Pulang

Pulang
BAB 6 Masih di Masa Lalu


__ADS_3

Hari ini cuacanya cerah sekali. Langitnya berwarna biru ditemani oleh beberapa awan. Awan-awan tersebut membentuk diri sesuai tebakan manusia. Menghibur manusia dan menemani mereka supaya manusia tidak merasa kesepian. Akan tetapi, tetap saja ada yang merasa kesepian. Karena yang mengobatinya adalah suara yang menenangkan, wajah yang melembutkan, dan genggaman yang menghangatkan. Bukan hangatnya cahaya matahari, tenangnya belaian angin, dan indahnya langit.


Bagiku, menatap langit dan menikmati hangatnya matahari adalah seperti aku berkomunikasi dengannya. Aku ingin mengatakan aku hidup dengan baik dan aku baik-baik saja. Sekarang, aku bisa mengatakannya langsung kepadanya. Namun, dia pasti akan bingung dan heran karena yang dia tahu aku adalah Ami. Dia juga tidak akan percaya jika aku mengatakan aku datang dari masa depan. Kapan aku bisa mengatakannya langsung?


Aku berjalan menuju kelas setelah memarkirkan motor di halaman belakang sekolah. Hari ini aku terlambat bangun karena terlalu asyik menonton drama Taiwan kesukaanku dulu, At the Dolphin Bay. Drama tersebut tayang tengah malam. Tentu saja aku tak akan melewatkannya. Aku bisa saja menontonnya kembali di Youtube nanti setelah aku kembali ke masa depan, tetapi tetap saja aku ingin menontonnya. Aku sepertinya tidak pernah bosan menontonnya. Soundtracknya juga masih ada di playlist musikku. Ini memang kebiasaan burukku. Aku tidak bisa tidak menonton drama Taiwan atau Korea.


Aku menutup mulutku beberapa kali karena menguap. Sudah 4 hari aku di sini dan aku masih belum tahu bagaimana caranya kembali ke masa depan. Aku juga belum tahu wanita yang Putra cintai. Ntah kenapa aku merasa aku akan kembali ke masa depan jika aku sudah mengetahui siapa wanita itu. Aku berdoa supaya kembali ke masa lalu setelah May mengatakan bahwa wanita yang Putra adalah aku. Lalu, Tuhan mengabulkan doaku. Maka, kemungkinan aku akan kembali ke masa depan jika aku sudah membuktikan perkataan May benar. Sepertinya memang begitu.


Sedang asyik dengan pikiranku sendiri, kunci motor yang kugenggam terjatuh. Aku hendak mengambilnya, tetapi tanganku terhenti. Aku melihat tangan seseorang mengambilnya lebih dulu. Ini mirip sekali dengan adegan-adegan FTV. Cewek sedang membawa buku yang banyak dan bukunya tiba-tiba terjatuh. Lalu, seorang cowok datang menghampiri cewek tersebut membantunya mengumpulkan kembali buku-buku itu. Alay tetapi ini memang terjadi. Aku berharap yang mengambil kunci motorku adalah cowok ganteng, pintar, dan lembut. Aku sudah menaruh harapan besar.


“Ngelamun terus sih, jatuh kan kuncinya.”


Ya elah, si Heri lagi. “Thanks,” ucapku sambil mengambil kunci dari tangan Heri.


“Mau ke kelas? Boleh bareng nggak?” tanya Heri.


Kesambet apa nih anak. Tumben banget minta izin. “Tumben.”


“Tumben kenapa?”tanyanya lagi.


“Tumben minta izin dan tidak menggombal,”jawabku. Aku menatap Heri dengan wajah keheranan.


“Digombal salah, nggak digombal juga salah,”balasnya.


“Nggak salah juga. Bagus malahan. Dapat hidayah ya kau?” tanyaku sambil terkekeh.


“Iya”


“Waah dari siapa?” tanyaku dengan wajah yang dibuat sepenasaran mungkin.


“Kau lah,”jawabnya. “Sambil jalan ajalah ngobrolnya. Bentar lagi masuk,”lanjutnya.


“Kok aku?” tanyaku sambil berjalan di sampingnya.


“Iya. Kau kayak jijik ngeliat aku tiap kugombal,” jawabnya.


Aku menjadi merasa tidak enak dengan Heri. Aku memang tidak bisa berpura-pura suka dengan gombalannya yang setiap hari aku dengar, seperti sedang minum obat saja. Jadi, aku akan memasang muka datar dan canggung dengan gombalannya. “Bukannya jijik, tapi geli,”balasku.


“Kalau dipikir-pikir nggak cuman kau aja sih yang mandang aku gitu. Dan buat apa juga aku kayak gitu,” jelasnya tidak menatapku sama sekali.


“Karena kau ingin diakui. Padahal kalau kau biasa aja cewek-cewek yang datang ke kau,”hiburku.


“Oh ya? Kau juga?”


“Bisa jadi.”


Heri berhenti dan menatapku dengan wajah ingin menggodaku. “Jangan ngegombal.”


