Pulang

Pulang
Sepotong Sandwich


__ADS_3

Renjana Kanya


Araz benar-benar sudah berdiri di depan pintu apartemenku bahkan sebelum pukul 08.00 pagi. Lelaki itu menatapku dengan tatapan terkejut saat melihatku masih mengenakan baby doll beruangku. Sementara aku juga belum sempat menata rambut yang masih basah setelah mandi.


Mau tak mau aku membuka pintu saat dia memberi kabar lewat pesan singkat jika sudah di depan apartemenku. Araz terlihat santai, tapi tetap segar dibalut kaus polo warna abu-abu dan celana jeans hitam. Rambutnya dibiarkan acak-acakan yang membuatnya terlihat lebih muda dari umur sebenarnya. Bahkan kerut di ujung matanya saat tersenyum, membuatnya begitu mirip dengan pemain Train to Busan itu.


"Selamat pagi, Kanya. Udah siap?"


Pertanyaan Araz hanya kubalas dengan cengiran dan membuka daun pintu semakin lebar.


"Masuk dulu deh Mas, aku belum selesai ngeringin rambut. Masih jam 07.45 loh ini," ucapku sambil mempersilakan lelaki itu masuk.


Tidak mungkin membuatnya menunggu di depan pintu, sementara aku masih membutuhkan setidaknya limabelas menit lagi untuk menata rambut. Belum lagi mix and match outfit yang pas dengan tema yang ditentukan LF untuk acara bakti sosial ini. Grey and black. Dua warna yang jadi favoritku selain putih.


Araz terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya mengikutiku dari belakang. Seperti tidak biasa main ke tempat seorang perempuan sebelumnya. Namun jika mendengar cerita dari Mas Hanung tentang asal-usul julukan Aldo, bisa jadi dia memang tidak pernah main ke rumah perempuan.


"Kan kubilang makin pagi makin bagus, tapi santai aja sih. Acaranya mulai jam 09.00 kok. Nggak jauh juga dari sini."


"Hehe... sori ya Mas, jadi nunggu. Santai aja dulu kalau gitu Mas, nggak usah sungkan. Aku nggak bakal lama kok. Itung-itung latihan, biar nanti pas punya cewek nggak kaget nungguin mereka dandan."


"Emang cewek suka lama ya kalau dandan?" tanya Araz terlihat serius saat bertanya. Aku hanya menaikkan sebelah alis.


"Bukannya Mas Araz yang paling tahu ya? La Femmes kan juga nggak lepas dari fashion and modeling."


"Ya sih, tapi aku nggak mau ribet soal begituan. Lebih tertarik dari sisi seni dan budayanya," elak Araz membuatku tersenyum.


"Fashion 'kan juga termasuk seni Mas," ucapku.


"Ada yang lebih ahli dari aku kalau urusan itu." Araz nyengir dan membuat mata sipitnya terpejam. Semakin aku memperhatikan lelaki itu begitu mirip dengan Gong Yoo.


Mimpi apa gue semalam, pagi-pagi udah dapet rezeki senyum tanpa pemanis buatan? Eh? Astaga, mikir apa sih gue.


"Udahlah, ntar makin lama kalau kita debat sekarang. Santai aja dulu. Janji nggak bakal lama kok," ucapku mengalihkan perhatian. Aku tak mau lelaki itu tahu, jika aku diam-diam mengaguminya dalam hati.


Araz hanya tersenyum dan memperhatikan ruang tamu minimalis bernuansa abu-abu dan hitam yang juga berfungsi sebagai tempat menonton TV. Sekaligus berbatasan langsung dengan dapur dan ruang makan yang tentu saja minim perabotan. Aku bukan tipikal orang yang suka masak.


Lelaki itu memilih duduk di sofa yang menghadap langsung ke arah balkon. Tampak tertarik memperhatikan penyekat ruangan yang dipenuhi tumpukan buku maupun novel koleksiku. Juga sekulen-sekulen mini yang berjejer di dinding maupun rak buku. Di sudut antara penyekat ruang tamu dan dapur, aku meletakkan pot bunga sembilan jari yang juga tak lepas dari pengamatan Araz. Sedikit memberi kesan asri di ruangan yang terlihat maskulin dibanding feminim.


