
Pukul 12.20, aku sudah sampai di rumah Dokter Fani. Tadi pagi Dokter Fani mengirimkan pesan untuk makan siang di rumahnya saja. Sebenarnya aku sendiri bingung dengan sikap Dokter Fani hari ini. Beliau tidak pernah mengundangku untuk makan siang, tetapi beliau memang menyediakan cemilan semacam kue-kue kering, biskuit, dan coklat saat wawancara. Tidak lupa juga dengan minumannya. Akan tetapi, hari ini beliau mengajak makan siang di rumahnya? Ntah kenapa aku jadi was-was. Jangan-jangan wawancaranya selesai sampai sore. Alamak numpuk ini kerjaan.
Aku memencet bel yang berada di samping pagar rumah. Tidak berapa lama aku mendengar suara pintu rumah dibuka.
“Kak Aira, ya?” tanya gadis remaja yang membukakan pintu pagar untukku. Dia sepertinya putri Dokter Fani.
“Iya. Dokter Faninya ada?”
“Ada, Kak. Yuk, masuk. Sudah ditungguin mama.” Ada apa ini? Tumben sekali Dokter Fani menunggu aku. Biasanya kan aku yang menunggu beliau.
Rumah Dokter Fani cukup sederhana. Rumah beton bercat putih bertingkat dengan halaman yang cukup luas. Terdapat pohon mangga, belimbing, dan pepaya di halaman tersebut. Ada juga berbagai bunga di sekeliling rumah. Dokter Fani memang menyukai tanaman. Beliau sering menghabiskan waktu sorenya dengan merawat bunga-bunganya. Di umur yang sudah menginjak kepala 5 sudah seharusnya Dokter Fani menghabiskan banyak waktunya di rumah, tetapi beliau masih tetap bekerja di kliniknya. Katanya selagi masih bisa menyembuhkan orang-orang, beliau akan tetap bekerja. Biaya berobat di kliniknya juga relatif murah karena beliau berniat ingin membantu. Sebenarnya, beliau ramah, berdedikasi, loyal, baik, cerdas, dan keibuan. Hanya saja... sedikit cerewet.
Aku menunggu di ruang tamu, sedangkan Dokter Fani sedang berada di dapur. Tetapi kok rumahnya rame ya? Seperti lagi ada tamu. Kalau tau Dokter Fani lagi ada tamu begini, lebih baik diundur saja wawancaranya. Aku jadi merasa tidak enak. Sepertinya Dokter Fani sedang kedatangan kerabat keluarga. Aku melihat beberapa anak-anak kecil di halaman samping rumah. Cucunya mungkin, ya. Aku mencoba mengusir perasaan canggung di rumah Dokter Fani dengan memainkan ponselku. Aku membuka akun instagram dan membaca info-info K-Pop.
“Siang, Ra. Sudah lama ya tidak wawancara sama kamu,” sapa Dokter Fani.
“Siang, Dok. Iya nih, Dok. Saya kebagian wawancara dengan Dokter Fahri terus. Gimana kabarnya, Dok?”
“Alhamdulillah sehat. Kamu bagaimana? Kamu kurusan deh. Sering lembur ya? Makannya juga nggak teratur kayaknya.”
Nah, siap-siap mendengar kecerewetan Dokter Fani. “Saya juga sehat, Dok. Masa sih, Dok? Padahal saya makannya banyak loh.”
“Iya, kamu kurusan. Coba deh timbang berat badan kamu nanti. Di kamar saya ada timbangan, kok. Kamu bisa timbang nanti.”
“Nggak usah, Dok. Terima kasih. Nanti saya timbang di kantor saja,”tolakku. Yang bener saja harus cek berat badan di sini. Masa setiap wawancara harus cek berat badan, sih.
“Kamu harus makan lebih banyak lagi. Kamu kan kerjaannya banyak, tuh. Jangan ngemil terus. Lebih baik makan buah-buahan daripada jajanan yang sering kamu beli tuh.” Dokter Fani pun sudah mulai memberikan nasehatnya. Kalau aku membantah perkataannya, aku pastikan tidak akan terjadi wawancara hari ini. Lebih baik iyakan saja.
