Pulang

Pulang
Season 2 #Pesona Sang Kekasih


__ADS_3

"Pasti Putra, kan?" seru Kanya tak bisa menahan kesal.


Wajah perempuan itu cemberut sekaligus menahan malu di saat bersamaan.


Araz hanya tertawa sebagai tanggapan.


"Dahlah, udah ketebak. Nggak ada orang lain selain Putra. Mama nggak mungkin senekat itu bilang sendiri ke Mas Araz." Perempuan itu masih bersungut-sungut.


Sementara Araz hanya sanggup tertawa melihat sikap Kanya.


"Kenapa nggak bilang aja sih? Kan itu pesan dari orang tua yang harus disampaikan," goda laki-laki itu semakin membuat wajah Kanya memerah.


"Ya...itu kan...."


Kanya kehilangan kata. Ia tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya akibat terlalu malu.


Putra sudah membuat ulah dan Araz semakin memperparah keadaan. Dua laki-laki itu sudah bersekongkol untuk mengerjai Kanya.


"Dih, mana puas banget lagi ketawanya," runtuk Kanya begitu Araz tak juga berhenti tertawa.


Perempuan itu sangat kesal. Namun, juga terlampau malu untuk berhadapan dengan Araz.


"Haha...udah, nggak apa-apa, Nya. Terima aja keadaannya."


Kening Kanya berkerut. Ia menatap Araz dengan sebal.


"Keadaan gimana nih yang dimaksud?"


"Kalau kamu harus kasih bingkisan buat calon mantu," ucap Araz semakin iseng menggoda Kanya.


"Tahu ah, serah Mas Araz. Aku nggak bakal kasih ini buat kamu."


"Eh, eh...kok gitu?"


"Siapa suruh bikin aku kesel!" Kanya merajuk.


Dengan wajah menahan kesal, perempuan itu mendorong pintu mobil dan hendak keluar. Namun, dengan sigap Araz menahan tangan Kanya dan menarik pintu agar kembali tertutup.


"Ih, kenapa sih? Aku mau turun," ucap Kanya terdengar jengkel.


Oleh sebab itulah Araz menahan sang kekasih agar tidak turun dari mobil.


"Aku minta maaf," ucap Araz dengan suara lirih. Dengan sebelah tangan masih menahan Kanya agar masih tertahan dalam mobil laki-laki itu.


Sementara perempuan itu memilih diam. Tidak memberikan tanggapan.


Sebenarnya ia lebih kesal pada Putra yang dengan iseng mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan pada Araz. Tapi, tidak ada orang lain selain Araz yang bisa menerima kekesalan Kanya.


Itulah mengapa Araz menjadi sasaran si perempuan. Setidaknya dengan begitu, bisa membuat perasaannya sedikit lega.


"Kanya, aku...benar-benar minta maaf," ulang Araz sambil berusaha menggenggam lembut tangan sang kekasih.

__ADS_1


Kanya masih memilih diam. Ia ingin memberi sedikit pelajaran bagi Araz.


Sialnya, Kanya sedang menggali kuburannya sendiri. Sentuhan tangan Araz begitu lembut, sehingga membuatnya merasakan sesuatu yang aneh pada genggaman laki-laki itu.


Kanya merasa...ada sesuatu yang berdesir dalam dadanya.


Perempuan itu melirik Araz dari ekor matanya. Dengan tujuan ingin melihat wajah bersalah sang kekasih.


Sebuah kesalahan. Kanya justru merasakan detak jantungnya kian berdebar kencang.


"Apa dia biasanya juga secakep ini?" bisik suara dalam kepala Kanya.


Sementara Araz tak juga melepaskan genggaman tangannya.


Telapak Kanya mulai berkeringat dan membuatnya merasa tidak nyaman.


"Ha? Kok gue jadi berdebar-debar gini cuma dia genggam doang?" runtuk Kanya dalam hati.


"Mampuslah gue. Kalau kayak gini sih namanya gali lubang sendiri!"


"Ya, aku salah. Nggak seharusnya aku godain kamu kayak gitu. Aku minta maaf."


Suara Araz kian tak terdengar ketika membuat pengakuan pada sang kekasih yang sedang merajuk.


Kanya tersentak. Ucapan Araz membawa kembali kesadaran perempuan itu.


"Ck, itu cuma ucapan di bibir doang. Anak kecil juga bisa kalau minta maaf cuma gitu doang," rajuk Kanya.


Ia sengaja menarik tangannya dari genggaman Araz dan melipatnya di depan dada dan membuang pandangan keluar jendela.


Sementara, tanpa Kanya sadari, wajah perempuan itu tampak menggemaskan dan membuat memicu geletar aneh dalam diri Araz.


"Astaga, kuat iman, Raz. Kuat iman." Araz berbisik dalam hati.


