
Renjana Putra
Sejak terakhir kali Kanya menelepon Putra, laki-laki itu belum mendapat kabar lagi dari perempuan itu. Kecuali pesan dari papanya yang mengabarkan jika adik laki-lakinya terlahir dengan selamat dan kondisi Sukma – mama sambungnya – masih belum sadarkan diri setelah melewati operasi yang cukup panjang. Papanya juga bilang, jika Kanya yang memberi nama kepada bayi mungil itu. Victor Manzo Angkara.
Putra tersenyum saat membaca pesan dari papanya perihal nama yang diberikan Kanya. Entah dari mana perempuan itu mendapatkan nama untuk adik mereka, tapi Putra bersyukur. Setidaknya perempuan itu telah mengalahkan egonya demi menerima kehadiran sosok mungil di keluarga mereka.
Terlebih saat Eka mengabarkan pada Putra, jika perempuan itu sudah mau memanggilnya Ayah. Senyum Putra semakin mengembang. Dia benar-benar lega, Kanya sudah mau menerima bagian luka dalam hidupnya.
Meski begitu, tetap saja Putra merasa hampa, sebab masih belum mendengar kabar secara langsung dari Kanya. Bahkan pesan yang dikirim kepada perempuan itu pun belum mendapat balasan sampai saat ini.
Putra tidak pernah merasa segelisah ini. Padahal dulu, saat masih berpacaran dengan Kanya pun, tidak masalah baginya jika perempuan itu tidak membalas pesannya. Jika itu dilakukan Kanya, pasti memang ada hal penting yang tidak bisa ditinggalkan. Meski pada akhirnya, tindakan-tindakan kecil itu kerap kali memicu pertengkaran di antara mereka.
Sesekali, Putra mengintip layar gawainya saat berkedip. Namun, lagi-lagi bukan pesan dari Kanya yang muncul sebagai pemberitahuan. Jika bukan dari grup, pasti notifikasi media sosial yang memberitahukan apabila ada pengikut baru atau mungkin seseorang yang menandai akunnya. Arlan yang duduk di sofa bahkan sampai terganggu oleh kegiatan Putra yang berkali-kali mengecek layar gawai.
"Nunggu chat dari siapa sih?"
"Anya," jawab Putra singkat tanpa berpaling dari layar gawai. Tingkah Putra membuat Arlan yang menemaninya malam ini gemas dan melempar bantal sofa di sampingnya.
"Ya udah sih, mungkin dia lagi sibuk jagain, Tante Sukma."
“Iya makanya, gue pengen tahu gimana keadaan dia.”
"Lah, nggak pengen tahu kabar emaknya, malah pengen tahu kabar, Anya. Aneh banget sih lo!"
"Ya gue kirim chat dari tadi dia nggak ada balas, Nyet. Gue khawatirlah."
"Ini sih udah berlebihan sikap lo, Nyet. Nggak umumnya sikap seorang Kakak. Lo nggak baper lagi sama Kanya, ‘kan?" tanya Arlan membuat Putra terkejut. Dipandangnya Arlan yang balas menatapnya dengan tajam.
"Ya nggaklah. Gila aja gue baper sama adik sendiri."
"Ralat, adik tiri yang pernah jadi mantan pacar. Itu sih bisa saja terjadi lagi, Sob. Perasaan nggak bisa diatur-atur. Siapa tahu setelah kalian baikan, merasa nyaman, merasa pernah melewati momen-momen susah, seneng bareng, perasaan lo goyah lagi. Bukan tulus sebagai Kakak, tapi mantan pacar yang masih ngarep keajaiban."
"Ngaco!" kata Putra tegas sambil melemparkan bantal sofa yang tadi digunakan Arlan untuk menimpuknya.
"Hati-hati saja sih kalau saran gue. Secara, setelah putus sama Anya, lo sama sekali nggak pernah dekat bahkan sampai pacaran sama siapa pun. Masih mau nyangkal kalau lo nggak berharap sebuah keajaiban?"
Putra tidak menjawab pertanyaan Arlan. Lelaki itu justru pura-pura membetulkan letak bantal yang mendadak membuatnya merasa tidak nyaman. Dua hari terbaring di rumah sakit sudah membuatnya bosan. Untung besok dia sudah diizinkan pulang. Dan, Putra benar-benar akan pulang dalam arti yang sesungguhnya.
Arlan sudah menyiapkan tiket penerbangan demi menghemat waktu. Padahal dia memaksa ingin pulang naik kereta api. Rasanya rindu menikmati perjalanan sambil mendengarkan deru roda kereta menggilas rel.
Namun, keyboardist Nada Sumbang sekaligus teman akrabnya itu, menolak permintaannya dengan tegas. Alasan lainnya tentu karena saat ini mereka adalah publik figur yang namanya sedang naik daun. Bagaimana bisa dengan leluasa berpergian seperti naik kereta api tanpa mengundang perhatian banyak orang.