"Nyaman tinggal di sini," kata Araz sebelum aku melangkah menuju dapur.

__ADS_1


"Nggak segede tempat Mas Araz loh, kok bisa bilang kalau di sini nyaman?"


"Bukan perkara luas atau nggaknya Nya, tapi penataan ruangnya. Meski mungil, tapi bikin betah."


Tipe apartemenku memang tak semewah milik Araz yang memiliki cukup banyak ruang. Jadi ruang geraknya pun terbatas. Namun justru lelaki itu tampak menikmati suasana di apartemenku.


"Mas Araz mau minum apa?"


"Ada kopi nggak? Kalau ada, boleh aku bikin sendiri? Biar kamu bisa siap-siap."


"Ada kok. Roti tawar juga ada. Siapa tahu mau bikin sandwich. Bahannya juga ada di kulkas, kalau masih belum layu."


"Astaga, anak ini ternyata nyebelin juga ya kalau udah kenal. Nggak sopan banget, masa tamu disuruh bikin sarapan." Araz sudah berdiri di sebelahku dan mengacak-acak rambutku. Aku tertawa menanggapi gerutuan lelaki itu. "Ya udah sana siap-siap. Aku bikinkan sarapan sekalian."


"Mas Araz yang janji loh bakal kasih aku makan tiga kali sehari kalau mau jadi rekan satu tim."


"Iya, iya, nih aku buatin bawel."


"Bahannya ada di kulkas Mas. Semoga aja bener belum layu," kataku diiringi tawa sambil melangkah menuju kamar.


Aku harus cepat menyelesaikan rutinitasku jika tak ingin membuat Araz menunggu lama. Selain itu, aku merasa jahat karena sudah membuat orang menunggu dan memaksa menyiapkan sarapan pula. Jika ayah tahu kelakuan anaknya yang seperti ini, dapat dipastikan beliau bakal memberi tausiyah hingga membuatku sadar di mana letak kesalahanku. Lelaki yang mengajarkan cinta pertama itu, tidak akan membiarkan anaknya memanfaatkan orang lain demi memuaskan keisengannya sendiri.


"Nya, kamu simpan kopi di mana?" teriak Araz dari dapur. Menyadarkanku jika masih ada hal yang harus kuselesaikan.


"Ada di rak paling atas Mas."


"Oke, udah ketemu. Sarapan bentar lagi jadi. Kamu mau kopi juga nggak?"


"Iya deh." Setelah menimbang-nimbang aku mengiyakan pertanyaan Araz.


"Oke."


Aku tersenyum tanpa sepengetahuan lelaki itu dan melanjutkan aktivitasku yang tertunda.


***


Sarapan sudah terhidang di meja makan saat aku selesai berdandan. Ehm, tidak dandan juga. Aku memang bukan orang yang suka make up. Paling hanya memoles sedikit lipstik agar bibirku tak terlihat pucat, serta bedak yang tidak terlalu tebal.


Hanya saja aku lebih suka bermain-main dengan gaya rambutku meski berpotongan bob sebatas pundak. Kali ini aku mengepang sedikit rambut bagian depan kanan-kiri, lantas kusatukan ke belakang. Hanya sekadar tidak menganggu saat beraktivitas di lapangan.

__ADS_1


"Hei, pas banget aku udah selesai bikin sandwich-nya. Yuk sarapan dulu," kata Araz menyambutku saat keluar kamar.


Entah mengapa momennya seperti film-film romantis yang sering kuhindari beberapa bulan terakhir. Araz berdiri di samping meja makan dengan berlatar hangat matahari yang masuk melalui jendela. Senyum yang mampu melelehkan hati perempuan mana pun itu, mengukir di wajahnya yang bersinar. Sedang apron yang ia gunakan masih menggantung di lehernya. Dan, lelaki itu menyadari momen yang terjadi saat ini. Atau mungkin Araz memang sengaja menyiapkannya?


