Pulang

Pulang
Season 2 #Tertunduk Lesu


__ADS_3

Langkah Hanung terhenti di lantai tiga begitu melihat staf MediaPena sedang berkumpul di depan ruang kerja Araz. Bahkan Kanya yang tidak pernah tertarik berbaur dalam keramaian pun, ikut berkumpul tidak jauh dari ruangan sahabat karib Hanung itu.


"Ada apa sih?! Ngapain pada ngumpul di sini semua?" tanya Hanung pada Kanya yang masih terpaku pada pintu ruangan sang kekasih.


"Pak Araz manggil Carmen sama Carol, Mas."


"Hah? Ngapain?"


"Nggak tahu, dari tadi mereka belum keluar juga."


"Memang ada masalah apa sih?" Hanung mendesak Kanya dengan pertanyaan.


Perempuan itu menggigit bibir bawahnya. Ragu-ragu dia mengatakan pada Hanung penyebab kedua rekan satu divisinya itu dipanggil sang atasan.


"Mereka kepergok mau nampar aku."


"Hah? Udah gila! Beraninya duo racun itu bikin ulah!" umpat Hanung tersulut amarah. "Harus dikasih pelajaran tuh biar tahu aturan!" imbuhnya diliputi perasaan kesal.


"Eh...Mas Hanung mau ngapain?"


"Kasih mereka pelajaran!" tandas laki-laki itu.


"Eh...ehh...ehhh...Mas Hanung, jangan!" larang Kanya pada sang atasan.


Namun, laki-laki itu tak mau dengar.


Dia bergegas masuk ke dalam ruangan Araz tanpa bisa dicegah. Bahkan laki-laki itu tak memedulikan panggilan Kanya yang memintanya untuk tetap tinggal.


"Wah, bakal makin seru nih. Salah cari musuh tuh orang."


"Gimana dong, Des?" tanya Kanya dengan panik.


"Biarin. Biar mampus tuh mereka. Juga biar jadi pelajaran buat yang lain supaya nggak semena-mena sama kamu."


Wajah Kanya memucat. Dia bukannya tidak suka ketika Araz mengambil langkah tegas. Mereka bahkan sudah pernah membicarakan soal hal itu sebelumnya.


Hanya saja, rasanya kurang berkesan bagi perempuan itu, jika sang kekasih yang langsung mengambil peran untuk memberikan hukuman bagi Carmen dan Carol. Kanya ingin kedua perempuan itu merasakan pembalasan yang lebih kejam lagi darinya.


Namun, untuk saat ini tidak ada pembalasan paling kejam selain dipanggil oleh sang atasan. Apalagi Hanung juga ikut mengambil peran dalam hal ini.


Sempurna.


"Dahlah, nggak usah lo pikirin nasib mereka. Paling parah juga bakal dipecat. Seenggaknya kalau nggak dipecat, mereka pasti bakal diskors. Atau potong gaji. Atau...."


"Memalukan!"

__ADS_1


Bentakan keras dari ruangan Araz membungkam ucapan Destia yang mencoba untuk membesarkan hati Kanya.


"Mas Hanung," bisik Kanya saat mengenali suara orang yang baru saja berteriak dari ruangan sang kekasih.


"Pak Hanung serem juga kalau lagi marah."


"Duh, gimana dong, Des."


"Ck, dahlah. Tungguin aja. Mereka pasti tahu apa jalan terbaik buat kedua cewek gatel itu. Lagian kalau kedua cewek gatel itu cerdas, mereka nggak akan bikin kesalahan fatal kayak gini.


Itu pun kalau mereka baca surat kontrak dengan benar." Destia menambahkan dengan nada geram.


"Beraninya kalian main kekerasan di kantor ini! Nggak baca SOP waktu tanda tangan kontrak?!" Suara Hanung kembali terdengar. Kali ini lebih keras dibandingkan sebelumnya.


"Wah, kayaknya beneran serius nih."


"Gila ya, memang beda kalau kesayangan para atasan."


"Backing-annya langsung pemilik perusahaan, Bos. Ngeri nggak tuh."


"Kalau yang diperlakukan nggak adil gitu, karyawan rendahan kayak kita, bakal dibela juga nggak tuh?"


"Haha...jangan tanya, jelas nggaklah. Memang siapa elo minta dibela atasan."


"Dih, sok bossy banget nggak sih?" komentar salah seorang di antara mereka dengan sengaja mengeraskan suaranya.


Tanpa perlu bantuan cenayang pun, Kanya yakin pasti dialah yang kini menjadi bahan pembicaraan.


Meski begitu dia memilih bungkam dan tidak memberikan tanggapan. Memang begitulah sifat dasar perempuan itu.


