Pulang

Pulang
Halusinasi


__ADS_3

Renjana Kanya


Mataku mengerjap. Menatap sosok di depan pintu yang hilang dalam sekejap. Bahkan ketika aku lari untuk memastikan apabila sosok itu benar-benar nyata pun, hasilnya tetap sama saja. Aku tak menemukannya. Ia benar-benar hilang ketika aku mengedipkan mata.


Heh, sepertinya aku mulai gila. Bahkan saat terjaga sekalipun, aku bisa melihat Araz dengan begitu nyata. Parahnya sosok itu juga menjawab pertanyaan yang kulontarkan dengan begitu gamblang pada Mas Hanung.


Astaga, bagaimana bisa perasaan ini begitu menyiksa?


"Lo kenapa sih?" Mas Hanung yang mengikutiku hingga di lobi gedung pun menatapku heran.


Jika kukatakan padanya, aku melihat bayangan Araz berdiri di pintu ruangannya dan menjawab pertanyaan yang kusampaikan pada Mas Hanung tadi, akan bagaimana respon pimpinanku itu? Apakah ia akan menertawakanku dan menganggapku gila? Kalaupun tidak, dia pasti akan menyimpulkan jika aku menyukai Araz. Mungkin juga ia akan menggodaku jika halusinasi yang kualami akibat perasaan rindu.


"Kayaknya saya berhalusinasi," jawabku singkat dengan manahan air mata agar tak menangis. Aku kembali ke arah lift. Meninggalkan Mas Hanung yang masih berdiri mematung di lobi kantor.


"Lagi main drama apa lo sama Pimred?" tanya Deni begitu aku kembali ke kubikelku. Ia sepertinya sudah menyelesaikan target naskah hari ini dan bergosip dengan Vina di meja perempuan itu.


"Nggak liat lo barusan ada maling? Makannya gue kejar," jawabku sekenanya. Deni hanya mendelik dan melemparkan kulit kacang kepadaku.


"Makin lama makin ngaco aja ni orang. Kurang sesajen lo?" tanya Deni hanya kubalas senyuman paksa. "Kenapa sih Vin, temen lo jadi sering uring-uringan gitu?"


"Tau tuh, heran juga gue. Lagi jatuh cinta kali."


"Dih, mana ada jatuh cinta bikin uring-uringan. Sama aja ngaconya." Komentar Deni menanggapi pernyataan Vina. Mereka justru terlibat adu mulut yang sama sekali tak membuatku tertarik.


Pikiranku masih dipenuhi hal gila yang baru saja terjadi beberapa menit lalu. Bisa-bisanya aku membayangkan Araz dengan begitu nyata. Heh, sungguh aku berpikir diriku mulai gila. Apakah pikiranku sudah dipenuhi lelaki itu hingga membuatku tak bisa berpikir jernih?


Jika tahu akan seperti ini, aku dulu pasti memilih untuk tidak mengenalnya. Sembilu yang ditinggalkan lelaki itu lebih parah daripada mengetahui kenyataan jika Putra menjadi kakak tiriku. Ada sesak dan nyeri yang tak bisa kuungkapkan melalui kata-kata. Menjadikan hatiku semakin perih hanya dengan mendengar atau menyebut namanya.

__ADS_1


"Nya, yaelah. Ngelamun nih orang. Gimana, ikut nggak nanti malam?" Suara Vina memecah lamunanku tentang Araz.


"Eh?"


"Lah, beneran ngelamun dia. Gimana, nanti malem ikut nggak? Kita mau clubbing." Deni mengulang ajakannya.


"Lihat ntar deh. Belum tahu juga bakal ada peristiwa setelah ini," ucapku tanpa mood.


"Wah cenayang lo. Peristiwa nih pasti!" Komentar Deni saat melihat Mas Hanung muncul dari ruangannya.


Lingkaran kecil di meja Vina itu buyar seketika saat Mas Hanung mengabarkan jika ada kecelakaan beruntun di kawasan Plaza Senayan. Dalam beberapa hal, informasi cepat sekali sampai ke Mas Hanung dan membuat anak buahnya harus bergerak cepat. Dengan sigap aku menyambar ranselku dan berlari diikuti Deni. Meski dalam hati sebenarnya memaki, mengapa peristiwa terjadi saat otak dan hati tak mau berkompromi.