Namun bukan kesan romantis yang kutangkap. Aku justru tertawa geli melihatnya. Terlebih melihat gayanya saat berdiri menirukan model sampul majalah yang bertumpu pada meja. Sedang sebelah tangannya berkacak pinggang.


"Kok malah ketawa sih, kurang romantis ya?" tanya Araz justru membuat tawaku semakin lebar.


"Nggak, aku ketawa bukan karena nggak romantis. Itu kok punya pikiran buat kasih sekulen di atas meja juga sih?" tanyaku saat melihat salah satu koleksi sekulen kaktusku sudah nangkring di atas meja makan.


"Ya kan biar makin romantis gitu kesannya. Kurang ya?"


"Romantis kok Mas, kalau dilakuin sama orang yang tepat. Kadar romantisku lagi menurun sih, jadi ngerasa biasa aja kalau Mas Araz kayak gitu," ucapku sambil duduk di kursi meja makan. Tawaku masih belum juga reda.


Raut wajah Araz berubah sendu. Namun segera lenyap saat ia duduk di seberangku.


Kami duduk berhadapan karena memang hanya ada dua kursi di sini. Sementara sandwich buatan Araz sudah terhidang di meja bundar depan kami bersanding dengan kopi yang masih mengepul asapnya.


Jika benar-benar diperhatikan, suasana pagi ini begitu romantis memang. Dan bohong saat tadi kubilang merasa biasa saja. Sebab, kini jantungku tak bisa berdetak normal. Aku berkata seperti itu hanya untuk menutupi kegugupanku. Sungguh, aku hanya tak ingin salah paham dan terluka pada akhirnya. Masih ada luka yang belum sembuh. Aku tak ingin membuatnya semakin parah.


"Makan gih. Kalau kamu bilang ini kurang romantis sih, aku bisa terima, tapi kalau kamu bilang sandwich buatanku nggak enak, aku baru nggak terima," ancam Araz lagi-lagi membuatku tertawa.


"Mari makan," kataku tanpa menanggapi pernyataan lelaki itu. Perutku terlalu lapar dan aku tak ingin terlihat gugup di depan Araz.


"Eh, makannya pelan-pelan," cegah Araz saat aku menggigit sandwich dalam ukuran besar sekaligus. "Kok nggak ada jaim-jaimnya sih jadi cewek."


"Dih, kenapa mesti jaim? Emang Mas Araz suka sama cewek yang kayak gitu?"


Lelaki itu hanya tersenyum. Lantas katanya,"Nggak sih, aku lebih suka yang apa adanya. Tapi serius deh, kamu mesti hati-hati kalau makan. Aku udah kasih mantra di setiap potongan sandwich itu. Kalau makannya cepet-cepet, mantranya bakalan semakin cepet bereaksi."


Wajah Araz terlihat serius saat mengucapkan kalimat itu.


"Serius? Emang Mas Araz kasih mantra apa? Kalau mantra cepet kaya atau cepet dapat jodoh, kayaknya aku nggak perlu pelan-pelan deh makannya," kataku dengan wajah yang tak kalah serius.


"Kukasih mantra biar kamu jatuh cinta sama aku lewat rasa. Yah, nggak apa-apa sih kamu mau makan cepet-cepet, tapi risikonya kamu bakal cepet jatuh cinta pula sama aku."


Mendengar pernyataan Araz, tanpa sadar aku memelankan kunyahanku. Bukan, bukan kerena aku percaya dengan ucapan Araz. Aku hanya takut, jika makan terlalu cepat, akan berakhir cepat pula momen di antara kami. Sebab, aku hanya tak ingin semua berjalan terburu-buru dan menyimpulkan hal yang justru merugikan di masa depan.


"Nah kalau makannya pelan-pelan, mantranya juga bakalan pelan tapi pasti tepat sasaran."

__ADS_1


Araz tersenyum. Kami melanjutkan makan dalam diam. Sibuk memikirkan apa saja yang berdesakan dalam kepala kami masing-masing.


__ADS_2