat penghiburan apa pun, karena aku tahu kesakitan paling menyakitkan adalah sebuah kehilangan. Aku nggak akan memintamu untuk nggak nangis ataupun harus berhenti nangis, tapi ... ." Kanya menghela napas panjang. Diraihnya tangan Alcatraz dan dibawanya dalam pelukan perempuan itu. "Sudah, kalau mau nangis, tuntaskan aja. Tapi, kamu harus dengar kata aku setelah ini. Mas, kamu kakak terhebat buat Aksa. Itu yang harus kamu tahu. Kamu harus ingat jika nggak ada satu pun kakak terhebat di dunia ini buat Aksa selain kamu. Pesan yang ditinggalkan Aksa bukan untuk menghakimi kamu, Mas, tapi justru untuk menyampaikan betapa berharganya kamu buat dia."
Kanya menepuk pundak Araz dengan lembut. Laki-laki itu masih terisak. Meski sedikit demi sedikit mulai memudar. Dengkuran lembut terdengar. Laki-laki itu tertidur dalam pelukan Kanya.
"Kamu pasti sangat lelah ya. Harusnya kamu dengar kata Ayah sama Eomma buat menginap sehari lagi," bisik Kanya masih tidak melepaskan pelukannya.
...****************...
Araz menyadari jika dirinya sedang memejamkan mata saat ini. Ia sadar jika sedang berada di pelukan Kanya setelah tiba di rest area dan memutuskan untuk berhenti sementara. Dia terlalu tidak fokus pada jalanan dan dia tidak ingin merepotkan buat Kanya. Maka ia memilih berhenti.
Namun, siapa yang menyangka jika tujuan awalnya itu justru menjadi tangisan dan berakhir membuat Kanya memeluk dirinya. Dan, siapa yang menyangka pula saat ia memejamkan mata justru bermimpi tentang Aksa.
__ADS_1
Bukan, itu bukanlah mimpi. Namun, ingatan bawah sadar Alcatraz yang telah tertumpuk bertahun-tahun lalu. Ia ingat betul Aksa pernah bermimpi ingin menjelajahi dunia bersamanya. Meski adik semata wayangnya itu tahu jika dia tidak akan pernah sembuh, tetapi semangat hidupnya selalu membuat Araz kagum.
Mereka berdua terlahir dengan kondisi yang sama. Sama-sama memiliki penyakit jantung bawaan yang cukup kronis. Meski keadaan Araz jauh lebih baik, tapi justru Aksa lah yang memiliki semangat juang paling tinggi. Ia tidak pernah ragu untuk bermimpi. Sedangkan bagi Araz adalah hal yang sangat sulit untuk memiliki gairah hidup. Namun, justru bersikap sombrono dan suka seenaknya ketika merasakan kondisi badannya lebih baik.
Meski begitu, tetap tidak membuat Araz memiliki semangat hidup yang lebih tinggi. Ia melakukan semua kenakalan itu hanya untuk menantang sang ayah, dan bukan semata-mata karena dia bersyukur memiliki kehidupan yang lebih baik daripada sang adik. Bahkan saat Arez menawarkan jantungnya untuk diberikan kepada Araz pun, laki-laki itu sempat menolaknya. Apa alasannya jika bukan karena dia tidak ingin merasakan hidup lebih lama.
Kini saat dalam tidurnya yang tidak nyenyak Araz mengingat kejadian itu, ia merasa semakin tidak berguna. Rasanya bersalahnya pada Aksa semakin besar dan tak sanggup ia bendung.
Laki-laki itu menangis. Terisak dalam pelukan Kanya yang tak juga melepasnya sampai ia tertidur.
Araz memang merasakan semuanya. Bahkan ketika Kanya meninabobokkan dengan suara lembut hingga menembus sukma. Araz mendengarnya. Namun, jiwa laki-laki itu terlalu sakit hingga membuatnya hanya ingin memejamkan mata. Ia tersedot dalam pusaran rasa sedih serta bersalahnya kepada Aksa.
"Seandainya aku bisa mengabulkan satu keinginanmu saja," batin Araz menjerit saat mengingat keinginan sang adik. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan kini selain menyesalinya. Sampai di antara alam bawah sadarnya, ia lagi-lagi mendengar suara Kanya.
__ADS_1
"Mas, kita wujudkan impian Aksa buat keliling dunia yuk. Atau seenggaknya dari Sabang sampai Merauke. Eh, ke Pulau Jeju kayaknya enak juga deh. Nanti kita bisa mampir ke Soul. Aku pengen kenalan sama kakek yang udah mewariskan hampir seluruh DNAnya ke kamu."
Araz tersenyum. Meski ia kini tak bisa membedakan mana mimpi dan kenyataan, dalam hati meyakini jika akan memeluk mimpi-mimpi Aksa untuk menjelajahi dunia.