Pulang

Pulang
Yang tidak Seperti Biasanya


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Waktu seolah berjalan lambat. Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menyelesaikan proyek yang kukerjakan bersama Hanung. Mulai menyiapkan perizinan sampai tempat yang nantinya akan menjadi kantor saat kami bekerja. Dalam waktu dekat, kami juga harus melakukan wawancara kerja dengan beberapa pelamar yang sudah menumpuk surat lamaran sejak keinginan kami berdikari tercetuskan. Memang lebih banyak kami yang melamar para pekerja, tetapi tidak sedikit juga yang mengajukan lamaran untuk beberapa bidang yang memang kami membuka peluang. Termasuk tim marketing dan reporter yang memang masih memiliki tenaga kerja terbatas.


"Raz, gue lapar nih. DO makanan yuk," ajakan Hanung mengalihkan fokusku pada setumpuk surat lamaran yang kusortir. Dari sekian banyak surat lamaran belum ada yang menarik perhatianku.


"Ikut lo aja deh. Mau pesan apaan sih?"


"Tahu nih, nasi aja deh kayaknya. Sedari siang belum makan lagi gue. Lo kan tahu, jatah makan gue harusnya empat kali sehari."


Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Pukul 07.00 malam. Pantas Hanung sudah berteriak lapar. Sejak pagi, kami memang terlalu sibuk mengurus ini-itu dan hanya beristirahat sebentar untuk salat serta makan siang. Selebihnya kami sibuk mempersiapkan segala hal yang memang butuh perencanaan matang. Hanung yang terbiasa makan pukul 03.00 sore melewatkan jadwal hariannya dan kini mengeluhkan lapar.


"Terserah deh. Gue selesaikan ini dulu. Belum ada yang tertarik sama CV mereka."


"Reporter? Kan gue sudah kasih saran buat rekrut Kanya. Sudah bilang belum sih lo?"


Aku menepuk jidat saat Hanung menyebut nama perempuan itu. Sudah tiga hari sejak kepulanganku dari Tuban, dan belum sempat mengabarkan apa pun padanya kecuali di hari saat aku tiba di Jakarta dan mengatakan jika selamat sampai tujuan. Selanjutnya, aku sibuk mempersiapkan kantor baru dengan segala urusan lainnya agar segera bisa beroperasi. Hari semakin dekat dengan batas peluncuran media baru kami dan segalanya harus matang. Hanung begitu juga denganku, bukan tipikal yang bisa menerima hal yang dilakukan setengah-setengah.


"Kenapa lo?"


"Gue sama sekali belum kasih kabar Kanya, sejak balik ke Jakarta."


"Tumbenan. Biasanya juga nggak pernah absen mikirin Kanya," komentar Hanung sambil mengecek layar 6 inchi di tangannya. "Makan nasi padang aja yuk," tawarnya kemudian.


"Boleh deh. Gue telepon Kanya dulu ya."

__ADS_1


Aku bergerak menuju balkon di lantai dua saat mengatakan hal tersebut pada Hanung. Bakal kantor kami memang sebuah bangunan berlantai dua yang cukup strategis dan memiliki ruangan yang tidak umumnya sebagai perkantoran. Bahkan cenderung seperti tempat tinggal biasa. Hanya saja kami membuatnya senyaman mungkin agar betah saat bekerja.


Di lantai satu disekat menjadi empat bagian. Meja resepsionis, ruang marketing dan layanan iklan, serta ruang redaksi yang khusus untuk para reporter. Di bagian paling belakang ada pantry yang juga berfungsi sebagai ruang makan untuk para karyawan.


Sedangkan di lantai dua berfungsi sebagai ruang general manager, pimpinan redaksi, redaktur pelaksana, ruang rapat, juga sebuah ruangan yang cukup luas untuk beristirahat. Dan, ada balkon yang disulap menjadi taman lengkap dengan bangku-bangku panjang meja serta smoking area. Perihal segala urusan itu Hanung yang mengambil alih dan terbukti, kantor dengan ukuran yang tidak besar, tetapi cukup ini, terasa nyaman.


"Halo," sapaan di ujung telepon membuat saraf-saraf di pipiku mengendor. Sepertinya sudah lama sekali aku tidak mendengar suara perempuan itu. Bukankah tiga hari memang waktu yang cukup lama bagi orang yang jatuh cinta?


"Hai, apa kabar, Nya? Sori, aku nggak sempat kasih kabar karena mesti urus ini-itu."


"Oh ... ." Balasan Kanya singkat dan tidak bersemangat.


"Aku benar-benar minta maaf, Nya. Kamu marah?"


Aku menepuk jidat. Sungguh aku menyesal menanyakan hal itu pada Kanya. Pertanyaan bodoh yang hanya memancing amarah perempuan itu. Seolah hal yang kulakukan sama sekali tidak menunjukkan rasa pengertian.


"Hei, maaf. Aku benar-benar minta maaf, Kanya."


