
Renjana Putra
Wajah lesu Kanya menyita perhatian Putra seutuhnya. Sejak kepulangan Araz ke Jakarta perempuan itu menjadi lebih banyak diam. Bahkan ketika mereka sedang bersama dan melakukan hal seru seperti bermain playstation yang dulu sering mereka mainkan. Kanya hanya terpaku pada layar dan menggerakkan joy stik sekenanya dan menjadikan permainan menjadi hambar bagi Putra. Terlebih saat Kanya tiba-tiba kehilangan fokus akibat teralihkan oleh bunyi notifikasi yang justru membuat perempuan itu kesal.
Bukan hanya itu saja. Saat Putra mengajaknya jalan-jalan pun, Kanya lebih banyak bengong. Putra tahu apa dan siapa yang ada di pikiran perempuan itu. Namun, percuma bertanya pada Kanya apa yang menyebabkannya gelisah berkepanjangan. Perempuan itu tidak akan menjawab pertanyaannya jika memang tidak ingin bercerita tentang apa yang dia rasakan.
Terlebih saat Eka menawari Kanya agar mau menjadi manajer pribadinya. Raut wajah Kanya semakin lesu. Yah, tidak bisa dipungkri jika Putra mengharapkan perempuan itu mau menerima tawaran Eka. Namun, di sisi lain, dia tidak berharap jika Kanya melepaskan karier yang sudah sesuai passion-nya demi menerima permintaan papanya.
Lantas bagaimana pula caranya move on jika jarak di antara mereka semakin dekat? Bukankah Putra juga sudah memutuskan untuk menutup kisah cinta di antara mereka dengan kisah yang lain?
Pun seperti saat ini. Wajah Kanya semakin keruh usai menerima telepon dari Araz. Tidak hanya itu saja, dia bahkan berlari meninggalkan Putra yang masih belum menuntaskan ritualnya makan bakso di kantin rumah sakit.
“Kanya!” Panggilan Putra tidak diacuhkan oleh perempuan itu. “Kanya, tunggu!”
******, gue! Kira-kira kek kalau mau tinggalin orang. Gerutu Putra dalam hati.
Bagaimana Putra tidak kesal, jika Kanya tiba-tiba melarikan diri padahal handphone dan dompet laki-laki itu dititipkan padanya. Wajah Putra pias saat penjaga kantin menatapnya dengan padangan garang.
Apes banget sih gue hari ini! Udah kena marah, dipelototi tukang bakso pula.
Laki-laki itu tersenyum lebar pada penjaga kantin yang masih menatapnya tajam.
“Maaf, Bu, saya ambil uang dulu ya. Dompet saya dibawa sama adik saya,” ucap Putra berharap perempuan setengah baya itu mau mengerti.
“Oh, jadi begitu ya kelakuan anak muda sekarang. Setelah makan kenyang, nggak mau bayar, alasan dompet ke bawa adik, padahal niatnya mau kabur.”
Ucapan perempuan setengah baya penjaga kantin itu membuat Putra tersulut emosi. Kalau saja dia tidak sadar tempat, ingin rasanya dia memaki perempuan itu. Namun, beberapa orang yang sudah memperhatikannya sejak tadi membuat Putra urung melakukan niatnya. Laki-laki itu masih tetap berusaha tersenyum meski terpaksa.
“Bu, Mama saya dirawat di rumah sakit ini. Saya pasti balik lagi ke sini. Saya cuma mau ambil uang di ruang rawat Mama. Kalau Ibu nggak percaya, nih sebagai jaminan. Jam ini harganya lebih dari 500 mangkuk bakso, Bu,” ucap Putra menahan kesal sambil melepas jam dari pergelangan tangannya. Namun, sebelum dia meletakkan jam di atas etalase seorang perempuan menyerahkan selembar uang seratus ribuan kepada penjaga kantin.
“Tagihan dia sekalian sama saya saja, Bu,” ucap perempuan itu membuat Putra menoleh padanya. Perempuan sama yang pernah dijumpainya di bandara beberapa hari lalu, tertangkap retina matanya.
