Pulang

Pulang
Season 2 #Makan Siang Penuh Drama


__ADS_3

Destia masih tak melepaskan tatapannya dari Kanya. Seakan mencari kebenaran dalam sorot mata perempuan itu. Bahwa apa yang diucapkan Kanya memang benar. Jika tidak ada hubungan apa pun di antara perempuan itu dengan Araz.


"Jadi, beneran nggak ada hubungan apa pun di antara kalian?" tanya Destia masih mendesak Kanya.


"Ck, nggak percaya banget sih sama gue? Emang nggak ada hubungan apa pun di antara gue sama Pak Araz, Des."


Perempuan itu tersenyum penuh makna. Dia mendekatkan tubuhnya ke telinga Kanya. Selain untuk membicarakan hal yang cukup rahasia, juga karena Carol dan Carmen baru saja memasuki ruangan dan duduk di meja mereka masing-masing.


"Kalau beneran nggak ada hubungan apa-apa antara lo sama Pak Araz, berarti boleh dong kalau gue deketin dia?" bisik Destia menggoda temannya itu.


Kanya terkejut. Dia menjauhkan diri dari Destia dengan ekspresi muka yang sudah dibayangkan oleh perempuan itu.


"I...itu sih, terserah lo," ucap Kanya kikuk. Perempuan itu tampak salah tingkah.


Namun, tidak bisa mencegah upaya Destia untuk mendekati sang kekasih.


"Bener?" Destia kian menggoda Kanya.


"I...iyalah. Deketin aja kalo lo emang mau," balas Kanya dengan suara bergetar.


Jelas saja dia tidak terima jika Araz digoda perempuan lain. Tapi, dia juga tidak bisa mengakui hubungannya dengan Araz. Bahkan kepada Destia.


Sementara Destia yang sudah menebak kebenaran yang disembunyikan Kanya, hanya menahan senyum penuh makna.


"Beneran ya? Jangan nyesel loh kalau sampai Pak Araz tertarik sama gue," ucap Destia semakin gencar menggoda Kanya.


"Duh, terserah deh. Gue nggak tertarik sama dia." Sikap Kanya berubah ketus tanpa disadarinya.


Namun, tentu saja Destia tidak bisa melewatkan hal itu begitu saja. Perempuan itu tertawa sambil menepuk pundak Kanya.


"Udah gila gue kalau beneran nekat deketin, Pak Araz. Gue tahu kalau kalian pasti ada sesuatu. Nggak masalah sih kalau lo nggak mau ngaku, tapi jangan segan buat ngelabrak orang yang bakal ngerusak hubungan lo. Lo tahu kan maksud gue," ucap perempuan itu sambil melirik ke arah Carmen dan Carol dengan ekor matanya.


Kanya dengan sigap melirik ke arah mana Destia menunjuk.


"Ah, sial."


Seketika Destia tertawa saat mendengar umpatan Kanya.


"Haha...benar kan dugaan gue. Kalian pasti punya hubungan yang spesial."


Seketika Kanya melirik ke arah Destia dengan kesal.

__ADS_1


"Aish...sial!" umpatnya saat menyadari bahwa Destia sudah menjebaknya.


Sedangkan perempuan itu hanya tertawa karena umpan yang dia tabur berhasil menangkap ikan.


"Haha...lo berutang pengakuan sama gue, Bu Bos," bisik perempuan itu.


"Ish," keluh Kanya terlihat kesal. Bisa-bisanya dia terjebak dengan umpan yang yang ditabur oleh Destia.


"Udah sana balik," imbuhnya sambil mendorong perempuan itu untuk menjauh dari mejanya.


Sedangkan Destia hanya tertawa sambil melenggang meninggalkan ruang redaksi pemberitaan. Perempuan itu tak lupa mengedipkan sebelah matanya pada Kanya sebelum benar-benar keluar dari ruangan.


Tepat di saat yang sama, Hanung membuka pintu ruangan dan memberikan pengumuman pada semua orang tentang undangan makan siang dari Araz.


"Gue punya pengumuman buat kalian," ucap Hanung dari pintu ruangannya. "Nanti siang, Pak Araz ngajakin kita semua makan siang," imbuhnya penuh makna sambil melirik ke arah Kanya.


Carol dan Carmen bersorak dari kursi mereka. Mereka saling berbisik setelah mendengar pengumuman dari Hanung.


"Oh ya, tempatnya di Sakura Sushi and Ramen. Gue udah bikin pengumuman juga di grup perusahaan. Jangan ada yang mangkir ya," ucapnya lagi sambil melirik Kanya yang terlihat syok.


"Ha? Sakura Sushi and Ramen? Udah gila ya?!" tanpa sadar Kanya berteriak tanpa bisa dikendalikan.


