Pulang

Pulang
Makan Malam


__ADS_3

Renjana Kanya


Aku baru saja selesai mandi saat satu pesan terkirim ke gawaiku. Dari Mas Hanung.


Mas Hanung


Nya, gue denger lo ikut balik bareng Araz? Sini mana pesenan gue.


Anya


Besok gue anter ke kantor deh Mas. Capek banget hari ini.


Mas Hanung


Wah, berani bantah perintah bos nih?


Anya


Kita atasan dan anak buah kalau urusan kantor ya. Titipan lo bukan urusan kantor.


Mas Hanung memang tipe atasan yang bisa membedakan urusan kantor dengan pribadi. Jadi di luar jam kantor, dia bisa saja menjadi teman curhat, kakak, ayah, bahkan teman dugem sekalipun. Makanya aku pun bisa bersikap "semau gue" jika itu tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kantor.


Setelah tidak ada balasan dari Mas Hanung, aku merebahkan tubuhku ke kasur dan membiarkan kantuk mempengaruhiku sepenuhnya. Namun sebelum benar-benar sempat memejamkan mata, dering gawai membuatku terbangun seketika. Lagi-lagi nama Mas Hanung muncul di layar. Memang sepenting apa sih pesanannya hingga memaksaku harus mengantarkannya sekarang?


Dengan malas aku menjawab telepon Mas Hanung. Sebelum aku sempat mengucapkan salam, lelaki itu sudah memberikan instruksi dengan cepat. Bahkan tidak mengizinkan aku menyela sedikit pun.


"Antar ke alamat yang gue kirim di WA. Sekarang ya," kata Mas Hanung tegas tanpa bisa dibantah dan langsung mematikan teleponnya tanpa salam.


"Ish, nyebelin banget sih nih orang."


Aku mengecek pesan masuk dan membaca alamat yang dikirimkan oleh Mas Hanung. Keningku berkerut. Alamat yang dikirim bukan rumah Mas Hanung maupun alamat rumah orang tuannya. Apa lagi alamat rumah orang tua Mbak Sinta yang terkenal miliuner itu. Mas Hanung mengirimkan sebuah alamat apartemen di kawasan Slipi. Memang tak jauh dari tempatku, tapi pertanyaan alamat siapa yang akan kutuju belum juga mendapat jawaban. Sekalipun aku sudah mengirimkan pesan.


Sudah 15 menit aku menunggu balasan Mas Hanung, tapi lelaki itu tak kunjung membaca pesan yang kukirimkan. Bahkan dia juga tak menjawab teleponku.


"Nih orang mau ngerjain gue apa gimana sih?"


Menit ketujuh belas, sambungan telepon terhubung. Bukannya menjawab pertanyaanku, lelaki itu justru memintaku untuk segera datang dan melarangku membawa mobil. Aku harus naik ojek online, taksi, atau apa pun yang penting kendaraan umum.


Astaga, untung dia bos. Kalau bukan bos aku pasti akan membuat perhitungan saat berjumpa dengannya.


Masih kesal dengan perlakuan Mas Hanung, aku mengganti pakaian santaiku dengan kaus lengan pendek warna maroon dan celana jeans putih yang sudah pernah kupakai beberapa hari lalu dan masih menggantung di balik pintu kamar. Sebagai sentuhan terakhir aku mengambil jaket boomber putih andalanku yang juga masih menggantung di balik pintu. Tak lupa sneakers Nike putih hasil merampok Damar ketika ia ke Jakarta beberapa bulan lalu. Entah mengapa outfit putih selalu membuat taraf kepercayadirianku meningkat hingga seribu persen.


Sambil menenteng paper bag pesanan Mas Hanung yang berisi kain batik tenun gedog dan beraneka macam keripik khas daerahku, aku memesan taksi online agar tepat waktu saat sampai di lobi. Kalau ketemu, aku pasti akan memintanya mentraktirku makanan enak karena sudah menyuruhku tanpa peri kemanusiaan.

__ADS_1


Huftt... Bahkan ini sudah menjelang Mahgrib. Bisa-bisanya lelaki itu justru memintaku keluar rumah. Sungguh, benar-benar menyebalkan.


Lah trus ngapain gue mau aja dikerjain sama dia? Astaga Kanya, emang beneran **** lo!


***


Aku menekan bel pintu kamar 603 seperti petunjuk yang Mas Hanung berikan. Namun hampir lima menit berlalu belum juga ada tanda-tanda pemilik apartemen akan membuka pintu. Aku menekan bel sekali lagi. Tetap sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam.


