Pulang

Pulang
Season 2 #Kotak Pandora


__ADS_3

Haiiii ... lama tidak berjumpa. Ada yang kangen sama Yoru nggak nih? 😁😁 Atau kalian cuma kangen sama Kanya dan Araz doang?


Dahlah ya, mau kalian kangen sama Yoru ataupun pasangan kece ini, yang pasti Yoru udah kembali.


Akhirnya Yoru balik lagi di kanal ini dengan niat menuntaskan novel Pulang. Semoga niat itu tetap terjaga sampai Pulang benar-benar tamat.


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu. Bantu perkembangan novel ini dengan cara like, komen, dan juga tambahkan ke rak buku kalian ya. Boleh banget kalau kalian mau kirim kopi buat Yoru biar makin semangat nulis ya kan. 😅😅


Udahlah, gitu aja. Nggak mau ngomong lama-lama biar kalian bisa segera baca.


...****************...


Aku nggak begitu yakin, tapi aku mau mencoba mencarinya. Mungkin memang benar Aksa meninggalkan sebuah pesan atau apa pun sebelum kematiannya," ucap Araz terengah saat mereka sampai di depan pintu kamar Aksa. Kanya hanya mengikuti laki-laki itu dalam diam. Dia tahu, meski Araz menyangkalnya, laki-laki itu sangat berharap jika tebakannya tentang pesan yang ditinggalkan Aksa merupakan sebuah kenyataan.


"Huuffttt ... Kumohon, Aksa. Jangan biarkan Hyeong-mu ini merasa bersalah selamanya," bisik Araz.


Klik ...


Terdengar suara pintu kamar terbuka. Sebelumnya Araz sudah meminta izin pada Eomma untuk memasuki kamar adiknya. Sebab, sejak kematian Aksa, jarang sekali anggota keluarga yang memasuki kamarnya, kecuali untuk membersihkannya yang rutin dilakukan setiap Minggu. Terutama Araz. Dia satu-satunya orang yang tidak pernah memasuki kamar Aksa sejak adiknya itu meninggal dunia. Bahkan sang ibu sempat mencurigai mereka akan melakukan hal-hal aneh saat Araz tiba-tiba meminta izin untuk memasuki kamar Aksa.


Udara lembab menyapa mereka begitu pintu kamar Aksa terbuka. Kondisi kamar masih dibiarkan seperti semula saat penghuninya belum tiada. Araz masih mengenali seperangkat alat lukis yang tersusun rapi di atas meja. Juga kaki tiga di sudut ruangan dengan kanvas yang masih tersandar di tempatnya. Sebuah kain putih menutupi kanvas berukuran besar itu. Mungkin sekitar 100x80 cm. Laki-laki itu bergumam. Menyayangkan mengapa lukisan adiknya dibiarkan begitu saja di dalam ruangan yang sangat lembab ini. Kondisi ruangan yang terlalu lembab tentu juga akan membuat lukisan itu cepat rusak dan berjamur.

__ADS_1


"Kenapa mereka nggak memindahkan ke tempat yang lebih layak?" gumam Araz hampir tanpa suara.


Laki-laki itu berjalan ke arah jendela dan menyibak gorden berwarna lavender - warna kesukaan Aksa - yang menggantung menutupi sinar matahari yang masuk. Sesuai dugaan, saat gorden itu terbuka, sinar hangat matahari memasuki celah jendela dan membuat sudut ruangan tempat lukisan itu berada, cukup mendapatkan sinar matahari meskipun tidak secara langsung. Oleh sebab itulah Aksa memilih sudut ruangan itu untuk melukis di waktu luang.


"Ehmmm ... ini sebabnya Mas Araz bisa berteman sama Bang Altar?" tanya Kanya saat mengamati lukisan yang bersandar di kaki tiga di sudut ruangan. Sedangkan Araz berdiri membelakangi jendela menatap perempuan itu yang kini menyusuri ruangan.


"Bisa dibilang begitu. Kami nggak sengaja ketemu waktu aku mengunjungi pemerannya untuk mengenang Aksa. Aku lebih banyak pergi ke pameran atau ke galeri hanya untuk membayangkan bagaimana reaksi Aksa jika pergi ke sana. Anak itu bahkan hampir nggak pernah keluar rumah sampai akhir hidupnya. Kalaupun keluar rumah, pasti hanya untuk pergi ke rumah sakit. Dia nggak pernah benar-benar sehat dengan kondisi jantungnya yang sangat lemah," kenang Araz dengan air mata berlinang.


"Mas, menurutmu ada tempat rahasia nggak yang selama ini disembunyikan Aksa?"