"Nyet, gue tanya nih. Gue nggak berharap ini benar-benar terjadi, tapi gue penasaran," kata Arlan tidak membiarkan Putra berkelit dari pertanyaannya yang tidak terjawab.
__ADS_1
"Hmmm ... ."
"Seandainya nih, seandainya ... Tante Sukma nggak ada ... ."
"Gila, kira-kira dong lo kalau ngomong!" Putra yang terkejut mendengar pengandaian Arlan, refleks melempar bantal di belakang kepalanya.
"Aduh, sakit, Monyet! Kira-kira juga dong ngelemparnya. Sakit tahu!"
"Ya lo juga sih, ngomong nggak pakai akhlak. Asal mangap saja."
"Ya ‘kan seandainya, Nyet. Gimana nih, gue lanjut nggak? "
"Hmmm .... ."
Meski Putra tidak ingin memikirkan pengandaian Arlan, tetapi dia juga penasaran apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.
"Kalau seandainya Tante Sukma nggak ada, lo ada niat nggak ngajak Kanya buat balikan?"
"Gila! Ya nggak mungkinlah. Secara, kita itu sudah terikat sama status saudara tiri."
"So why? Kalian itu cuma saudara tiri loh. Bukan saudara kandung. Toh kalaupun kalian tetap pacaran bahkan nikah sekalipun, nggak masalah lah. Ya mungkin, lingkungan kita saja yang anggap hal-hal kayak gitu sesuatu yang tabu."
"Nggak mungkin hal itu gue lakuin juga sih, Lan. Perasaan gue sama Kanya saat ini nggak lebih dari seorang kakak buat adiknya."
"Yakinlah, kenapa nggak?"
"Gue ragu aja sih, apa mungkin lo sudah benar-benar tulus anggap dia sebagai adik yang mau lo jaga, seperti yang pernah lo bilang."
Putra termenung. Dia tidak berniat menjawab pernyataan Arlan. Laki-laki itu menyadari satu hal saat mendengar ucapan Arlan. Bahwa dia, belum bisa seutuhnya merelakan Kanya yang kini menjadi adik tirinya. Namun, apa mungkin Arlan bisa memahami kondisinya? Putra tidak pernah tahu. Oleh sebab itu, dia memilih diam.
...***...
Putra Mahameru
Makasih sudah jagain Kanya buatku, Bang. Jika itu kamu, aku bisa benar-benar rela melepas Kanya. Sori, aku nggak bisa menyangkal jika masih memendam perasaan sayang sama Kanya. Tapi mulai detik ini, aku akan sungguh-sungguh merelakan Kanya. Aku tahu, dia berhak bahagia. Dan itu cuma bersamamu, Bang. Sori.
Layar gawai Putra masih berkedip membuka ruang obrolannya dengan Araz. Setelah tidak mendapat jawaban juga dari Kanya, akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk mengirim pesan pada Araz. Namun, kenyataannya dia justru dia mengirim pesan yang tidak masuk akal pada kekasih Kanya.
Laki-laki itu mengutuki ketololannya sesaat setelah mengirim pesan pada Araz. Tengah malam. Dan itu bukanlah hal yang sanggup diterima akal sehatnya setelah dia membaca ulang pesan yang telah dikirim.
Berkali-kali Putra mengutuk dirinya. Percuma kalaupun dia menarik pesan atau membuat klarifikasi. Araz sudah membaca pesan yang dia kirim. Bahkan laki-laki itu tidak berniat membalasnya meski status notifikasi menunjukkan jika dia sedang online.
"****, biar apa coba ngaku sama Araz kalau gue ... arghh ... pasti sekarang dia mikir kalau gue nggak tulus nerima Kanya sebagai saudara. Pasti dia mikir kalau gue sayang sama Kanya sebagai perempuan yang pernah jadi mantan pacar. **** sih lo, Put. Nggak guna juga 'kan ngaku sama Araz."
__ADS_1
Putra masih saja uring-uringan mengingat betapa bodohnya dia yang dengan gamblang mengatakan jika masih menyimpan perasaan pada Kanya. Dia sendiri pun tidak tahu pasti apa yang membuatnya mengaku pada Araz jika masih menyimpan perasaan sayang kepada Kanya. Bukan sebagai saudara sambung, melainkan sebagai perempuan yang pernah dicintainya. Padahal, Putra selalu mati-matian menyembunyikan fakta itu dari Arlan atau anggota Nada Sumbang lainnya. Termasuk dari Kanya sekalipun.
Namun, dia dengan mudah mengaku pada Araz jika ... masih menyimpan perasaan sayang pada Kanya. Sekali lagi, pernyataan tertulis itu terus membayang di benak Putra dengan tanda bold, underline bahkan italic sekaligus. Tidak cukup, rasanya semua kalimat itu tercetak dengan huruf kapital. Menari-nari liar di otak Putra yang mendadak semakin terasa penat.