***


Kecelakaan beruntun yang cukup parah. Berawal dari salah satu mobil yang kehilangan keseimbangan saat menghindari motor yang tiba-tiba menyerobot, berakhir menabrak satu mobil di sampingnya yang lantas menabrak dua motor dan tiga mobil lainnya. Salah satu pengendara motor yang berboncengan dengan anaknya meninggal dunia di tempat. Sedang bocah berumur tujuh tahun itu selamat meski mengalami syok berat.


Selain itu, dua korban pengendara mobil mengalami luka pendarahan serius di kepala dan meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat. Sedangkan lainnya terluka cukup parah.


Inilah mengapa aku sebenarnya malas meliput peristiwa. Apalagi kecelakaan. Terlalu menguras emosi dan air mata. Belum lagi berhadapan dengan warga yang lagaknya sudah seperti pemburu warta. Sementara kami yang juru warta sebenarnya masih mengukur segala hal dengan etika yang harus tetap dijaga.


Hampir pukul 08.00 malam, ketika aku baru selesai meliputi peristiwa itu dengan badan pegal dan lengket oleh keringat. Sesampainya di rumah bukannya langsung mandi, aku justru melemparkan tubuhku di ceruk sofa ruang tamu. Sesekali menggeliat malas demi melemaskan otot-otot yang terasa kaku.


"Kalau pulang kerja tuh mandi Kanya, jangan langsung rebahan gitu."


Tubuhku refleks menegak saat mendengar suara yang tak asing menyapa gendang telinga. Namun tak ada kujumpai sosok pemilik suara itu.


"Nya, aku buatin sandwich nih buat. Makan yuk."

__ADS_1


Kali ini suara itu terdengar dari arah dapur. Membuatku bergegas menuju sumber suara, tapi lagi-lagi aku hanya menemukan udara yang beku. Tanpa Araz.


Heh, sungguh sepertinya aku memang mulai gila. Bahkan aku bisa mencium aromanya yang berpadu antara coklat dan mint di udara. Sungguh, aku memang mulai gila.


Demi mengusir bayangan lelaki itu, aku berjalan menuju dengan langkah gontai menuju kamar. Kenyataannya bukan damai yang kurasakan. Araz berdiri di ambang jendela. Menatapku dengan senyum mengembang yang membuat ujung matanya berkerut.


"Have a nice dream, Kanya." Suaranya bergaung dalam tempurung kepalaku. Membuat perasaan ngilu hingga susah bernapas akibat menahan pilu.


"Kalau emang niat ngilang dari awal, nggak usah muncul lagi di depan gue, Monyet! Gue nggak butuh lo hantui."


Tubuhku terkulai di lantai. Air mata tak sanggup kutahan lagi. Batinku sakit menahan nyeri yang menyiksa. Sedang aku tak tahu harus berbuat apa untuk mengusir bayangan Araz yang semakin sering muncul.


Aku hanya sanggup menumpahkan air mata di balik lutut. Membiarkan segala bentuk rasa lepas dari tempatnya bersarang atau entah sembunyi selama ini.


***


"Selamat pagi, Kanya. Semoga harimu indah."


Aku terbangun saat sayup-sayup mendengar suara seseorang berbisik di telingaku. Cahaya matahari yang menerobos melalui celah ventilasi jatuh tepat di atas wajahku. Jika merasakan hangatnya mungkin ini masih sekitar pukul 06.00.


Kuamati tubuhku yang sudah berpindah tempat ke ranjang. Padahal terakhir kali aku masih duduk menekuk lutut sambil menangis sesenggukan. Sejak kapan aku berpindah tempat? Padahal aku yakin, aku jatuh tertidur saat menangis sambil menekuk lutut.


"Pagi, Kanya. Mau sarapan sandwich?"


Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Seorang lelaki yang tak asing berdiri di ambang pintu sambil mengenakan celemekku.


Sedang aku tersenyum sinis. Halunasiku melihat Araz masih terus berlanjut.

__ADS_1


Heh, liat aja lo ntar. Gue bakal bikin perhitungan karna udah neror gue siang-malam.


Sementara bayangan Araz tak juga menghilang dari pintu kamarku.


__ADS_2