“Hahahaha. Udah ogah duluan keliatan kau,”ucapnya sambil tertawa.


“Awas aja kalau kau ulangi ya. Nggak akan mau aku ngobrol samamu lagi,” ancamku.

__ADS_1


“Galaknyaaaa” balasnya. “Nggak akan mempan,” lanjutnya.


“Udah sana kau masuk ke kelasmu,” ucapku sambil mendorong tubuhnya menjauh dari pintu kelasku.


Kelasnya memang berada di samping kelasku. Dia tidak membalasnya lagi dan berjalan mundur ke kelasnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Hidayahnya berlaku untuk 5 menit saja sepertinya. Setelah itu, kembali lagi dia ke mode asalnya. Aku segera masuk ke dalam kelas. Kelas sudah ramai. Aku menuju kursi Ami yang menjadi kursiku sekarang ini.


Aku melihat kursi Aira. Dia sedang menatap langit dari jendela. Kebiasaanku sekali. Aku sangat menyukai langit biru dari dulu. Akan tetapi, tujuanku melihat langit biru dulu dan sekarang berbeda. Dia tersenyum sesekali. Ntah apa yang dipikirkannya. Aku juga lupa. Sedikit yang aku tahu saat itu bahwa aku akan terus melihat langit biru.


Selanjutnya, aku melihat kursi Putra dan May kosong. Pasti mereka sedang bersama. Tentu saja aku merasa bahwa mereka saling menyukai karena mereka selalu bersama. Aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Tidak May, Putra, Ami, dan diriku sendiri karena semuanya memiliki alasan masing-masing. Memang sudah seperti inilah takdirnya. Tuhan ingin menjadikannya seperti ini. Dengan tidak ada yang bisa memilikinya.


Aku bangkit dari kursiku dan berjalan menuju belakang pintu kelas. Aku sedang menata kembali hatiku agar tidak goyah. Selain itu, aku juga ingin menangis. Mencoba mengikhlaskan semua yang terjadi karena apa yang aku lakukan di sini tidak akan mengubah apapun. Dia tidak akan kembali ke masa depan. Aku menekuk lututku dan membenamkan kepalaku di sana. Aku harus ikhlas.


Sudah waktunya istirahat, tetapi aku tidak ingin keluar dari kelas. Ntah kenapa aku merasa sedih hari ini. Aku tidak ingin berlama-lama di sini, tetapi aku juga merasa ingin tetap di sini. Jika aku tetap di sini, ini menyalahi aturan kehidupan. Aku bahkan pernah berpikir jika sebenarnya terjadi sesuatu denganku di masa depan. Aku mungkin sudah meninggal. Namun, aku tepis pikiran itu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku seharusnya tidak berada di sini karena akan membuatku semakin sulit melupakannya.


Aku membenamkan kepalaku di atas meja. Efek begadang membuatku menjadi ngantuk. Aku benar-benar tertidur. Dalam hati aku berdoa agar Tuhan segera memberikan petunjuk mengapa aku berada di masa lalu.


“Ra, Ra, bangun. Udah masuk.” Sebuah suara membangunkanku dari tidurku yang pulas. Ini adalah tidur terpulas yang aku miliki selama aku di sini. Aku tidak bermimpi dan memikirkan apapun.


Aku mencari sumber suara. Tidak ada orang di sampingku dan tidak ada orang juga yang membangunkanku. Aku menyisir kelas dengan mataku, mencari sumber suara. Aku melihat Putra keluar dari belakang pintu. Ada Aira yang mengikutinya dari belakang. Itu suaranya. Kebiasaan Putra. Dia akan berada di sana setiap aku ada di sana. Padahal kami tidak mengobrol. Terkadang memang iya. Aku lebih sering mendengarkan musik sambil membaca novel atau mendengarkan musik sambil menulis puisi atau cerita. Dia juga mendengarkan musik sambil menggambar. Dan yang digambar selalu rumah. Aku jadi penasaran kenapa ia selalu menggambar rumah.


“Ngantuk kali keliatannya,”ucap Putra sambil duduk di kursinya.


Aku memutar tubuhku ke belakang untuk menghadapnya. “Begadang nonton drama Taiwan,”balasku.


“Sama dong sama si Aira,”balasnya lagi.


Benar. Aku pasti begadang menonton drama Taiwan juga.


“Eh. Sejak kapan kau suka nonton drama Taiwan? Kau kan nggak suka drama asing?”tanya Putra curiga.


“Nggak bisa tidur semalam. Ya udah nonton aja jadinya. Ternyata seru juga,”jawabku sebiasa mungkin.


Putra menyipitkan matanya padaku. Aku tahu dia pasti curiga. “Kau lagi jatuh cinta ya?”tanyanya.


“Hah? Jatuh cinta gimana? Ngarang kau,” jawabku.


“Soalnya kau berubah. Banyak kali berubahnya. Sekarang aja kau udah mulai nonton drama,”balasnya.


“Nggak lagi jatuh cinta. Berubah kan nggak harus jatuh cinta kali,”balasku.