Pesona perempuan itu tak bisa dihindari dan membuat Araz semakin susah mengendalikan diri. Ia berusaha mati-matian agar tidak menatap Kanya terlalu lama.


"Jadi...kamu mau apa?" Suara Araz berubah serak akibat menahan sesuatu yang berontak dalam dirinya.


Araz terlalu ingin memeluk perempuan itu dan tidak ingin membiarkannya pergi.


"Tahulah!" ucap Kanya singkat.


Sungguh, benar-benar, sikap Kanya saat merajuk bukannya membuat Araz kesal, tetapi justru ingin menyerang perempuan itu.


Keinginan itu begitu kuat sampai Araz tak sanggup mengendalikan diri. Hasratnya terus bergejolak dan makin meledak ketika memperhatikan Kanya.


Meski begitu, dia masih bertahan dan berusaha untuk tidak melewati batas yang sudah dia sepakati dengan dirinya sendiri.


"Sadar, Raz. Sadar lo sekarang juga!" Suara dalam pikiran Araz berbisik keras.


Namun, tetap saja hasrat itu begitu nyata dan tak bisa dihalau begitu saja.

__ADS_1


Araz mencoba mencari cara agar tidak terpengaruh oleh pesona yang terpancar dari wajah Kanya. Dia mencoba menundukkan pandangan dan menghindari memperhatikan perempuan itu.


Tapi tetap saja perhatiannya teralihkan. Dia kembali mengamati wajah Kanya yang terpantul dari kaca jendala mobil.


Tanpa sadar, Araz menelan saliva. Lekuk wajah hingga sebatas leher Kanya begitu menggoda. Sehingga membuat Araz ingin membenamkan wajahnya di ceruk leher si perempuan.


Laki-laki itu menahan napas. Dia berusaha mati-matian agar tidak ada benda yang terbangun demi melihat pemandangan indah di depan matanya itu.


Meski itu mustahil dilakukan. Tapi, dia tetap berusaha untuk menjaga kehormatannya. Kehormatan Kanya.


"Gila lo, Raz! Udah mulai nggak waras lo!" Araz membentak pikiran buruk yang memenuhi otaknya.


Laki-laki itu berpegangan erat pada handle pintu mobil di sampingnya. Siap melarikan diri kapan saja jika pikiran dalam otaknya kian menggila.


"A...aku nggak tahu...apa...yang kamu mau, Nya," ucap Araz mencoba mengatur napas.


Dia tidak mau ketahuan jika saat ini sedang memikirkan hal yang tak masuk akal.


Yah, sebenarnya sah saja bagi seorang lelaki normal berumur tiga puluhan tahun. Hasrat itu pasti menggebu dan ingin dituntaskan pada saat-saat tertentu.


Namun, yang jadi masalahnya adalah dia tidak bisa melakukan hal itu sekarang. Apalagi kepada Kanya. Pun pada perempuan mana pun, kecuali mereka sudah terikat janji di hadapan Tuhan.


Itu komitmen Araz yang tak boleh dia langgar.


Dia merasa dirinya bukan laki-laki jika melanggar komitmen yang satu itu.


Meski begitu, Kanya...


"Astaga, Tuhan. Dahlah, nggak bisa nih kalau kayak gini! Gue harus keluar sekarang!" Otak Araz memerintah dengan cepat.


Sebagian kesadarannya meminta laki-laki itu untuk segera turun dari mobil. Namun, skenario setan sebagai orang ketiga tampaknya berhasil mengambil peran.


Mereka menoleh bersamaan. Memanggil nama satu sama lain dengan tegas, tapi lugas. Terdengar saling menginginkan.


Tidak hanya itu, tangan mereka bersentuhan dan membuat keduanya tersengat kaget.


Araz tidak melepaskan kesempatan. Dia menangkap tangan Kanya dan menahannya dalam diam.


Sementara Kanya tak punya kekuatan untuk menghindar. Dia terlalu menginginkan laki-laki itu.


Tatapan keduanya mengunci satu sama lain. Penuh hasrat yang bergejolak dan mendorong mereka makin mendekat.


Napas mereka berbenturan. Cukup membuat keduanya kian mendekat seperti halnya medan magnet yang saling tarik-menarik.


Mereka saling menginginkan dan tak bisa menghindari bisikan yang makin menguat dalam kepala masing-masing.


"Nya...."


"Mas Araz...."


Mereka memanggil nama masing-masing sekali lagi. Meski begitu, tak ada kata yang terucap dan hanya sanggup bungkam.

__ADS_1


"Kita nggak boleh melakukan ini," bisik mereka dalam kepala masing-masing.


Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Bibir mereka saling menempel. Berbagi saliva dan mereguk dahaga yang ingin terpuaskan.


__ADS_2