“Lo?”
“Sama-sama,” kata perempuan itu menjawab Putra sambil berlalu pergi dari hadapannya.
“Tunggu, gue bukan mau bilang terima kasih, tapi gue ... hei, tunggu! Bisa kita bicara sebentar ‘kan?” Putra berjalan lebih cepat dan mendahului langkah perempuan itu. “Tunggu. Ada yang mau gue bicarakan sama lo.”
“Apa?”
Putra menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal. Sebelum akhirnya dia membungkuk di hadapan perempuan yang terlihat sebaya dengannya.
“Gue minta maaf udah berbuat kurang ajar saat ketemu lo di bandara. Dan, sori, gue lupa di mana kita pernah ketemu sebelumnya. Jadi, kalau boleh, kita kenalan dari awal lagi yuk. Nama gue Putra. Salam kenal,” ucap Putra sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
Perempuan itu menghela napas. Ditatapnya Putra dengan pandangan jengkel sebelum meninggalkan laki-laki itu tanpa menyambut ajakannya untuk berkenalan.
Sedangkan Putra menatap tidak percaya tangannya yang masih terulur. Baru kali ini, seseorang menolaknya saat diajak berkenalan. Selama ini, cewek-cewek selalu mengantre demi bisa bersalaman dengannya. Dan, baru perempuan itu yang tak acuh bahkan saat di depannya sedang berdiri seorang vokalis band yang sedang naik daun. Putra tersenyum sinis. Sikap perempuan itu justru membuat Putra bertekad untuk mengejarnya.
“Nggak banyak teman Kanya yang dikenalkan sama gue. Pasti lo salah satunya yang nggak cukup akrab sama dia. Kalau kalian cukup akrab, nggak mungkin juga lo masih sebut gue pacar Kanya. Dia pasti sudah cerita kalau kalian memang seakrab itu. Jadi, di antara Audya, Renata, sama Clarisa, lo yang mana?” Tebak Putra membuat perempuan itu cukup terkejut. Sebelum sempat menghindar, Putra merentangkan tangan. Mencegah perempuan itu melarikan diri.
“Pinggir. Aku berhak buat nggak jawab pertanyaan kamu ‘kan?”
“Wah, galak banget sih. Oke, gue bakal minggir, tapi lo bisa ‘kan, jawab pertanyaan gue dulu?”
“Kamu bodoh ya? Kan aku sudah bilang kalau aku berhak nggak jawab pertanyaan kamu.”
“Setidaknya gue butuh tahu nama dan alamat lo buat bayar utang.”
“Nggak perlu diganti. Aku ikhlas bantuinnya kok.”
Putra tak kehilangan akal. Dia masih tetap mengikuti langkah perempuan itu sampai keduanya sampai di sebuah kamar inap. Tanpa bicara sedikit pun, perempuan itu memasuki ruangan. Meninggalkan Putra yang masih bengong di depan pintu.
Setidaknya gue tahu lo bakal ada di sini. Ucap Putra dalam hati setelah mengingat nomor kamar inap tempat perempuan itu. Tanpa pernah Putra tahu jika perempuan itu keluar lagi dari ruangan sesaat setelah dia pergi.
***
“Dari mana aja sih lo? Kita tungguin dari tadi juga. Kita mesti latihan, Monyet!”
Jika mengingat kejadian beberapa jam lalu, rasanya Putra masih ingin mengumpat saja. Dengan langkah tergesa, laki-laki itu menuju ruangan Sukma dirawat dan meminta selembar uang lima puluhan kepada sang ayah. Namun, saat Putra kembali ke ruangan di mana perempuan yang dijumpainya tadi masuk – dia tidak ada di sana. Bahkan penghuni kamar itu mengaku tidak tahu menahu tentang sosok yang dimaksud Putra saat menyebutkan ciri-cirinya.