"Gimana sih nih orang. Bener ini 'kan alamatnya?"


Kucocokan sekali lagi alamat yang dikirim Mas Hanung dengan nomor yang menempel di d3aun pintu. Betul 603, tapi kenapa tak ada satu pun orang yang membuka pintu?


Mulai sebal, aku menelepon nomor Mas Hanung. Sialnya lelaki itu tak mengacuhkan panggilanku. Sebenarnya apa sih yang bapak-bapak itu inginkan? Tidak mungkin 'kan ini keisengan anaknya. Toh tadi beneran suara Mas Hanung yang telepon.


Tok...tok...tok...


Akhirnya aku mengetuk keras-keras daun pintu agar mendapat perhatian pemilik apartemen. Tetap hasilnya sama saja. Hingga pada menit kedelapan pintu terbuka. Wajah yang tak asing muncul dari balik pintu.


"Mas Al... Araz? Kenapa... Kok..." Aku kehilangan kata-kata saat Araz muncul dari balik pintu. Sejak kejadian tadi siang, aku akan mencoba menyebut namanya dengan benar. Meski aku tidak yakin apa penyebab sikapnya yang tiba-tiba jadi pendiam.


Lelaki itu sama bingungnya denganku saat melihatku berdiri di depan pintu apartemennya. Sepertinya kami menjadi korban prank atas keisengan Mas Hanung.


"Aku tinggal di sini. Dan kamu..."


"Oh, masuk yuk. Nggak baik anak perawan jam segini masih di luar rumah. Hanung masih berjemaah sama Abi."


Tak bisa kupungkiri, aku cangung berhadapan dengan Aldo ah... Araz maksudku, saat mengingat suasana tak mengenakkan sore tadi. Sedang kini aku harus menghadapi sosok yang tadi jelas-jelas tidak mengacuhkanku. Apa lagi sih rencana Mas Hanung kali ini?


"Ehm, aku nitip ini aja buat Mas Hanung. Kayaknya aku pamit aja deh, Mas," tolakku menghindari suasana yang mungkin akan semakin tidak mengenakkan.


"Eh, eh... Enak aja lo mau pergi gitu aja. Nggak, nggak. Masuk dulu lo." Suara khas Mas Hanung terdengar dari dalam apartemen. Lelaki berkacamata itu keluar masih menggunakan sarung dan peci selepas menunaikan tiga rakaat.


"Tapi Mas..."


"Masuk nggak lo!" Ancam Mas Hanung sambil menudingku menggunakan telunjuknya. Sumpah, bapak satu anak ini benar-benar sengaja membuatku kesal. "Lo juga gimana sih Raz, bukannya disuruh masuk malah dibiarkan berdiri depan pintu. Mau lo gue panggil..."


"Eits, jangan macem-macem lo sama gue! Kanya udah gue suruh masuk juga kali. Lo aja yang tiba-tiba muncul ngerusak suasana."


Dua lelaki sebaya itu justru sibuk berdebat di depanku. Adu argumen siapa yang patut disalahkan atas insiden yang baru saja terjadi. Tentu saja Mas Hanung yang paling berperan dalam masalah ini. Dia justru mencari pembenaran dengan menyudutkan Araz.


Sebentar, kenapa aku baru menyadari satu hal? Jika Mas Hanung dan Araz teman saat SMA dan mereka sebaya, berarti umurnya bukan lagi awal tiga puluh dong, tapi udah 33. Jadi aku dan dia beda umur delapan tahun, bukan lima tahun?


Bisa-bisanya gue ngira kita beda umur lima tahun waktu pertama kali ketemu. Duh Kanya, otak lo kenapa mendadak jadi oon sih. Apa karena waktu itu dia keliatan lebih muda dari umur aslinya? Kalau sekarang dilihat pun dia emang beda sama Mas Hanung sih.

__ADS_1


"Woi Kanya Gayatri! Malah bengong ni anak. Masuk nggak lo. Kalau pulang sekarang gue sumpahin nggak dapet taksi lo."


Suara Mas Hanung membuyarkan lamunan yang tiba-tiba memasungku. Lelaki itu bahkan menarik tanganku agar masuk ke dalam apartemen Araz. Seorang bocah lelaki berumur empat tahun berlari memelukku saat kami melewati ruang santai sekaligus merangkap dapur dan ruang makan. Abi, anak Mas Hanung itu memang lumayan akrab denganku sejak pertama aku bekerja di bawah bimbingan ayahnya.