Beberapa hari saat ia khawatir dengan omongan orang lain, itu hanya memandang dari perspektif yang berbeda. Terutama tentang hubungannya dengan Araz. Sebab, ia juga memikirkan dampaknya bagi laki-laki itu.


Namun, ketika olok-olokan itu ditujukan hanya pada dirinya sendiri, Kanya lebih tak peduli dan tidak mengambil pusing omongan orang-orang.


"Masih berani kalian membela diri?!" Teriakan Hanung kembali terdengar setelah jeda beberapa saat.


Tingkat kemarahan Hanung membuat Kanya semakin berdiri gelisah.


"Lo kenapa sih, Nya?" tanya Destia saat melihat reaksi Kanya yang justru tampak tidak lega. "Lo nggak suka kalau Pak Hanung sama Pak Araz kasih pelajaran sama mereka?" imbuh Destia sambil berbisik pada Kanya.


Perempuan itu tidak ingin membuat suasana di luar kantor Araz semakin tidak terkendali akibat ucapannya. Destia bukannya tidak tahu jika Kanya menjadi buah pembicaraan orang-orang yang juga penasaran dengan nasib Carmen dan Carol. Namun, dia memilih untuk tidak peduli sebagaimana Kanya.


Meski begitu, tetap saja Destia tak bisa bersikap tak acuh pada reaksi Kanya yang dengan jelas tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang tergambar di wajahnya.


"Bukannya gitu, Des. Bisa bahaya kalau Mas Hanung sampai meledak kayak gitu."

__ADS_1


"Bagus dong. Seperti gue bilang, biar mereka jera dan nggak berani macam-macam lagi sama elo.


Biar itu juga jadi pelajaran buat yang lain!" tegas Destia seolah menutup mata jika Kanya tetap menjadi bahan sindiran sejak awal.


"Ck, lo nggak lihat mereka? Keliatan banget kalau mereka udah nggak sabar pengen mencabik-cabik gue kayak remahan roti."


"Terus?"


"Gue khawatir aja kalau sikap Mas Hanung justru bakal jadi bumerang. Dia udah kelewatan tuh marahnya. Padahal Pak Araz belum sempat ngomong sesuatu.


Lo paham kan maksud gue?"


"Oh, soal rumor murahan yang disebarkan orang nggak bertanggung jawab itu?"


"Nah, itu maksud gue."


"Dahlah, buat santai aja, Nya. Gue yakin, begitu biang kerok dari semua persoalan lo tutup mulut, nggak akan ada yang berani ngomongin lo lagi. Percaya deh, masalahnya juga cuma duo racun itu doang."


"Gue tekankan sekali ya, perusahaan nggak bakal rugi kehilangan kalian! Kami masih bisa mencari pengganti yang lebih baik dari kalian.


Udah bagus kami masih kasih kalian toleransi. Tapi kalau kalian aja nggak bisa dikasihani, mau gimana lagi?


Kami lebih baik kehilangan kalian, ketimbang mempertahankan dua orang yang kerjaannya bisa ditangani satu orang.


Ngerti kalian siapa yang gue sebut?" Suara Hanung sengaja lebih keras dari sebelumnya.


"Ini juga berlaku buat kalian yang dengerin di luar sana! Gue secara khusus minta Kanya buat bantuin MediaPena. Itu karena dia berkompeten.


Dia pilih buang kariernya di perusahaan besar yang bisa gaji dia tiga kali lipat lebih banyak ketimbang di sini. Cuma buat bantuin gue sama Araz.


Bisa-bisanya kalian yang baru terjun di dunia ini berlagak sok jagoan. Demi apa?


Rebutin cowok yang nggak ada duanya ini?


Wajar kali kalau Araz lebih pilih Kanya ketimbang salah satu dari kalian. Sifat kalian aja pengecut kayak gini?!" ucap Hanung semakin tajam dan menusuk.


"Dahlah. Beruntung kalian karena gue yang maki-maki kalian di sini. Gue juga yang ambil alih karena gue atasan kalian. Kalau Araz yang ngomong panjang lebar gantiin gue, udah nggak selamat kalian."


Sejenak ruangan kembali sepi. Tidak terdengar suara apa pun yang berasal dari ruangan sang atasan MediaPena.


"Ini peringatan buat pertama buat kalian. Silakan bikin surat permintaan maaf secara resmi. Kalau sampai kalian ketahuan melakukan tindakan kekerasan lagi - siapa pun korbannya - silakan membuat surat pengunduran diri!" tegas Hanung tak bisa ditawar.


Tidak ada balasan ataupun tanggapan.


Sesaat kemudian, kedua perempuan yang sebelumnya dipanggil ke ruangan Araz, keluar dengan kepala tertunduk lesu. Malu.

__ADS_1


__ADS_2