
Renjana Putra
Tepukan pelan di pundak Putra mengagetkan lelaki itu. Seorang lelaki sebayanya tertawa lebar melihat reaksi terkejut Putra. Ia memang mudah sekali terkejut jika fokus pada satu hal meskipun kini sedang melamun.
Putra tengah duduk di salah satu sudut kafe tempat Nada Sumbang manggung malam ini, saat Danu mengagetkannya. Setelah melewati sesi curhat dengan Noah, lelaki itu baru menyadari tujuannya pulang. Ia bersama bandnya harus memenuhi undangan manggung di Oranges Caffe.
Setelah sekian lama tidak pernah manggung di kafe, malam ini mereka menerima tawaran itu, sebab dari Oranges Caffe lah mereka dikenal seperti sekarang dan sering menerima job tour konser dan lain sebagainya. Ya, tempat pertama kali Putra menyanyikan lagu ciptaannya untuk Kanya disambut momen-momen yang tak terlupakan lainnya.
Ah, perempuan itu lagi.
Sepertinya, segigih apa pun Putra berusaha melupakan Kanya, justru semakin kuat perasaan cintanya pada perempuan itu. Bahkan tempat di mana ia duduk sekarang, selalu menjadi pilihan Kanya ketika menemani Nada Sumbang manggung.
"Bengong mulu lo, Ky," sapa Danu saat sahabatnya itu tak juga merespon panggilannya sejak pertama ia menepuk pundaknya. Di sebelah Danu juga sudah berdiri anggota band yang lain. "Bukannya kemarin lo bilang Kanya datang pas reuni ya, kok masih suntuk aja sih?"
"Dia udah balik," jawab Putra singkat sambil menyembunyikan wajahnya di atas meja bertumpu lengan.
Anggit yang duduk paling dekat dengannya hanya menepuk pundak Putra seolah memberi kekuatan. Kisah cinta Putra dan Kanya, sudah jadi rahasia umum bagi Nada Sumbang. Yah bagaimana mungkin mereka tidak tahu jika jelas-jelas Papa Putra dan Mama Kanya tinggal satu rumah sebagai suami-istri. Bahkan mereka pun hadir ke pesta pernikahan kedua orang tua Putra dan Kanya, hanya demi menjaga lelaki itu agar tidak berbuat ulah.
"Jelas belum baikan nih kalau lihat roman-romannya yang masih suntuk gitu," celetuk Arlan. Dia memang yang paling berani menganggu Putra jika vokalis Nada Sumbang itu sedang bad mood.
Pertemanan antara Arlan dan Putra sedikit unik. Berbeda dengan ketiga anggota Nada Sumbang yang lain yang lebih suka memperhatikan dan membuat nyaman Putra, karena tahu lelaki itu memiliki trauma jika berada pada posisi panik maupun saat-saat tertentu. Ketika mati lampu saat turun hujan misalnya.
Putra dan Arlan dulu satu jurusan saat kuliah. Sejak pertama kali kenal - ketika malam keakraban yang menunjukkan bakat masing-masing mahasiswa, tidak pernah sehari pun terlewatkan tanpa saling mengolok. Mulai masalah sepele hingga masalah yang benar-benar krusial. Terlebih dalam permainan musik mereka yang setara dan tidak mau disamakan. Mereka memiliki egonya masing-masing dalam bermusik.
__ADS_1
Pernah suatu ketika Arlan mengejek lagu ciptaan Putra yang terkesan menye-menye. Saat itu dia belum bergabung dalam Nada Sumbang dan masih aktif dengan bandnya yang lama. Padahal menurut ketiga anggota Nada Sumbang lainnya, lagu itu sudah bagus dan menunjukkan ciri khas mereka seperti selama ini. Namun Arlan dengan entengnya mengkritik hasil karya Putra dan membuat lelaki itu murka.
"Ya udah, kalau menurut lo lagu gue jelek, bikin yang lebih bagus," tantang Putra saat itu. Arlan dengan segala egonya yang tinggi menerima tantangan Putra.
"Apa yang bakal lo jadikan taruhan?"
"Gue bakal keluar dari Nada Sumbang, tapi kalau lo kalah, lo harus gabung sebagai keyboardist kami," kata Putra percaya diri. Sebab Putra tahu, sosok seperti Arlan harus dirangkul demi kemajuan musik Nada Sumbang.
Seminggu kemudian, mereka menggelar mini pertunjukan di halaman fakultas. Penilaian berdasarkan siapa yang paling banyak mendapatkan love dari penonton. Hasilnya seimbang. Sampai akhirnya Kanya muncul dan memberikan satu tanda love untuk Putra.