“Kau suka sama si Heri, ya?”tanyanya.


Astaga nih anak. “Hah? Ngarang aja kau. Nggaklah. Gila aja kau ya.”


“Lah, siapa tahu kan? Akrab kali kuliat kalian tadi pagi,”ucapnya sambil tertawa kecil dengan raut wajahnya yang jail.


“Nggak boleh emangnya ngobrol? Ngobrol biasa aja itu,”elakku.


“Ya siapa tahu kan?”


“Awas aja ya kalau kau nyebar gosip,”ancamku.

__ADS_1


“Nggak kerjaan. Ngapain juga,”balasnya.


“Kau ngapain tadi sama si Aira di belakang pintu?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan. Aku juga penasaran sih.


“Nggak ngapa-ngapain. Si Aira tidur. Aku ngegambar,”jawabnya.


“Yakin? Nggak ngobrol?”tanyaku lagi.


“Nggak. Dia ngantuk berat gara-gara begadang nonton drama Taiwan itu,”jawabnya lagi.


Duh, balik lagi ke drama Taiwan.


“Ooh,”balasku seadanya.


“Udah gitu aja?”tanyanya lagi.


“Ya maumu gimana?”tanyaku balik.


Dia diam sejenak dan menatap mataku. OK. Ini berarti serius. “Menurutmu, aku jujur aja kali ya ke May?”tanyanya.


“Jujur tentang apa?”tanyaku balik. Ini sepertinya tidak akan menemukan jawaban karena kami saling bertanya dari tadi.


“Semuanya,”jawabnya.


“Semuanya?”


“Iya. Semuanya.”


Aku diam dan menatap matanya. Dia benar-benar ingin mengatakan semuanya. Dan aku tidak tahu makna dibalik ‘semuanya’ itu karena aku bukanlah Ami yang sudah mengetahui rahasianya dari awal. Tetapi, aku tahu Ami juga akan menyarankan ini.


“Iya. Ceritain aja semuanya ke May,”ucapku sambil menatap matanya.


“Biar semuanya tenang. Aku tenang, May tenang, dia juga tenang,”balasnya.


Aku memutar tubuhku ke depan. Ntah kenapa aku merasa sesuatu akan terjadi. Tidak mungkin secepat ini kan? Putra menceritakan padaku (Aira) bahwa dia suka orang lain dan bukan May itu di kelas XI. Dia juga memiliki pacar di kelas XI. Jangan-jangan waktu itu Ami tidak menyarankan Putra jujur ke May? Apa aku salah memberikan saran? Aku memutar tubuhku kembali menghadap Putra.


“Kau suka sama cewek, ya?”tanyaku agak keras sambil menatap matanya. Teman-teman sekelasku melihat ke arah kami. Oke. Mungkin memang keras. Dia sedang asyik melanjutkan sketsa rumahnya tadi.


“Iya.”


“Dan bukan May,” ucapku lirih. Ini bukan pertanyaan.


“Iya”


“Siapa?” tanyaku tidak sabar.


“Kan kau udah tahu juga,” jawabnya.


“Nggak percaya. Kelas lain?”tanyaku lagi.


Dia menyipitkan matanya dan menatapku heran. Aku melihat ekor matanya sedang melirik seseorang. “Iya ya ya. Terserah kau aja,”balasnya malas.

__ADS_1


Aku membalikkan tubuhku ke depan lagi. Kalau memang akan terjadi seperti yang dulu. Ini terlalu cepat. Putra akan jujur ke May dan dia akan menyatakan perasannya dengan Anisa, cewek di samping kelas, yang menjadi pacarnya dulu. Semua itu harusnya terjadi di kelas XI. Apa aku harus menghentikannya?


Mataku tidak sengaja bertubrukan dengan mata Aira. Matanya seperti menanyakan kebenaran. Aku memutuskan kontak mata kami. Seperti itukah mataku ketika meminta kejelasan tentang wanita yang dicintai Putra kepada Ami dulu? Dan Ami tidak mengatakan apapun sampai sekarang. Hingga aku kembali ke masa lalu untuk mengetahui semuanya sendiri. Jawaban Ami selalu sama setiap aku menanyakannya. ‘Biar Putra yang menceritakan semuanya padamu.’ Padahal, Putra tidak akan bisa menceritakan semuanya kepadaku jika aku tidak kembali ke masa lalu. Bahkan saat aku kembali ke masa lalu, Putra juga belum menceritakannya. Ingin aku tanyakan langsung kepadanya, tetapi aku ternyata takut untuk mendengarnya. Setiap hari aku bertekad untuk menanyakannya langsung, tetapi aku selalu mundur. Aku juga ingin melihatnya lebih lama. Karena jika aku kembali, aku tidak akan pernah bisa lagi melihatnya. Aku juga harus melupakannya dan melanjutkan hidupku. Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Tidak ada yang salah dengan merindu. Karena ketika dirimu jatuh cinta, tidak masalah dia ada didekatmu atau tidak, dirimu akan selalu merindukannya.


__ADS_2