Seketika dia menutup mulut dan menetralkan keadaan dengan minum air dari gelas tumblr.


"Ya? Kenapa, Nya?" tanya Hanung pura-pura kaget dengan reaksi Kanya.


"Ah, nggak Mas. Bukan apa-apa," jawab Kanya terlihat kikuk.


Padahal Hanung tahu jelas apa yang membuat Kanya berteriak pada laki-laki itu.


Sakura Sushi and Ramen adalah restoran Jepang yang sangat terkenal dengan harganya yang selangit. Restoran itu milik salah pengusaha sukses di negeri ini yang namanya sering kali menjadi pembicaraan banyak orang. Hendrawan Group. Perusahaan yang bergerak di banyak bidang dan restoran Jepang salah satunya.


Ah, Kanya tidak sanggup membayangkan, seberapa besar bill yang harus dibayarkan untuk makan tiga puluh orang karyawan MediaPena.


Dan, makan siang hari ini bukan acara perusahaan. Melainkan menggunakan uang pribadi Araz karena ketololannya.


Memang benar uang bukan perkara rumit bagi Araz. Tapi jika itu akibat ulah Kanya, bagaimana bisa perempuan itu memaafkan dirinya sendiri.


Sedangkan Hanung bisa memanfaatkan momen ini dengan sangat cerdik. Tentu saja Kanya bakal merasa bersalah. Akibat ulahnya, Araz yang harus menanggungnya.


Ingin rasanya perempuan itu membantah rencana Hanung. Namun, di ruangan tersebut ada Carmen dan Carol yang bahkan lebih berbahaya daripada jenis marabahaya apa pun yang pernah ada.

__ADS_1


Bagaimana bisa Kanya membantah Hanung dalam kondisi seperti ini?


Dan, laki-laki itu yang menyadari kemenangannya hanya tampak tertawa puas sebelum kembali ke ruangannya.


"Aish, sial. Kacau sudah semuanya," ucap Kanya. Dengan kesal dia kembali menyiapkan bahan rapat hari ini sebelum kembali ditagih oleh sang kepala redaksi.


***


"Mas Hanung, nggak ada tempat lain ya selain Sakura Sushi and Ramen?" tanya Kanya tanpa basa-basi begitu mereka selesai membahas topik yang akan dibahas minggu ini.


Dalam ruangan rapat, hanya tinggal mereka setelah reporter yang lain lebih dulu pergi.


"Haha...memang kenapa, Nya?"


"Gue nggak enak sama, Mas Araz."


"Lah, memang kenapa? Dia oke-oke aja tuh."


"Bukan gitu, Mas. Kalau gue nggak asal ngomong juga nggak bakal ada situasi kayak gini. Gue nggak enak lah sama, Mas Araz.


Lo juga, bisa-bisanya pilih tempat makan yang mahal gitu." Kanya memprotes perbuatan sang kepala redaksi yang kini tampak menahan senyum.


"Haha...udah deh, nggak perlu khawatir, Araz bukan orang yang perhitungan."


"Bukan itu masalahnya, Mas Hanung...." keluh Kanya terdengar kesal. "Gue yang nggak enak sama dia."


Hanung melipat tangannya di depan dada. Dia menghela napas panjang sebelum mengucapkan kalimatnya pada Kanya.


"Mau gue kasih nasihat?"


Kening Kanya berkerut. Bukannya memberikan solusi yang tepat, Hanung justru berniat memberinya nasihat.


"Aish, dari ekspresi wajah lo udah ketebak kalau lo nggak setuju sama gue. Tapi, gue harus tetap kasih nasihat ini buat lo," tegas Hanung mengabaikan ekspresi wajah Kanya yang tampak keberatan.


"Nasihat gue buat lo, mending akuin aja hubungan kalian di depan banyak orang. Itu bakal lebih mudah ketimbang kucing-kucingan," ucap Hanung seketika membuat wajah perempuan itu memucat.


"Mau tahu kenapa? Bakal sulit buat kalian ke depannya kalau terus-terusan kayak gini, Nya. Bukan cuma lo atau Araz yang dirugikan, tapi kalian semua.


Kenapa? Takut sama pandangan orang lain? Faktanya, lo yang direkrut perusahaan. Bukan lo yang ngemis kerjaan. Lo bahkan rela lepas kerjaan yang gajinya lebih gede demi MediaPena.


Kalau ada yang protes soal itu, suruh dia ngadep gue. Biar gue tampar sama fakta yang ada," ucap Hanung panjang lebar.

__ADS_1


Namun, Kanya tetap bergeming. Tentu bukan perkara mudah untuk memutuskan hal tersebut.


__ADS_2