Demi mempertahankan harga diri dan menunjukkan pada Putra jika musik Nada Sumbang terlalu lembek, Arlan memutuskan bergabung. Dan, sedikit demi sedikit membuat Nada Sumbang lebih berwarna dengan sedikit sentuhan folk yang terkadang gencar menyuarakan ketimpangan-ketimpangan sosial. Tidak melulu soal bucin. Makanya, Arlan yang paling getol mengejek Putra dalam situasi apa pun.
"Tahu lah, **** gue ngerasain."
"Ya udah lah, fokus manggung dulu. Bentar lagi juga bakal satu kota lagi 'kan," imbuh Alfian buru-buru, sebelum Arlan dan Putra saling serang dan menimbulkan kekacauan. Lelaki berkacamata itu menarik punggung Putra agar duduk tegak dan mengajaknya cek sound sebelum pengunjung kafe berdatangan.
"Bukan hal penting," kata Putra tak acuh. Ia menyingkirkan tangan Arlan yang mencoba menyentuh bekas luka di wajahnya.
"Udah tahu mau manggung, eh ini malah berantem."
Putra melirik Arlan dengan tatapan tajam. Dia berantem bukan dengan sengaja, tapi lelaki itu yang... mengingatnya saja, sudah membuat Putra kesal.
"Berantem sama siapa sih?" tanya Alfian ikut penasaran karena Putra tak juga menjawab.
__ADS_1
"Bukan hal penting gue bilang."
"Gimana lo bilang nggak penting, lo tuh vokalis Nyet. Keberadaan lo yang paling pertama dilihat orang. Kalau wajah lo bonyok kayak gitu juga bakal pengaruh sama penampilan kita."
Meski terdengar jengkel, Arlan tetap mengatur emosinya agar tidak meledak. Jika dia ikut terpancing dengan amarah Putra, bisa jadi justru semakin memperkeruh keadaan.
Begitulah Arlan, meski di satu sisi sering beradu argumen dengan Putra, tapi dia lah yang paling perhatian. Bahkan hal sekecil apa pun tak pernah luput dari pengamatannya. Bukan hanya pada Putra, melainkan pada seluruh anggota Nada Sumbang. Terlebih jika itu masalah penampilan. Bagaimanapun mereka adalah publik figur yang namanya cukup dikenal di kalangan penyuka musik indie.
Bagi Nada Sumbang, Arlan merupakan sosok yang mampu mengayomi anggota band yang terkadang masih bersikap egois dan kadang sering berulah seperti anak kecil. Tak salah jika pada akhirnya Arlan lah yang berperan sebagai leader sekaligus manajer yang mengurusi Nada Sumbang.
"Tunggu sini, gue cari make up dulu. Gimanapun caranya, bekas luka lo harus nggak kelihatan."
"Apaan sih? Nggak perlu, gue nggak butuh make up," tolak Putra hampir saja membuat Arlan menambah lebam di wajah lelaki itu jika tidak dicegah oleh Danu.
"Selama ini, kami selalu kasih lo pengertian ya setiap kali ada masalah sama Kanya. Kami selalu coba kasih lo kelonggaran karena tahu lo punya tanggung jawab besar buat kelangsungan Nada Sumbang. Kami cuma mau lo juga bertanggung jawab sama tubuh lo sendiri."
Arlan sungguh tidak sabar menghadapi sikap keras kepala vokalis Nada Sumbang itu. Jika bukan di tempat umum, pasti lelaki itu sudah menonjoknya. Sekalipun dia bisa bersikap dewasa, tapi tidak dengan menghadapi sikap keras kepala Putra.
"Dan gue minta kalian nggak usah ikut campur sama badan gue."
"Tapi wajah lo yang bakal jadi sorotan pertama, Monyet. Terserah lo mau cerita sama kami atau nggak lo berantem sama siapa. Gue nggak bakal peduli. Gue cuma mau menyelamatkan reputasi Nada Sumbang. Puas lo." Arlan menghela napas. Sebelum akhirnya menatap Putra dengan sorot tajam. "Lo mau ninggalin kesan ke penonton kalau band kita suka kekerasan?"
Di saat bersamaan, Cindy muncul dan menyapa anggota Nada Sumbang dengan suara ceria. Perempuan itu mengamati satu per satu anggota Nada Sumbang yang terlihat tegang. Tanpa dijelaskan pun, Cindy tahu jika telah terjadi sesuatu di antara mereka.
__ADS_1
"Gue bantu tutup bekas luka lo sama bedak ya, Put. Nggak bakal tebal kok."
Putra tetap menolak, meski akhirnya lelaki itu mengalah dan membiarkan Cindy menyentuh wajahnya. Selalu ada nyeri yang orang lain tidak tahu saat seseorang menyentuh wajah Putra. Sebab satu-satunya orang yang diizinkan Putra menyentuh wajahnya hanya Kanya. Lagi, perempuan itu meninggalkan perasaan ngilu.