Dengan kesal, Putra bergegas meninggalkan kamar inap itu dan bertekad akan menemukan perempuan yang dijumpainya dengan bantuan Kanya. Putra yakin benar, jika perempuan yang dijumpainya sesaat lalu adalah salah satu dari ketiga teman Kanya yang disebutnya.
Lalu, laki-laki itu memtuskan untuk ke rumah Anggit setelah berpamitan pada Sukma dan Eka, selain memastikan Kanya juga ada di sana. Sebab ketika Putra meminta uang pada Eka, perempuan itu beum terlihat di kamar Sukma. Dia terlihat lega saat mengetahui Kanya duduk di kursi di samping Sukma dan meringkuk dalam dekapan mamanya.
Saat ini, Nada Sumbang memang sedang berkumpul di rumah Anggit sementara waktu sebelum melanjutkan tour Jawa Timur untuk promosi album dan beberapa undangan manggung. Rumah bassist Nada Sumbang itu cukup besar menampung mereka semua. Apalagi dilengkapi dengan studio musik yang bisa digunakan juga untuk latihan. Terlebih Anggit yang paling manja dibanding anggota lainnya. Jadi dia memaksa untuk menjadikan rumahnya sebagai basecame sementara mereka masih tinggal di Tuban.
“Sori, gue mesti menghibur Anya sebelum ke sini.”
“Udah gue tebak, pasti ada kaitannya sama Kanya kalau dia kelewatan telat kayak gini.” Danu ikut menimpali pembicaraan antara Arlan dengan Putra.
Putra menghela napas. Dia duduk di samping Arlan dan merebut gitar dari pangkuan laki-laki itu.
“Gue ada lagu baru nih. Coba dengarkan ya.”
Petikan gitar mulai lembut terdengar. Suara Putra yang merdu dan menenangkan mengalun bersama petikan gitarnya.
Aku tahu inilah yang terbaik untukmu
__ADS_1
Terus berjalan meski tanpa diriku
Usai sudah cerita aku dan kamu
Kita kini hanyalah bayangan semu
Pergilah sejauh langkah yang kau mampu
Raih semua mimpi juga anganmu
Asal jangan pernah kau lupakan aku
Jika kita dulu pernah menjadi satu
Cerita kita bukan hanya rangkaian kata
Seperti sebait puisi maupun novela
Maka kenanglah aku di hati saja
Dan aku ‘kan belajar cara merela
“Jadi benar udah benar-benar rela kali ini? Bukan cuma bualan di mulut aja ‘kan?” tanya Alfian yang tampak serius memperhatikan Putra.
Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk mantap. “Iya, gue benar-benar serius kali ini.”
“Syukur deh. Gue nggak harus dengar lo ngigau manggil-manggil nama Kanya mulu,” ucap Arlan membuat raut muka Putra menegang.
“Kapan gue pernah ... ?”
“Menurut lo, kapan gue punya waktu mengamati gimana lo saat tidur?”
Wajah Putra pias.
Sial, kenapa Arlan selalu tahu semua keburukan gue sih?
Putra ingat, Arlanlah yang menemaninya selama dia dirawat di rumah sakit setelah insiden pemukulan beberapa waktu lalu. Dia juga ingat, teman satu band-nya itu yang meminta Kanya datang saat dia berada di ambang batas antara pingsan dan siuman.
Huftt ... Putra menghela napas panjang. Sepertinya memang tidak mudah menyembunyikan aib sebejat apa pun itu di depan anggota band-nya. Sedangkan mengetahui fakta baru tentang Putra yang belum sepenuhnya melupakan Kanya, membuat anggota Nada Sumbang yang lainnya riuh menertawakannya.
“Kalian hanya belum pernah jatuh cinta saja. Awas saja, bakal ada momen gue juga bakal menertawakan kalian karena gagal move on,” kata Putra serius yang membuat mereka semakin tertawa.
Diam-diam, Putra juga menarik ujung bibirnya. Setidaknya dia kini merasa semakin lega setelah menyanyikan satu lagu penutupnya untuk Kanya. Ya, Putra harus belajar bagaimana caranya merelakan.
__ADS_1