“Iya, Dok. Terima kasih atas nasehatnya.” Padahal jajanan yang sering aku beli juga cilok, telur gulung, dan tahu bulat. Kan enak makannya sambil nulis artikel.
“Kamu belum makan siang, kan? Ayo makan siang dulu,” ajak Dokter Fani.
“Nggak apa-apa, Dok. Dokter makan siang saja dulu sama keluarga. Kayaknya Dokter lagi kedatangan tamu juga. Saya tunggu di pondok halaman depan saja.” Aku serius tidak ingin makan siang dengan keluarganya Dokter Fani. Bukannya apa. Keluarganya juga bukan, teman juga bukan, pasien juga bukan. Aku datang ke sini kan mau bekerja, bukan berkenalan dan makan siang dengan keluarganya. Lagipula aku pasti canggung sekali.
“Anak-anak saya sedang libur kerja dan liburan di Depok. Mereka sengaja ngambil cuti barengan biar bisa kumpul-kumpul. Jadinya rame begini. Kamu nggak usah canggung. Kita sengaja belum makan siang loh karena nungguin kamu.”
Masalahnya, kenapa dokter nungguin saya? Makan siang dulu dengan keluarga juga tidak apa-apa. Ahh, aku jadi merasa tidak enak dengan Dokter Fani. Mungkin makan siang dengan keluarganya Dokter Fani tak seburuk yang aku bayangkan. Pasti canggung sih. Ya sudahlah. Biarkan saja canggung. “Ya udah, Dok. Yuk, makan siang.”
Dokter Fani mengajakku ke dapur. Anak-anak dan cucu-cucunya sudah ada di sana. Keluarga Dokter Fani makannya di lesehan. Katanya biar lebih akrab. Semuanya sudah tersedia di tengah-tengan lesehan. Mereka sepertinya memang menunggu aku dan Dokter Fani. Beberapa cucunya juga sudah mulai makan. Aku duduk di samping kiri Dokter Fani karena aku tidak tahu harus duduk di mana. Seriusan. Aku benar-benar merasa canggung. Di samping kanan Dokter Fani, ada suaminya. Di depanku dan Dokter Fani ada anak-anaknya dan cucunya.
“Kenalin, nih, yang sering wawancara Mama dari YesDokter. Namanya Aira. Mama dan Papa manggilnya Rara.” Dokter Fani pun memperkenalkan aku kepada keluarganya.
“Siang, Mas, Mba. Saya Aira. Bisa dipanggil Rara atau Aira juga nggak apa-apa. Asalkan jangan Air aja.” Aku tahu aku ini garing, tetapi aku tidak tahu harus bagaimana menghilangkan kecanggungan ini. Udah, tenggelamkan sajalah aku di kolamnya Bu Dokter. Aku malu.
“Hahaha. Iya kali ada yang manggil kamu ‘Air’, Ra. Ada-ada aja kamu,” balas Pak Fauzi, suami Dokter Fani.
Terima kasih, Pak, sudah merespons guyonan garing ini. “Ada kok, Pak. Atasan saya manggil saya ‘Air’ kalau ngeliat saya mengantuk, main HP, atau kerjannya nggak bagus di kantor. Saya jadi parno gitu, Pak, kalau dipanggil ‘Air’. Kesannya saya lagi buat kesalahan.”
__ADS_1
“Makanya pulang kerja tuh langsung istirahat, bukannya nonton drama korea sampe tengah malam,” respons Dokter Fani. Dan masih aku saja yang salah.
“Refreshing, Dok. Hiburan setelah bekerja,” balasku.
“Bilang aja kamu sebenarnya pengen ngeliat oppa-oppa kamu itu.”
Skak mat. Aku butuh penyegaran mata setelah melihat tulisan-tulisan terus seharian. Kan dengan begitu aku jadi lebih bersemangat lagi kerjanya. Ibaratnya lagi mengisi baterai HP yang sedang Low. Aku tidak menyangkal dan juga mengiyakan pernyataan Dokter Fani. Yang ada nanti ceritanya tambah panjang dan tidak jadi makan padahal aku juga sudah lapar.