Kanya berhenti di meja tempat menaruh buku-buku dan peralatan lukis milik Aksa. Perempuan itu tertarik dengan koleksi buku bacaan milik Aksa yang hampir separuhnya juga berada di rak buku miliknya. Tetralogi Buru, Anne Frank, Farm House, beberapa karya Carl Jung, juga buku-buku milik sastrawan Indonesia seperti Sapardi, Chairil, Budi Darma, dan masih banyak yang lain. Di usianya yang saat itu masih belasan tahun, buku bacaan Aksa tentu sangat bermutu. Dia bahkan baru membaca buku-buku setelah memutuskan ingin melanjutkan kuliah sastra.


Selain itu, ada beberapa barang lain tertata rapi di atas meja. Sepertinya tempat itu sering dibersihkan meski tidak setiap hari.


Laki-laki itu tidak cukup yakin jika sang adik memiliki tempat rahasia seperti yang Kanya bilang. Namun, sejak tadi pikiran Araz tertuju pada sebuah kotak yang tiba-tiba diingatnya begitu saja. Sebuah kotak yang seharusnya memang ada di suatu tempat di dalam kamar Aksa.


"Aku ingat pernah memberinya sebuah kotak dari kayu. Tidak, aku tidak memberikannya juga, tapi dia menemukan kotak itu tanpa sengaja di gudang. Dulunya kotak itu milikku saat kecil dan dia lalu menyimpannya. Apa menurutmu dia menyimpan perasaannya dalam kotak itu?" tanya Araz pada Kanya yang lebih terdengar seperti meyakinkan dirinya sendiri.


"Kita akan tahu kalau mencari tahu, Mas. Aku rasa, kotak itu pasti tersembunyi di ruangan ini bukan?"


"Kita perlu mencari tahu, Nya."

__ADS_1


Dengan bantuan Kanya, Araz mulai menyisir kamar Aksa yang kini dibiarkan kosong. Setiap sudut ruangan, lemari, kolong meja maupun tempat tidur, ataupun laci yang memungkinkan benda itu muat jika disimpan di dalamnya. Hampir setengah jam mereka mencari di seluruh ruangan, tetapi benda yang dimaksud Alcatraz tak juga tampak di mana pun. Bahkan laki-laki itu hampir putus asa saat matanya menangkap tumpukan kardus di atas lemari.


Apa mungkin? batin Araz. Ia bergegas menggeser sebuah kursi agar dapat melihat jelas tumpukan benda-benda di atas lemari.


Benar saja dugaan Araz, di antara tumpukan benda-benda itu, terdapat sebuah kotak yang dimaksud oleh Alcatraz.


"Nya, aku menemukannya!" seru Alcatraz tampak senang. Ia menurunkan kotak itu dari atas lemari dan membukanya bersama Kanya di atas tempat tidur.


Detak jantung Araz berdebar cepat. Ia takut sekaligus antusias ketika membuka tutup kotak yang tidak terkunci. Hal pertama yang dilakukan Araz adalah menitikkan air mata saat melihat tumpukan kertas yang sudah menguning di dalam kotak kayu itu.


Tangan Araz gemetar ketika mengeluarkan lembar demi lembar yang kini berada digenggaman laki-laki itu. Sementara Kanya yang duduk di sampingnya, mencoba memberikan kekuatan dengan memeluk lengan Alcatraz Dalam diam, Kanya menemani Araz membaca perasaan Aksa yang dititipkan dalam kotak itu.


Halo, Mas. Berapa lama sampai kamu menemukan kotak ini? Ah, aku tidak mau menebak, tapi yang pasti saat kotak ini berada di tanganmu, ada satu kenyataan yang pasti. Aku pasti sudah tidak ada di sampingmu lagi. Benar bukan?


Tidak apa-apa, Mas. Tidak ada hal yang perlu Mas Araz sesali. Termasuk kepergianku yang memang sudah digariskan oleh waktu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Karena aku tahu betul, Mas Araz pasti menyalahkan diri sendiri saat tahu aku telah pergi. Tidak apa-apa, Mas. Ini bukanlah salah Mas Araz.


Aku menuliskan surat ini saat Mas Araz tidak menjawab telepon ataupun membalas pesanku. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku menyayangi Mas Araz lebih dari apa pun. Aku tak pernah kecewa padamu, jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri ya, jika aku pergi lebih dulu. Sungguh Mas, aku hanya ingin Mas Araz tahu kalau aku sangat menyayangimu. Maafkan aku jika harus pergi lebih dulu. Dan terima kasih atas semua hal yang telah kamu berikan.


Salam Sayang,


Aksa

__ADS_1


Air mata Araz rebas. Ia tak bisa menahannya dan kembali tergugu dalam pelukan Kanya.


__ADS_2