
Renjana Kanya
Araz menarik kursi milik Vina dan duduk di sampingku. Lelaki itu menepuk punggungku lembut. Sesekali menghapus air mata yang tak juga berhenti mengalir meski aku sudah berusaha menahannya. Bahkan sentuhan lembut Araz membuatku semakin ingin menangis. Terlebih, lelaki itu diam saja. Tak membicarakan apa pun kecuali tangannya yang masih mengusap punggungku.
Diperlakukan Araz dengan begitu hati-hati justru memancing lebih banyak air mata yang mengalir di pipiku. Isak tak juga mereda. Justru semakin menyentuh sisi sensitifku untuk terus menangis. Sampai lelaki itu memutar kursiku hingga membuat kami saling berhadapan. Aku terkejut, saat melihat mata sipit Araz juga berlinangan air mata.
"Apa aku udah pernah bilang Kanya, kalau melihat kamu menangis, rasanya separuh jiwaku juga turut lebur bersama isakmu. Aku juga merasakan sakit yang kamu rasakan, tapi aku tak pernah tahu apa yang menyebabkan rasa sakit itu. Itulah kenapa aku selalu minta supaya kamu menceritakan apa pun yang membuatmu menangis, Kanya. Biar aku juga tahu, apa yang membuat air mata ini berani jatuh ke pipimu," kata Araz dengan suara serak sambil mengusap air mataku.
Tubuhku menegang saat ujung jemari Araz menyentuh pipiku yang berlinang air mata. Memberikan efek seperti bunga api yang cepat menyebar hingga membuat pipiku terasa panas. Air mataku surut seketika. Tak ada lagi isak tangis yang beberapa detik lalu bahkan tak juga surut. Kini hanya dengan sentuhan kecil pun sudah membuatku tersipu malu.
"Mungkin, nggak sekarang Mas. Aku ceritain nanti kalau udah ngerasa lebih siap berbagi," kataku pada akhirnya setelah mampu menguasai debar yang turut memparah kegugupanku.
Araz hanya tersenyum sambil menepuk pucuk kepalaku. Resahku turut lebur bersama senyum Araz yang membuatnya begitu memesona di mataku. Sialnya, menatap lelaki itu membuatku semakin gugup dan jantungku berdebar lebih kencang.
"Eh, makin akrab aja kalian. Gimana, udah jadian? Jadi kapan lamaran?" celetukan Mas Hanung yang tiba-tiba tanpa melihat situasi memutuskan tatapanku pada Araz. Tanpa sadar aku menghindari lelaki yang masih menempelkan tangannya di pipiku. Aku yakin, pasti wajahku semakin memerah karena menanggung malu. "Roman-romannya emang udah jadian nih. Trus kenapa lo nangis? Nggak mungkin udah hamil duluan 'kan?"
"Monyet, gue nggak sebejat itu juga kali."
"Trus itu, Kanya kenapa?"
"Lo tuh, kasih dia tekanan berlebihan. Makanya nangis. Makanya jangan diktator lo jadi pemimpin," ucap Araz asal, tetapi sukses menarik sudut bibirku. Aku tahu, lelaki itu kesal dengan kemunculan Mas Hanung yang tiba-tiba.
"Sialan, gue nggak sekejam itu kali jadi pimpinan. Bukan gue 'kan Nya, yang bikin lo nangis?" tanya Mas Hanung mencari pembelaan. Tawaku benar-benar terurai sekarang. Tidak menyangka jika kedua lelaki itu bisa bersikap begitu konyol saat bersama.
"Saya nangis bukan karena Mas Hanung kok. Cuma beban tugas yang diberikan agak kurang wajar aja sih. Soalnya pimred yang punya ide, tapi anak buah yang kelimpungan cari bahan. Udah gitu masih pula disuruh nulis laporan utama."
Mendengar pernyataanku, Araz melotot ke arah Mas Hanung. "Tuh yang kamu bilang nggak diktator? Semena-mena sama bawahan!"
"Wah, beneran nih bocah. Mulutnya manis banget memutarbalikkan fakta. Dia yang bikin keputusan akhir, masih aja ngeluh ketambahan liputan utama. Udah risiko kamu tuh karena udah ambil keputusan mufakat."
"Heleh, itu sih akal-akalan Mas Hanung aja. Mana seneng kalau lihat saya bebas tugas."
Gemas dengan ucapanku, lelaki yang hari ini memakai kemeja warna pastel dipadu celana jeans hitam itu, membuat gerakan mau memukul kepalaku. Namun, sebelum itu terjadi Araz yang duduk di sampingku, dengan sigap melindungi kepalaku dari pukulan Mas Hanung. Bahkan sebelum mengenai ujung rambut sekalipun.
