Pulang

Pulang
Harga Sebuah Rasa


__ADS_3

Renjana Kanya


Aku tak pernah tahu ke mana kami - aku, Araz, Bunda dan Ayah (mereka yang memintaku memanggil demikian) - akan pergi. Ya, maksudku, kami akan menemui Arez, tapi aku tak tahu di mana. Mereka tetap tak memberitahuku sebelum berangkat, maupun selama perjalanan. Hanya bunda yang berpesan, aku tak boleh menangis atau pun menyesal saat tahu bagaimanapun keadaan Arez nanti. Sebab itu sudah menjadi pilihan Arez dan aku tak boleh menyesali apa pun pilihanku dulu maupun saat ini.


Sebelum berangkat, Araz bertanya apakah aku sudah melihat isi kotak pemberian Arez? Akibat perasaan yang terlalu campur aduk, aku melupakan kotak itu dan justru tertidur sampai pagi. Lantas ia memintaku membukanya. Lelaki itu masih berdiri di sampingku saat aku menangis terharu melihat hadiah dari Arez. Sepasang sepatu kets canvas yang dilukis sendiri seperti yang pernah dijanjikannya padaku. Lebih dari lima tahun lalu.


Kenangan tentang pembicaraan hadiah wisuda itu berputar di kepalaku seakan baru terjadi kemarin sore.


"Nya, kalau kamu wisuda mau hadiah apa dari gue?"


"Baru juga semester tiga udah ngomongin wisuda."


"Lah emang lo mau wisuda semester berapa? Semester 10?"


"Enak aja, semester tujuh lah. Ngapain kuliah lama-lama. Buang-buang duit. Lagian nih, gue udah janji sama Ayah kalau bakal lulus sebelum semester delapan. Itu kenapa gue diizinin kuliah jurusan sastra."


"Oh, termasuk yang menganggap bahasa dan sastra nggak penting dipelajari ya?"


"Hahaha... biasalah, orang tua mikirnya semua anak pengen jadi dokter. Padahal itu sebenarnya keinginan mereka sendiri, para orang tua. Trus siapa yang dongengin anak-anak dokter kalau semuanya udah dikotakkan kayak gitu?"


"Ya udah, gue yang bagian bikin rumah buat anak-anak dokter."

__ADS_1


Kami tertawa sebelum Arez kembali bertanya perihal hadiah wisuda. Dengan asal aku menjawab menginginkan sepatu kets canvas yang ia gambar sendiri. Sebab saat itu aku pernah melihatnya mengerjakan sepatu lukis pesanan temannya. Saat ia bertanya gambar apa yang kuinginkan, aku pun menjawab sekenanya jika aku menginginkan dandelion berlatar langit senja.


Keinginan secara random itu, benar-benar diwujudkan dalam bentuk sepasang sepatu kets yang kini berada di hadapanku. Begitu cantik dengan perpaduan warna jingga, kuning dan ungu serta batang-batang dandelion yang terbang berwarna hitam membentuk bayangan.


Kata Araz, hadiah itu harusnya diberikan saat wisudaku tiga tahun yang lalu. Namun Arez tak bisa menghubungiku saat wisuda. Begitu pula dengan Damar dan Almira - yang justru sudah lama kehilangan kontak. Ya tentu saja, aku melewatkan wisuda sarjana yang begitu berharga. Si cumlaude yang seharusnya menjadi perwakilan mahasiswa berpidato, tidak bisa menghadiri wisuda sebab ayahnya meninggal dunia. Sungguh miris bukan. Padahal tujuanku kuliah dengan giat dan lulus lebih awal hanya ingin membuat ayah bangga. Namun Tuhan lebih memiliki kuasa atas seluruh rencanaku.


"Kamu cantik kalau tersenyum, Kanya. Untuk hari ini saja, tolong tersenyumlah demi Arez," ucap Araz sambil menghapus air mata yang membasahi pipiku.


"Aku nangis karena terharu, Mas. Dia masih inget sama janjinya. Lima tahun lalu, dia bilang bakal buatin sepatu lukis kalau aku bisa lulus lebih awal."


"Dia akan selalu ingat apa pun tentang kamu, Nya. Ayo, Bunda sama Ayah udah nunggu," ajak Araz begitu aku selesai memakai sepatu pemberian Arez di kakiku. Sangat pas di kakiku. Ya, sepertinya Arez memang ingat apa pun itu tentangku. Ia bahkan ingat ukuran sepatuku.


Bunda duduk di depan. Sementara Araz duduk di sampingku dan membiarkan ayah yang mengemudi. Kondisi lelaki itu belum sepenuhnya pulih. Selama tiga minggu saat ia menghilang, lelaki itu benar-benar merasa kesakitan dan harus menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Jakarta.