“Nah yang di depan kamu anak pertama saya. Namanya Ilham. Yang disampingnya itu istrinya, Mona. Dan itu anak-anak mereka, Zaid, Zayn, dan Zahrah. Mereka tinggalnya di Semarang. Yang di samping Zahrah, anak kedua saya. Namanya Fadlan. Dia kerja di Bandung. Di sampingnya anak bontot dan cewek satu-satunya. Namanya Fika. Dia kuliah di Jogja.” Dokter Fani memperkenalkan semua anggota keluarganya kepadaku dan yang kubalas dengan anggukan dan senyuman kepada anak-anak yang disebutkan Dokter Fani.
“Udah selesai kan perkenalannya? Ayo ayo makan. Ayo makan, Ra,” ucap Pak Fauzi.
“Iya, Pak,” balasku sambil mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang sudah disediakan Dokter Fani. Ada ikan mas goreng dan bakar, ayam bakar kecap, sayur sop, tahu, tempe, lalapan, karedok, dan bihun goreng. Waah. Ini mah makanan kesukaanku semua.
“Loh, Bintang belum bangun juga? Ya ampun. Tidur dari pagi sampai siang. Ibu hamil aja nggak sampai gitu tidurnya,”ucap Dokter Fani geram.
Siapa lagi Bintang? Putrinya Dokter Fani? Bukannya Fika anak cewek satu-satunya, ya? Ahh, istrinya Mas Fadlan kali ya.
“Udah bangun kok, Mam. Dia lagi mandi tadi,” ucap Mas Fadlan.
“Zayn, oma boleh minta tolong, nggak? Tolong panggilin Uncle Bintang ya,” pinta Dokter Fani ke Zayn.
Zayn langsung menuju lantai 2 untuk memanggil Uncle-nya itu. Eh tunggu. Uncle? Lah, kirain istrinya Mas Fadlan. Dokter Fani anaknya 4 dong kalau gitu. Banyak juga ya. Aku menyeruakan ini semua di kepalaku sambil menyantap hidangan ikan mas bakar kesukaanku. Ikan masnya enak banget. Serius. Ini siapa yang masak ya anyway?
“Udah bangun kok, Ma. Tadi sholat dulu.”
“Kenalin, Ra. Ini anak ibu yang ketiga. Namanya Bintang. Dia baru saja pulang dari London. Dia kerja di sana sebagai Dokter Spesialis Saraf. Tapi sekarang bakalan kerja di sini, di Depok,” ucap Dokter Fani memperkenalkan putranya ini.
Waah panjang ya perkenalannya. “Aira,” ucapku basa-basi.
“Bintang,” balasnya.
“Aira kerja di YesDokter sebagai Content Writer. Dia sering wawancara mama masalah kesehatan buat artikelnya. Mama, Papa manggilnya Rara. Mama dan Rara tuh bestfriend. Sering curhat-curhatan dan diskusi masalah apa aja.”
Wait. Itu tadi yang ngomong Dokter Fani? Kok aku merasa lagi dipromosiin, ya? Sejak kapan juga aku dan Dokter Fani jadi bestfriend? Kita memang sering diskusi masalah apa saja, tetapi kalau masalah curhat kayaknya nggak deh. Seingatku, aku tidak pernah curhat ke Dokter Fani, tetapi Dokter Fani memang sering curhat masalah kerjaannya dan kadang suaminya kepadaku. Tetap saja itu tidak bisa menjadikan kami sebagai bestfriend? Yang ada akunya yang segan dengan Dokter Fani.
Aku hanya diam saja tidak tahu harus merespons seperti apa terhadap perkenalan diriku yang panjang.
“Jangan dipanggi ‘Air’, Bin. Jadi ingat dosa katanya,” kata Mas Fadlan.
Untung saja direspons sama Mas Fadlan. Dia mungkin tahu aku lagi kebingungan.
“Bukan dosa, Mas, tapi kesalahan di kantor karena sering ngantuk,” bantahku.
“Sama aja. Berbuat kesalahan berarti berbuat dosa,” balas Mas Fadlan.
“Kata siapa itu? Kutipannya yang jelas dong,” bantahku lagi.
__ADS_1
“Mentang-mentang penulis ya. Jadi harus jelas siapa dan kapan ya kalau mau ngasih statement,” balas Mas Fadlan lagi.
Wah, ngajak berantem nih. “Kok jadi bawa profesi ya? Bukan gitu...” Tiba-tiba saja aku sadar aku di mana dan dengan siapa. Ra, kamu tuh baru kenal mereka hari ini. Jaga sikap. “Iya deh.”