"Memang seberapa sibuknya sih sampai Mas Araz sama sekali nggak lihat HP? Mas Hanung saja masih sempat kasih kabar, meski bilang kalau dia sudah mengundurkan diri dari kantor." Amarah Kanya meledak. Aku menghela napas panjang.


Ya, seberapa sibuknya sih aku sampai membuat perempuanku menunggu dan diliputi kemarahan seperti ini? Dia bahkan menitikkan air matanya untukku.


"Maaf, Kanya. Maafkan aku ya. Aku salah. Selanjutnya aku nggak bakal kayak gini lagi," ucapku benar-benar menyesal.


"Mas Araz tahu nggak sih, aku takut kalau Mas Araz tiba-tiba hilang kayak gini dan ternyata ... hal buruk terjadi sama Mas Araz." Suara Kanya bergetar saat mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


"Maafin aku ya, Sayang. Maaf sudah bikin kamu khawatir. Aku janji nggak akan kayak gini lagi."


"Aku khawatir, Mas Araz kenapa-kenapa." Suara Kanya masih bergetar.


Pikiranku menerawang. Selama tiga hari ini aku sibuk apa saja sampai bisa mengabaikan Kanya? Sehari setelah pulang dari kota kecil di ujung barat Jawa Timur itu, aku mulai menyiapkan undangan untuk peluncuran perusahaan media yang kubangun bersama Hanung dari pagi sampai larut malam.


Esoknya, ada beberapa berkas yang harus diajukan ke dewan pers agar media kami terverifikasi. Dan hari ini, lagi-lagi disibukkan dengan segudang aktivitas sampai lupa mengecek gawai. Bahkan aku hanya menyentuh benda itu saat ada telepon penting yang berkaitan dengan pekerjaan. Pantas jika Kanya merasa terabaikan sampai membuat perempuan itu marah dan khawatir sekaligus.


Diam-diam aku merasa lega, walaupun rasa bersalah tidak dapat terhindarkan. Setidaknya aku lega karena Kanya memiliki kekhawatiran atas keadaanku. Hal itu membuatku semakin yakin jika aku mampu merebut hati Kanya seutuhnya dari Putra.


Aku menghela napas. Mengingat nama itu selalu membuat hatiku nyeri. Ingin sekali marah, tetapi tidak tahu kepada siapa aku harus marah. Aku tidak mungkin mampu menghalangi perasaan seseorang bukan? Terkadang aku juga merasa tidak adil pada sepasang kekasih yang harus terpisah itu dan tak bisa bersatu lantaran berbagai alasan. Apalagi jika aku terlibat di antara mereka. Namun, aku juga tak bisa memungkiri jika ingin terus bersama perempuan yang kucintai.


"Mas Araz, baik-baik saja 'kan?" Suara Kanya dari ujung telepon memotong lamunanku.


Aku tersenyum. "Iya, aku baik-baik saja, Nya. Awal pekan nanti kami resmi peluncuran Ruang Kata dan masih banyak hal yang perlu dipersiapkan. Kami masih perlu bantuanmu sebenarnya. Lamaran yang untuk reporter belum ada yang sesuai kualifikasi aku sama Hanung."


Tidak ada jawaban dari Kanya. Perempuan itu terdiam. Cukup lama. Hingga akhirnya dia menjawab dengan keraguan. "Nanti akan aku pikirkan lagi, Mas. Sebenarnya di tempat kerja sekarang pun aku masih belum bisa maksimal. Apalagi tanpa Mas Hanung, aku takut justru akan membebani tim kalian."


"Ya sudah nggak apa-apa. Kami bakal tetap menunggu kamu kalau saja berubah pikiran kok. Oh ya, gimana kabar Tante Sukma? Sudah ada perkembangan?"


Kanya menceritakan keadaan ibunya. Namun, dalam otakku justru dipenuhi cerita lain saat dia menyebut nama Putra. Kakak laki-lakinya itu pada akhirnya ketahuan jika menyembunyikan lebam di wajahnya akibat insiden pemukul beberapa waktu lalu. Om Eka marah besar dan meminta Kanya untuk lebih memperhatikan Putra agar hal serupa tidak terjadi lagi.


Lagi-lagi, rasa marah itu menguasai hatiku. Rasa cemburu itu dengan cepat mengendalikan emosiku. Hingga tanpa sadar, aku menghela napas panjang dan meminta Kanya menghentikan ceritanya. Tepat saat Hanung memanggilku. Mengatakan jika pesanan nasi padang kami sudah datang.


"Hemm, sori Nya, kayaknya kita mesti udahan dulu teleponnya. Nanti aku hubungi kamu lagi ya. Aku makan dulu. Lapar. Kamu juga jangan lupa makan ya. See you, Nya."

__ADS_1


Aku memutus sambungan telepon sebelum Kanya sempat membalas ucapanku. Aku menghela napas panjang. Ada perasaan gigil yang tiba-tiba menyelimuti hatiku. Hambar. Entah apa aku harus menyebutnya.


__ADS_2