"Tante Anyaa... Tante ke sini mau ikut makan malam sama kita ya?"


Pertanyaan Abi membuatku semakin bingung. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan Mas Hanung?


Aku hanya tersenyum kikuk menanggapi pertanyaan Abi yang kini sudah tidak lagi peduli dengan jawabanku. Bocah itu sudah mengambil alih pesanan ayahnya dan membuka satu kemasan kripik singkong berlabel "gerus".


"Kalau mau Mahgrib, ada mukena di tempat sholat, Nya," kata Araz dari arah dapur. Lelaki itu sedang sibuk di depan kompor entah memasak apa. "Ah, kamar mandinya ada di bawah sebelah kanan tangga," ucapnya lagi sambil masih sibuk dengan peralatan masaknya.


"Aku sedang halangan Mas," jawabku ditanggapi anggukan oleh Araz. Karena bingung apa yang harus kulakukan, aku memilih duduk menemani Abi yang sedang serius menonton tayangan kartun anak kembar bikinan negara tetangga itu. "Abi suka nonton Upin-Ipin."


"Suka dong Tante. Nanti kalau besal Abi mau bikin kaltun kayak Upin-Ipin."


"Kalau mau bikin kartun, harus mau makan sayur biar pinter. Trus baru deh tuh bisa bikin kartun kayak Upin-Ipin. Masa mau makan sayur kalau dimasakin sama Om Araz mulu," celetuk ayahnya ketika keluar dari salah satu ruangan di apartemen Araz. Abi hanya cemberut dan meneruskan memakan kripik sambil matanya tak lepas dari layar televisi. "Lo nggak Mahgrib dulu, Nya?"


"Lagi halangan gue, Mas."


"Oh... Lo sini aja dulu, Araz lagi masak banyak tuh. Lo harus cobain masakan dia. Gue jamin, besok-besok lo pasti bakal ketagihan."


"Oh ya? Seenak apa emang?"


"Udah matang semua nih, kamu coba icip aja, Nya. Baru deh nanti bisa komentar," tawar Araz sambil menata hasil masakannya di meja makan. Mas Hanung memberiku tanda agar mengikuti permintaan Araz.


"Wah keliatannya lezat nih," komentarku saat melihat berbagai masakan terhidang di meja makan.


Mulai capcay, fuyunghai, bihun, hingga tumis kangkung dan tahu-tempe. Harum nasi panas yang mengepul membuatku menelan liur. Aku baru sadar jika sejak tadi pagi belum sempat menelan apa pun untuk dimakan. Jika rencana Mas Hanung memintaku kemari untuk mengajakku makan malam, tentu aku tak bisa menolaknya dengan percuma.


"Nggak bakal bisa nolak 'kan lo lihat hasil masakannya. Belum kalau lo udah ngerasain masakan Araz, beuh... udah, gue jamin nagih."


"Mas Araz jago masak juga ternyata."


"Kamu boleh komentar kalau udah tahu rasanya, Kanya," kata Araz sambil mengulurkan sendok dan piring kepadaku. Aku menerimanya dengan ragu-ragu.


"Udah nggak usah sok jaim lo, Nya," goda Mas Hanung sambil berdiri di sampingku. Mendengar ucapannya membuat pipiku terasa panas. Sial memang atasanku satu ini.


"Om, Abi mau makan sama capcay masakan Om Ayaz. Tante Anya juga cobain deh. Masakan Om Ayaz paling enak nomol satu di dunia," teriakan Abi terdengar dari depan TV.


Mendapat dukungan dari dua lelaki dan satu bocah - laki-laki juga, akhirnya aku menyendokkan capcay ke piring yang diberikan Araz dan mencicipi masakan lelaki itu. Benar kata Abi, mungkin masakan Araz memang paling enak - sekalipun tidak sedunia, paling tidak cukup mewakili beberapa restauran yang ada di sekitar Slipi. Rasa rempahnya bisa berpadu sempurna dengan saus tomat. Bahkan takaran pedasnya pun pas di mulut. Sangat aman juga untuk anak kecil seperti Abi.


"Gimana, mau pulang atau makan malam?" tawar Mas Hanung hanya kubalas senyuman dan ikut duduk di meja makan. Bahkan Abi yang tadi asyik menonton TV, kini sudah duduk di sampingnya dengan wajah berbinar.

__ADS_1


Mana bisa aku melewatkan makanan enak secara gratis? Momen seperti ini tidak bisa disia-siakan begitu saja.


__ADS_2