Demi harga diri yang sudah terkoyak, Putra memutuskan membuat klarifikasi pada Araz. Terserah laki-laki itu mau menerimanya atau tidak. Putra tidak peduli. Dia hanya ingin mengakui pada seseorang jika sebenarnya masih ada perasaan sayang melebihi saudara pada Kanya.
Bayangkan saja, delapan tahun bukan waktu yang mudah untuk melupakan perasaan yang sudah tumbuh dan kuat mengakar. Jika orang itu adalah Araz, Putra hanya berharap memang laki-laki itulah yang tepat untuk bersanding di samping Kanya. Agar dia pun mantap merelakan perasaannya untuk mereka berdua.
Putra Mahameru
Sori, Bang. Aku nggak bermaksud apa-apa dengan mengatakan ini. Aku hanya bersyukur kalian saling menemukan. Dan, aku semakin yakin kalau kalian bisa saling menguatkan.
Bagaimanapun aku yang melihat bagaimana putus asanya Kanya saat kamu menghilang tiba-tiba. Bahkan dulu, dia nggak pernah sekhawatir itu saat aku sengaja menghilang. Aku tahu, kalian tulus saling mencintai. Maka aku akan berdiri dengan peranku sebagai kakak yang mendukung kalian.
Bohong. Putra tidak benar-benar rela mengatakan itu pada Araz. Jika dia boleh bersikap egois, dia ingin memperjuangkan Kanya sejak awal. Namun, dalihnya saat bersembunyi di balik tameng istilah "berbakti pada orang tua" telah menghambat segalanya. Dia menjadi pengecut yang tidak berani memperjuangkan Kanya. Dia menjadi pecundang yang mengingkari perasaannya sendiri.
Kalau saja obrolan dengan Arlan soal pengandaian tentang Sukma tidak terjadi malam ini, Putra pun akan terus mengingkari perasaannya sendiri jika jauh di dalam lubuk hatinya, dia masih menginginkan Kanya. Seutuhnya.
Apalagi ... ahh ... seandainya saja kesalahan fatal itu tidak pernah terjadi di masa lalu, mungkin Putra akan benar-benar tulus melepaskan Kanya. Namun, peristiwa di masa lalu itu tidak mungkin pernah bisa diperbaiki. Untuk itulah, Putra semakin berat melepaskan Kanya.
Pun seandainya saat Putra mencoba memperbaiki hubungannya dengan Kanya dan perempuan itu mau menerima kembali perasaannya, Putra pasti akan berjuang lebih kali ini. Termasuk meminta Eka melepaskan Sukma demi mereka. Itu semua tidak terjadi. Entah Putra harus bersyukur atau menyesal, tetapi yang jelas, perasaan untuk Kanya masih belum berubah.
Putra Mahameru
Sampaikan salamku pada Kanya, Bang. Besok aku pulang.
Tulis Putra di ruang obrolannya dengan Araz, yang meski sudah terbaca, tetapi tidak juga dibalas.
Laki-laki itu berpikir jika Araz pasti syok membaca pengakuannya tentang Kanya. Namun, Putra juga tidak ingin berbohong lebih lama pada dirinya sendiri. Tidak masalah jika setelah ini Araz akan menganggapnya saingan, tetapi satu hal yang pasti, dia tulus mendoakan Kanya bahagia bersama Araz.
Putra meraih gawai yang sempat diletakkan di atas nakas. Lalu membuka chat room-nya dengan Kanya. Masih juga belum ada tanda-tanda jika pesan sudah terbaca. Padahal terakhir kali terlihat pada pukul 23.00 tadi.
Laki-laki itu menghela napas panjang. Entah mengapa, dia kembali merasa begitu jauh dengan Kanya. Sekalipun dia tahu, jika perempuan itu pasti sibuk mengurus Sukma.
Putra Mahameru
Aku pulang hari ini. Tolong, jika bertemu nanti, tersenyumlah bagaimanapun perasaanmu my lil sis. Kamu harus banyak tersenyum sampai matahari iri saat melihatmu. Dan percayalah bahwa semua akan baik-baik saja.
Putra menyugar rambutnya setelah mengirim pesan pada Kanya. Rasanya aneh mengucapkan kalimat itu pada Kanya - sebagai seorang kakak. Padahal yang Putra inginkan adalah ... pengakuan lebih dari seorang saudara. Seperti dulu.
Laki-laki itu sekali lagi, menghela napas panjang. Hingga menjelang Subuh pesan yang dikirim pada Araz maupun Kanya masih belum terbalas. Putra tersenyum kecut. Dia memutuskan untuk tidur meski sulit memejamkan mata. Sementara pukul 10 nanti dia harus terbang demi bisa memastikan jika semua baik-baik saja.
"Tunggu aku pulang, Kanya!"
__ADS_1