“Cepat banget nyerah.”
Bener-bener da ini Mas Fadhlan. Sifatnya sama banget dengan Dokter Fani. Suka ngajak debat tapi kayak ngajat gelut. Aku membalasnya dengan menaikkan kedua bahuku. Tandanya aku malas untuk berdebat.
“Udah, udah. Nanti aja debatnya, ya. Kita makan aja dulu. Rara juga harus wawancara mama dan harus balik ke kantor lagi,” lerai Pak Fauzi.
“Ini kok banyak banget lauknya, Ma. Nggak biasanya juga Mama masak ikan mas bakar.” Itu Bintang yang bersuara.
“Mama sengaja masak karena ada Rara. Kemaren Rara ulang tahun. Iya kan, Ra?” tanya Dokter Fani memastikan.
Tiba-tiba saja aku merasa dadaku sesak. Rasanya aku ingin menangis. Aku tidak menyangka Dokter Fani akan mengingat hari ulang tahunku. Aku tidak memiliki keluarga di sini. Keluargaku semuanya berada di Medan. Rasanya, aku seperti mempunyai keluarga yang bisa aku jadikan tempat bersandar. Dokter Fani juga mengingat makanan kesukaanku. Aku terharu dan merasa bersalah juga karena mengatakan beliau cerewet. Aku sadar beliau cerewet karena beliau peduli padaku. Harusnya aku bersyukur mempunyai bestfriend seperti Dokter Fani.
“Iya, Dok. Terima kasih sudah mengingat hari ulang tahun saya.”
“Ya harus dong. Kamu kan bestfriend saya. Happy birthday, ya. Maaf kamu sering saya cerewetin.”
“Makasih, Dok. Nggak apa-apa kok. Saya suka dicerewetin sama Dokter,” ucapku dengan suara yang serak karena menahan tangis.
“Mama tuh. Jangan sering cerewetin Rara lagi. Rara udah mau nangis tuh. Happy birthday ya, Ra. Stay healthy and happy,” ucap Pak Fauzi.
“Happy birthday, Kak Rara. Makasih loh ada mau jadi bahan pelampiasan kecerewetan mama,” ucap Fika.
“Happy birthday ya, Ra,” ucap Mas Ilham.
“Happy birthday, Rara,” ucap Mba Mona.
“Happy birthday ya, Rara. Kamu pasti makin hari makan sabar ya orangnya karena dengerin kecerewetan mama terus,” ucap Mas Fadhlan.
“Sudah pasti. Belum lagi dengerin curhatannya mama kamu yang panjang,” balas Pak Fauzi.
“Selamat Ulang Tahun, Ai. All the best wishes for you,” ucap Bintang.
“Ai?” tanya Mas Fadlan.
“Nggak boleh dipanggil ‘Air’ aja, kan? Ai boleh dong kalau gitu?” jawab Bintang.
“Iya, boleh, kok. Makasih Dok, Pak, Mas, Mba, Fik ucapannya. Saya benar-benar terharu. Nangis boleh nggak, sih?” ucapku. Tetapi serius! Aku benar-benar ingin menangis sekarang.
“Aunty Rara cengeng. Masa dikasih ucapan Happy Birthday aja mau nangis. Harusnya Aunty senyum. Kan lagi bahagia. Lagian kan Aunty Rara udah gede, nggak boleh nangis,” ucap Zahrah dengan segala kepolosannya.
“Kata siapa...” aku langsung menghentikan ucapanku. “Iya ya. Aunty emang cengeng. Ya udah, Aunty senyum niih.”
Semuanya tertawa kecil mendengar percakapanku dengan Zahrah. Mereka tahu aku hendak membantah perkataan Zahrah tadi. Aku sadar dia baru berusia 3 tahun. Dia tidak akan tahu air mata juga bisa menandakan kebahagiaan. Ucapan selamat ulang tahun juga bisa mengharukan. Ahh aku benar-benar bahagia hari ini. Lembur juga nggak apa-apa deh hari ini.
__ADS_1
“Dasar. Bocah juga mau didebat.” Itu bukan Mas Fadlan yang ngomong, tetapi Bintang dan sambil tertawa kecil.