Ada sedikit masalah dengan transplantasi jantung yang dilakukannya. Padahal sejak operasi pencangkokan jantung yang dilakukannya hampir dua tahun lalu, semua tampak baik-baik saja. Namun gejala itu muncul kembali. Mungkin akibat kurangnya menjaga pola kesehatan yang sering dilewatkan. Atau... entahlah, Araz tak menceritakan detail sakitnya kepadaku.


Heh, kenyataan yang sungguh menampar bukan? Menjadikan aku seperti orang bodoh sekaligus jahat secara bersamaan. Ketika ia muncul kemarin pun, aku masih memaksanya untuk mempertemukanku dengan Arez. Memaksanya menyetir hampir tiga jam dalam kondisi yang tidak sehat.


Atau memang begitukah sifatku yang sebenarnya? Suka semena-mena tanpa punya empati pada orang lain dan selalu menganggap diriku sendiri yang terluka? Bukankah dengan Putra dulu pun sama? Almira, Damar, bahkan Arez sekalipun, pernah menjadi korban atas sifatku yang begitu egois.


Sungguh, jika mengingat bagaimana sikapku yang demikian, aku malu pada diriku sendiri. Aku malu pada Araz yang selalu tampak tenang menghadapiku yang merajuk. Ia bahkan begitu sabar menerima segala perlakuanku yang tak masuk akal.

__ADS_1


"Ayo, kita sudah sampai," ajak Bunda sambil bersiap-siap turun.


Mobil yang dikendarai ayah melambat di area pemakaman yang tampak tenang. Seketika detak jantungku berdetak lebih cepat. Refleks kugenggam tangan Araz yang berada di sampingku. Bahkan tubuhku mulai gemetar membayangkan hal buruk yang tiba-tiba tak bisa kucegah kemunculannya.


"Mas... ini..."


Aku kehilangan kata-kata. Jadi memang benar Arez adalah adik Araz yang sudah meninggal? Aku ingin lantang bertanya, tapi suaraku tercekat di kerongkongan. Bagaimanapun aku mencoba berbicara tak ada suara yang terucap dari bibirku.


"Ayo," ajak Araz sambil menggenggam tanganku dengan lembut. Senyum menghiasi wajahnya, meski mata itu tak sanggup menyembunyikan mendung. "Aku akan dampingi kamu."


"Tapi, kenapa kita ke sini? Kita bukan mau ketemu Arez di sini 'kan?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur juga dari mulutku. Sedang air mata pun tak bisa kucegah untuk tidak membasahi pipiku.


"Arez nggak suka lihat kamu nangis, Kanya. Hanya kali ini, tersenyumlah."


Setelah menguasai perasaanku dan menahan mati-matian agar tak menangis, aku mengikuti langkah Araz melewati setapak ke tempat ayah dan bunda yang lebih dulu sampai. Bunda merangkul di samping kananku, sedangkan Araz tetap tak melepaskan genggaman di tangan kiriku. Mataku mengabur saat membaca batu nisan berpahatkan nama Arez. Alvarez Bentang Semesta.


Meski sudah kucegah mati-matian sekalipun, air mataku tetap jatuh saat membaca tanggal kematian Arez. 10 Februari 2018. Tepat hari di mana aku melarikan diri ke Jakarta dengan bantuan Bude Maya - kakak sulung ayah. Dua tahun yang lalu.


"Arez selalu bersyukur bisa kenal sama kamu di sisa hidupnya yang tidak panjang, Kanya. Untuk itu dia tak pernah menyesal saat Tuhan berkehendak atas nyawanya. Bunda juga bangga dianugrahi anak semata wayang seperti Arez. Walau hanya sementara. Apalagi dengan kematiannya, dia bisa memperpanjang kehidupan orang lain dan memberikan anak yang tak kalah tampan juga berperilaku baik pada Bunda," kata Bunda sambil menepuk pundakku. Wajah perempuan setengah baya itu tersenyum. Seolah telah ikhlas jika titipan yang dipinjamkan Tuhan, memang sudah waktunya dikembalikan.


Sedang Araz menggenggam erat tanganku saat bunda mengucapkan jika kepergian Arez mampu memperpanjang nyawa orang lain. Kini benakku sanggup menyambungkan semua peristiwa yang terjadi.

__ADS_1


Bagaimana Araz begitu ketakutan saat aku mengetahui fakta tentang hubungannya dengan Arez. Ya, lelaki itu pasti takut aku menganggapnya telah merebut kehidupan Arez. Bagaimana Araz begitu menyayangi kedua orang tua yang sama sekali tak memiliki kemiripan dengannya. Sebab di dalam dada lelaki itu, ada denyut jantung yang dulu diwariskan oleh bunda dan ayah.


Air mataku mengalir juga. Aku tak setegar ayah atau pun seikhlas bunda. Aku tetaplah Kanya yang cengeng yang tak sanggup menahan air mata meski hanya setitik debu mengotori mataku. Apalagi perkara harga untuk sebuah rasa yang harus kubayar dengan penyesalan. Mana sanggup aku tidak menangis jika kenyataan ini begitu menyakitkan?


__ADS_2