__ADS_1
Melihat gerakan Araz yang dirasa berlebihan, tawa Mas Hanung berderai. Lelaki itu dengan mudah menebak jika memang sudah terjadi apa-apa di antara aku dan Araz.
"Wah, beneran udah jadian nih kalau liat respon si manusia es sebegini berlebihannya," tebak Mas Hanung tak juga kami benarkan.
Namun, seketika kalimat Araz benar-benar membuatku kehilangan kata. "Aset berharga, jangan pegang kepala calon istri gue."
"Tuh kan, bener tebakan gue. Oke, nanti gue bakal belanja, lo harus masakin spesial buat gue. Ah, tapi apartemen lo 'kan udah laku. Berarti di tempat Kanya ya? Sip, nanti gue ajak Abi sama Sinta. Kebetulan banget istri gue nggak ada jadwal penerbangan hari ini."
Keputusan Mas Hanung hanya bisa membuatku bengong. Sedangkan Araz hanya membalas tak acuh rencana Mas Hanung yang ingin merayakan hari jadian kami.
***
Mas Hanung benar-benar menepati ucapannya saat mengatakan akan merencanakan makan malam di apartemenku. Dia juga benar-benar mengajak Mbak Sinta dan Abi yang langsung tak mau berpisah denganku. Anak Mas Hanung itu mengajakku nermain ular tangga yang baru saja dibelikan ayahnya saat perjalanan menuju apartemenku. Sementara Araz entah sibuk menyiapkan apa saja untuk keperluan makan malam yang terkesan dadakan dan pemaksaan. Dia sama sekali tak mengizinkan aku memasuki dapur.
"Gimana, kalian udah jadian 'kan?" tanya Mbak Sinta ketika perempuan itu menemani aku dan Abi bermain ular tangga di ruang tamu.
Sudah pernah kubilang kan, jika apartemenku tak seluas milik Araz yang kini sudah berpindah tangan kepada Putra. Hanya ada ruang tamu sekaligus ruang menonton TV, dapur merangkap ruang makan, sebuah kamar, tempat loundry yang bersebelahan dengan kamar mandi dan balkon yang berfungsi ganda sebagai tempat menjemur cucian. Beruntung unit apartemenku berada paling ujung, jadi memiliki pencahayaan yang baik. Juga balkon yang lebih luas dibandingkan yang lainnya.
"Ya gitu deh Mbak," jawabku pada akhirnya. Percuma berbohong, Mas Hanung pasti sudah mengabarkan pada perempuan berambut mahoni itu tentang kedekatanku dengan Araz.
Aku tersenyum menanggapi kalimat Mbak Sinta. Kenapa semua orang seakan mendukunga Araz? Toh tanpa itu pun, aku sudah terperangkap dalam dekapan lelaki itu.
"Lo nggak anggap umur sebagai suatu hal yang menghalangi kalian 'kan?" tanya Mbak Sinta ketika aku lebih asyik bermain ular tangga bersama Abi dan tak mengacuhkan obrolannya.
"Nggak sih Mbak. Buat aku rentang umur nggak terlalu penting. Bukan Sugar Daddy juga kan. Masih beda delapan tahun ini. Wajar kan?"
Mbak Sinta tersenyum. Lesung pipi tampak jelas ketika ujung bibirnya mengembang. Dia menepuk pucuk kepalaku seolah aku adiknya sendiri.
"Apa yang salah soal umur? Yang penting perasaan kalian. Kalau banyak yang ngomongin rentang umur kalian, cuek aja. Orang yang bakal jalanin hubungan ini kalian kok. Bukan orang lain. Lagian mana pantas Araz jadi Sugar Daddy?"
Aku tersenyum sebelum menjawab pernyataan Mbak Sinta. Benar, mana pantas Araz menjadi Sugar Daddy?
"Aku emang nggak pernah ambil pusing soal itu sih Mbak. Mau delapan tahun, lima tahun, atau sebaya sekalipun. Emang bener kata Mbak Sinta, semua itu nggak ada yang salah. Lagipula, aku yang bakal jalaninnya seperti kata Mbak Sinta. Kenapa harus dengar omongan orang kalau itu hal buruk?"
__ADS_1
"Good girl. Perempuan harus bisa mengambil sikap. Jangan mau terhasut stigma buruk masyarakat kalau emang menurut kamu benar!" ucap Mbak Sinta tak henti menepuk pucuk kepalaku.
Begini kali ya rasanya memiliki kakak perempuan? Bisa diajak bertukar pikiran dan berbagi apa pun yang kita inginkan. Apalagi Mbak Sinta tipikal orang yang enak diajak ngobrol.
"Girls, bantuin kita angkat ini ke depan dong," seru Mas Hanung tak lama kemudian.
"Astaga, dia pikir kita masih ABG, manggil girls kayak gitu?" omel Mbak Sinta menanggapi seruan Mas Hanung. Aku hanya tertawa. Padahal dia juga barusan menganggapku masih ABG saat menyebut good girl. "Kita bantuin mereka yuk. Bisa kacau dunia persilatan kalau mereka yang ngatur meja makan."
Mbak Sinta yang lebih dulu bergerak. Sementara aku menyusul setelah membereskan mainan Abi yang berserakan di atas meja ruang tamu. Tempat itu yang nantinya berfungsi sebagai meja makan, sebab tak mungkin memaksakan ruang makan yang hanya cukup digunakan dua orang.
"Nya, bisa kamu siapkan piringnya? Aku masih harus selesaikan satu menu lagi," kata Araz begitu aku memasuki dapur. Mas Hanung dan Mbak Sinta sudah di ruang tamu untuk mengatur nasi, sayur, dan lauk-pauk yang sudah selesai dimasak Araz.
Aku tersenyum saat pandangan kami bertemu. Melihatnya dibalut celemek dengan efek uap dari penggorengan entah mengapa membuat Araz terlihat begitu... seksi. Wajahku memanas saat kata itu dengan tanpa sopannya menyeruak dalam kepalaku. Sialnya, lagi-lagi debaran jantungku pun tak bisa diajak berkompromi. Salah tingkah, aku menghindari tatapan Araz dan menyiapkan piring sesuai permintaan lelaki itu. Memutus imajinasi yang tiba-tiba menghasut pikiran nakalku. Sedangkan bisa kudengar Araz tertawa kecil di balik punggungku.
"Kenapa, aku terlalu seksi kalau lagi masak ya?" pertanyaan Araz justru membuatku ingin mencubit lelaki itu. Bisa-bisanya dia begitu percaya diri. Meski tak dapat kupungkiri jika memang iya.
"Nggak ah, biasa aja tuh," ucapku jelas berbohong. Baru beberapa detik yang lalu aku mengakui keseksian lelaki itu.
"Masa biasa aja sih? Coba lihat aku sini kalau biasa aja," goda Araz benar-benar keterlaluan. Dia bisa dengan mudah menebak jika aku tak sedang baik-baik saja saat menatapnya.
"Lagi nyiapin piring, Mas. Gimana mau lihat kamu," jawabku mencari alasan. Aku bisa merasakan Araz tersenyum di belakangku.
"Trus, itu piring mau dikeluarkan semua? Kita cuma berlima, Sayang. Nggak perlu banyak-banyak juga piringnya," komentar Araz membuatku semakin salah tingkah. Tanpa sadar aku sudah mengeluarkan separuh tumpukan piring dari almari penyimpanan.
"Ya kali aja masih butuh buat..."
Ucapanku berhenti. Araz sudah berdiri di belakangku dan merentangkan kedua tangannya pada almari alat-alat makan di depanku. Posisinya membuatku tak bisa bergerak. Harum parfum dan deru napasnya di tengkuku tak bisa membuatku berpikir jernih. Apalagi saat dia membisikkan kata "I love you" yang membuat otak tiba-tiba merasa kosong dalam sekejap.
"Mas, nanti ada..."
Lagi-lagi dia tak membiarkan kalimatku selesai, karena detik selanjutnya Araz memutar tubuhku hingga berhadapan dengannya. Lelaki itu mengecup bibirku. Lalu ********** dengan lembut. Hangat dan manis stroberi bercampur mint yang pernah kurasakan, masih saja melekat.
Sial, ciuman Araz menimbulkan efek kupu-kupu di dasar perutku. Juga geli yang tiba-tiba menyerang, tapi juga menyenangkan. Bahkan aku menuntut lebih, saat ia hendak melepaskan ciumannya. Sepertinya aku benar-benar kehilangan akal sehat saat ini.
__ADS_1
"Biar saja kalau ada yang lihat, paling juga Hanung," ucapnya saat bibir kami tak lagi terpagut. Araz tersenyum dan membuat ujung matanya berkerut. Sedang aku masih tak sanggup menguasai debar yang makin berisi di balik tulang rusukku.